Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), beberapa provinsi penghasil beras terbanyak di Indonesia, di antaranya di Jawa Timur dengan perolehan beras sepanjang Januari-April 2020 mencapai 4,20 juta ton, sedangkan gabah kering yang diproduksi mencapai 4,98 juta ton. Kedua yaitu, Jawa Tengah dengan jumlah produksi beras dari Januari-April 2020 sebesar 4,10 juta ton. Ketiga yaitu Jawa Barat, dengan jumlah produksi dari Januari-April 2020 sebesar 2,54 juta ton. Keempat yaitu Sulawesi Selatan, dengan jumlah produksi selama Januari-April 2020, sebesar 1.18 juta ton. Kelima yaitu Lampung, dengan jumlah produksi pada Januari-April 2020 mencapai sebesar 839.1 ribu ton. Keenam yaitu Sumatera Selatan, dengan jumlah produksi pada Januari-April 2021 sebesar 1.27 juta ton. Ketujuh yaitu Sumatera Utara dengan jumlah produksi pada Januari-April 2020 sebesar 847 ribu ton.[3]
Di bulan November 2021, harga beras pada tingkat penggilingan mengalami kenaikan sebesar 0,81% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Rata-rata harga gabah kering tingkat petani di bulan November mengalami kenaikan sebesar 0,91%, sedangkan di tingkat penggilingan mengalami kenaikan sebesar 0,59%.[4] Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/PERMENTAN/PP.130/12/2017, beras dibedakan berdasarkan kelas mutu beras. Kelas mutu tersebut terdiri atas kelas medium dan premium.[5]
Kualitas Beras
Rata-rata harga beras per kg di tingkat penggilingan menurut kualitas setiap bulan pada tahun 2021 (dalam rupiah)[6]
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Premium
9.780
9.772
9.607
9.550
9.627
9.537
9.402
9.499
9.456
9.449
9.539
9.673
Medium
9.405
9.386
9.154
8.979
8.910
8.907
8.887
8.916
8.962
9.011
9.072
9.128
Luar kualitas
9.036
9.146
8.742
8.675
8.710
8.695
8.481
8.689
8.589
8.631
8.711
8.889
Gula pasir
Gula pasir merupakan salah satu bahan pokok, juga sebagai sumber kalori bagi tubuhmanusia. Selain itu, gula pasir juga berfungsi sebagai pemanis baik untuk makanan atau minuman. Gula pasir juga merupakan komoditaspangan yang strategis kedua, setelah beras. Berdasarkan Pola Pangan Harapan, sebagai sumber kalori bagi masyarakat Indonesia gula pasir menempati urutan keempat setelah padi-padian, pangan hewani, serta minyak, dan lemak.[7]
Minyak goreng adalah bahan pokok diberbagai negara, temasuk Indonesia. Namun, minyak goreng pertama kali digunakan oleh masyarakat Tiongkok. Dahulu, minyak goreng berasal dari lemakdaging yang digunakan untuk memasak. Dagingnya berasal dari daging sapi, babi, dan domba.[9] Di Indonesia, jenis minyak goreng yang sering digunakan yaitu Minyak Goreng Sawit (Refined Bleached Deodourised Olein/RBDO), karena lokasi strategis Indonesia yang banyak menghasilkan sawit sehingga ideal dalam hal ketersediaan dan harga.[10]
Mentega
Mentega merupakan salah satu jenis bahan pelengkap bagi bahan pokok masyarakat Indonesia. Mentega sudah ada sejak 8000 SM, yang dipercayai bahwa mentega berasal dari susu domba yang telah mengental. Susu domba tersebut dibawa oleh seorang gembala di Afrika. Susu domba yang mengental tersebut kini dinamakan mentega. Di pasaran, mentega dibuat dari susu sapi.[11]
Daging
Daging sapi
Daging sapi merupakan bahan makanan yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Kebutuhan daging di Indonesia terus mengalami peningkatan, di tahun 2020 kebutuhan daging sapi diperkirakan mencapai 600.000 ton. Beberapa provinsi di Indonesia menjadi produsen daging sapi untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Jawa Timur menjadi provinsi dengan produksi daging sapi terbesar di Indonesia, dengan total produksi 99.146 ton.[12]
Daging ayam
Daging ayam ras pedaging di Indonesia mencapai 3,28 juta ton pada 2020. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah produksi terbesar sebanyak 838.149 ton.[13]
Produksi daging ayam ras pedaging menurut provinsi[14]
No.
