Karir diplomatik
Ia bergabung dengan pelayanan diplomatik Takhta Suci pada 1 Mei 1985. Penugasannya menempatkannya ke El Salvador, Etiopia, Suriah, Prancis, Yunani, dan Belgia.[3]
Pada 19 Oktober 2002, Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya menjadi uskup agung tituler Amantia dan Nunsius Apostolik untuk Bangladesh.[3] Ia menerima penahbisan episkopal dari Yohanes Paulus pada 6 Januari 2003.[4][5] Pada 27 Agustus 2007, Paus Benediktus XVI mengangkatnya menjadi Nunsius Apostolik untuk Uganda.[6]
Paus Benediktus XVI mengangkatnya menjadi Nunsius Apostolik untuk Thailand dan Kamboja dan Delegasi Apostolik untuk Myanmar dan Laos pada 4 Agustus 2012.[7] Pada 8 Februari 2017, Tsang In-Nam mempersembahkan pemerintah Myanmar dengan proposal untuk pendirian hubungan diplomatik penuh. pada 10 Maret, Parlemen Myanmar menunjukkan perhatiannya.[8] Pada 12 Agustus 2017, status Tschang In-Nam diubah menjadi Nunsius untuk Myanmar.[9]
Pada 16 Juli 2022, Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi Nunsius Apostolik untuk Belanda.[10] Pada 13 Februari 2025, Paus Fransiskus menerima pengunduran dirinya atas dasar usia.[11]