ENSIKLOPEDIA
Ordo Santo Yohanes Yerusalem
Ordo Saudara-Saudara Panti Husada Santo Yohanes Yerusalem[2] atau Ordo Santo Yohanes,[3] yang lebih umum disebut Kesatria Pramuhusada,[b] adalah salah satu ordo militer Katolik. Ordo ini didirikan di Kerajaan Yerusalem pada abad ke-12, bermarkas besar di Yerusalem dan di Ako sampai tahun 1291, kemudian berpindah ke Puri Kolosi di Siprus (tahun 1302–1310), pulau Rodos (tahun 1310–1522), pulau Malta (tahun 1530–1798), dan Sankt-Peterburg (tahun 1799–1801).
Ordo ini terbentuk pada awal abad ke-12 di tengah gencarnya pembenahan Kluni, gerakan pembaharuan di lingkungan tarekat Benediktin yang bertujuan meningkatkan ketakwaan dan kepedulian terhadap nasib kaum papa. Pada abad ke-11, lama sebelum ordo ini terbentuk, para saudagar dari Amalfi membangun sebuah panti husada di Yerusalem yang didedikasikan kepada Yohanes Pembaptis, tempat rahib-rahib Benediktin merawat dan melayani orang-orang sakit, kaum papa, maupun orang-orang Kristen yang mengalami cedera saat berziarah ke Tanah Suci. Kepala panti yang pertama adalah Gerardus Sasso, seorang bruder Benediktin. Sesudah tentara Kristen merebut Yerusalem pada tahun 1099, Panti Husada Santo Yohanes mulai dikenal luas dan akhirnya diakui sebagai ordo tersendiri oleh Paus Paskalis II pada tahun 1113.
Ordo Santo Yohanes berangsur-angsur termiliterisasi lantaran mulai merekrut para kesatria pada dasawarsa 1120-an dan 1130-an, sehingga kemudian hari lebih dikenal sebagai Kesatria Pramuhusada. Dengan piagam khusus dari paus, organisasi ini dijadikan ordo militer yang ditugaskan untuk merawat dan mempertahankan Tanah Suci. Ordo Santo Yohanes ikut berjuang dalam perang-perang salib sampai dengan peristiwa pengepungan Ako tahun 1291. Sesudah tentara Muslim merebut kembali Tanah Suci, Ordo Santo Yohanes beroperasi dari pulau Rodos selaku kepala negara berdaulat, dan kemudian hari dari pulau Malta selaku kepala negara bawahan yang bertuan kepada Raja Muda Spanyol di Sisilia. Ordo Santo Yohanes juga sempat menguasai kota Tripoli di Afrika Utara selama dua dasawarsa pada abad ke-16, dan merupakan salah satu kelompok terkecil yang pernah memiliki jajahan di benua Amerika lantaran sempat menguasai empat pulau di Karibia selama belasan tahun pada pertengahan abad ke-17, sebelum menyerahkannya kepada Prancis pada dasawarsa 1660-an.
Ordo Santo Yohanes pecah pada masa Reformasi Protestan, ketika ranting-ranting ordo di Jerman Utara dan Negeri Belanda berganti agama menjadi Protestan, melepaskan diri dari organisasi utama yang tetap Katolik, dan untuk seterusnya berdiri sendiri hingga hari ini. Turunan-turunan Ordo Santo Yohanes dewasa ini menjalin hubungan oikumene yang dijiwai semangat persahabatan. Ordo Santo Yohanes dibubarkan di Inggris, Denmark, juga beberapa tempat lain di Eropa Utara, dan semakin lemah akibat pendudukan Prancis di Malta pada tahun 1798, yang membuat anggota-anggotanya terpencar ke seluruh Eropa.[4]
Dewasa ini, ada lima organisasi yang masih melanggengkan tradisi-tradisi Ordo Santo Yohanes dan saling mengakui keberadaan masing-masing, yaitu Ordo Militer Berdaulat Malta, Ordo Yang Terhormat Panti Husada Santo Yohanes, Ordo Kesatria Santo Yohanes Cabang Brandenburg, Ordo Santo Yohanes di Negeri Belanda, dan Ordo Santo Yohanes di Swedia.
Sejarah
Pendirian

Pada tahun 603, Paus Gregorius I menugaskan Abas Probus dari Ravena, yang pernah menjalankan tugas selaku utusannya di istana Lombardia, untuk mendirikan sebuah panti husada di Yerusalem bagi kepentingan para peziarah Kristen di Tanah Suci.[5] Pada tahun 800, Kaisar Karolus Agung memperbesar bangunan panti husada yang didirikan Abas Probus, dan menambahkan bangunan perpustakaan. Kira-kira 200 tahun kemudian, yakni pada tahun 1009, panti husada ini dihancurkan bersama-sama dengan tiga ribu bangunan lain di Yerusalem oleh Khalifah Bani Fatimah, Alhakim Biamrillah.
