Pencederaan diri (bahasa Inggris:Self-harmcode: en is deprecated ) adalah perilaku yang disengaja untuk mencederai, menyakiti, dan melukai diri sendiri, tanpa berkeinginan untuk bunuh diri .[1][5] Contoh yang paling umum adalah melukai kulit secara langsung, biasanya dengan benda tajam atau panas.[1] Ini sering kali menimbulkan beberapa area cedera.[1] Metode lainnya bisa meliputi overdosis atau memukul diri sendiri.[5] Orang yang melakukan pencederaan diiri kerap merasa malu setelahnya.[6] Mereka juga hampir sepuluh kali lebih mungkin untuk mencoba bunuh diri .[4]
Pada umumnya perilaku ini dikaitkan dengan gangguan kepribadian ambang, gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan zat, dan autisme .[1] Namun, perilaku ini dapat muncul juga pada orang-orang yang tidak memiliki masalah kesehatan mental lain.[3] Hal lain yang terkait adalah keputusasaan, teman yang mencederai diri sendiri, dan sejarah penganiayaan .[3] Beberapa orang menggunakannya sebagai mekanisme penanggulangan untuk memberikan kelegaan sementara dari perasaan yang intens.[1] Ada pula yang berpendapat bahwa bisa saja hal ini digunakan sebagai bentuk hukuman diri, teriakan minta tolong, dan untuk mengatasi konflik interpersonal .[1]
Perilaku ini tidak mencakup praktik yang diterima secara sosial, misalnya tato atau tindik,[3] dan juga tidak termasuk cedera tidak langsung seperti yang mungkin terjadi akibat gangguan makan atau penyalahgunaan zat.[3] Tindakan awal yang mungkin diperlukan adalah membalut luka.[3] Penanganan jangka panjang meliputi penanganan kondisi-kondisi terkait, bersamaan dengan terapi perilaku kognitif .[1] Sebagian terapi mengembangkan cara yang lebih baik untuk menangani stres.[1] Beberapa orang mungkin dapat dibantu dengan naltrexone .[1]
Perilaku pencederaan diri paling umum terdapat pada remaja, dan kurang umum pada yang berusia lebih dari 18 tahun.[2][3] Pernah terdapat sekitar 17% orang memiliki perilaku ini..[4] Perempuan sekitar 1,7 kali lebih sering berperilaku ini dibandingkan laki-laki.[4] Kelompok lain yang lebih umum dengan perilaku ini meliputi LGBT, narapidana, dan veteran .[5] Angkanya cukup stabil antara tahun 2002 dan 2017.[3] Risiko bunuh diri lebih tinggi pada orang lanjut usia yang menyakiti diri sendiri.[7] Hewan yang dikurung, seperti burung dan monyet, juga mungkin berperilaku menyakiti diri sendiri.[8]
1234Gillies, D; Christou, MA; Dixon, AC; Featherston, OJ; Rapti, I; Garcia-Anguita, A; Villasis-Keever, M; Reebye, P; Christou, E (October 2018). "Prevalence and Characteristics of Self-Harm in Adolescents: Meta-Analyses of Community-Based Studies 1990-2015". Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. 57 (10): 733–741. doi:10.1016/j.jaac.2018.06.018. PMID30274648.
↑Jones IH, Barraclough BM (July 1978). "Auto-mutilation in animals and its relevance to self-injury in man". Acta Psychiatrica Scandinavica. 58 (1): 40–47. doi:10.1111/j.1600-0447.1978.tb06918.x. PMID99981.