Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM) mendapatkan konsensi untuk membangun jalur kereta api di wilayah Probolinggo dan Kraksaan berdasarkan Gouvernements besluit 15 Desember 1894 No. 6 yang saat itu masih berupa wilayah kabupaten berbeda. Pusat operasional jalur ini berada di Jati. Latar belakang pemberian izin pembangunan seiring dengan kebutuhan transportasi cepat bagi penumpang dan barang, terutama gula. Hal tersebut karena banyaknya pabrik gula di wilayah tersebut.[1]
Pembangunan jalur ini dibagi menjadi beberapa tahap, yakni segmen-segmen lintas utama Jati–Gending, Gending–Jabung, Probolinggo–Jati, dan Jabung–Paiton. Selain itu, dibangun pula percabangan dari Stasiun Probolinggo milik PbSM menuju Sumberkareng dan Pelabuhan Probolinggo. Detail tiap segmen tercantum dalam tabel berikut:[2]
Peta jalur kereta api Probolinggo-Jati-Paiton
Segmen-segmen jalur trem Probolinggo–Paiton
Segmen pembangunan
Tanggal pembukaan
Panjang jalur (Km)
Jati–Gending
21 April 1897
10
Gending–Jabung
1 Mei 1897
19
Probolinggo–Jati
22 Juni 1897
1
Jabung–Paiton
22 Juni 1898
5
Untuk menjalankan layanan angkutan penumpang dan barang, PbSM menggunakan 19 kereta penumpang dengan batas kecepatan operasional sebesar 40 km/jam. Layanan kereta api penumpang tercatat beroperasi dari Stasiun Probolinggo PbSM hingga Paiton. Pada 1926, tercatat terdapat delapan perjalanan pulang pergi di sepanjang jalur ini, dengan tujuan akhir Probolinggo PbSM, Jati PbSM, Kraksaan, dan Paiton.[3]
Layanan angkutan barang produksi gula dilayani dari sejumlah pabrik gula di sekitar Probolinggo dengan total armada 28 gerbong barang. Pabrik-pabrik tersebut antara lain PG. Wonolangan, PG. Gending, PG. Pajarakan, PG. Kandangjati, PG. Umbul, PG. Wonoasih, PG. Jabung, PG. Paiton, PG. Bago, PG. Maron, PG. Sumberkareng, dan PG. Seboro.[2] Seiring dengan semakin ramainya aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Probolinggo serta meningkatnya angkutan gula, jalur trem barang dari Stasiun Probolinggo PbSM ke Pelabuhan Probolinggo kemudian direlokasi. Alih-alih melalui pusat kota, jalur trem hasil relokasi tersebut dibangun di sebelah jalur milik Staatsspoorwegen (SS) dari Pelabuhan Probolinggo hingga emplasemen Stasiun Jati. Jalur trem kemudian bergabung kembali dengan jalur utama PbSM melalui area bengkel dan depo PbSM di timur Stasiun Jati milik SS.[4][5]
Penutupan
Jalur kereta api ini telah beberapa kali dibongkar dan dibangun kembali. Pada masa pendudukan Jepang (1942/1943), segmen Gendingbaru–Paiton dibongkar guna kepentingan militer. Kemudian, Agresi Militer Belanda I juga menghancurkan jalur kereta api ini. Majalah Pantja Raja edisi 15 Juni 1946 mencatat bahwa jalur kereta api segmen Sebaung–Kraksaan dibangun kembali.[6] Pasca kemerdekaan, DKARI melakukan renovasi pada segmen Probolinggo–Gending Baru sekitar pertengahan dekade 1950-an.[7] Praktis, layanan kereta apinya juga tidak dapat dijalankan hingga 1960-an.
Jalur ini sepenuhnya ditutup pada sekitar tahun 1970 karena segmen jalur yang sebagian besar bersisihan dengan Jalan Raya Pantura segmen Probolinggo-Paiton serta kalah bersaing dengan alat transportasi yang lebih modern. Bekas rel dan beberapa stasiun masih dapat dijumpai di sepanjang jalan raya tersebut. Sebagian aset yang berhubungan masih dikuasai oleh PT Kereta Api Indonesia.[8]
Railbed di jalur ini hampir sepenuhnya selalu bersisian dengan jalan raya. Sisa-sisa sarana perkeretaapian di jalur ini masih dapat dijumpai walaupun sebenarnya jalur ini sudah ditutup cukup lama pada tahun 1960-an. Sedangkan di beberapa lokasi, bekas railbednya hingga saat ini digunakan untuk angkutan tebu oleh beberapa pabrik gula dengan cara menyempitkan lebar relnya (regauge) yang semula lebar relnya 1067 mm.
↑Officieele Reisgids de Spoor- en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera. Solo: N. V. Sie Dhian Ho. 1 Mei 1926. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑"Spoor en haven". Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. 1928-05-12. Diakses tanggal 2026-04-12.