Saudagar-saudagar dari Amalfi mendapatkan izin dari Khalifah Almustansir Billah (bertakhta tahun 1036-1094) untuk membangun sebuah biara di dekat Gereja Makam Kudus. Biara ini dinamakan Santa Maria Latin (untuk membedakannya dari organisasi Gereja Ortodoks Suryani), dikelola oleh ordo Benediktin, dan menjadi rumah singgah bagi para peziarah Kristen di Tanah Suci. Pada akhir dasawarsa 1060-an, peningkatan jumlah peziarah mendorong rahib-rahib Benediktin untuk membuka dua panti husada, satu panti untuk pria dan satu panti untuk wanita. Panti untuk pria dinamakan Panti Husada Santo Yohanes. Dengan dukungan dana dari Mauro asal Pantaleone, seorang hartawan Amalfi, pendirian panti husada itu akhirnya dapat dirampungkan. Pada awal dasawarsa 1070-an, panti husada itu dikunjungi Uskup Agung Amalfi, Yohanes, yang kebetulan sedang berziarah ke Tanah Suci. Pada abad-abad berikutnya, untuk membantu usaha pengumpulan dana di Eropa, Ordo Santo Yohanes mengeluarkan pernyataan bahwa panti husada itu didirikan lebih dari satu abad sebelum kelahiran Kristus oleh Imam Besar Menelaus dan Raja Raja Antiokhus dengan dana dari Yudas Makabeus, dan kepala panti yang pertama adalah Santo Stefanus, bahkan pernah dikunjungi oleh Kristus dan para rasul. Seorang sejarawan Ordo Santo Yohanes pada abad ke-13 mencatat bahwa pernyataan itu tidak benar.[6][7] Bagaimanapun juga serikat persaudaraan pramuhusada Santo Yohanes meraih ketenaran dalam waktu yang terbilang singkat.[8]
Ketika tentara Kristen memenangkan perang salib pertama pada tahun 1099, Panti Husada Santo Yohanes sudah terkenal di kalangan peziarah, dan dianggap sebagai organisasi yang terpisah dari Biara Santa Maria Latin. Rahib-rahib petugas panti merasa berkewajiban untuk sedapat mungkin memberikan layanan yang terbaik kepada kaum papa. Panti Husada Santo Yohanes menerima aset wakaf dari Godefridus asal Bouillon, panglima perang salib pertama, sebelum yang bersangkutan tutup usia pada tahun 1100. Saat membenahi hierarki Katolik di Palestina, Batrik Latin Yerusalem, Gibelinus asal Arles, secara resmi mengakui Panti Husada Santo Yohanes sebagai sebuah lembaga tersendiri, terpisah dari Biara Santa Maria Latin, dan salah satu langkah mewujudkan kemandirian Panti Husada Santo Yohanes dilakukan oleh Paus Paskalis II dengan menetapkan Biara Santa Maria Latin sebagai salah satu gereja Takhta Suci, menempatkannya di bawah perlindungan paus, dan mengecualikannya dari kewajiban membayar perpuluhan hasil bumi pada tanggal 19 Juni 1112. Ordo kerahiban pramuhusada Santo Yohanes secara resmi berdiri ketika Paus Paskalis II menerbitkan bula Pie postulatio voluntatis pada tanggal 15 Februari 1113 untuk Kepala Panti Husada Santo Yohanes, Gerardus Sasso. Sri Paus menempatkan panti itu di bawah kewenangannya, mengecualikannya dari kewajiban membayar perpuluhan hasil bumi, dan memberikan hak kepada anggota-anggota ordo yang sudah mengikrarkan kaul kerahiban untuk memilih pemimpin ordo. Sri Paus juga menempatkan beberapa panti husada dan balai penyantunan di Italia Selatan di bawah tat kelola Panti Husada Santo Yohanes Yerusalem, sebab panti-panti husada dan balai-balai penyantunan itu berlokasi di kota-kota pelabuhan tempat para peziarah bertolak menuju Tanah Suci.[8][9][10]

Gerardus Sasso menerima daerah kekuasaan dan pendapatan bagi ordonya di berbagai pelosok wilayah bahkan di luar wilayah Kerajaan Yerusalem. Di bawah kepemimpinan penggantinya, Raimundus du Puy, Panti Husada Santo Yohanes, yang dulu setaraf dengan balai penyantunan, diperluas menjadi sebuah infirmaria (rumah sakit kecil),[11] dan sampai dengan saat itu masih bernaung di bawah kewenangan Batrik Latin Yerusalem, yang berkedudukan di Gereja Makam Kudus. Sekitar waktu itulah Panti Husada Santo Yohanes terhubung dengan Gereja Makam Kudus, dan dokumen-dokumen yang dikeluarkan pada masa itu sering menyebut-nyebut "Makam Kudus dan Panti Husada Santo Yohanes di Yerusalem."[12] Mula-mula anggota Ordo Santo Yohanes adalah para pramuhusada yang bekerja melayani para peziarah maupun orang-orang lain di Yerusalem (termasuk orang-orang Islam dan Yahudi),[8] tetapi tak lama kemudian Ordo Santo Yohanes sudah memperluas pelayanannya dengan menyediakan tenaga pengawal bersenjata bagi para peziarah sebelum akhirnya menjadi kekuatan tempur yang layak diperhitungkan. Sedikit demi sedikit, Ordo Santo Yohanes berubah menjadi sebuah lembaga militer tanpa kehilangan sifat aslinya sebagai lembaga amal kasih.[11]
