Rencana Pembangunan Lima Tahun ditujukan untuk mempertinggi tingkat kehidupan rakyat dengan memperbesar produksi dan pendapatan dan merobah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional dengan pembukaan kesempatan usaha di seluruh lapangan ekonomi dan sosial, sesuai dengan azas kekeluargaan.(2)Rencana Pembangunan Lima Tahun ini ditujukan ketiga sektor: a.sektor Pemerintah; b.sektor partikelir dan c.sektor masyarakat desa.(3)Sektor-sektor ini juga akan meliputi pembangunan Nasional yang bersifat regional.
Setelah Soeharto menjadi presiden, ia dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kondisi sosio-politik Indonesia seperti kemiskinan dan hiperinflasi setelah gejolak nasional dan pengelolaan ekonomi yang buruk sejak tahun 1965. Setelah keadaan mulai menjadi stabil, pemerintahan Soeharto mulai memperkenalkan Rencana Pembangunan Lima Tahun yang disebut sebagai Repelita.[4] Rencana itu sendiri dibagi menjadi lima tahap:
Repelita I (1969–1974) bertujuan memenuhi kebutuhan dasar dan infrastruktur dengan penekanan pada bidang pertanian.
Repelita II (1974–1979) bertujuan meningkatkan pembangunan di pulau-pulau selain Jawa, Bali dan Madura, di antaranya melalui transmigrasi.
Repelita III (1979–1984) menekankan bidang industri padat karya untuk meningkatkan ekspor.
Repelita IV (1984–1989) bertujuan menciptakan lapangan kerja baru dan industri.
Repelita V (1989–1994) menekankan bidang transportasi, komunikasi dan pendidikan.
Repelita VI (1994–1998) bertujuan meningkatkan pembangunan iklim investasi asing dalam rangka meningkatkan perekonomian dan industri nasional.