Said bin al-Musayyib bin Hazn bin Abi Wahb bin Amr bin Aidz bin Imran bin al-Makhzumi al-Quraisy (bahasa Arab:سعيد بن المسيب بن حزن بن أبي وهب المخزومي القرشيcode: ar is deprecated , lahir 15 H/636, wafat 94 H/715 M; umur 79 tahun) atau Said bin Musayyab adalah salah seorang ulama ahli hadis dan fukaha dari Madinah.[1][2] Ia termasuk golongan tabi'in, dan merupakan salah seorang dari Tujuh Fuqaha Madinah.[3][4][5] Di antara ketujuh tokoh Madinah tersebut, Said sering dianggap sebagai yang paling berpengaruh.[5][6] Ia lahir di Madinah pada tahun ke 2 pemerintahan Umar bin Khathab. Ia menantu dari Abu Hurairah.
Kepribadian
Said dikenal sangat tekun beribadah, telah melakukan haji lebih dari tiga puluh kali, dan selama empat puluh tahun tidak pernah meninggalkan salat berjemaah di baris (shaf) pertama di masjid.[7]Imam Ahmad merawikan dari 'Imran al-Jauni bahwa "Sa'id bin al-Musayyib tidak pernah ketinggalan salat (berjamaah) dalam semua salatnya selama 40 tahun, dan tidak pula melihat tengkuk para jamaah (karena berada di shaf pertama), dan para jamaah juga tidak pernah mendapatinya keluar dari masjid (karena ia pulang paling terakhir)." Abu Sahal Utsman bin Hakim berkata, "Aku mendengar Sa'id bin al-Musayyib berkata, 'Sejak 30 tahun yang lalu, setiap kali mu'adzin mengumandangkan azan, aku pasti sudah berada di masjid.'"[8] Selama 50 tahun Said bin Al-Musayyib melakukan shalat shubuh dengan wudhu shalat Isya. Ia melakukan puasa terus menerus jika matahari telah terbenam, dia datang ke masjid dengan membawa minuman dari rumahnya dan meminumnya.[9]
Konflik Kekuasaan
Ketika Abdullah bin Zubair maju sebagai khalifah, gubernurnya di Madinah Jabir bin Aswad memaksa Said untuk berbaiat, namun ia menunggu kesepakatan semua orang hingga ia dicambuk 60 kali. Saat terjadi tragedi al-Harrah, dimana pasukan Yazid melakukan pembunuhan dalam kota Madinah, Said hanya seorang diri di dalam masjid hingga para pelaku pembunuhan pergi meninggalkan Madinah.[10]
Said berani menolak ancaman atas permintaan Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk membaiat putranya Walid dan Sulaiman karena menurut Said hanya satu yang boleh dibaiat untuk khalifah maka ia pun dicambuk 60 kali dan ia pun diisolasi dari mengisi majelis.[11] Ia bahkan diarak keliling kota hanya dengan celana rumbai, namun setelah Hisyam melapor pada Abdul Malik, ia meminta Said dibebaskan.
Said berusaha menolak berurusan dengan penguasa, ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengundangnya untuk meminta pendapat, Said berusaha menghindar, namun pada masa Umar ini khalifah banyak minta pendapat dari Said.[12]
Said memiliki seorang putri yang cantik dan cerdas hingga Abdul Malik ingin menikahkan anaknya dengan putri Said namun ditolak hingga menyebabkan Said mendapatkan hukuman oleh khalifah dengan 100 cambukan. Said lalu menikahkan putrinya dengan muridnya sendiri yang sederhana, Katsir bin Abu Wada'ah (Abdullah bin Wada'ah) dengan mahar 2 dirham.[10] Katsir pun lantas belajar pada istrinya yang juga memiliki banyak ilmu dari ayahnya.[13] Pernikahan ini sempat menimbulkan hiruk pikuk di masyarakat sekitar Said yang keheranan Said menolak tawaran pernikahan Khalifah.
Said memiliki tunjangan 30.000 dirham (120 juta rupiah) dari baitul mal namun tidak pernah diambilnya. Hajjaj bin Yusuf yang masih muda pernah masuk masjid dan solat cepat tanpa menyempurnakannya lalu Said melemparkan pasir ke arahnya, sejak itu Hajjaj mengakui ia perbaiki solatnya.[10] Semasa Khalifah Walid bin Abdul Malik, Said enggan memenuhi panggilan Walid di majlisnya dan menolak menerima tunjangan dari pemerintah.[12]
Periwayatan hadis
Said bin al-Musayyib adalah orang yang paling hafal atas berbagai hukum dan keputusan yang dikeluarkan oleh KhalifahUmar bin Khattab, sehingga mendapat julukan Rawiyatul Umar (Periwayat Umar).[1] Selain itu, ia meriwayatkan hadis dari sahabat nabi lainnya termasuk Sa'ad bin Abi Waqqas dan Abu Hurairah. Hadis yang diriwayatkan oleh Said bin al-Musayyib diteruskan periwayatannya salah satunya oleh Az-Zuhri.[14]Haditsmursal yang berasal dari Said bin al-Musayyib dianggap hasan oleh Imam Syafi'i.[15] Walau demikian, Imam Ahmad juga selainnya berkata, "Mursalat (kumpulan hadits mursal) yang diriwayatkannya adalah shahih kesemuanya."[2] Ia pernah berjalan beberapa hari hanya untuk mencari satu hadis. Ahmad bin Hambal berkata,"Siapa yang menandingi said bin Al-Musayyib? dia adalah orang yang dapat dipercaya dan termasuk orang yang saleh."[12]
Tafsir Mimpi
Said juga dikenal ahli dalam menta'wil mimpi hingga banyak pertanyaan tafsir mimpi yang ia jelaskan, termasuk mentafsirkan bahwa Abdul Malik bin Marwan akan mengalahkan Abdullah bin Zubair dan memiliki 4 anak yang menjadi khalifah. Ia mempelajari ilmu ta'wil mimpi melalui Asma binti Abu Bakar.[10] Ia juga menta'wilkan mimpi seorang yang dipaksa keluar dari Islam dimana hal tersebut terjadi.[9] Imran bin Abdullah, dia berkata, "Hasan bin Ali bin Abi Thalib pernah bermimpi seolah-olah di kedua matanya terdapat tulisan "Qul Huwallahu Ahad (katakanlah bahwa Tuhan itu satu)." Kemudian, dia menceritakan mimpinya itu dan meminta penafsiran atau pendapat dari keluarganya. Lalu, mereka menceritakan hal itu kepada Said bin Al-Musayyib. Said lantas berkata, "Jika memang mimpinya benar seperti yang diceritakannya, maka katakanlah bahwa dia tidak akan hidup lebih lama lagi." Akhirnya, dia pun meninggal dunia setelah beberapa hari."