Kemungkinan besar Panti Husada Santo Yohanes mempekerjakan kesatria-kesatria atau prajurit-prajurit pejalan kaki seusai perang salib yang pertama sebagai petugas keamanan, sebelum membentuk organisasi militer sendiri. Pada dasawarsa 1120-an, kesatria-kesatria di Eropa Barat mewariskan kuda dan senjata mereka kepada Panti Husada Santo Yohanes dalam surat wasiat mereka, dan pada awal dasawarsa 1140-an, Paus Inosensius II menyebutkan bahwa para pramuhusada memiliki "pelayan-pelayan" untuk melindungi para peziarah. Menurut isi catatan peninggalan seorang imam Ordo Santo Yohanes dari abad ke-16, ketika kekayaannya kian menumpuk, Ordo Santo Yohanes mempekerjakan kesatria-kesatria untuk menjaga keamanan panti-panti husada yang dimilika dan melindungi para peziarah. Kesatria-kesatria ini pada akhirnya menjadi anggota penuh Ordo Santo Yohanes. Diketahui bahwa para kesatria dan prajurit dipekerjakan oleh berbagai lembaga di Yerusalem sebagai petugas keamanan selepas tahun 1099, termasuk gereja-gereja. Beberapa kesatria dan prajurit kemudian hari bergabung dengan ordo-ordo militer. Ordo Kesatria Haikal terbentuk sekitar tahun 1119-1120, dan agaknya merekalah yang menginspirasi Ordo Santo Yohanes untuk memiliki kesatria-kesatria sendiri. Dari sebuah piagam, yang dibuat sebagai bukti pemberian hadiah kepada Panti Husada Santo Yohanes dari salah satu pasukan Kristen pada tanggal 17 Januari 1126, diketahui bahwa salah seorang anggota Ordo Santo Yohanes dihadirkan sebagai saksi, dan bahwa yang bersangkutan menyandang gelar militer.[13]

Raimundus du Puy, yang menjadi kepala panti menggantikan Gerardus Sasso pada tahun 1120,[12] dianggap sebagai tokoh yang memasukkan unsur militer ke dalam Ordo Santo Yohanes.[14] Sebelum tahun 1136, Raimundus memutuskan bahwa para pramuhusada Santo Yohanes boleh bertempur untuk membela negara atau mengepung sebuah kota pagan.[15] Sama seperti ordo-ordo militer lainnya, Kesatria Pramuhusada membagi anggota-anggotanya ke dalam dua jenjang, kesatria dan pelayan.[16] Pada tahun 1130, Paus Inosensius II menetapkan lambang kebesaran Kesatria Pramuhusada, yaitu salib perak sederhana di atas latar merah, untuk membedakan mereka dari Kesatria Haikal.[17] Konon "salib bermata delapan", lambang lain Kesatria Pramuhusada, diciptakan di Kekaisaran Romawi Timur sebelum muncul di Kadipaten Amalfi, Italia, dan kemudian hari digunakan di Yerusalem oleh rahib-rahib yang mendirikan Panti Husada Santo Yohanes. Pascaperpindahan Kesatria Pramuhusada ke pulau Malta, salib bermata delapan dikenal dengan nama Salib Malta.[18]

Raja Fulko membangun sejumlah puri untuk mengamankan perbatasan selatan Kerajaan Yerusalem dari serbuan-serbuan garnisun Khilafah bani Fatimah yang bermarkas di Askelon, dan menyerahkan salah satu puri untuk dikelola oleh Kesatria Pramuhusada pada tahun 1136, yaitu Puri Betgibelin.[15] Puri ini juga memungkinkan Kesatria Pramuhusada untuk menjaga jalur peziarah yang menghubungkan Yafo dan Yerusalem.[19] Kemudian hari Kesatria Pramuhusada dipercaya mengelola lebih banyak puri di Syam dari pada di Kerajaan Yerusalem.[20] Dalam beberapa dasawarsa pasca-1136, Kesatria Pramuhusada diserahi lebih banyak lagi puri dan kota-kota oleh bangsawan-bangsawan yang butuh bantuan untuk mempertahankannya, khususnya di Kabupaten Tripoli dan Kepangeranan Antiokhia. Salah satu puri yang terkenal adalah Krak des Chevaliers, yang mereka terima dari Bupati Tripoli, Raimundus II, pada tahun 1142.[15][20] Menurut salah satu perkiraan, Kesatria Pramuhusada memiliki 25 puri pada tahun 1180.[20] Selain mempertahankan puri-puri yang dipercayakan kepada mereka, Kesatria Pramuhusada juga membangun puri-puri baru maupun memugar dan memperbesar puri-puri yang sudah ada, salah satunya adalah Krak des Chevaliers.[21]
Salah satu pertempuran pertama yang melibatkan Kesatria Pramuhusada adalah pengepungan Askelon tahun 1153. Sesudah pasukan Kesatria Haikal, dipanglimai guru besar mereka, Bernard de Tremelay, menerjang masuk ke dalam benteng Askelon dan gugur, Baldwin III of Jerusalem berniat menarik mundur pasukan, tetapi Raimundus du Puy meyakinkannya untuk melanjutkan pengepungan, dan Askelon akhirnya menyerah pada tanggal 22 Agustus 1153.[22][23] Tidak diketahui apakah kesatria-kesatria pramuhusada hanya dilibatkan sekadar untuk menyumbangkan usul dan saran atau ikut bertempur.[24]
Kesatria Pramuhusada dan Kesatria Haikal menjadi ordo-ordo militer yang paling disegani di Tanah Suci. Kaisar Romawi Suci, Frederikus Barbarosa, menjanjikan perlindungannya kepada para kesatria Santo Yohanes di dalam sebuah piagam penganugaerahan hak-hak istimewa yang dikeluarkan pada tahun 1185.[25][26] Sebagai bagian dari usaha untuk memelihara keamanan jalan Camino de Santiago, Ordo Santo Yohanes diserahi panti husada, daerah ranting, dan rumah religius San Juan de Acre di Navarrete, La Rioja, yang dibangun pada tahun 1185 atas prakarsa María Ramírez de Medrano, Tuan Putri Fuenmayor, dan dilaksanakan oleh anaknya, Martín de Baztán y Medrano, Uskup Osma di Soria.[27] Lantaran aktif berkiprah di Kerajaan Toledo (daerah yang berbatasan langsung dengan wilayah Muslim dari abad ke-12 hingga abad ke-13) sejak tahun 1144, Ordo Santo Yohanes berlokasi mendapatkan daerah kekuasaannya yang terbesar, yaitu Campo de San Juan.[28]
