Peran untuk ranah
Untuk menjembatani para perantau Minang dengan masyarakat Minang di Sumatera Barat (ranah Minang), beberapa tokoh Minang rantau, seperti Azwar Anas, Emil Salim, Harun Zain, Bustanil Arifin, Hasyim Ning, Hasan Basri Durin, Fahmi Idris, Saafroedin Bahar, Sjafaroeddin Sabar, dan beberapa tokoh lainnya, mendirikan lembaga Gerakan Seribu Minang yang dipendekkan menjadi Gebu Minang pada 20 Januari 1990.[9] Pada awalnya lembaga ini mengumpulkan uang seribu rupiah/bulan dari setiap warga perantau Minang untuk pembangunan berbagai sarana di Sumatera Barat. Keberhasilan lembaga ini sempat dijadikan role model oleh berbagai kelompok masyarakat lainnya di Indonesia, seperti masyarakat Karo, masyarakat Sulawesi Selatan,[10] dan lainnya.
Selain Gebu Minang, beberapa organisasi masyarakat perantau Minang yang lebih kecil dan berdasarkan asal-usul kabupaten atau nagari juga banyak yang didirikan. Yang dianggap terbesar dan terluas jangkauannya adalah Sulit Air Sepakat (SAS), sebuah organisasi perantau Minang asal Sulik Aia (Sulit Air), Solok, yang sudah berdiri pada sekitar awal abad ke-20. Dengan memiliki sekitar 80 Dewan Perwakilan Cabang (DPC) di seluruh Indonesia dan 4 DPC di luar negeri, yaitu di Malaysia, Sydney dan Melbourne (Australia) serta Washington DC, Amerika Serikat, organisasi ini merupakan yang terbesar di antara berbagai organisasi perantau Minang berdasarkan wilayah kabupaten/nagari di Sumatera Barat.[4][11]
Selain Sulit Air Sepakat, para tokoh perantau Minang asal kota Pariaman dan kabupaten Padang Pariaman juga membentuk organisasi Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) pada 29 April 1984 di Pariaman. Dewan Pimpinan Pusat PKDP berkedudukan di Jakarta dengan sejumlah cabang di beberapa kota di Indonesia.[12] Semua organisasi itu didirikan atas dasar kepedulian terhadap kampung halaman dan juga tidak jarang melakukan kegiatan sosial untuk masyarakat lainnya di wilayah rantau.