Pertempuran Gawok adalah pertempuran yang terjadi pada 15 Oktober 1826 selama berlangsungnya Perang Diponegoro, antara para pasukan tentara kolonial Belanda dengan para pemberontak di bawah komando Pangeran Diponegoro. Pertempuran tersebut terjadi dekat desa Gawok, sebelah barat kota Surakarta. Dalam perjalanannya dari Yogyakarta, pasukan Diponegoro yang telah mengalahkan pasukan Belanda sebelumnya, bermaksud untuk menyerang markas militer Belanda di Surakarta. Dalam serangan tersebut, pasukan Diponegoro kalah telak dengan kehilangan sejumlah besar pasukan hingga kalah jumlah dan Belanda membalikkan keadaan pertempuran. Setelah pertempuran, pasukan Diponegoro beralih ke strategi perang gerilya.
Pendahuluan
Pada pertengahan 1826, pasukan Diponegoro meraih serangkaian kemenangan dalam rangkaian pertempuran di sebelah utara Yogyakarta. Pasukan Diponegoro bertujuan untuk melancarkan serangan terhadap markas Belanda di bawah komando Jenderal Hendrik Merkus de Kock di kota Surakarta. Pasukan Diponegoro berhasil merebut kota Delanggu pada akhir Agustus 1826, lalu bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Kyai Maja.[1] Kemudian setelahnya, Kyai Maja menyarankan Diponegoro untuk melancarkan operasi serangan lanjutan, sementara Pangeran Diponegoro merasa ragu karena perlawanan Belanda yang kuat di Delanggu.[2] Oleh karenanya, hanya sedikit aksi pertempuran yang terjadi di sekitar Surakarta selama tiga minggu setelah pertempuran Delanggu.[3]
Pada waktu jeda tersebut, komando Belanda memerintahkan sejumlah pasukan yang tersebar di Yogyakarta dan Surakarta, untuk berkumpul di Surakarta.[3] Sementara itu, pasukan bala bantuan juga mulai berdatangan dari Belanda.[4] Aksi pertempuran kembali berlanjut pada akhir September dengan pertempuran kecil yang berlangsung selama dua minggu berikutnya, ketika pasukan Diponegoro mendekati Surakarta.[5] Sekitar 12 Oktober, Diponegoro mendirikan kamp pasukan di Desa Gawok yang berjarak sekitar 13km arah barat-barat daya kota Surakarta.[6]
Kekuatan
Pada akhir September, dua barisan pasukan Belanda yang ditarik dari Yogyakarta, telah berkumpul di dekat Desa Gawok dengan kekuatan sekitar 1,000 tentara.[7] Pasukan ini kemudian diperkuat oleh 300 pasukan dari pihak Kasunanan Surakarta dan 150 tentara dari Panglima Belanda, Josephus Jacobus van Geen, ditambah anggota pasukan lokal setempat yang bersekutu dengan Belanda.[6]
Belanda melaporkan bahwa pasukan Diponegoro di Gawok berkekuatan sekitar 4,000 tentara.[8][9] Salah satu catatan Belanda menyebut bahwa jumlah pasukan Diponegoro berkisar antara 25 ribu hingga 30 ribu tentara. Namun, kemungkinan besar angka perkiraan ini dibesar-besarkan.[10]
Pertempuran
Mayor Le Bron, salah satu pemimpin pasukan Belanda
Pada 15 Oktober, pertempuran dimulai sekitar pukul 4 pagi, ketika salah satu dari dua barisan pasukan Belanda di bawah pimpinan Kolonel Frans David Cochius bertemu dengan pasukan Diponegoro di Dusun Baki, dekat Desa Gawok. Barisan Belanda lainnya di bawah komando Mayor Le Bron de Vexela, dengan cepat bergabung menuju medan pertempuran, karena menerima sinyal bala bantuan. Pasukan tersebut tiba di medan pertempuran sekitar 7:30 pagi. Sebelum serangan umum, Le Bron memerintahkan serangan dilakukan oleh satu kompi pasukan Ambon yang berhasil memukul mundur pasukan Diponegoro. Serangan balik yang dilakukan pasukan Diponegoro tidak membuahkan hasil, hingga dapat dihalau oleh pasukan Mangkunegaran dan dapat dikalahkan.[11]
Selama pertempuran, Diponegoro sendiri setidaknya tertembak dua kali, di atas dada dan di lengan kanannya. Tidak satu pun tembakan meninggalkan bekas luka permanen.[12] Ia juga terkena pecahan peluru meriam, hingga terjatuh dari kudanya.[13] Ketika Belanda meninggalkan medan perang, klaim Belanda menyatakan bahwa mereka "hanya meninggalkan satu orang jawa di medan pertempuran", sementara Diponegoro telah menderita kerugian berat.[14]
Kesudahan
Kekalahan tersebut merupakan bencana bagi upaya perang pasukan Diponegoro, karena pasukan inti telah hilang dalam pertempuran tersebut.[15] Para pendukung Diponegoro, baik dari kalangan bangsawan maupun santri, saling menyalahkan atas kekalahan tersebut, khususnya Kyai Maja yang disalahkan karena sarannya untuk melakukan serangan.[16] Setelah kehilangan sejumlah besar pasukan, Diponegoro mengubah strategi serangan dengan perang gerilya.[17] Setelahnya, Diponegoro sendiri harus mundur dengan tandu dan jarang terlibat secara langsung dalam pertempuran.[14] Dalam Babad Dipanegara yang ditulisnya selama masa pengasingannya di Manado,[18] Diponegoro menyalahkan kekalahan pasukannya atas sikapnya sendiri karena telah melakukan skandal dengan seorang tawanan wanita keturunan Tionghoa di Kedaren sebelum pertempuran berlangsung.[19][18]