Anggaran dasar yang disusun oleh oleh Guru Besar Rugerus de Moulins (tahun 1187) hanya mengatur hal-ihwal merawat orang sakit; tugas militer baru muncul untuk pertama kalinya di dalam anggaran dasar yang disusun sekitar tahun 1200 oleh Ferdinandus Afonso, Guru Besar Ordo Santo Yohanes yang kesembilan. Di dalam anggaran dasar yang baru, ada pembedaan yang jelas antara kesatria biasa, yang bukan anggota ordo dan hanya bertugas selama jangka waktu tertentu, dengan kesatria berkaul, yang terikat dengan ordo karena sudah mengikrarkan kaul kekal, dan oleh sebab mendapatkan hak-hak istimewa kerohanian seperti biarawan-biarawan lain. Keanggotaan Ordo Santo Yohanes terdiri atas tiga matra, yaitu saudara-saudara tentara, saudara-saudara pramuhusada, dan saudara-saudara kapelan yang dipercaya menangani urusan peribadatan.[11]
Pada tahun 1248, Paus Inosensius IV (menjabat tahun 1243–1254) memberikan persetujuannya atas pakaian seragam militer yang harus dikenakan oleh kesatria-kesatria pramuhusada pada saat maju bertempur. Alih-alih mantel penutup zirah (yang membatasi gerakan), mereka mengenakan jubah luar merah bertanda salib putih.[29]
Banyak benteng pertahanan Kristen yang kuat di Tanah Suci dibangun oleh Kesatria Haikal dan Kesatria Pramuhusada. Ketika Kerajaan Yerusalem sedang jaya-jayanya, Kesatria Pramuhusada menguasai tujuh benteng besar dan 140 aset lain di wilayah kerajaan itu. Dua benteng terbesar yang menjadi pangkalan kekuatan tempur Kesatria Pramuhusada di Kerajaan Yerusalem dan Kepangeranan Antiokhia adalah Krak des Chevaliers dan Margat di Syam.[9] Aset-aset Ordo Santo Yohanes dibagi menjadi beberapa wilayah ordo yang disebut prioratus, masing-masing wilayah dibagi menjadi beberapa cabang yang disebut ballivatus, dan masing-masing cabang dibagi menjadi beberapa ranting yang disebut commendaria.
Seawal-awalnya pada akhir abad ke-12, Kesatria Pramuhusada mendapatkan pengakuan di Kerajaan Inggris dan Kadipaten Normandia, sehingga muncullah bangunan-bangunan seperti gedung Santo Yohanes Yerusalem dan Gapura Kesatria Quenington yang didirikan di atas tanah wakaf yang diterima Kesatria Pramuhusada dari kaum bangsawan setempat.[30] Di Irlandia, Kesatria Pramuhusada mendirikan markas wilayahnya di Kilmainham, tidak jauh dari kota Dublin, dan Prior Irlandia biasanya menjadi salah seorang tokoh penting dalam kehidupan bermasyarakat di Irlandia.
Kesatria Pramuhusada juga mendapatkan daerah "Tanah Severin" (Terra de Zeurino) berikut daerah pegunungan di sekitarnya dari Raja Hongaria, Béla IV, sebagaimana tertuang dalam piagam penganugerahan tertanggal 2 Juni 1247. Banat Severin adalah pratyantadesa atau provinsi perbatasan dari Kerajaan Hongaria di antara hilir sungai Donau dan sungai Olt, yang dewasa ini termasuk wilayah Rumania, dan dulunya bersebelahan dengan wilayah Kekaisaran Bulgaria yang kuat di seberang sungai Donau. Pemerintahan Kesatria Pramuhusada di Banat Severin tidak berumur panjang.[31]
Di Siprus dan Rodos



Pascatumbangnya Kerajaan Yerusalem pada tahun 1291 (kota Yerusalem sendiri sudah lebih dulu jatuh ke tangan musuh pada tahun 1187), Ordo Kesaria Pramuhusada hanya bisa bergerak di wilayah Kabupaten Tripoli, dan sesudah kota Ako jatuh ke tangan musuh pada tahun 1291, Kesatria Pramuhusada mengungsi ke Kerajaan Siprus. Lantaran tidak ingin terjebak dalam pusaran politik Siprus, Guru Besar Kesatria Pramuhusada, Gulielmus de Villaret, menyusun rencana untuk mendirikan negara sendiri. Dia akhirnya memutuskan untuk mendirikannya di pulau Rodos, yang pada masa itu merupakan bagian dari wilayah Kekaisaran Romawi Timur. Dia juga menata ulang pembagian wilayah ordo menjadi beberapa langue atau "lisan", mengikuti wilayah etnis-linguistik, yaitu Aragon, Auvergne, Kastila, Inggris, Prancis, Kekaisaran Romawi Suci, Italia, dan Provence. Masing-masing langue dikepalai oleh seorang prior, atau seorang Prior Besar jika ada lebih dari satu prioratus di dalam langue.
Foulques de Villaret, pengganti Guillaume, menjalankan rencana pendahulunya untuk mendirikan negara sendiri di pulau Rodos. Sesudah lebih dari empat tahun digempur Kesatria Pramuhusada, kota Rodos akhirnya menyerah pada tanggal 15 Agustus 1310. Kesatria Pramuhusada juga menguasai beberapa pulau tetangga, bandar Halikarnasus di Anatolia, dan pulau Kastellorizo. Tak lama berselang, pada tahun 1312, Paus Klemens V membubarkan ordo saingan Kesatria Pramuhusada, yaitu kesatria Haikal, dengan beberapa pucuk bula yang terbit beruntun, salah satunya adalah bula Ad providam yang mengalihkan sebagian besar aset Kesatria Haikal kepada Kesatria Pramuhusada. Di Rodos, dan kemudian hari di Malta, kesatria-kesatria residen dari masing-masing langue dikepalai oleh seorang baiulivus. Prior Besar Inggris pada masa itu adalah Filipus De Thame, yang menerima aset-aset wakaf bagi langue Inggris dari tahun 1330 sampai 1358.