Provinsi
Tahun (dalam ton)
Pertumbuhan (dalam%)
2015
2016
2017
2018
2019
1
Aceh
6.107
6.429
7.410
9.405
9.687
3,00
2
Sumatera Utara
40.902
42.815
46.286
53.823
53.940
0,22
3
Sumatera Barat
20.063
20.438
28.533
30.888
31.479
1,91
4
Riau
45.308
47.575
54.095
59.368
60.556
2,00
5
Jambi
13.075
12.599
13.013
14.548
14.931
2,63
6
Sumatera Selatan
33.318
36.357
33.348
44.423
46.282
4,18
7
Bengkulu
1.579
4.735
4.376
4.380
5.694
30,00
8
Lampung
33.354
33.786
39.099
39.542
42.487
7,45
9
Kepulauan Bangka Belitung
14.838
15.657
13.034
16.642
18.639
12,00
10
Kepulauan Riau
8.586
8.726
18.116
15.329
15.335
0,04
11
DKI Jakarta
129.315
138.088
-
269.794
275.190
2,00
12
Jawa Barat
530.423
719.820
823.863
668.088
786.446
17,72
13
Jawa Tengah
158.673
187.965
204.432
225.049
225.560
0,23
14
Daerah Istimewa Yogyakarta
35.536
34.627
34.274
29.983
31.258
4,25
15
Jawa Timur
203.139
219.833
270.882
348.775
357.495
2,50
16
Banten
73.488
87.217
108.228
119.512
131.164
9,75
17
Bali
10.454
9.866
8.673
12.018
12.516
4,15
18
Nusa Tenggara Barat
8.257
6.835
37.810
45.504
46.955
3,19
19
Nusa Tenggara Timur
2.387
4.298
5.541
5.771
6.485
12,36
20
Kalimantan Barat
44.436
40.778
48.723
53.396
54.944
2,90
21
Kalimantan Tengah
11.487
12.278
18.366
32.336
33.381
3,23
22
Kalimantan Selatan
60.952
72.553
76.534
83.414
83.412
0,00
23
Kalimantan Timur
53.860
56.532
61.669
62.045
65.369
5,36
24
Kalimantan Utara
6.623
4.249
3.000
3.833
3.971
3,60
25
Sulawesi Utara
7.195
7.310
7.467
7.937
8.002
0,81
26
Sulawesi Tengah
7.613
8.854
10.778
10.293
11.276
9,55
27
Sulawesi Selatan
53.664
48.862
51.813
58.230
63.916
9,77
28
Sulawesi Tenggara
3.601
3.337
3.694
4.085
4.332
6,05
29
Gorontalo
2.658
3.900
3.938
4.052
4.053
0,02
30
Sulawesi Barat
1.718
1.429
1.756
2.384
2.409
1,05
31
Maluku
67
65
68
204
205
0,27
32
Maluku Utara
421
531
373
452
538
18,86
33
Papua Barat
1.599
1.300
1.337
1.063
1.115
4,90
34
Papua
3.610
5.856
6.264
6.008
5.961
-0,78
Indonesia
1.628.307
1.905.497
2.046.794
2.342.577
2.514.982
7,36
Telur ayam
Blitar merupakan daerah penghasil telur ayam terbanyak di Indonesia. Secara historis, kabupaten Blitar sudah menjadi sentra telur sejak tahun 1970. Sekitar 30% pasokan telur nasional berasal dari Blitar.[15] Hingga akhir tahun 2020, jumlah produksi telur ayam mencapai 5,15 juta ton, sedangkan jumlah kebutuhan masyarakat sekitar 4,9 juta ton. Hal tersebut mengakibatkan surplus sebesar 241,4 ribu ton. Namun, harga telur di akhir tahun 2020 mengalamai kenaikan di tingkat konsumen sebesar Rp24.000 per kg. Hal tersebut sesuai dengan Harga Ecer Tertinggi (HET) yang dikeluarkan oleh Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 tahun 2020.[16] Di awal tahun 2021, harga telur ayam mengalami penurunan menjadi Rp16.000 per kg. Harga tersebut mengakibatkan kerugian bagi para peternak, karena tidak sesuai dengan Harga Ecer Tertinggi yang ditentukan oleh pemerintah. Hal tersebut terjadi karena kebijakan pemerintah mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar akibat pandemi.[17]
Susu
Susu merupakan salah satu bahan pokok dalam pembuatan produk makanan, minuman, keju, mentega, yogurt, dll. Indonesia memiliki peluang yang bagus dalam pengelolaan industri pengolahan susu, juga sebanding dengan populasi penduduk yang banyak. Namun, produksi susu di Indonesia masih rendah. Jumlah peternak susu di Indonesia sekitar 118,75 ribu peternak. Sedangkan jumlah produksi sapi perah secara nasional belum mengalami peningkatan, bertahan di angka 8-12 liter per hari, dengan skala pemeliharaan 2-3 ekor induk.[18]Negara dengan jumlah produksi susu terbesar di dunia yaitu Selandia Baru, dengan total 95% produk susunya tergantung pada pasar ekspor dan perdagangan susu menyumbang 20% dari total perdagangan.[19] Di Indonesia, penghasil susu terbesar berada di Jawa Timur. Pada tahun 2021, Jawa Timur berhasil memproduksi susu sebesar 558.758 ton. Posisi kedua, yaitu Jawa Tengah dengan jumlah produksi susu sebesar 283.361 ton, dan posisi ketiga yaitu Jawa Barat dengan produksi susu 102.509 ton.[20]
