Margono lahir pada tanggal 16 Mei 1894 di Banyumas. Ayahnya merupakan bagian dari kaum bangsawan Jawa, dan pernah bertugas dalam pemerintahan distrik serta pengadilan di lingkungan birokrasi kolonial. Keluarganya merupakan keturunan seorang bangsawan yang pernah berjuang melawan Belanda selama Perang Jawa.[3] Selain itu, silsilahnya juga dapat ditelusuri kembali kepada R. Joko Kaiman, yang dikenal sebagai pendiri Banyumas sekaligus bupati pertamanya.[4] Margono menggambarkan keluarganya sebagai kaum aristokrat yang "miskin", dan mencatat bahwa meskipun ia merupakan anak keenam, semua kakak kandungnya meninggal saat masih kanak-kanak.[5]:376 Menurut Margono, ia tidak pernah menziarahi makam leluhurnya karena sang leluhur telah menolak mengakui siapa pun dari keturunannya yang bekerja untuk pihak Belanda. Ia mulai bersekolah di sebuah Europeesche Lagere School (sekolah dasar kolonial) pada tahun 1901, dan setelah lulus pada tahun 1907, ia melanjutkan studinya di sebuah Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA; sekolah pegawai negeri bagi pribumi Indonesia) di Magelang hingga tahun 1911.[3]
Pada hari-hari pertama memimpin BNI, kedua putra Margono, yakni Subianto dan Sujono, gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong di Tangerang pada 25 Januari 1946.
Peran BNI sebagai bank sentral dan bank sirkulasi terhenti pada 1 Juli 1953, ketika bank sentral era kolonial Hindia Belanda, De Javasche Bank, diubah menjadi Bank Indonesia.
Pada tahun 1970, status hukum Bank Negara Indonesia diubah menjadi persero.
Hak angket
Potret Margono sebagai Anggota DPR, 1950
Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, "Hak Angket" pertama kali digunakan DPR pada tahun 1950-an. Ihwalnya berawal dari usul resolusi oleh R.M. Margono Djojohadikusomo agar DPR mengadakan "Hak Angket" atas usaha memperoleh devisa dan cara mempergunakan devisa.
Panitia angket yang kemudian dibentuk beranggota 13 orang yang diketuai Margono. Tugasnya adalah menyelidiki untung-rugi mempertahankan devisen-regime berdasarkan Undang-Undang Pengawasan Devisen tahun 1940 dan perubahan-perubahannya.[8][9]
Kehidupan Selanjutnya
Karena keterlibatan Sumitro dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, Margono terpaksa mengasingkan diri ke luar negeri bersama seluruh keluarganya,[10] baru kembali setelah jatuhnya Soekarno pada tahun 1966.[11] Ia menerbitkan memoarnya yang berjudul "Reminiscences from 3 Historical Periods: A Family Tradition Put in Writing" pada tahun 1973.[5]:376 Memoar tersebut dipersembahkan kepada dua putranya, Subianto dan Sujono, yang tewas dalam Pertempuran Lengkong pada tahun 1946.[12] Putri sulungnya, Sukartini Djojohadikusumo, lahir pada tahun 1919 dan menjadi sentenarian Indonesia pada tahun 2019.[13] Margono meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 25 Juli 1978, dan kemudian dimakamkan di makam keluarga Djojohadikusumo di Kabupaten Banyumas.[14]
Penghargaan
Sebuah gedung di Universitas Gadjah Mada (UGM) dinamai menurut namanya, karena keputusan penamaan tersebut disepakati oleh para anggota fakultas dan cucu Margono, Hashim Djojohadikusumo.[15] Gedung ini digunakan oleh Fakultas Humaniora di UGM. Namanya juga digunakan sebagai nama jalan di Jakarta.
Biografinya menjadi inspirasi bagi film Indonesia, Merah Putih.[16]
Bertentangan dengan kepercayaan umum bahwa rumah sakit tersebut dinamai menurut namanya, Rumah Sakit Margono yang terletak di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah sebenarnya tidak dinamai menurut namanya, melainkan menurut nama orang lain yang memiliki nama yang sama, yakni Margono Sukarjo. Margono Sukarjo adalah ahli bedah pertama yang berpraktik di Indonesia.[17]
(Indonesia) Sugiarta Sriwibawa (1994) "100 tahun Margono Djojohadikusomo", Jakarta: Pustaka Aksara
(Indonesia) Jimmy S Harianto, HMU Kurniadi (2025) "Margono Djojohadikusumo: Pejuang Ekonomi dan Pendiri BNI 46", Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Menggunakan sumber utama putri Margono, Sukartini Silitonga Djojohadikusumo (106) dan cucunya, Mitra Vinda Silitonga. Epilog buku ditulis oleh Savitri Prastiti Scherer, cucu Margono dari anak ketiganya, Miniati Wahyudi Djojohadikusumo.
12Purdey, Jemma (September 2016). "Narratives to power: The case of the Djojohadikusumo family dynasty over four generations". South East Asia Research. 24 (3): 369–385. doi:10.1177/0967828X16659728. S2CID151698429.