Di Rodos, Kesatria Pramuhusada,[32] yang pada masa itu juga disebut Kesatria Rodos,[11] dipaksa oleh keadaan untuk menjadi sebuah laskar yang lebih kental sifat militernya. Pada tahun 1334, Kesatria Pramuhusada bertempur melawan invasi Kaisar Andronikus dan antek-antek Turkinya,[33] dan pada tahun 1374, Kesatria Pramuhusada mengambil alih usaha pertahanan kota Smirna di pesisir Anatolia, yang sudah ditaklukkan tentara salib pada tahun 1344.[34] Kesatria Rodos menguasai Smirna sampai kota itu jatuh ke tangan Timur pada tahun 1402.[34] Di semenanjung Halikarnasus (sekarang Bodrum), Kesatria Pramuhusada mengukuhkan posisi mereka dengan membangun Puri Petronium, dan memanfaatkan puing-puing salah satu keajaiban dunia kuno, yaitu gedung pusara Mausolus yang sudah dalam kondisi setengah rusak, untuk memperkuat temboknya.[35]
Pada abad ke-15, Kesatria Pramuhusada berulang kali bertempur melawan gerombolan bajak laut Berber, yang juga dikenal sebagai gerombolan bajak laut Usmani. Kesatria Pramuhusada berhasil menghalau dua invasi Muslim, yaitu invasi Sultan Mesir pada tahun 1444 dan invasi Sultan Usmani, Sultan Mehmed Penakluk, pada tahun 1480. Sesudah berhasil merebut Konstantinople dan mengalahkan Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 1453, Sultan Mehmed menjadikan Kesatria Pramuhusada sebagai sasaran utama.

Pada tahun 1522, Rodos didatangi kekuatan tempur baru, yaitu 400 kapal di bawah pimpinan Sultan Suleiman Agung, yang sanggup menampung 100.000 prajurit,[36] dan kemungkinan besar mengangkut sampai 200.000 prajurit.[37] Kesatria Pramuhusada di bawah pimpinan Guru Besar Filipus Viliersius de L'Isle-Adam hanya memiliki kurang lebih 7.000 prajurit. Sesudah enam bulan lamanya dikepung, Rodos akhirnya jatuh ke tangan Usmani. Sisa-sisa Kesatria Pramuhusada yang masih hidup diizinkan berhijrah ke Sisilia. Meskipun kalah perang, Filipus Viliersius tampaknya dikagumi sebagai pejuang yang gagah berani oleh pihak Kristen maupun pihak Muslim, bahkan Paus Adrianus VI menggelarinya Pembela Iman.
Di Malta

Pada tahun 1530, sesudah tujuh tahun Kesatria Pramuhusada tersingkir dari Rodos, Paus Klemens VII, yang juga seorang kesatria, mencapai mufakat dengan Kaisar Romawi Suci merangkap Raja Spanyol dan Raja Sisilia, Karolus V, untuk meberikan tempat tinggal permanen kepada Kesatria Pramuhusada. Kesatria Pramuhusada diserahi kekuasaan atas pulau Malta,[38][39] pulau Gozo, dan bandar Tripoli di Afrika Utara sebagai daerah lungguh permanen, dan sebagai gantinya Kesatria Pramuhusada akan mempersembahkan upeti tahunan kepada Kaisar Karolus V berupa seekor burung alap-alap Malta (upeti alap-alap Malta). Upeti disetor pada hari peringatan arwah semua orang beriman kepada Raja Muda Sisilia selaku wakil Raja Spanyol.[40][d] Pada tahun 1548, Kaisar Karolus V mengangkat status Heitersheim, markas besar Kesatria Pramuhusada di Jerman, menjadi daerah Kepangeranan Heitersheim, dan menjadikan Guru Besar Kesatria Pramuhusada di Jerman sebagai salah seorang Pangeran Kekaisaran Romawi Suci dengan kursi dan hak suara di majelis Reichstag.[41]
Selama 268 tahun selanjutnya, Kesatria Pramuhusada menetap di Malta dan mengubah pulau yang mereka sifatkan sebagai "sebongkah batu gamping belaka" itu menjadi pulau yang berkembang dengan bangunan-bangunan pertahanan yang kukuh. Ibu kotanya, La Valletta, kelak dikenal sebagai Superbissima, "Yang Paling Hebat", di antara kekuatan-kekuatan besar Eropa. Meskipun demikian, penduduk asli Malta mula-mula merasa khawatir dengan kehadiran Kesatria Pramuhusada, dan memandang mereka sebagai kaum penyerobot yang angkuh. Kesatria Pramuhusada dipandang keji, khususnya karena merugikan perempuan-perempuan setempat.[42] Sebagian besar kesatria adalah orang Prancis, dan orang Malta tidak diterima menjadi anggota ordo, bahkan bangsawan Malta pun rata-rata ditolak. Meskipun demikian, penduduk asli Malta dan Kesatria Pramuhusada bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai, sebab para kesatria mendorong pertumbuhan ekonomi, dermawan, dan dapat diandalkan untuk melindungi Malta dari serangan Muslim.[43]

Rumah-rumah sakit termasuk di antara bangunan-bangunan pertama yang didirikan oleh Kesatria Pramuhusada di Malta. Bahasa Prancis pun segera menggeser bahasa Italia sebagai bahasa resmi di Malta, kendati penduduk asli Malta terus bertutur dalam bahasa Malta dalam percakapan antarsesama orang Malta.[44] Kesatria Pramuhusada juga membangun benteng-benteng, menara-menara pantau, dan tentu saja gereja-gereja. Penguasaan pulau Malta menjadi tengara pulihnya kegiatan angkatan laut Kesatria Pramuhusada.
