Sebuah kantor administrasi UNHCR didirikan di Galang untuk mengelola Kamp Pengungsi Galang selama periode 1979–1996.[2] Banyak manusia perahu Vietnam dan pencari suaka yang sementara ditampung di kamp Galang selama proses penentuan status pengungsi mereka dan pemukiman kembali mereka di Amerika Serikat, Australia, dan beberapa negara Eropa.[3] Banyak warga Vietnam dari negara tempat mereka menetap kemudian kembali berkunjung ke Galang.
Saat ini, Pulau Galang (dan bekas area pengungsi yang dikenal sebagai Kamp Sinam) dikelola oleh Badan Pengusahaan Batam (BIDA). Pada 1992, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 28/1992, wilayah kerja BIDA diperluas mencakup Pulau Rempang, Pulau Galang, dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. BIDA membangun enam jembatan yang diresmikan pada 25 Januari 1998. Jembatan-jembatan tersebut menghubungkan daratan antara Pulau Batam – Pulau Tonton – Pulau Nipa – Pulau Setoko – Pulau Rempang – Pulau Galang – Pulau Galang Baru untuk mengembangkan seluruh pulau tersebut.[4]
Pada Agustus 2025, Indonesia mengumumkan bahwa pulau tersebut akan dialihfungsikan menjadi fasilitas medis untuk merawat sekitar 2.000 warga Palestina yang terluka selama Perang Gaza.[5]
Pengairan
Saat ini sedang dibangun Waduk Sei Gong di Desa Sijantung, Galang, Batam, yang dirancang berkapasitas 11,8 juta m3 dengan daya pasok air baku 400 l/detik.[6]