Setelah Perang Prancis-Belanda pada tahun 1678, Louis XIV muncul sebagai raja terkuat di Eropa; meskipun kekuasaannya telah bertambah, sang 'Raja Matahari' masih belum puas. Dengan menggabungkan agresi, aneksasi, dan cara semi-legal, Louis XIV mencoba memperluas kekuasaannya untuk menstabilkan dan memperkuat perbatasan Prancis, yang mengakibatkan meletusnya Perang Reunion (1683–84). Gencatan Senjata Ratisbon menjamin perluasan perbatasan Prancis selama dua puluh tahun, tetapi tindakan Louis XIV yang selanjutnya - terutama pencabutan Maklumat Nantes pada tahun 1685, dan upayanya untuk memperkuat pengaruhnya di Rhineland Jerman - mengakibatkan kemunduran dominasi militer dan politiknya. Keputusan Louis XIV untuk menyeberang sungai Rhine dan mengepung Philippsburg pada September 1688 awalnya diupayakan untuk memaksa Kekaisaran Romawi Suci menerima klaim teritori dan dinasti Louis. Namun, ketika Kaisar Romawi Suci dan pangeran-pangeran Jerman menolak, dan saat William III menyeret Belanda dan Inggris ke dalam perang melawan Prancis, Louis XIV akhirnya menghadapi koalisi kuat yang berupaya menghentikan ambisinya.
Sebagian besar pertempuran meletus di sekitar perbatasan Prancis: di Belanda Spanyol; Rheinland; Kadipaten Savoia; dan Katalonia. Dalam peperangan ini, pengepungan lebih banyak dilakukan, terutama di Mons, Namur, Charleroi, dan Barcelona. Pertempuran terbuka seperti di Fleurus dan Marsaglia lebih jarang. Pertempuran-pertempuran tersebut umumnya menguntungkan angkatan bersenjata Louis XIV; tetapi, pada tahun 1696, Prancis dililit oleh krisis ekonomi. Kekuatan Maritim (Inggris dan Republik Belanda) juga dananya sudah habis, dan setelah Savoy berkhianat, Aliansi Agung setuju untuk bernegosiasi. Traktat Ryswick ditandatangani pada tanggal 20 September 1697, dan berdasarkan perjanjian damai tersebut, Louis tetap menguasai Alsace, tetapi harus mengembalikan Lorraine ke pemiliknya; ia juga harus menyerahkan daerah yang ia rebut di tepi kanan sungai Rhine. Louis XIV setuju untuk mengakui William III sebagai Raja Inggris, sementara Belanda memperkuat benteng di Belanda Spanyol untuk menjaga perbatasannya. Namun, dengan kematian Charles II dari Spanyol yang tak memiliki keturunan, konflik baru yang berkaitan dengan penerus Kekaisaran Spanyol, yaitu Perang Suksesi Spanyol, akan segera meletus.
Referensi
Aubrey, Philip (1979). The Defeat of James Stuart's Armada 1692. Leicester University Press. ISBN 0-7185-1168-9
Bromley, J. S. (ed.) (1971). The New Cambridge Modern History VI: The Rise of Great Britain and Russia 1688–1725. Cambridge University Press. ISBN 0-521-07524-6