Raymond Nicolas Landry Poincaré (20 Agustus 1860 – 15 Oktober 1934) adalah negarawanPrancis yang menjabat sebagai Presiden Republik Prancis dari 1913 hingga 1920, serta tiga kali Perdana Menteri Prancis (1912-1913; 1922-1924; 1926-1929). Ia dikenal sebagai figur penting pada era Perang Dunia I, pendukung kebijakan luar negeri yang kuat terhadap Jerman, dan sebagai pelindung stabilitas finansial Prancis pasca perang.[4]
Poincare merupakan putra seorang Insinyur.[5] Poincare menempuh pendidikannya di École Polytechnique.[5] Kemudian melanjutkan studi hukum di Universitas Paris.[5][6] Setelah itu pada tahun 1887, Poincare menjadi menteri termuda dalam sejarah Republik Ketiga.[5] Poincare memiliki janji politik yang bagus dan cemerlang, akan tetapi hal ini tidak sesuai dengan kepentingan rakyatnya, akan tetapi memanfaatkan waktunya hanya untuk praktik hukum pribadinya sendiri.[5] Kemudian pada bulan januari 1912, Poincare menjadi perdana menteri, tetapi ia hanya melayani kepentingan bersama sebagai menteri luar negeri sampai januari 1913.[5] Pioncare memiliki ketegasan dan tekad baru untuk menghadapi ancaman baru dari Jerman, Ia melakukan diplomasi dalam masalah ini.[5]Kemudian pada bulan Agustus 1912, Poincare dapat meyakinkan pemerintah Rusia bahwa pemerintahannya akan berdiri oleh Franco-Rusia atau hubungan kerjasama dengan negara Rusia.[5] Selanjutnya pada tahun ke 1894, Poincare menjabat sebagai menteri keuangan dan pada tahun 1895, Poincare kembali menjadi menteri pendidikan.[5]
Biografi
Raymond Poincaré lahir di Bar-le-Duc, Meuse, dari keluarga bergelimang tradisi sipil. Ia belajar hukum, menjadi pengacara dan aktif di parlemen sebagai Deputi untuk Meuse sejak 1887. [7]
Sejak awal kariernya, ia fokus ke masalah keuangan negara dan kestabilan nasional. Saat menjabat sebagai Perdana Menteri Prancis tahun 1912-1913, ia juga merangkap Menteri Luar Negeri, memperkuat aliansi Prancis dengan Rusia dan Inggris. Kemudian, sebagai Presiden selama PD I, Poincaré berperan dalam menjaga kesatuan nasional Prancis dan memimpin diplomasi dalam krisis perang.[8]
Setelah masa kepresidenan, ia kembali menjadi Perdana Menteri pada 1922-1924 dan 1926-1929. Pada periode terakhirnya sebagai Perdana Menteri, ia bertugas menstabilkan ekonomi dan mata uang Prancis; kebijakan fiskal dan moneter di bawah pemerintahannya mendapat pujian karena berhasil memperbaiki kredibilitas finansial Prancis. Namun masa jabatannya juga diwarnai oposisi politik, konflik partai, dan tantangan sosial pasca perang.
Catatan
↑Poincaré tergolong konservatif, bagian dari spektrum kanan-tengah di Prancis pada era Ketiga Republik.