Sebelum abad ke-19
Kelompok vegetarian pertama versi catatan sejarah barat adalah para pengikut Pythagoras. Meski demikian, beberapa ahli biografi menduga ia juga mengonsumsi ikan dalam beberapa kasus,[2] yang akan membuatnya bukan vegetarian tetapi pescatarian menurut standar sekarang.[3] Banyak filosofi-filosofi Pythagoras yang akhirnya mengilhami Platoakan keunggulan moral & nutrisi dari pola makan vegetarian. Di republik ideal Plato, definisi pola makan sehat ialah yang mengonsumsi sereal, biji-bijian, kacang-kacangan, buah, susu, madu, dan ikan.[4][5]
Pada tahun 675, Jepang melalui Kaisar Tenmu melarang masyarakatnya mengonsumsi hewan ternak dan hewan liar berdasarkan ajaran agama Buddha. Kemudian di tahun 737 periode Nara, Kaisar Seimu membatasinya pada konsumsi ikan dan kerang. Selama seribu dua ratus tahun dari periode Nara hingga Restorasi Meiji (paruh kedua abad ke-19), masyarakat Jepang terbiasa mengonsumsi makanan vegetarian, dengan tambahan sajian makanan laut di acara-acara tertentu.[6]
Beberapa biarawan di Eropa abad pertengahan membatasi atau melarang konsumsi daging karena alasan asketisme, tetapi masih mengonsumsi menu ikan.[7] Ikan dipandang oleh para pengikut Marsionisme sebagai jenis makanan yang lebih suci.[8] Mereka biasa mengonsumsi ikan sebagai pengganti sebagai pengganti unggas dan daging merah.[9] Selain itu, mereka juga mengonsumsi jenis makanan lain seperti roti, ikan, madu, susu dan sayuran.[10]
Dahulu, para pengikut ajaran gerejawi Maniisme melarang konsumsi hewan darat. Mereka menggantinya dengan ikan, biji-bijian dan sayur-sayuran.[11] Menurut mereka, ikan lahir dan hidup di dalam air, dan tanpa ada hubungan seksual dengan ikan lain, bebas dari noda yang mencemari semua hewan.[12] Pantangan mengonsumsi daging dari hewan berkaki empat juga tertulis dalam Peraturan Santo Benediktus, terkecuali bagi orang yang sedang sakit.[13] Paulus Diakonus menetapkan bahwa keju, telur dan ikan merupakan bagian dari menu harian seorang biarawan di sana.[14] Ordo Kartusia juga menuliskan pola makan tersebut dengan pengecualian hari Jumat, khusus mengonsumsi roti dan air.[13] Pola makan pescetarian juga ditemukan di ordo Sistersian dengan tambahan menu telur.[15]
Abad ke-19 - sekarang
Francis William Newman, yang menjadi Presiden Masyarakat Vegetarian dari tahun 1873 hingga 1883, mengizinkan keanggotaan rekanan mereka bagi orang-orang yang tidak sepenuhnya vegetarian seperti halnya pescetarian.[16][17] Hingga pada tahun 1890-an, Newman akhirnya beralih dari mengikuti pola makan ovo-lakto-vegetarian menjadi pola makan pescetarian, dengan alasan bahwa ikan tidak menghabiskan lahan, berlimpah karena tingkat reproduksi yang tinggi, tidak merawat anak mereka, tidak memiliki perasaan sebagai orang tua untuk dilanggar, serta dapat ditangkap dan diburu dengan cara yang tidak terlalu menyakitkan.[18]
Sebuah buku Seagan Eating tahun 2016 mempromosikan diet makanan laut,[19][20] yang dibedakan dari diet pescetarian biasa karena tidak menganjurkan konsumsi susu dan telur.[21]