Rinding Gumbeng adalah salah satu kesenian tradisional sejenis harpa mulut khas Gunungkidul dari daerah Dusun Duren, Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, ProvinsiDaerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kesenian ini menjadi representasi kehidupan masyarakat Gunungkidul yang dicitrakan sederhana, ulet, serta dekat dengan alam.[1] Kesederhanaan ini yang tampak dari setiap pagelaran Rinding Gumbeng. Walau sederhana pada alat dan para pemainnya, kesenian Rinding Gumbeng menyajikan alunan musik yang khas, indah, melodius, dinamis dan juga ekspresif.
Latar belakang
Rinding Gumbeng sebagai sebuah tradisi kesenian asli rakyat Gunungkidul memang dipercaya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem bertani masyarakat setempat. Sejak warga gunung Kidul mulai mengenal tradisi bercocok tanam sebagai ciri khas masyarakat agraris, kesenian ini telah diperkenalkan sebagai wujud syukur atas hasil panen yang telah diperoleh.[2] Bagi petani, saat panen adalah waktu yang ditunggu-tunggu dan menjadi tujuan akhir dari aktivitas pertaniannya.[3] Walau demikian, tidak diketahui secara pasti kapan kesenian Rinding Gumbeng ada dan resmi disahkan sebagai sebuah kesenian asli Gunungkidul sehingga sampai saat ini terus diusahakan untuk diteruskan pada setiap generasi.
Dalam sejarahnya, kesenian ini dipercaya memiliki kekuatan gaib untuk mendatangkan sosok imajiner Dewi Sri. Dalam teosofi masyarakat Jawa Kuno yang kental dengan nuansa mistik dan kebatinan, sosok imajiner Dewi Sri merupakan gambaran tentang sosok dewa yang dipuja sebagai sang penjaga padi. Melalui Rinding Gumbeng, masyarakat Jawa Kuno yakin bahwa Dewi Sri akan terhibur dan bahagia sehingga di kemudian hari akan memberi mereka hasil panen yang lebih melimpah.[4] Ketika itu, masyarakat membawa hasil panen pilihan untuk dipersembahkan kepadanya. Hasil panen tersebut diarak secara meriah untuk berkelilingng kampung serta diiringi seperangkat alat musik, berupa Rinding Gumbeng.[5]
Dahulu setelah padi dipetik dengan ani-ani, lelaki akan memikul padi dan perempuan akan memanggul padi. Aktivitas ini biasanya melibatkan 10 hingga 25 orang yang mengenakan kostum sederhana sebagai bagian dari iring-iringan.[6] Selama perjalanan pulang mereka diiringi suara rinding dengan alunan rindingan itu. Setibanya di rumah, padi-padi kemudian ditumpuk di lantai dan ditali. Usai ditali, para petani pun membunyikan rinding gumbeng lagi sebelum padi-padi itu dimasukkan dalam lumbung paceklik atau gedungan.
Di masa kini, Rinding Gumbeng tidak hanya ditampilkan sebagai sebuah ritual tradisional warga Gunungkidul, seperti tradisi upacara adat nyadran di Hutan Wonosadi. Sebagaimana dikatakan oleh salah satu pemimpin kelompok Rinding Gumbeng di wilayah Duren Beji, Ngawen Gunungkidul, kesenian ini berulang-kali juga dipentaskan dalam ajang festival bertaraf provinsi maupun nasional dengan tujuan agar terus dapat bertahan dan berkembang. Bahkan, kesenian ini sekarang telah banyak diubah dengan berbagai tambahan alat musik. Kesenian Rinding Gumbeng juga menjadi tambahan penghasilan masyarakat karena digunakan untuk pementasan di kegiatan lainnya.[7] Walau demikian, Rinding Gumbeng tetap berusaha mempertahankan ciri khasnya sebagai seni musik tradisional.
