Pertempuran Nanggulan adalah pertempuran dalam Perang Jawa antara pasukan kolonial Belanda dan pasukan pemberontak Pangeran Diponegoro, yang dipimpin oleh Sentot Prawirodirdjo, yang terjadi pada 28 Desember 1828. Pasukan pemberontak melancarkan serangan terhadap detasemen Belanda di dekat benteng Belanda yang baru dibangun, menimbulkan banyak korban sebelum dipukul mundur oleh unit lain.
Latar belakang
Menjelang akhir tahun 1828, pasukan pemberontak dalam Perang Jawa berhasil dipukul mundur. Intensifikasi strategi pertahanan lapangan Belanda telah mempersempit wilayah pengaruh pemberontak, yang sebagian besar terbatas pada wilayah Bagelen di sebelah barat Kesultanan Yogyakarta.[1] Sekitar masa ini, panglima militer utama Diponegoro, Sentot Prawirodirdjo, mulai mengambil alih tugas-tugas administratif setelah terjadi konflik dengan para pemimpin sipil. Belanda mulai membangun benteng baru di Nanggulan yang mengancam salah satu jalur komunikasi pemberontak, dan Sentot lambat bereaksi karena kesibukannya dengan peran-peran sipil.[2]
Pertempuran
Benteng Nanggulan mampu menampung lebih dari 200 orang, menjadi salah satu benteng terbesar yang dibangun dalam perang.[2] Selain itu, sekitar 400 tentara mendukung garnisun, di bawah komando Mayor Bauer.[3] Pada tanggal 28 Desember 1828, setelah menerima laporan tentang pasukan pemberontak yang mendekat dengan kekuatan sekitar 1.500 orang, Bauer memerintahkan bawahannya, Kapten Hermanus Folkert/Volkers van Ingen,[4][3] untuk mencegat pasukan yang mendekat dengan satu detasemen yang terdiri dari infanteri dan kavaleri Belanda, tentara Jawa, Manado, dan Madura.[5][6]
Menurut catatan Bauer, van Ingen bertemu dengan sekelompok pemberontak dan memerintahkan serangan. Namun, ia tidak menyadari adanya kelompok lain yang juga mendekati detasemennya, dan unitnya pun terdesak ketika kelompok kedua menyerang. Van Ingen tewas dalam pertempuran tersebut. Sisa pasukan Bauer berhasil menyusul dan memaksa para pemberontak mundur. Kerugian Belanda mencapai 38 prajurit, termasuk van Ingen dan Pangeran Prangwedana, seorang pangeran Yogyakarta yang bersekutu dengan Belanda. Sebanyak empat belas prajurit lainnya terluka.[5][6] Kerugian di pihak pemberontak sangat besar.[2]
Akibat
Van Ingen dimakamkan di sebuah makam di Nanggulan, bersama dengan anjingnya yang juga terbunuh dalam pertempuran tersebut.[3] Makamnya sekarang ditetapkan sebagai objek budaya.[4]
12De Klerck, Eduard Servaas; Louw, Johan Frederik (1904). De Java-oorlog Van 1825-30, Vierde Deel[The Java War of 1825-30, Volume 4] (dalam bahasa Belanda). Batavia Landsdrukkerij. hlm.672.