Stasiun beserta jalurnya dinonaktifkan lebih awal, yakni tahun 1933 dan dibongkar pada tahun 1936 karena dianggap tidak menguntungkan. Kini bekas stasiun ini hampir tidak tersisa, hanya tembok nama Limbanang dan Papan aset milik PT KAI.[4]
Sejarah
Pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat tidak lepas dari ditemukannya penambangan batubara Ombilin, di Sawahlunto. Hal ini menjadi penyebab adanya transportasi Kereta api untuk mengangkut Batubara maupun Penumpang.
Setelah dibangunnya jalur menuju Limbanang, Jalur ini hanya diprioritaskan untuk hasil tambang tersebut, yang langsung terhubung menuju Pelabuhan Teluk Bayur untuk mengangkut kebutuhan hidup dari kapal hingga dibawa ke Pertambangan Mangani.
Namun, Jalur menuju Limbanang tidak bertahan lama, akibat menipisnya eksploitasi pertambangan di Mangani, hingga rusaknya jembatan sungai lampasi karena tergerus oleh banjir yang membuat rute ini terus merugi. Sehingga pada tahun 1933, segmen Payakumbuh—Limbanang ditutup dan dibongkar, yang hanya menyisakan bekas-bekas fondasi jembatan, dan bekas stasiun Limbanang.[5]
Referensi
↑Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).