Santiswara Larasmadya merupakan bentuk kesenian tradisional yang berkembang pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana V, sekitar abad ke-17 hingga ke-18 Masehi, di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Dari penamaannya berasal dari gabungan dua kata, yakni santiswara dan larasmadya. Istilah santiswara terdiri atas kata santi, yang berarti doa, dan swara, yang berarti suara atau nyanyian, sehingga dapat diartikan sebagai doa yang dilantunkan melalui senandung. Adapun larasmadya berasal dari kata laras, yang berarti irama, dan madya, yang bermakna sederhana atau bersahaja. Secara keseluruhan, Santiswara Larasmadya merujuk pada bentuk doa atau puji-pujian yang dilantunkan dalam bentuk tembang atau nyanyian dengan irama yang tenang dan sederhana.[1] Sejak tahun 2021, Pemerintah menetapkan Santiswara Larasmadya sebagai Warisan Budaya Takbenda.[2]
Sejarah
Santiswara Larasmadya muncul pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana V, yaitu pada rentang waktu abad ke-17 hingga abad ke-18 Masehi. Informasi mengenai asal-usul dan perkembangan kesenian ini terdokumentasi dalam Serat Wedhapradangga, sebuah karya R. Ng. Pradjapangrawit yang memuat uraian tentang sejarah gamelan serta gending-gending dalam tradisi musik Jawa. Pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana V, kesenian ini mengalami pengembangan melalui penambahan jenis tetembangan, yang menandai dinamika dan adaptasi kesenian ini dalam konteks budaya istana.[2]
Pementasan
Santiswara Larasmadya mempunyai bentuk pertunjukan musik tradisional yang tidak menggunakan seluruh instrumen dalam satu set gamelan, melainkan hanya mengandalkan tiga instrumen utama, yaitu kemanak, kendang, dan terbang. Di antara ketiganya, kendang memainkan peran penting sebagai penentu tempo dan tekanan ritmis, yang mengatur dinamika permainan antara kemanak dan terbang yang dimainkan bersahutan.[butuh rujukan]
Dalam beberapa pementasan, komposisi tersebut kadang dilengkapi dengan instrumen tambahan seperti slenthem, gender, dan gong. Penambahan instrumen ini bertujuan untuk menciptakan variasi musikal dan memperkuat kesan sakral serta suasana magis yang menenangkan dalam pertunjukan.[butuh rujukan]
Selain instrumen gamelan, pertunjukan ini juga memanfaatkan tiga jenis alat musik rebana, yaitu:[butuh rujukan]
Dhodhog, yakni rebana kecil yang bentuknya menyerupai kendang berukuran pendek,
Kempul, yang berukuran lebih besar daripada dhodhog,
Terbang, yang memiliki ukuran paling besar di antara ketiganya.
Meski sering disebut bersamaan, Santiswara dan Larasmadya memiliki perbedaan dalam penggunaan syair. Syair dalam Santiswara umumnya bersumber dari teks-teks Macapat seperti Pocung, Mijil, Gambuh, Kinanthi, dan Dhandhanggula. Sementara itu, Larasmadya menggunakan syair yang juga berasal dari tembang Macapat, tetapi memiliki gaya pengolahan dan penyajian yang berbeda dengan Santiswara.[1]
Makna
Santiswara Larasmadya berisi syair-syair yang memuat doa-doa, nasihat-nasihat moral, serta ajaran kebijaksanaan yang bersumber dari nilai-nilai Islam. Di dalamnya juga terkandung pujian kepada Allah SWT dan shalawat bagi Nabi Muhammad SAW. Pada perkembangannya, Santiswara Larasmadya tidak hanya difungsikan sebagai sarana dakwah dalam tradisi Islam, tetapi juga digunakan dalam lingkungan gereja. Dalam konteks tersebut, kesenian ini tetap menjalankan peran sebagai media penyampaian ajaran agama dan ungkapan puji-pujian kepada Tuhan.[1]