Seksualitas remaja merujuk kepada perasaan seksual, perilaku dan perkembangan pada remaja dan merupakan tahap seksualitas manusia. Seksualitas sering merupakan aspek penting dari kehidupan remaja.[1] Perilaku seksual remaja adalah, pada banyak kasus, dipengaruhi oleh norma-norma budaya dan adat istiadat, orientasi seksual mereka, dan isu-isu kontrol sosial, seperti hukum umur dewasa.
Pada manusia, hasrat seksual dewasa biasanya mulai muncul dengan masa pubertas. Ekspresi seksual dapat mengambil bentuk masturbasi atau seks dengan pasangan. Minat seksual di kalangan remaja, seperti orang dewasa, dapat sangat bervariasi. Aktivitas seksual secara umum dikaitkan dengan sejumlah risiko, termasuk penyakit menular seksual (termasuk HIV/AIDS) dan kehamilan yang tidak diinginkan. Hal ini dianggap sangat benar untuk remaja muda, karena otak remaja tidak memiliki saraf yang matang (daerah beberapa otak lobus frontal korteks otak dan di hipotalamus penting untuk kontrol diri, penundaan kepuasan, dan analisis risiko dan penghargaan yang tidak sepenuhnya matang sampai usia 25-30). Karena sebagian hal ini, kebanyakan remaja dianggap secara emosional kurang matang[2] dan tidak mandiri secara finansial.
Perilaku seksual remaja
Pravelansi dari pengalaman seksual di usia 15 tahun
Kesehatan reproduksi merupakan kesehatan yang penting bagi remaja dan berisiko mengalami masalah jika tidak memiliki pengetahuan yang minim. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dewan Penasihat Anak dan Orang Muda, Save the Children, Forum Anak Nasional dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) pada 132 partisipan laki-laki dan 311 partisipan perempuan berusia 14-24 tahun dari 31 provinsi tergambar ketidaksiapan remaja menghadapi perubahan fisik, emosional, dan perilaku meningkatkan risiko remaja mengalami masalah kesehatan reproduksi. Topik kesehatan reproduksi jarang dibahas di ruang publik yang aman dikarenakan topik ini dianggap sebagai hal yang tabu. Remaja perempuan lebih banyak pengalaman terkait kesehatan reproduksi daripada laki-laki. Kalangan remaja laki-laki masih malu untuk menjelaskan pengalamannya terkait kesehatan reproduksi.[3]
Pravelansi dari pengalaman seksual di usia 15 tahun
Pengaruh media
Sumber informasi kesehatan reproduksi melalui media digital belum inklusif dan belum didukung pendampingan profesional.[3]
Literasi media dan seksualitas berkaitan dengan keterampilan dan kemampuan remaja menjaga kesehatan dan kesejahteraan. Sebagai contoh, saat ini media informasi sedikit banyak telah menyumbang pengaruh yang cukup besar bagi pembentukan citra tubuh pada diri individu. Banyak penggambaran citra diri "ideal" di media melalui penggunaan model iklan dengan postur tubuh yang sama, serta kontes kecantikan yang mensyaratkan berat dan tinggi badan tertentu. Hal ini perlu dibicarakan dengan remaja dengan mengajak mereka berpikir kritis untuk tidak menyamakan dirinya berpenampilan sama dengan gambaran tersebut dan mendorong mereka ke perilaku yang positif.[4]