Perangkat
Alat musik "rinding" dan "gumbeng" adalah seperangkat alat musik yang dibuat dari bahan bambu.[8] Sementara itu, para pemain Rinding Gumbeng memakai kostum sederhana. Para penabuh Gumbeng dan peniup Rinding biasanya hanya mengenakan baju dan celana warna hitam dengan ikat kepala dari kain batik dan penyekarnya mengenakan baju kebaya khas petani desa dengan kain luriknya. Seni musik tradisional ini pun oleh warga Gunungkidul dijadikan sebagai tradisi ritual setelah panen.
Jika dulu Rinding Gumbeng hanya dijadikan sebagai pengiring lagu-lagu tradisional, saat ini sesuai dengan tuntutan zaman, banyak inovasi yang dilakukan supaya Kesenian Rinding Gumbeng mampu mengiringi alat musik lainnya. Dengan penambahan berbagai alat ke dalam kelompok kesenian Rinding Gumbeng, saat ini Rinding Gumbeng bisa di gunakan untuk mengiringi musik dangdut, keroncong, dolanan bocah maupun campursari.
Rinding gumbeng dapat dimainkan solo maupun bersama-sama dengan beberapa rinding maupun dengan tambahan instrumen bambu lainnya.[9]
Alat musik tradisional terdiri dari bambu:
1. Rinding; ialah alat musik yang terbuat dari bambu dengan panjang 25cm dan tebal 2mm. Pada bagian tengah belahan bambu kemudian diberi lubang, serta dibuat seperti jarum dengan panjang sekitar 20cm. Kemudian di bagian ujung diberi tali untuk menarik di sisi lainnya sebagai pegangan.[10] Alat musik ini dimainkan dengan cara ditempatkan di antara bibir atas dan bawah dengan posisi mulut setengah terbuka, sehingga udara yang keluar dari kerongkongan akan bergetar. Melodi dan nada yang dihasilkan berasa dari permainan lidah sebagai vibrator. [8]
2. Gumbeng; merupakan alat pengiring yang dibuat dari bahan bambu dengan beberapa bagiannya ditambahkan lubang. Alat musik ini disebut Gumbeng karena bentuknya menyerupai tabung atau pohon bambu itu sendiri.[11] Untuk membuatnya perlu memakai bambu khusus seperti begung dan pelepah aren.[12]
3. Kendang; dalam kesenian rinding gumbeng untuk kendang dimainkan dengan bantuan alat pukul. Kendang sendiri dalam rinding gumbeng adalah imitasi dari suara kendang yang ada di karawitangamelan jawa.[13]
4. Gong; ialah alat musik yang dibuat dari bambu dengan panjang kurang lebih sekitar 1 meter yang cara memainkannya dengan cara ditiup.[14] Gong sendiri dalam kesenian rinding gumbeng juga merupakan bentuk imitasi dari suara gong yang ada di karawitan gamelan jawa.[13]
5. Kecrek; alat musik ini bisa disebut juga reketek yang cara memainkannya menggunakan bantuan uang logam sebagai penggeseknya. Penyebutan reketek sendiri adalah imitasi dari suara kecrek yang terbuat dari besi.[13] Kecrek adalah alat musik yang dibuat dari ros bambu dengan ukiran menonjol dan disebar pengaturannya sedemikian rupa. Kecrek dimainkan dengan cara menggeseknya secara ritmik.[14]
6. Angklung; alat musik ini terpengaruh dari budaya di Jawa Barat tetapi dalam rinding gumbeng memiliki perbedaan. Angklung yang terdapat di kesenian rinding gumbeng hanya memiliki satu tabung saja berbeda dengan angklung yang berasal dari Jawa Barat karena memiliki ukuran berbeda-beda sesuai kebutuhan nadanya.[13] Penambahan instrumen ini muncul sebagai bentuk pemikiran bahwa alat musik juga memiliki jiwa atau nyawa yang ingin hidupnya tidak terpencil, yang artinya memiliki keluarga.
12Dewi, Ni Luh Putu Chandra; Estudiantin, Nusi Lisabilla; Yogaswara, Wawan; Yulita, Ita; Moerdianti, Retno (2008). Informasi Koleksi Musik Tradisional Indonesia(PDF). Jakarta: Museum Nasional. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)