A.A. Navis dalam bukunya berjudul "Alam Terkembang Jadi Guru" menyatakan bahwa nama suku Koto berasal dari kata 'koto' yang berasal dari bahasa Sanskerta yaitu 'kotta' yang artinya benteng, di mana dahulu benteng ini terbuat dari bambu. Di dalam benteng ini terdapat pula pemukiman beberapa warga yang kemudian menjadi sebuah koto yang juga berarti kota, dalam bahasa Batak disebut huta yang artinya kampung.[3] Dahulu suku Koto merupakan satu kesatuan dengan suku Piliang yang pada keberadaan yang hanya masih berupa suatu lareh, tetapi karena perkembangan populasinya maka lareh ini berkembang dengan munculnya dua suku yaitu suku Koto dan suku Piliang. Suku Koto dipimpin oleh Datuak Katumangguangan yang memiliki aliran aristokratis-militeris, sebagaimana falsafah Lareh Koto Piliang itu sendiri yaitu "Manitiak dari ateh, tabasuik dari bawah, bajanjang naiak batanggo turun. Berbeda dengan Lareh Bodi Chaniago yang dicetuskan oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang yang memiliki aliran demokratis-egaliteris, sebagaimana falsafah kelarasan-nya yaitu "bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat. Nan bulek samo digolongkan, nan picak samo dilayangkan. Tagak samo tinggi, duduak samo randah."[1]
Datuk Bandaro Kali, gelar ini pernah akan dinobatkan kepada Mentri Pariwisata Malaysia, Dr. Rais Yatim yang berdarah Minang tetapi dia menolaknya lantaran akan sulit baginya untuk terlibat dalam kegiatan suku Koto nagari Sipisang setelah dia dinobatkan.
Datuk Panji Alam Khalifatullah, gelar ini dinobatkan kepada Taufik Ismail karena dia seorang tokoh berdarah Minangkabau suku Koto yang telah mempunyai prestasi di bidang seni dan kebudayaan.
↑Bus (20 Oktober 2025). "Dokter Spesialis Orthopedi Resmi Jadi Datuak Pangulu Kaum Suku Koto Saniang Baka". Harian Umum Koran Padang: Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi. Padang. hlm. 2.