Kesatria Pramuhusada mungkin secara langsung membantu Yakobus Heraklides, bangsawan Malta yang menginvasi Moldavia pada tahun 1561.[45] Kesatria Pramuhusada juga melanjutkan serangan laut terhadap kekuatan tempur Muslim, khususnya gerombolan bajak laut Berber. Meskipun hanya memiliki sedikit kapal, dalam waktu singkat Kesatria Pramuhusada sudah membuat geram Usmani, yang tidak senang melihat ordo itu sudah kembali mendapatkan tempat berpijak. Pada tahun 1565, Sultan Suleiman mengirim 40.000 prajurit Usmani untuk mengepung 700 kesatria dan 8.000 prajurit di Malta, mengusir mereka dari Malta, dan menjadikan pulau itu sebagai pangkalan baru, kemungkinan besar untuk melancarkan serangan lain ke Eropa.[39] Peristiwa ini dikenal sebagai Pengepungan Besar Malta.
Pertempuran pertama Usmani mengakibatkan kerugian besar seperti yang dulu pernah diderita Kesatria Pramuhusada di Rodos. Hampir semua kota luluh lantak, dan kira-kira separuh kesatria gugur. Pada tanggal 18 Agustus, pihak bertahan sudah mulai putus asa. Jumlah mereka setiap hari berkurang, dan sudah terlalu lemah untuk melawan musuh di sepanjang garis pertahanan, tetapi Guru Besar Yohanes Parisetus de Valette menolak usulan dewan penasihatnya supaya Kesatria Pramuhusada meninggalkan Birgu dan Senglea lalu mundur ke benteng Sant'Angelo.[46]
Raja Muda Spanyol di Sisilia tidak mengirimkan bala bantuan. Kemungkinan besar arahan yang diterimanya dari Raja Spanyol, Filipus II, terlalu kabur kalimatnya sehingga terkesan melemparkan seluruh tanggung jawab pengambilan keputusan ke pundaknya. Membantu Kesatria Pramuhusada berarti mengurangi kekuatan pertahanan Sisilia. Keputusan yang keliru bisa membuat Sisilia dan Napoli kekurangan tenaga untuk melawan serbuan Usmani. Anak kandungnya sudah dititipkannya kepada Guru Besar La Valette, sehingga tidak mungkin dia tidak peduli akan nasib benteng itu. Apapun sebabnya, raja muda terus bersikap ragu-ragu, membiarkan Kesatria Pramuhusada mati-matian berjuang sampai berhasil membalikkan keadaan tanpa dibantu, dan baru terpaksa mengambil tindakan sesudah menghadapi kemarahan perwira-perwiranya sendiri.[46]
Pada tanggal 23 Agustus, sekali lagi terjadi penyerangan besar-besar, yang ternyata merupakan usaha serius terakhir pihak penyerang. Kesatria Pramuhusada dengan susah payah akhirnya berhasil mematahkan serangan itu, bahkan para korban luka-luka pun ikut bertempur. Angkatan perang Turki mulai merasa putus asa. Semua benteng masih berdiri utuh, kecuali Benteng Santo Erasmus.[47][46] Garnisun benteng bekerja keras siang dan malam untuk memperbaiki bagian-bagian yang jebol, sehingga pulau Malta pun kian hari kian mustahil dapat direbut. Banyak tentara Usmani, yang hidup berdesak-desakan di perkemahan, jatuh sakit pada bulan-bulan musim panas yang berhawa menyengat. Amunisi dan bekal makanan mereka mulai menyusut,[46] dan lambat laun semangat juang mereka juga pudar melihat kegagalan dan semua kerugian harus mereka tanggung. Kematian panglima kawakan Usmani, Dragut, seorang bajak laut sekaligus laksamana angkatan laut Usmani, pada tanggal 23 Juni merupakan pukulan besar bagi pihak penyerang.[48] Panglima-panglima Turki, Piali Pasya dan Mustafa Pasya, bersikap ceroboh. Mereka memiliki armada besar tetapi hanya satu kali dimanfaatkan. Mereka mengabaikan komunikasi dengan daerah pesisir Afrika, dan tidak berusaha memantau serta menghadang kedatangan bala bantuan dari Sisilia.

