Penyerangan Tegalrejo, wilayah kekuasaan Pangeran Diponegoro, terjadi pada 20 Juli 1825. Peristiwa ini terjadi setelah upaya Belanda (saat itu bersekutu dengan Kesultanan Yogyakarta) untuk menangkap Diponegoro guna mencegahnya memicu pemberontakan terhadap proyek jalan raya pemerintah kolonial Belanda. Pasukan Belanda dan Yogyakarta gagal menangkap Diponegoro, yang melarikan diri ke Selarong. Kejadian ini memicu Perang Jawa yang berlangsung selama lima tahun ke depan.
Pendahuluan
Pada awal tahun 1825, Pangeran Diponegoro, pangeran dari Kesultanan Yogyakarta beserta sekutu politiknya diasingkan dari keraton Yogyakarta (saat itu dipengaruhi kepemimpinan Patih Danureja IV[id] ). Pengasingan ini diikuti oleh aksi-aksi kelompok Pangeran Diponegoro yang menyulitkan pemerintah kolonial Belanda – khususnya Residen di Yogyakarta Anthonië Hendrik Smissaert.[1] Pangeran Diponegoro telah mempersiapkan pemberontakan umum sejak akhir tahun 1824, bekerja sama dengan pejabat Kesultanan yang loyal padanya dan mengumpulkan senjata di wilayah kekuasaannya di Tegalrejo.[2] Ia awalnya berencana untuk memulai pemberontakan pada pertengahan Agustus 1825.[3] Pada 17 Juni 1825, Smissaert memulai dengan resmi proyek perbaikan jalan pemerintah di sekitar Yogyakarta. Salah satu jalan yang diperbaiki melewati Tegalrejo, dan pekerja jalan mulai menanam patok penanda jalan di dalam perkebunan Diponegoro. Pemasangan patok ini tidak diketahui oleh Diponegoro, dan akhirnya perkelahian pun terjadi antara pekerja melawan orang-orang Diponegoro dan penduduk desa setempat. [3][4]
Penyerangan
Pada bulan Juli, sejumlah besar pendukung Diponegoro telah berkumpul di Tegalrejo setelah mendengar berita perkelahian tersebut. Diponegoro saat itu telah mengirim keluarganya beserta harta bendanya ke basis keduanya di Gua Selarong dalam usaha mengantisipasi terjadinya perang.[3] Tindakan pemerintah kolonial Belanda bersama dengan Kesultanan Yogyakarta melawan Diponegoro tertunda karena Smissaert dan Patih Danureja IV mengambil cuti sementara. Para patih baru bertemu pada tanggal 18 Juli, setelah Diponegoro mengirim mosi pemecatan Danureja IV.[3] Sejumlah delegasi dikirim ke Tegalrejo dalam upaya berunding dengan Diponegoro, termasuk satu delegasi yang dipimpin oleh dua bangsawan senior Yogyakarta.[5] Ini ditindaklanjuti oleh kontingen pasukan Belanda dan Kesultanan Yogyakarta pada tanggal 20 Juli. Kontingen ini datang dengan tujuan menangkap Diponegoro untuk menghentikan pemberontakan, tetapi informasi kedatangannya bocor ke pihak Diponegoro melalui jaringannya di Kesultanan Yogyakarta.[6] Kontingen tersebut terdiri atas pasukan dari keraton Yogyakarta, sejumlah pasukan tambahan dari Paku Alam II, dan satu detasemen Belanda yang terdiri atas 50 pasukan beserta 2 buah artileri kiriman asisten Smissaert, PFH Chevallier.[4]
Setelah gagalnya upaya negosiasi oleh kedua bangsawan yang menjadi delegasi, [5] terjadi perkelahian antara pasukan Belanda dan beberapa pendukung Diponegoro (mayoritas berasal dari penduduk desa setempat) saat mereka tiba di Tegalrejo.[6][7] Menurut catatan dari pemerintah kolonial Belanda, jumlah pendukung Diponegoro saat itu sekitar 1.500 orang.[4] Detasemen Belanda membalas dengan tembakan bertubi-tubi dari senapan dan artileri, yang menyebabkan Diponegoro dan pengikutnya melarikan diri melalui sawah-sawah di sekitarnya yang tergenang air. Karena tidak ingin mempertaruhkan artileri mereka, kontingen tersebut tidak melanjutkan pengejaran dan kembali ke Yogyakarta.[4][6][8] Antara 15 sampai 25 pendukung Diponegoro terbunuh, sementara seorang sersan Belanda terbunuh dan tiga lainnya terluka.[4][9] Diponegoro dalam autobiografinya kemudian mengklaim bahwa 80 orang Belanda terbunuh ditambah satu prajurit berkuda Belanda, meskipun angka ini mungkin tidak akurat. Tentara Yogyakarta menderita 15 sampai 20 orang tewas.[9]
Akibat
Diponegoro dan para pendukungnya sebagian besar berhasil melarikan diri dari Tegalrejo, dan tiba di Gua Selarong keesokan harinya. Pada tanggal 21 Juli 1825, Diponegoro secara resmi menyatakan pemberontakan terhadap keraton dan pemerintah kolonial.[10] Perkebunannya di Tegalrejo dibakar oleh pasukan Belanda.[11] Sebuah museum yang mengenang Diponegoro berdiri saat ini di bekas perkebunan tersebut. [12]
12345Louw, Pieter Johan Frederik; Klerck, Eduard Servaas de (1894). De Java-oorlog van 1825-30 (dalam bahasa Belanda). Batavia: Batavia Landsdrukkerij. hlm.255–256.