Satrio (28 Mei 1916–5 Mei 1986) adalah perwira tentara dan dokter Indonesia. Dia pernah menjabat sebagai Menteri KesehatanRepublik Indonesia pada 1960 hingga 1966 dan pernah memimpin Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto pada 1950 hingga 1952.[1][2][3]
Latar Belakang
Ayah Satrio yang bernama Kartosoesastro merupakan priyayi terpandang asal Kedu (Karanganyar, Kebumen) yang merantau ke Banyuwangi. Berasal dari keluarga priyayi membuat Satrio memperoleh keistimewaan dalam hal pendidikan. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya di Jakarta pada tahun 1942. Sebelumnya ia mendapat pendidikan dasar di HIS Banyuwangi, MULO di Ketabang, Surabaya, Jawa Timur dan AMS di Malang, Jawa Timur.[4]
Pada tahun 1963 ia pernah membentuk tim akupuntur negara, dipimpin oleh Prof. Dr. Oei Eng Tie, yang bertugas memberikan pengobatan ala timur kepada Presiden Soekarno. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia.
Karier
Sebagai dokter (1942–1945)
Satrio memulai karirnya sebagai dokter dan asisten bagian anak di RSUP, setelah lulus pendidikan dokter Geneeskundige Hoogeschool te Batavia. Kemudian di tahun 1942 hingga 1943, ia menjadi Kepala Bagian Anatomi Djakarta Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran).
Sebagai dokter militer dan akademisi (1945–1963)
Pada 1945, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia juga bergabung di militer pada 1945, berprofesi sebagai dokter militer.[5] Ia ditunjuk sebagai Kepala Divisi I Kesehatan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dari 1945 hingga 1946. Ia juga merangkap sebagai Kepala Bagian Kesehatan Brig. Tirtayasa Divisi Siliwangi dari 1945 hingga 1950.[6]
Dari tahun 1950 hingga 1953, ia memimpin Kepala Biro Organisasi Kesehatan TNI Angkatan Darat. Selain itu, ia merangkap jabatan sebagai Kepala Rumah Sakit Tentara Pusat (RSTP) dari tahun 1950 hingga 1952. Di tahun 1952–1956, ia diangkat menjadi Wakil Direktur Djawatan Kesehatan Angkatan Darat.[6]
Di samping jabatannya sebagai dokter militer, ia juga berprofesi sebagai dan Lektor Luar Biasa Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dari tahun 1950. Pada 1957, ia dinobatkan sebagai guru besar dan profesor luar biasa.
Pada tahun 1959, ia ditunjuk sebagai Menteri Muda Kesehatan, kemudian menjadi Menteri Kesehatan tahun 1960. Gagasan yang paling dikenal Satrio ketika menjadi menteri kesehatan, ialah akupuntur dan moksibusi yang dijadikan ilmu kedokteran dan praktik kesehatan resmi di Indonesia. Gagasan ini muncul setelah kunjungannya di Tiongkok pada tahun 1961. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo merupakan rumah sakit pertama yang mengadakan praktek akupuntur dan moksibusi oleh Menteri Satrio.[7][6]
Perwira Tinggi, Kepala Pusat Kesehatan ABRI, dan Anggota MPRS (1966–1972)
Makam Prof. Dr. Satrio di Astana Oetara, Surakarta, Jawa Tengah.
Usai menjabat sebagai Menteri Kesehatan, ia kembali ke jabatan militer sebagai Perwira Tinggi diperbantukan Menteri Panglima Angkatan Darat dari 1966 hingga 1967. Kemudian dipindahkan di Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) sebagai Perwira Tinggi diperbantukan Kepala BAKIN dari 1967–1972. Di tengah jabatannya di BAKIN, ia juga menjabat sebagai Kepala Pusat Kesehatan ABRI dan Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dari 1968 hingga 1970.[6]
Satrio meninggal dunia hari Senin, 5 Mei 1986 di Bandung ketika memberikan ceramah penutupan pada peserta kursus reguler Sekolah Staf Militer Angkatan Darat (Sesminad), Sekolah Staf Teknik Angkatan Darat (Sesnikad) TP.1985–1986 di Sesko Angkatan Darat, Kota Bandung, Jawa Barat.[6]