Si Pintjang (ER, EYD: Si Pincang, Ceko: Mrzáček) merupakan film hitam putih anak-anak bertemakan semangat nasionalisme yang tinggi [2] pada tahun 1951 yang disutradarai oleh Kotot Sukardi. Ia merupakan seorang sutradara senior dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang merupakan organisasi kebudayaan beraliran kiri yang merupakan anak organisasi dari Partai Komunis Indonesia (PKI).[3] Film Si Pintjang merupakan pelopor film untuk anak-anak pertama yang diproduksi oleh Perusahaan Film Negara yang kini dikenal sebagai Produksi Film Negara (PFN) guna memenuhi kebutuhan tontonan anak dalam membantu tumbuh kembang jiwa dan pikiran mereka.
Dalam film tersebut Kotot Sukardi memberikan kebebasan berekspresi bagi anak-anak telantar sebagai penggambaran dari sebagian ribuan watak anak-anak. Dalam upaya memberikan gambaran tersebut, Kotot Sukardi memilih anak-anak tersebut sebagai pemeran utama yang diharapkan seluruh adegan dalam film tersebut dapat ditangkap oleh akal dan jiwa anak-anak sebagai penontonnya. Oleh karena itu pada tahun 1950 Kotot Sukardi membuat sebuah perkumpulan anak-anak bernama Barisan "P" yang artinya Barisan Pengharapan di Kota Yogyakarta. Anak-anak yang didalam kehidupan nyatanya berupa anak gelandangan seperti tukang copet dan pengemis sebelumnya dilatih bermain sandiwara dalam pembuatan film Si Pintjang tersebut sehingga lebih sesuai dengan kondisi rakyat Indonesia saat itu.[1][3]
Cerita utama film Si Pintjang menceritakan mengenai kehidupan anak-anak yang hidup sebagai korban dalam masa pendudukan Jepang. Peperangan yang terjadi saat masa pendudukan Jepang tersebut mengakibatkan terpisahnya mereka dengan saudara dan orang tua kandung mereka.[7] Film hitam putih anak-anak Si Pintjang ini kemudian dibuat film ulang dengan judul yang sama yaitu Si Pincang pada tahun 1979 masih bekerja sama dengan Perusahaan Film Negara dengan jalan cerita yang berbeda oleh sutradara Kadirman.[8]
Sinopsis
Film ini menceritakan kisah seorang anak laki-laki bernama Giman yang sudah pincang sejak lahir. Anak yang bernama Giman tersebut lahir sebagai anak dari keluarga petani yang hidup berkecukupan di desa yang berada di Yogyakarta. Namun, ketenangan keluarga petani tersebut tidak bertahan lama. Walaupun kala itu Indonesia telah merdeka pada tahun 1945, tidak berarti lepas dari bencana perang akibat dari adanya Agresi Militer Belanda II yang telah memporakporandakan keluarganya. Giman yang pincang tersebut akhirnya terpisah dari kedua orang tuanya serta seluruh saudara kandungnya. Akhirnya Giman pun tinggal bersama dengan neneknya. Tak lama ketika masa pendudukan Jepang, terdapat sebuah serangan udara dari pihak Jepang yang meluluhlantakan pemukiman yang mengakibatkan neneknya Giman meninggal dunia.