Proyeksi konsumsi susu sapi di Indonesia, 2015–2020[21]
Tahun
Permintaan (ton)
Pertumbuhan (%)
Jumlah penduduk (Orang)
Ketersediaan susu (kg/kap/thn)
Pakan
Tercecer
Bahan makanan
Total
2015
81.000
46.000
679.000
806.000
-
255.462
2,66
2016
97.318
52.520
822.781
972.619
20,67
258.705
3,20
2017
101.364
53.730
858.144
1.013.238
4,18
261.891
3,30
2018
105.530
54.889
894.564
1.054.983
4,12
265.015
3,40
2019
109.816
55.997
932.312
1.098.125
4,09
267.974
3,50
2020
114.223
57.054
971.116
1.142.393
4,03
271.066
3,60
Pertumbuhan (%/tahun)
7,42
1,19
6,47
Bawang
Bawang merah
Brebes merupakan daerah pemasok bawang merah terbesar di Indonesia. Lebih dari 39,5% produksi bawah merah nasional dihasilkan di Brebes.[22] Bawang merah yang berasal dari Brebes berhasil diekspor ke Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Data Kemeterian Pertanian luas area panen bawang merah di Brebes mencapai 29.000 - 32.000 hektar (ha). Produksi bawang merah di Brebes mencapai 273.000 ton/tahun.[23] Posisi kedua yaitu Jawa Timur, dengan memasok jumlah bawang merah nasional sebesar 23%. Posisi ketiga yaitu Jawa Barat dengan memasok jumlah bawang merah nasional sebesar 12%.[22]
Pada bulan Februari 2021 harga bawang merah mengalami penurunan sebesar 0,74%. Apabila melihat data, harga bawang merah dari waktu ke waktu memang tidak stabil. Kondisi ini ditunjukkan oleh koefisien keragaman (KK) harga bulanan dari bulan Februari 2020 sampai dengan Februari 2021 yang cukup tinggi yaitu sebesar 19,76%.[24]
LPG atau Liquefied Petroleum Gas merupakan bahan bakar yang mudah didapatkan untuk kebutuhan rumah tangga, industri, dan transportasi. Kandungan yang ada di dalam LPG yaitu propana (C3H8) dan butana (C4H10) atau kombinasi dari keduanya. Pembakaran LPG berdampak terhadap emisi dan efek rumah kaca yang rendah.[28] Produksi LPG di Indonesia cenderung stagnan, sedangkan kebutuhannya terus meningkat. Oleh karena itu impor terus dilakukan oleh pemerintah dalam hal pengadaan gas LPG. Impor LPG mencapai lebih dari 70% terhadap kebutuhan dalam negeri. Selain impor yang tinggi, subsidi untuk LPG juga sangat besar yakni mencapai Rp70 triliun per tahun.[29]
Secara nasional, pada tahun 2017 pemerintah telah melaksanakan program pengalihan minyak tanah ke LPG. Program tersebut didukung dengan pemberian paket LPG tabung 3kg yang terdiri dari tabung LPG 3kg beserta katup/valve termasuk isi perdana dan komporgas satu tungku beserta assesorisnya secara gratis kepada masyarakat.[31]
Garam
Garam adalah komoditas yang strategis dan potensial, dengan kondisi Indonesia yang memiliki panjang pantai 81.000km atau memiliki garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada.[32] Salah satu daerah yang memiliki potensi untuk mengolah garam yaitu Madura, dengan luas lahan 15.000 hektar lahan garam. Namun, tetap produksi garam masih belum maksimal.[33] Berdasarkan data, dalam pemenuhan kebutuhan garam nasional sudah terpenuhi, tetapi untuk kebutuhan industri masih perlu diimpor.[34]
↑Kementerian Perdagangan (2021). "Profil Komoditas: Minyak Goreng"(PDF). Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan. hlm.3. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2022-01-29. Diakses tanggal 2022-01-29.
↑Agustina, Titin (2016). "OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU"(PDF). Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian. hlm.27. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2022-01-14. Diakses tanggal 2022-01-30.
12Al Amien, Dhaneswara; Adrienne, Farah (2020). "Tantangan dan Potensi Garam Nasional"(PDF). PPI Brief. hlm.4. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2022-01-30. Diakses tanggal 2022-01-30.