Sara (Saartjie) van de Kaap (Cape Town, 1775 – 1847) adalah mantan budak yang menjadi perintis komunitas Islam di Afrika Selatan. Keluarganya mengizinkan sultan Tidore Tuan Guru Abdullah bin Qadhi yang diasingkan ke Afrika Selatan untuk mendirikan madrasah di sana pada tahun 1793.[1]
Keluarga
Sarah lahir sebagai budak kulit hitam di Cape Town. Pada tahun 1779, ketika ia berusia empat tahun, ia dan ibunya, Trijn van de Kaap, dibebaskan oleh pemilik mereka yang berkebangsaan Belanda, Gerhardus Hendrick Craywagen, dan dapat melanjutkan hidup mereka sebagai orang kulit hitam yang merdeka.[1]
Ayah Sara, Coridon van Ceylon, juga seorang budak yang dibebaskan. Ia dengan cepat naik pangkat dan menjadi salah satu muslim pertama yang memiliki properti di Cape Town. Di salah satu bangunannya di Jalan Dorp di Bo-Kaap, keluarga ini mengizinkan pemimpin muslim dari Maluku yang diasingkan di Afrika Selatan Tuan Guru Abdullah bin Qadhi Abdussalam, untuk medirikan madrasah di sana pada tahun 1793. Sejak tahun 1793, sekolah tersebut semakin populer di kalangan budak, terutama mantan budak, setiap tahunnya.[1]
Kehidupan
Saat muda, Sara melihat pertumbuhan Islam yang pesat di lingkungan Bo-Kaap, yang saat itu masih disebut Waalendorp. Dia juga sangat terkesan dengan pangeran Maluku yang mereka sebut sebagai Tuan Guru. Tuan Guru tinggal bersama keluarga tersebut dan menjadi imam pertama di sana. Madrasah yang awalnya didirikan diubah total menjadi masjid pada tahun 1798. Masjid Auwal merupakan masjid tertua di Afrika Selatan.[2]
Sara menikah dengan Ahmad van Bengalen yang juga seorang mantan budak, sekitar tahun 1795. Ahmad van Bengalen tiba di Cape Town pada tahun 1783 dengan kapal VOC dan berasal dari Chin-Surah (Benggala), bekas pos perdagangan Belanda di Bengal. Van Bengalen juga mengikuti pemikiran Tuan Guru, kemudian menjadi imam Masjid Auwal dari tahun 1822 hingga 1843.[3]
Sara dan ibunya, Trijn, berbicara bahasa Cape Dutch, bahasa populer di Cape Town. Mereka adalah perempuan-perempuan yang giat, pada masa itu, seorang budak perempuan muslim belum pernah terdengar melakukan transaksi bisnis dan memiliki properti. Trijn van de Kaap sendiri memiliki empat budak. Pada 13 Februari 1809, Trijn menjual harta mendiang suaminya kepada putri mereka, Sara, seharga 3.000 gulden.[3]