Angkatan Laut Kerajaan Belanda (bahasa Belanda:Koninklijke Marinecode: nl is deprecated , KM) adalah cabang angkatan laut dari Angkatan Bersenjata Belanda.[3][4] Angkatan laut ini menelusuri sejarahnya hingga 8 Januari 1488,[5] menjadikannya angkatan laut tertua ketiga di dunia.
Secara resmi dibentuk pada tahun 1813 setelah berdirinya Kepangeranan Berdaulat Belanda Bersatu, Angkatan Laut Kerajaan Belanda memainkan peran penting dalam melindungi Hindia Belanda, dan kemudian berperan kecil dalam Perang Dunia II, di mana angkatan laut ini berperang melawan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Sejak Perang Dunia II, Angkatan Laut Kerajaan Belanda telah berpartisipasi dalam berbagai misi penjaga perdamaian dan secara rutin ikut serta dalam operasi serta latihan Uni Eropa dan NATO.
Prefiks internasional untuk kapal-kapal Angkatan Laut Belanda adalah HNLMS (His/Her Netherlands Majesty’s Ship, "Kapal Yang Mulia Raja/Ratu").[6]HNMS juga dipakai,[7] meskipun sama dengan prefiks kapal-kapal Angkatan Laut Norwegia.[8] Angkatan Laut Belanda sendiri menggunakan prefiks Zr. Ms. (Zijner Majesteits, "Yang Mulia Raja") ketika Belanda diperintah oleh seorang raja, dan Hr. Ms. (Harer Majesteits, "Yang Mulia Ratu") ketika diperintah oleh seorang ratu.[9]
Sejarah
Angkatan Laut Belanda modern dimulai dari pembentukan undang-undang maritim (statute of admiralty) oleh Kaisar Romawi Suci Maximilian I pada 8 Januari1488.[10] Sejarawan maritim melacak asal-usul angkatan laut independen Belanda hingga awal Perang Delapan Puluh Tahun (1568–1648) ketika terbentuk angkatan laut nasional seiring dengan pendirian Republik Belanda pada 1597.[11]
Angkatan laut Belanda terlibat dalam beberapa peperangan melawan negara-negara Eropa lainnya sejak akhir abad ke-16, berawal dari perlawanan atas dominasi Spanyol di perairan Eropa, belakangan untuk jalur pelayaran, perdagangan dan koloni di berbagai penjuru dunia, termasuk dalam 4 kali Perang Inggris-Belanda. Selama abad ke-17 angkatan laut Belanda merupakan salah satu angkatan laut terkuat di dunia. Secara organisatoris, angkatan laut Republik Belanda terdiri dari 5 admiralty terpisah (3 di Holland dan masing-masing 1 di Friesland dan Zeeland), masing-masing dengan armada kapal, awak kapal, galangan kapal, struktur komando dan pendapatannya sendiri-sendiri.[12]
Di berbagai penjuru dunia, kapal-kapal AL Belanda diperbantukan untuk mengangkut pasukan, misalnya dalam rangka Operasi Dynamo di Dunkirk dan pada D-Day, mereka mengawal konvoi-konvoi dan menyerang sasaran-sasaran musuh. Selama perang, AL Belanda mengalami kekalahan yang besar, khususnya dalam mempertahankan koloni Hindia Belanda, terutama Pertempuran Laut Jawa di mana panglimanya Laksamana MudaKarel Doorman, yang tenggelam bersama armada dan 1000 awak kapalnya. Satu kapal perusak ringan (light cruiser) yang sedang dibangun direbut Nazi Jerman di galangannya.
Selama serbuan Jepang yang tak kenal belas kasihan dari Februari hingga April 1942 di Hindia Belanda, angkatan laut Belanda di Asia nyaris musnah, dan kehilangan total 20 kapal (termasuk 2 kapal perusak ringan dan 2500 pelaut tewas[13]) — sebanyak korban jiwa di pihak Amerika pada saat serangan Jepang atas Pearl Harbor. Angkatan laut Belanda semakin terpuruk selama bertahun-tahun akibat kekurangan dana dan kesulitan menghadapi kapal-kapal yang lebih kuat dengan persenjataan yang lebih baik, termasuk torpedo Long Lance, yang digunakan kapal perusak IJN Haguro menenggelamkan kapal perusak ringan HNLMS De Ruyter.[14]
Satuan kecil kapal selam berpangkalan di Australia Barat menenggelamkan banyak kapal-kapal Jepang dalam minggu-minggu pertama perang ketimbang seluruh angkatan laut Inggris maupun Amerika Serikat selama periode yang sama, yang membuat Laksamana MadyaConrad Emil Lambert Helfrich mendapat julukan "Ship-a-day Helfrich".[15] Laju gerakan yang agresif melawan Jepang menjadi faktor kontributif terhadap seluruh kerusakan berat yang terjadi dan jumlah keberhasilan yang dicapai ketimbang yang dicapai oleh Inggris dan Amerika Serikat di wilayah yang sama.