Dilain tempat, ayah beserta abangnya Giman ditawan oleh tentara Jepang sebagai pekerja Romusa dan saat itu belum saling bertemu dengan Giman. Giman yang terlunta-lunta setelah ditinggal mati oleh neneknya harus berdikari atau mandiri walau kondisinya masih memprihatinkan. Akhirnya dengan kondisi pincang Giman pergi ke kota Yogyakarta demi bertahan hidup. Akhirnya Giman bergabung bersama anak-anak gelandangan yang umumnya terdiri dari pencopet dan pengemis demi mencari sesuap nasi yang ternyata terikat dalam sebuah kesatuan yang dibentuk mereka sendiri. Sampai akhirnya datanglah sesorang laki-laki sebagai penolong mereka. Si penolong mengumpulkan para anak-anak telantar bersama dengan Giman untuk dibantu dan ditampung kedalam asrama bernama Taman Harapan. Sampai akhirnya ayah dan abangnya Giman bertemu dengan Giman di asrama Taman Harapan tersebut.[6]
Kontroversi
Banyak orang menduga keberhasilan film anak-anak Si Pintjang tersebut berhasil diraih berkat bantuan dari juru kamera berkewarganegaraan Belanda bernama A.A. Denninghoff-Stelling dan Eimert Kruidhof. Alasannya karena film Si Pintjang lebih menonjol dibandingkan dengan film-film buatan Kotot Sukardi lainnya yang dibuat tanpa bantuan dari A.A. Denninghoff-Stelling dan Eimert Kruidhof.[3]
Disamping itu, film Si Pintjang merupakan salah satu film selain film berjudul Violetta yang beruntung karena selamat dari pemusnahan akibat dari pelarangan keras terhadap hal-hal berbau komunis efek dari Gerakan 30 September pada tahun 1965.[9] Tidak hanya film hitam putih anak-anak Si Pintjang saja yang terkena imbasnya, bahkan lagu berbahasa Osing yang terkenal yaitu Genjer-genjer dilarang keras untuk diputar. Hal tersebut sudah diatur dalam Undang Undang No. 27 tahun 1999 dan Ketetapan MPRS (TAP MPRS) Nomor XXV/MPRS/1966 tahun 1966 yang berisi pelarangan mengenai larangan lambang Palu arit, paham Komunisme, paham Marxisme-Leninisme. Adapun film-film dan berbagai benda seni yang dihasilkan dari para anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) juga turut dimusnahkan karena dianggap sebagai medium propaganda politik berideologi Komunis.[10] Untuk menghindari hal tersebut, sebagian besar karya seni buatan tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dihapus jejak identitasnya oleh si pembuat agar tidak ikut dimusnahkan secara masal oleh pemerintah. Hal tersebut mengakibatkan banyaknya tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) hilang dari sejarah dunia seni di Indonesia.[11]
Film hitam putih anak-anak Si Pintjang yang sarat akan nilai ideologi dengan aliran oldies drama[2] ini disebut sebagai film yang beraliran Neorealisme.[12] Alasan selamatnya film hitam putih anak-anak Si Pintjang tersebut karena peran dari Misbach Yusa Biran. Walaupun Misbach Yusa Biran yang merupakan pendiri Sinematek Indonesia adalah penentang keras komunis, Misbach Yusa Biran masih merupakan kawan dari Bachtiar Siagian yaitu sutradara dari film Violetta pada tahun 1962. Hal tersebut merupakan alasan mengapa film hitam putih anak-anak Si Pintjang dan film Violetta selamat dari pemusnahan masal dari karya-karya Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) lainnya.[9]
Sebelumnya, setelah hilang dari perindustrian film pada tahun 1965 imbas dari Gerakan 30 September, namanya kemudian muncul lagi secara daring (online) sebagai anggota Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) dan sebagai pegawai Kementrian Penerangan. Selain itu, namanya juga disebut dalam buku karangan A. Teeuw yang berjudul Modern Indonesian Literature yang terbit pada tahun 1967 di halaman 110 (seratus sepuluh). Kotot Sukarda disebut sebagai penulis naskah drama yang berjudul Bende Mataram yaitu drama peperangan berlatar Perang Jawa yang berlangsung pada tahun 1825 hingga tahun 1830. Selain itu, nama Kotot Suakrdi juga muncul dalam daftar buku karangan Yudiono K.S. yang berjudul Pengantar Sejarah Sastra Indonesia yang terbit pada tahun 2007 di halaman 94 (sembilan puluh empat).[15]