Muridnya
Al-Hafizh berkata, "Mereka yang meriwayatkan dari Said bin Al-Musayyib antara lain; puteranya sendiri Muhammad, Salim bin Abdullah bin Umar, Az-Zuhri, Qatadah, Syarik bin Abi Tamar, Abu Az-Zinad, Sulami, Sa'ad bin Ibrahim, Amr bin Murrah, Yahya bin Said Al-Anshari, Dawud bin Abi Hind, Thariq bin Abdirrahman, Abdul Hamid bin Jubair bin Syu'bah, Abdul Khaliq bin Salamah, Abdul Majid bin Sahl, Amr bin Muslim bin lmarah bin Ukaimah, Abu Ja'far AI-Baqir, Ibnu Al-Munkadir, Hasyim bin Hasyim bin Utbah, Yunus bin Yusuf dan Jama'ah.[12]
Pekerjaan dan keluarga
Said bermata-pencaharian sebagai sebagai penjual minyak, dan ia tidak pernah mau menerima berbagai pemberian.[1] Ia menikah dengan anak perempuan dari Abu Hurairah.[16] Ia mempunyai seorang putri bernama Ribab, yang meskipun dilamar oleh KhalifahAbdul Malik bin Marwan bagi anaknya Al-Walid, namun dinikahkannya dengan muridnya Abdullah bin al-Wada'ah.[7][17]
Ahmad bin Abdullah Al-'Ajali berkata, "Said bin Al-Musayyib adalah seorang yang saleh, ahli fikih dan tidak mau mengambil begitu saja suatu pemberian (hadiah). Dia pemah mempunyai barang pemiagaan senilai 400 dinar (1,2 miliar rupiah), dengan jumlah itu ia berdagang minyak. Dia adalah seorang yang buta sebelah matanya."
Muhammad bin Hilal berkata bahwa dia pernah melihat Said bin Al-Musayyib dengan penglihatannya yang rabun, dia memakai kopiah halus dan surban berwama putih, dan terdapat pula bendera warna merah yang membentang sejengkal di belakangnya.[9]
Kematian
Abdurrahman bin Harmalah, dia berkata, "Aku menjenguk Said bin Al-Musayyib di saat dia sedang sakit parah. Saat itu dia sedang melaksanakan shalat zuhur dengan berbaring terlentang dan menggunakan isyarat. Aku mendengar dia membaca, "Wa Asy-Syamsi wa Dhuhaha."
Said wafat karena sakit keras pada usia tua 75 tahun dengan mata yang sudah rabun pada 94 H meninggalkan beberapa uang dirham atau 100 dinar (300 juta rupiah).[10] Tahun dimana Said meninggal dunia disebut sebagai sanah Al-Fuqnha' (tahun bagi para ulama fikih) karena pada saat itu banyak ahli fikih yang meninggal dunia."
Seseorang tidak akan pernah mencapai kemuliaan dan kehormatan yang sebanding dengan kehormatan orang yang taat kepada Allah. Dan, seseorang tidak akan terhina sebagaimana terhinanya orang-orang yang telah berbuat maksiat kepada Allah. Cukuplah pertolongan Allah bagi seorang mukmin ketika dia melihat musuh-musuhnya telah berbuat maksiat kepada-Nya (orang-orang yang beriman masih dijaga-Nya untuk tidak melakukan maksiat seperti orang-orang kafir)
Tidak ada yang lebih mudah bagi setan untuk menggoda kecuali melalui perempuan.
Janganlah kalian banyak berkawan dengan orang-orang zhalim, kecuali dalam hati kalian harus mengingkari aPa yang mereka lakukan, agar amal dan perbuatan kalian yang baik tidak menjadi luntur karenanya.
Sesungguhnya dunia itu adalah sesuatu yang hina, dan semua orang yang suka kehinaan akan mencarinya Dan yang lebih hina lagi adalah jika orang tersebut mengambilnya dengan cara yang tidak sah, mengambil yang bukan haknya dan menginfakkannya ke jalan yang tidak pada tempatnya.
12Nasiruddin, S.Ag, MM. Kisah Orang-orang Sabar. Penerbit Republika. hlm.85-87. ISBN 979-1102-03-1, 9789791102032. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-07-13. Diakses tanggal 2015-07-13.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)