Bahkan, baik Inggris maupun Amerika Serikat yakin bahwa panglima AL Belanda yang bertugas di ppasukan Sekutu terbilang terlalu agrsif. Belakangan, bahkan segelintir kapal selam Belanda berhasil mencetak kemenangan yang menakjubkan, termasuk menenggelamkan salah satu U-boatKriegsmarine di Laut Tengah.
Selepas Perang Dunia II, hubungan antara Belanda dan koloni-koloninya berubah secara drastis. Lepasnya koloni Hindia Belanda menjadi Republik Indonesia hanya 2 hari setelah penyerahan Jepang tanpa syarat, mengacaukan rencana Belanda untuk memulihkan kedaulatan kolonialnya. Perlu waktu 4 tahun sebelum akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Armada, pasukan dan pangkalan-pangkalan AL Belanda yang berada di bekas koloni Hindia Belanda diserahterimakan kepada Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember1949 di Den Haag, Belanda.
Ketika pecah konflik dengan Indonesia mengenai Nugini Belanda (Netherlands New Guinea) pada tahun 1961, kekuatan AL Belanda menjadi tulang punggung pertahanan Belanda di koloni tersebut dalam menghadapi infiltrasi-infiltrasi oleh militer Indonesia, yang ditunjang oleh kapal-kapal perang modern dari Uni Soviet, yang merupakan bagian dari kampanye Trikora yang dicanangkan oleh Presiden IndonesiaSoekarno untuk merebut Nugini Belanda yang dinamainya sebagai Irian Barat. Selama konflik ini, AL Belanda sempat mengirimkan gugus tugas yang meliputi kapal induk pesawat kelas Colossus Hr. Ms. Karel Doorman (R81) untuk menggetarkan kekuatan AL Indonesia.
Dalam Pertempuran Laut Aru pada 15 Januari1962, eskader kapal perusak (destroyer) Belanda, Hr. Ms. Evertsen, Hr. Ms. Kortenaer, dan Hr. Ms. Utrecht, yang didukung 2 pesawat Neptune dan Frely, berhasil menenggelamkan kapal torpedo ALRI RI Macan Tutul (650) dan menewaskan komandan eskader ALRI Komodor Yos Sudarso dan komanda RI Macan Tutul (650) Kapten Wiranto. Dua kapal ALRI lainnya, RI Macan Kumbang (653) dan RI Harimau (654) berhasil meloloskan diri. Konflik pun berakhir dengan penyerahan Nugini Belanda kepada UNTEA pada 15 Agustus1962 sebagai hasil Konferensi New York dan kemudian diserahkan kepada Indonesia pada 1 Mei1963. Seluruh kekuatan AL Belanda pun ditarik pulang ke Belanda sebagai itikad baik untuk menghentikan segala bentuk konflik bersenjata di daerah konflik tersebut.
Dengan pembentukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organisation, NATO), kekuatan utama militernya bertumpu pada angkatan darat dan angkatan udara, hingga pecah Perang Korea (1950-1953 di mana angkatan laut lebih dipertimbangkan. Pemerintah memutuskan pembentukan armada yang terdiri dari 2 eskader. Selain kapal induk pesawat Hr. Ms. Karel Doorman, AL Belanda juga memiliki 2 kapal perusak ringan kelas De Zeven Provincien, 8 kapal perusak kelas Friesland, 8 kapal selam, 6 kapal fregat kelas Speijk, dan sejumlah kapal penyapu ranjau.
Sebagai anggota NATO, Belanda mengembangkan kebijakan keamanan yang mengikat bersama anggota lainnya. Pembentukan Pakta Warsawa pada tahun 1955 meningkatkan perlombaan senjata antara Blok Barat dan Blok Timur. Inovasi-inovasi teknologi berkembang pesat, pengembangan radar dan sonar diikuti senjata nuklir dan misil jarak jauh. Situasi geopolitik tersebut mengizinkan strategi militer tetap. Mulai tahun 1955, AL Belanda bergabung dengan eskader-eskader NATO yang permanen, seperti Standing Naval Force Atlantic.
Meskipun Penjaga Pantai Belanda bukanlah bagian resmi dari angkatan laut, namun berada di bawah kendali operasi angkatan laut. Demikian pula dengan Penjaga Pantai Karibia Belanda juga berada di bawah kendali operasi dan dipimpin oleh panglima angkatan laut Belanda di Karibia Belanda.
↑Defensie, Ministerie van (2014-02-13). "Organisation - Defensie.nl". english.defensie.nl (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2023-06-08.
↑"Defensieschepen worden meteen Zr. Ms. in plaats van Hr. Ms" (dalam bahasa Dutch). Volkskrant. 2013-01-29. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Jaap R. Bruijn, "Dutch Navy" in Bruce, Anthony & Cogar, William (editors) An Encyclopedia of Naval History. Facts on File, New York. 1998; p. 121
↑Rodger, N. A. M. (2004) Command of the Ocean: A Naval History of Britain 1649–1815. Penguin Books, London; pp. 9–10
↑Klemen, L (1999–2000). "The War at Sea". Forgotten Campaign: The Dutch East Indies Campaign, 1941–1942. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-03-05. Diakses tanggal 2016-01-06.
↑Dr. L. de Jong, Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog (Dutch), 14 parts, part 11a-I-second half, RIOD, Amsterdam, 1975