Ibu kota in 23x15px|border |alt=|link= Curaçao, 23x15px|border |alt=|link= Kerajaan Belanda{{SHORTDESC:Ibu kota in 23x15px|border |alt=|link= Curaçao, 23x15px|border |alt=|link= Kerajaan Belanda|noreplace}}
Willemstad (/ˈwɪləmstɑːt,ˈvɪl-/Belanda:[ˈʋɪləmstɑt]ⓘ, terj. har.'Kota Willem')[needs Papiamento IPA] adalah ibu kota dan kota terbesar Curaçao, sebuah pulau di Laut Karibia bagian selatan yang merupakan negara konstituen Kerajaan Belanda. Kota ini adalah ibu kota Antillen Belanda sebelum entitas tersebut dibubarkan pada tahun 2010. Kota ini diperkirakan memiliki sekitar 90% dari populasi Curaçao, dengan 136.660 penduduk pada tahun 2011.[1] Pusat bersejarah kota terdiri dari empat bagian: Punda dan Otrobanda, yang dipisahkan oleh Teluk Sint Anna, sebuah teluk kecil yang mengarah ke pelabuhan alam besar yang disebut Schottegat, serta bagian Scharloo dan Pietermaai Smal, yang saling berhadapan di pelabuhan Waaigat yang lebih kecil. Willemstad adalah rumah bagi sinagoge Curaçao, sinagoge tertua yang masih ada di benua Amerika. Pusat kota Willemstad, dengan arsitektur dan pintu masuk pelabuhannya yang unik, telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Sejarah
Punda didirikan pada tahun 1634, ketika Perusahaan Hindia Barat Belanda (GWC) merebut pulau itu dari Spanyol. Nama aslinya dalam bahasa Belanda adalah de punt. Kota ini awalnya dibangun dengan tembok pertahanan.[2] Tak lama kemudian, Punda berkembang menjadi salah satu pusat utama perdagangan budak Atlantik, yang menyebabkan pertumbuhan penduduk pesat.[3] Pada 1674, sinagoge Curaçao dibangun oleh komunitas Yahudi Sefardi Portugal yang datang dari Amsterdam dan Recife, Brasil, sebagai pedagang.[4] Menjelang akhir abad ke-17, terdapat lebih dari 200 rumah di dalam tembok kota.[2]
Pada 1675, diputuskan untuk membangun kota Pietermaai di luar tembok kota, dipisahkan sejauh sekitar 500 meter agar meriam di Benteng Amsterdam tidak terhalang.[5] Pada 1707, wilayah Otrobanda didirikan dan kelak menjadi pusat budaya Willemstad. Namanya berasal dari bahasa Papiamentootro banda, yang berarti "sisi seberang".[6] Setelah itu muncul kawasan Scharloo, dan pertumbuhan Willemstad terus berlanjut.[5] Pada 1818, jumlah penduduk Willemstad mencapai 9.536 jiwa.[8] Pada 13 Mei 1861, diputuskan untuk merobohkan tembok kota dan membangun perumahan di area kosong antara Willemstad dan Pietermaai.[5]
Sekitar 1925, industri minyak dan fosfat yang berkembang pesat mendorong pertumbuhan kota lebih lanjut, melahirkan kawasan baru.[7] Antara 1945–1955, Royal Dutch Shell membangun permukiman Julianadorp dan Emmastad untuk menampung para pekerja baru.[8] Pada 1985, kilang minyak yang mempekerjakan 12.000 orang ditutup oleh Shell. Pemerintah Curaçao membeli kilang tersebut seharga ƒ1,00 dan menanggung seluruh klaim pencemaran di masa depan. Tahun 1986, kilang disewakan ke perusahaan Venezuela PDVSA dan dibuka kembali secara terbatas.[9] Namun pada 2017, PDVSA terkena sanksi Amerika Serikat,[10] dan aset kilang sempat hendak disita.[9]
Pada 30 Mei 1969, pemogokan di salah satu kontraktor kilang minyak berubah menjadi kerusuhan besar di Curaçao. Kerusuhan ini menewaskan dua orang, menyebabkan 300 penangkapan, dan membakar sebagian pusat kota bersejarah. Marinir Belanda dikerahkan ke Willemstad dan seluruh pusat kota ditutup.[11] Pada 1997, pusat Willemstad dan wilayah sekitarnya ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.[12] Memasuki abad ke-21, proyek renovasi berskala besar pun dimulai.[13][14]