Dalam sejarahnya, stasiun ini dibangun bersamaan dengan pembangunan Jalur kereta api Padang Panjang–Payakumbuh. Setelah selesainya jalur menuju Fort de Kock Bukittinggi pada tanggal 1 November 1891, pembangunan dilanjut untuk menjangkau tambang emas di Payakumbuh. Jalurnya dibuka pada tanggal 15 September 1896.[4] Setelah selesai, SSS melanjutkan jalur ini menuju Limbanang sejauh 20km untuk menjangkau tambang emas, tetapi karena seringnya banjir dan rusak nya jembatan menyebabkan jalur lanjutan inipun ditutup.[5]
Jalur ini tetap beroperasi setelah masa-masa kemerdekaan, tetapi hanya difokuskan untuk pengangkutan penumpang. Namun karena jalur kereta api yang ekstrem, prasarana dan sarana yang tua, dan persaingan dengan mobil pribadi dan angkutan umum menyebabkan jalur ini terus berkurang okupansinya sehingga PJKA menutup jalur ini pada tahun 1973. Dengan ditutupnya jalur menuju Bukittinggi pada tahun 1986, berakhirlah riwayat jalur Padang Panjang–Payakumbuh.[6]
Walaupun stasiun ini nonaktif, tetapi kondisi stasiun ini terawat karena disewakan, stasiun ini sekarang sudah memasang papan nama dengan logo PT KAI terbaru di bagian depan, tetapi di bagian samping masih menggunakan versi 2011.
Galeri
Stasiun Payakumbuh ketika masih aktif dikelola SS
Pintu masuk Stasiun Payakumbuh
Papan nama stasiun versi 2011.
Referensi
↑Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).