Sebelum menjadi penulis biografi, Abrar dikenal sebagai jurnalis. Ia pernah jadi managing editor selama 9 tahun di Harian Singgalang yang terbit di Padang, Sumatera Barat. Dia juga pernah menjadi guru di sekolah INS Kayutanam, Sumatera Barat, sebelum menjadi wartawan.[10] Abrar pernah menjadi wartawan harian Haluan Padang dan menjadi redaktur pelaksana harian Singgalang Padang (1985–1986).[4] Ia juga pernah jadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (1991–1993).[4]
Novelnya yang berjudul Tanah Ombak (2002) meraih penghargaan Hadiah Sastra Mastera (Masyarakat Sastra Asia Tenggara) kategori Karya Kreatif di Kuala Lumpur, Malaysia, pada tahun 2003.[11]
Meninggal dunia
Abrar Yusra meninggal dunia pada 28 Agustus 2015[12] setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Bogor karena penyakit stroke. Ia meninggalkan 3 orang putra, 1 putri, dan 5 cucu. Jenazahnya dimakamkan di Lawang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.[3]
Karya
Biografi
Azwar Anas: Teladan dari Ranah Minang (Gramedia: 2011)
Memoar Seorang Sosialis: Djoeir Moehamad (Yayasan Obor Indonesia: 1997)
Hoegeng Polisi Idaman dan Kenyataan (Sinar Harapan: 1995), dikejakan bersama Ramadhan K.H.
Pada saat peringatan 50 tahun kematian Amir Hamzah, Abrar menyusun biografi berjudul "Amir Hamzah–Biografi seorang Penyair" yang dibacakannya pada 20 Maret 1996 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.[4]