Pada tanggal 1 September, pihak penyerang melakukan upaya terakhir, tetapi tentara Usmani sudah kehilangan semangat juang sehingga upaya akhir itu dapat dipatahkan. Semangat juang pihak bertahan kembali bangkit, karena melihat masih ada peluang untuk menang. Pihak penyerang menjadi kebingungan dan ragu-ragu mengambil tindakan saat mendengar berita kedatangan bala bantuan dari Sisilia di teluk Mellieħa. Lantaran tidak tahu bahwa bala bantuan dari Sisilia sangat kecil, pihak penyerang menghentikan pengepungan dan bertolak meninggalkan Malta pada tanggal 8 September. Pengepungan Besar Malta mungkin merupakan aksi militer terakhir dalam sejarah yang menjadi saksi kemenangan mutlak pasukan kesatria melawan pasukan yang lebih besar dari segi jumlah dan menggunakan senjata api.[49][46] Pada saat pasukan Usmani bertolak meninggalkan Malta, Kesatria Pramuhusada hanya memiliki 600 orang yang sanggup mengangkat senjata. Menurut perkiraan yang paling dapat dipercaya, Usmani mengerahkan paling banyak 40.000 prajurit, dan hanya 15.000 prajurit yang pulang ke Konstantinopel.[46] Pengepungan Besar Malta digambarkan dengan sangat hidup dalam fresko-fresko karya Matteo Pérez yang menghiasi dinding Bangsal Santo Mikhael dan Santo Georgius, yang juga disebut Bangsal Singgasana, di Istana Guru Besar di La Valletta. Empat dari modello asli, yang dilukis dengan cat minyak oleh Perez d'Aleccio antara tahun 1576 hingga 1581, dapat dijumpai di Ruang Kubus Wisma Ratu di Greenwich, London. Seusai Pengepungan Besar Malta, Kesatria Pramuhusada mendirikan sebuah kota baru, yang kini menjadi ibu kota Malta. Kota baru itu diberi nama La Valletta untuk mengenang keteguhan hati Guru Besar de Valette untuk terus melawan pengepungan.[50]
Bangunan dan benteng pertahanan kota La Valletta, yang mulai dibangun pada tahun 1566, dalam waktu singkat menjadi pangkalan utama dari salah satu angkatan laut yang paling kuat di kawasan Laut Tengah. La Valletta dirancang oleh Francesco Laparelli, seorang prajurit zeni, dan dikerjakan oleh Girolamo Cassar. Pembangunan dirampungkan pada tahun 1571. Rumah-rumah sakit di pulau Malta juga diperbesar. Bangunan Sacra Infermeria dapat menampung 500 pasien, dan terkenal sebagai salah satu rumah sakit terbaik di dunia. Di ujung tombak dunia kedokteran, Rumah Sakit Malta, yang juga mencakup Sekolah Anatomi, Sekolah Bedah, dan Sekolah Farmasi, merupakan salah satu lembaga yang menjadi pelopor kemajuan ilmu kedokteran. La Valletta pun dikenal sebagai salah satu pusat kesenian dan kebudayaan. Gereja Konventus Santo Yohanes, yang rampung dibangun pada tahun 1577, dihiasi dengan karya-karya Caravaggio dan banyak seniman lain.
Hierarki
Markas besar
Jabatan tertinggi dalam hierarki Kesatria Pramuhusada adalah magnus magister (guru besar) atau panglima tertinggi, diikuti oleh jabatan magnus commendator (panglima besar). Selepas tahun 1304, pengemban jabatan panglima besar selalu berasal dari Prioratus Besar Santo Egidius di Prancis. Panglima besar bertugas menggantikan guru besar apabila yang bersangkutan berhalangan hadir atau meninggal dunia.[51] Jabatan tertinggi ketiga adalah marescalcus hospitalis (marsekal panti husada). Tugas utama marsekal adalah memastikan kesiapan tempur ordo,[51] yang mencakup usaha pengadaan zirah, senjata, kuda tempur berikut segala perangkatnya, dan artileri berikut segala perangkatnya (peralatan, bubuk mesiu, amunisi).[51] Adakalanya marsekal menerima pelimpahan kewenangan dari guru besar atau panglima besar.[51]
Markas besar Kesatria Pramuhusada disebut conventus (konventus). Para petinggi ordo yang tinggal di markas besar adalah guru besar, senescalcus (wakil guru besar), marsekal, praeceptor (pamong), hospitalarius (pramuhusada), prior, draperius (mantri sandang), dan thesaurarius (bendahara). Wakil guru besar adalah orang nomor dua di dalam ordo, marsekal menangani urusan militer, pamong menangani urusan administrasi dan logistik, pramuhusada mengelola rumah sakit utama ordo, prior menangani urusan gereja konventus, mantri sandang bertugas mengurus pakaian seragam, dan bendahara bertanggung jawab atas urusan keuangan. Mulai dari abad ke-13, ada pula jabatan turcopolarius, yang bertanggung jawab atas pasukan pembantu lokal yang disebut turkopoli, dan jabatan admiratus (laksamana), yang mengepalai angkatan laut Ordo Santo Yohanes.[52]
Jenjang keanggotaan
