Stevia rebaudiana adalah spesies tumbuhan dalam genus Stevia dari famili Asteraceae. Tumbuhan ini umumnya dikenal sebagai daun permen, daun manis, atau daun gula.[1][2]
Stevia adalah tumbuhan musiman kecil yang tumbuh hingga ketinggian 30–60 sentimeter (1–2 kaki).[2] Daunnya memanjang dan tumbuh di sepanjang batang serta berjajar satu sama lain. Bunganya biasanya dipangkas untuk meningkatkan rasa daunnya.[3] Stevia adalah tumbuhan menahun lunak yang berasal dari beberapa bagian Brasil dan Paraguay yang memiliki lingkungan lembap dan basah.[2][3]
Stevia banyak ditanam untuk diambil daunnya, yang ekstraknya dapat diolah menjadi produk pemanis yang dikenal secara umum sebagai "stevia" dan dijual dengan berbagai nama dagang.[4] Senyawa kimia yang menghasilkan rasa manisnya adalah berbagai glikosida steviol (terutama steviosida dan rebaudiosida), yang memiliki rasa manis 200–300 kali lipat dari gula.[2] Daun stevia mengandung 9,1% steviosida dan 3,8% rebaudiosida A.[5]
Stevia rebaudiana
Deskripsi
Stevia rebaudiana adalah tumbuhan herba menahun yang tumbuh hingga setinggi 2 kaki (0,61 m). Bunganya berwarna putih dengan aksen ungu muda dan tidak beraroma. Tumbuhan ini menghasilkan buah yang berbentuk gelendong berusuk. Stevia lebih menyukai tanah berpasir.[2]
Kimia
Pada tahun 1931, para kimiawan mengisolasi glikosidasteviosida dan rebaudiosida yang memberikan rasa manis pada daunnya.[6]
Budidaya
Mulai tahun 1960-an,[4] budidaya komersial telah menyebar ke Jepang, Asia Tenggara, dan AS; tetapi juga di iklim tropis ringan di daerah perbukitan Nepal atau India (wilayah Assam). Tumbuhan ini lebih menyukai kondisi hangat, lembap, dan cerah.[2] Tumbuhan ini tidak dapat bertahan hidup dari embun beku selama musim dingin dan oleh karena itu rumah kaca digunakan untuk menanam stevia di Eropa.[7]
Stevia rebaudiana ditemukan di alam liar di habitatsemi-kering mulai dari padang rumput hingga pegunungan, menghasilkan biji, tetapi hanya sebagian kecil biji yang berkecambah.
Stevia rebaudiana telah ditanam secara eksperimental di Ontario, Kanada, sejak tahun 1987 untuk menentukan kelayakan budidaya komersial.[8] Para peneliti Universitas Duke mengembangkan rencana strategis untuk membantu petani dan eksportir di Paraguay untuk bersaing di pasar global untuk stevia.[9]
Kegunaan
Stevia rebaudiana telah digunakan selama berabad-abad oleh masyarakat Guaraní di Brasil dan Paraguay, yang menyebutnya ka'a he'ẽ ("herba manis"), untuk mempermanis teh yerba mate lokal, sebagai obat, dan sebagai "camilan manis".[10] Penduduk pedesaan dan masyarakat adat di Paraguay juga menggunakan tumbuhan ini sebagai alat kontrasepsi.[11][12]
Pada tahun 1899, ahli botani Moisés Santiago Bertoni pertama kali mendeskripsikan tumbuhan ini yang tumbuh di Paraguay bagian timur, dan mengamati rasanya yang manis.[13]
Ketika ekstrak daunnya diolah menjadi bubuk, stevia digunakan sebagai pengganti gula di sebagian besar negara maju.[5][14]
Berdasarkan deklarasi JECFA (Joint Expert Committee on Food Additives), konsumsi glikosida steviol yang aman bagi manusia ditetapkan sebesar 4 mg/kg berat badan per hari.[15] Hal ini juga disetujui oleh Komisi Eropa pada tahun 2011 untuk digunakan dalam makanan di negara-negara Eropa.[16] Glikosida steviol juga telah diterima di AS sebagai "umumnya diakui aman" (GRAS).[17]
Daun stevia dan ekstrak mentahnya tidak diperlakukan sebagai GRAS dan impornya ke AS tidak diizinkan untuk digunakan sebagai pemanis.[18][19]
12Petruzzello, Melissa (12 Desember 2017). "stevia | Description, Plant, & Sweetener". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Encyclopædia Britannica, inc. Diakses tanggal 19 November 2019.
↑Bridel, M.; Lavielle, R. (1931). "Sur le principe sucre des feuilles de kaa-he-e (stevia rebaundiana B)". Comptes rendus de l'Académie des sciences (Parts 192): 1123–5.
↑Ramesh, K.; Singh, Virendra; Megeji, Nima W. (1 Januari 2006), "Cultivation of Stevia [Stevia rebaudiana (Bert.) Bertoni]: A Comprehensive Review", Advances in Agronomy Volume 89, vol.89, Academic Press, hlm.137–177, doi:10.1016/s0065-2113(05)89003-0, ISBN9780120008070
↑Schvartaman, J. B.; Krimer, D. B.; Azorero, R. M. (1977). "Cytological effect of some medicinal plants used in the control of fertility". Experientia. 33 (5): 663–665. doi:10.1007/bf01946562. PMID862810.