Berasal dari Sukabumi, Sjamsoeddin menempuh pendidikan pengacara dan memperoleh gelar master dari Universitas Leiden sebelum kembali ke Indonesia. Ia menjalankan praktik hukum dan aktif dalam pemerintahan kolonial dan politik pada akhir masa Belanda, sebelum bergabung dengan berbagai organisasi yang disponsori Jepang pada masa pendudukan, terutama gerakan propaganda 3A yang ia dirikan dan pimpin pada tahun 1942. Ia kemudian bergabung dengan Partai Masyumi setelah kemerdekaan Indonesia, dan diangkat menjadi menteri di beberapa kabinet hingga sesaat sebelum kematiannya pada bulan Oktober 1950.
↑mewakili Masyumi (pada Kabinet Moh, Hatta II) berdasarkan Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1949.
↑sampai dengan meninggal dunia, Era Kabinet Muhammad Natsir jilid 2 ia Duta Besar Luar Biasa berkuasa penuh pada Pemerintah Republik Pakistan berdasarkan Keputusan Presiden RIS Nomor 75 Tahun 1950.[2]
↑San A Undo Tyuoo Honburtyo atau Jepang Cahaya Indonesia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Pemimpin Indonesia). Dalam rangka mempercepat tugas-tugasnya sebagai Ketua 3A, ia menerbitkan Surat Kabar yang bernama Asia Raya (Asia Raya, 12 Mei 1942).