Patin jambal, ikan jambal, atau juara (Pangasius djambal) adalah salah satu jenis ikan patin (Pangasiidae) dari genus Pangasius. Ikan yang tercatat menyebar di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa ini secara umum lebih dikenal sebagai ‘patin lokal’, dan lebih disukai dari segi tampilannya. Di Palembang, nama lokalnya adalah bedado.
Pengenalan
Ikan patin yang dapat mencapai ukuran besar, panjang tubuh dapat melebihi dari 60 cm.[4]:116 Rekor tangkapan hasil olahraga memancing di kolam buatan adalah 80cm dengan berat sekitar 9,25kg, sementara hasil tangkapan dari alam mencapai panjang 100cm.[5]
Sisi atas kepala terlihat kasar. Taju kepala belakang (supraoccipital crest) menyempit ke ujung. Duri punggung lebih pendek dari panjang kepala. Panjang kepala, 4½-4¾ kalinya sebanding dengan panjang standar (standard length, SL; dari moncong hingga akhir batang ekor, tanpa sirip ekor). Sungut maksilar (di ujung rahang atas) mencapai tutup insang atau tulang humeral. Sirip anal dengan IV jari-jari keras dan 26-29 jari-jari lunak (bercabang).[6]:181
Tubuhnya memanjang, dengan jarak predorsal (predorsal length) 35,5-41,9% SL; lebar tubuh 16,8-21,4% SL; garis tengah mata 10,1-21,3% HL (head length, panjang kepala); panjang moncong melebihi jarak moncong ke isthmus (103,8-133,3%), dan jumlah sisir saring antara 27-39 pada busur insang yang pertama. Gelembung renangnya dengan 2(-3) ruangan.[2]:16
Ikan patin telah semenjak lama dimanfaatkan oleh masyarakat luas, terutama di sekitar sungai-sungai besar di wilayah Dangkalan Sunda, sebagai bahan masakan tradisional. Sebelum tahun 1996—yakni saat merebaknya budidaya patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) di Indonesia (khususnya Jawa)-- spesies lokal yang dikembangbiakkan di Sumatra bisa jadi adalah P. djambal, P. kunyit, P. nasutus, atau mungkin juga campuran dari spesies-spesies tersebut.[7]:5 Setelah tahun tersebut, budidaya patin siam yang lebih efisien mendominasi produksi ikan patin untuk konsumsi.[8]:1
Akan tetapi secara umum, daging P. djambal yang berwarna putih lebih disukai daripada daging berwarna kuning dari P. hypophthalmus, tidak saja di Indonesia tapi juga di pasaran lain seperti Asia, Eropa dan Amerika Utara. Karenanya, pada tahun 1997 dimulai upaya pengembangan budidaya P. djambal dengan melakukan penelitian dan percobaan pemijahan buatan dan pembesaran anak-anak ikan di kolam buatan.[7]:1–2 Hasilnya, benih P. djambal telah dapat diperoleh masyarakat umum pada sekitar tahun 2000.[8]:3
Catatan kaki
↑Bleeker, P. 1846. "Siluroiderum bataviensium species nuperrime detectae". Natuur- en Geneeskundig Archief voor Neêrlandsch Indië, BataviaIII(2):284-93.
1234Gustiano, R., GG. Teugels, & L. Pouyaud. 2004. "Pangasius bedado Roberts, 1999: a junior synonym of Pangasius djambal Bleeker, 1846 (Siluriformes, Pangasiidae)". Cybium28(1): 13-8.
12Roberts TR. 1999. "Pangasius bedado, a new species of molluscivorous catfish from Sumatra (Pisces, Siluriformes, Pangasiidae)". Natural History Bulletin of Siam Society, 47: 109-15.
12Roberts TR. & C. Vidthayanon. 1991. "Systematic revision of the Asian catfish family Pangasiidae, with biological observation and descriptions of three new species". Proceedings of the Academy of Natural Sciences of Philadelphia, 143: 97-144. (abstrak)
↑Machacek, H. 2017. World Records Freshwater Fishing: Pangasius djambal. Diakses 10/IV/2017
12Bleeker, P. 1858. Ichthyologiae Archipelagi Indici Prodromus vol I Siluri. Bataviae: Typis Langei &soc. (terj. Ingg.: 160)