Umbinya kecil bulat dan memiliki daging putih seperti bengkuang. Di Tiongkok, umbi tike jamak ditemui di berbagai kuliner, juga umbinya sering dimakan mentah, atau kadang-kadang dibuat manisan. Umbinya juga dapat ditumbuk untuk dijadikan tepung yang digunakan pula dalam masakan Asia Selatan.[5]
Jika dimakan mentah, sebaiknya di layukan dulu atau dicuci bersih, karena kemungkinan permukaan umbinya mengandung parasit fasciolopsis.[6]
Pemerian
Tumbuhan menahun berupa rumpun buluh dengan geragih, diujung akarnya terdapat umbi kecil. Rumpun tegak, hijau tua keabu-abuan, tinggi sekitar 15–60cm, tebal 1,5–3mm, silindris, halus mengkilap. Dengan selubung daun 2 atau 3, berwarna merah keunguan, atau coklat. Perbungaan spikelet hijau pucat, silindris, 1,5–4cm × 6–7mm, berbunga banyak.[3]
Umbi tike biasa dipanen pada saat musim kemarau, ketika rawa-rawa sudah mengering, dan menyisakan daunnya yang kering dan umbinya di bawah tanah. Di Madura dan Indramayu,[7] umbinya biasa diolah menjadi emping, yang menjadi kegiatan produksi musiman yang hanya pada musim kemarau.[8]Emping ini dibuat dengan cara disangrai dahulu umbinya setelah dicuci bersih (boleh juga dikupas dahulu umbinya sebelum dicuci), lalu disaat masih panas langsung ditumbuk menjadi pipih. Setelah pipih, emping mentah dijemur di bawah terik matahari sampai kering. Setelah kering, emping mentah bisa langsung digoreng. Selain dibuat emping, umbinya juga biasa direbus atau dibakar sebagai camilan.[7]
Galeri
Umbi yang belum dikupas
Umbi yang sudah dikupas dan dijajakan
Ditanam di tepi kolam
Tegakan yang tumbuh di rawa
Malai bunga
Malai bunga yang sudah rontok dan belahan buluh
Rumpun yang tumbuh di antara teratai (Nymphaea sp.)
↑Bhatti, H. S.; Malla, N; Mahajan, R. C.; Sehgal, R (2000). "Fasciolopslasis--a re-emerging infection in Azamgarh (Uttar Pradesh)". Indian Journal of Pathology & Microbiology. 43 (1): 73–6. PMID12583425.