Joseph Salvador Marino[a] (lahir 23 Januari 1953) adalah seorang prelatus Gereja Katolik Roma Amerika Serikat yang mengabdi dalam penugasan diplomatik Vatikan dari 1988 sampai 2918 dan kemudian menjabat sebagai presiden Akademi Gerejawi Kepausan sampai 2023. Ia menjadi uskup agung pada 2008 dan mewakili Takhta Suci di Bangladesh. Setelah penugasannya disana, ia mewakili Takhta Suci di Malaysia, Timor Leste dan Brunei selama enam tahun.
Biografi
Tahun-tahun awal
Joseph Salvador Marino lahir di Birmingham, Alabama, pada 23 Januari 1953,[1] sebagai salah satu dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Salvador Marino, seorang insinyur kelistrikan, dan Josephine Marino. Ia dibebaskan di Ensley, Birmingham dan lulus dari John Carroll High School di Birmingham pada 1971.[2] Marino menerima gelar dalam filsafat dan psikologi dari Universitas Scranton di Scranton, Pennsylvania.
Imamat
Marino ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup William Houck pada 25 Agustus 1979, untuk Keuskupan Birmingham.[1] Marino menerima gelar dalam teologi dan teologi biblikal dari Universitas Kepausan Gregorian saat tinggal di Kolese Amerika Utara Kepausan dari 1975 sampai 1980.[3] Marino pulang ke Birmingham selama empat tahun pengabdian pastoral sebagai wakil pastor di Paroki Katedral Santo Paulus.[2] Pada 1984, ia masuk Akademi Gerejawi Kepausan untuk mempersiapkan karir dalam penugasan diplomatik saat menerima gelar Doktor Hukum Kanon dari Gregorian.[3]
Karir diplomatik
Marino bergabung dengan penugasan diplomatik pada 15 Juli 1988.[1] Penugasan awalnya meliputi perutusan ke Filipina dari 1988 sampai 1991, Uruguay dari 1991 sampai 1994, dan Nigeria dari 1994 sampai 1997. Dari 1997 sampai 2004, Marino mengabdi di Sekretariat Negara di Roma, tempat ia bertugas mengurusi negara-negara Balkan. Ia terlibat sebagai anggota staf senior dalam dua misi diplomatik: kunjungan Kardinal Jean-Louis Tauran ke Beograd, Serbia, pada 1 April 1999, yang mengupayakan sebuah resolusi untuk Perang Kosovo; dan pertemuan antara Presiden AS George W. Bush dan Kardinal Pio Laghi kala Laghi gagal berupaya untuk mencegah Bush dari menginvasi Irak pada 2003.[3]
Pada 16 Januari 2013, Paus Benediktus mengangkat Marino menjadi nunsius apostolik untuk Malaysia, nunsius apostolik untuk Timor Leste, dan delegasi apostolik untuk Brunei.[5] Ia menegosiasikan perjanjian tahun 2015 antara Takhta Suci dan Timor Leste.[6]
Paus Fransiskus mengangkat Marino menjadi presiden Akademi Gerejawi Kepausan pada 11 Oktober 2019.[7] Ia menjadi orang Amerika kedua yang memimpin sekolah tersebut.[6]
Pada 23 Januari 2023, Paus Fransiskus menerima pengunduran dirinya sebagai presiden Akademi Gerejawi Kepausan.[9]
Catatan
↑Kantor Pers Takhta Suci, yang biasanya memilih nama yang lebih formal ketimbang kurang formal, menyebutnya sebagai Joseph Marino, sebagaimana pada catatan pers dari kegiatan-kegiatannya. Kardinal Jean-Louis Tauran menyebutnya Joseph Marino saat menahbiskannya menjadi uskup.
Referensi
1234"Rinunce e Nomine, 12.01.2008" (Press release) (dalam bahasa Italia). Holy See Press Office. January 12, 2008. Diakses tanggal October 11, 2019.