Gelar tertua yang digunakan oleh Kesatria Pramuhusada adalah frater (saudara). Kemungkinan besar gelar ini sudah dipakai sejak Panti Husada Santo Yohanes berdiri pada penghujung abad ke-11. Mereka juga dikenal dengan sebutan hospitalarius (pramuhusada) pada masa perang salib pertama. Sebuah piagam yang dikeluarkan oleh Raja Yerusalem, Balduinus I, pada tahun 1112 menyinggung keberadaan "saudara-saudara miskin" Panti Husada Santo Yohanes. Dalam rentang satu abad selanjutnya, anggota-anggota Ordo Santo Yohanes dikelompokkan menjadi golongan para imam dan para bruder yang mengikrarkan kaul kemiskinan, kemurnian, serta ketaatan, dan golongan fratres ad arma (saudara-saudara pemikul senjata) yang pada akhirnya terbagi menjadi dua jenjang keanggotaan, yaitu fratres milites (para kesatria) dan fratres servientes (para sersan). Golongan saudara-saudara pemikul senjata tidak disebutkan di dalam tata tertib Raimundus du Puy, yang dikukuhkan pada dasawarsa 1140-an, tetapi disebutkan di dalam anggaran dasar ordo dari awal dasawarsa 1180-an. Dengan demikian, Ordo Santo Yohanes mengembangkan tiga jenjang utama, yaitu saudara-saudara imam, saudara-saudara kesatria, dan saudara-saudara sersan.[53]
Pada dasawarsa 1140-an, para kesatria menganggotai Ordo Santo Yohanes sebagai bruder, tetapi para sersan mulanya bukan anggota ordo, sebab mereka adalah prajurit-prajurit upahan yang dipekerjakan oleh ordo untuk mengawal para peziarah. Para sersan baru diakui sebagai anggota ordo secara tertulis di dalam anggaran dasar tahun 1204, yang mengatur hal-ihwal saudara-saudara kesatria maupun saudara-saudara sersan. Anggaran dasar ini secara resmi mengakui perkembangan-perkembangan yang telah berlangsung di dalam tubuh Ordo Santo Yohanes.[53]
Pangeran dan guru besar
Baca juga
Tokoh Panti Husada Santo Yohanes
- Daftar Prior Santo Yohanes Yerusalem di Inggris
- Katerina Vitale, apoteker wanita pertama Kesatria Pramuhusada, sekaligus apoteker dan kimiawan wanita pertama di Malta
- Pierre Jean Louis Ovide Doublet, salah seorang anggota dewan pimpinan sekretariat Kesatria Pramuhusada Prancis
Benteng pertahanan dan lokasi kedudukan Panti Husada Santo Yohanes
Topik terkait
Keterangan
- ↑ Ordo ini kehilangan seluruh kewibawaan teritorialnya ketika Prancis menginvasi Malta pada tahun 1798. Pasca-1798, bagian-bagian Protestan dari ordo ini melepaskan diri, dan bagian yang tetap Katolik ditata kembali menjadi organisasi baru dengan nama Ordo Militer Berdaulat Malta pada tahun 1822.
- ↑ Nama-nama lain yang kurang dikenal adalah Ordo Santo Yohanes, Kesatria Santo Yohanes atau Ioannites, Kesatria Rodos (karena bermarkas di Rodos tahun 1310–1522), dan Kesatria Malta (karena bermarkas di Malta tahun 1530–1798)
- ↑ Miniatur pendedikasian di dalam naskah Gestorum Rhodie obsidionis commentarii (catatan peristiwa pengepungan Rodos tahun 1480), kode naskahː BNF Lat 6067 fol. 3v, diperkirakan berasal dari tahun 1483/1484.
- ↑ Fakta sejarah ini digunakan sebagai umpan cerita dalam novel terkenal karangan Dashiell Hammett, The Maltese Falcon.
Rujukan
- ↑ "Names of the Order".
- ↑ (bahasa Latin: Ordo Fratrum Hospitalis Sancti Ioannis Hierosolymitanicode: la is deprecated )
- ↑ (bahasa Belanda: Orde van Sint-Jancode: nl is deprecated )
- ↑ Eiland, Murray (2013). "A Snapshot of Malta". The Armiger's News. 35 (1): 2, 11. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Maret 2023. Diakses tanggal 27 Desember 2022 – via academia.edu.
- ↑ Boas, Adrian J. (2001). Jerusalem in the Time of the Crusades: Society, Landscape and Art in the Holy City under Frankish Rule. Routledge. hlm. 26. ISBN 978-1-134-58272-3.
- ↑ Riley-Smith 2012, hlm. 16–17.
- ↑ Nicholson 2001, hlm. 2–5.
- 1 2 3 Riley-Smith 2012, hlm. 20–22.
- 1 2 "History of the Knights of Malta". Knights of Malta. Diarsipkan dari asli tanggal 27 August 2018.
- ↑ "Hospital, Order of the". erenow.org.
- 1 2 3 4
Satu atau lebih kalimat sebelum ini memuat teks dari suatu penerbitan yang sekarang berada dalam ranah publik: Moeller, Charles (1913). "Hospitallers of St. John of Jerusalem" . Dalam Herbermann, Charles (ed.). Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton. ; - 1 2 Nicholson 2001, hlm. 5.
- ↑ Riley-Smith 2012, hlm. 27–28.
- ↑ Riley-Smith 2012, hlm. 23–24.
- 1 2 3 Riley-Smith 2012, hlm. 29–30.
- ↑ Forey & Luttrell 1995, hlm. 186.
- ↑ Berthod 2010, hlm. 17.
- ↑ "The eight-pointed cross". Ordo Militer Berdaulat Malta. Diakses tanggal 14 Juni 2024.
- ↑ Baldwin & Setton 1969, hlm. 444.
- 1 2 3 Forey & Luttrell 1995, hlm. 190–191.
- ↑ Forey & Luttrell 1995, hlm. 192.
- ↑ Runciman 1951, hlm. 339.
- ↑ Baldwin & Setton 1969, hlm. 537–538.
- ↑ Nicholson 2001, hlm. 21.
- ↑ King, Colonel E. J. (1931). The Knights Hospitallers in the Holy Land (PDF). London: Methuen & Co. Ltd. hlm. 59–60. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 17 Mei 2023. Diakses tanggal 17 Mei 2023.
- ↑ Cartulaire – General, Jld. I, No. 27
- ↑ María Ramírez de Medrano and the Hospital and Convent of San Juan de Acre https://dialnet.unirioja.es/descarga/articulo/8373680.pdf
- ↑ Barquero Goñi, Carlos (2023). "La Orden de San Juan en el Reino de Toledo durante los siglos XII y XIII: bienes patrimoniales y encomiendas" [The Order of Saint John in the Kingdom of Toledo during the Twelfth and Thirteenth Centuries: Properties and Commanderies]. Espacio, Tiempo y Forma. Serie III, Historia Medieval (dalam bahasa Spanyol) (36). Madrid: Universidad Nacional de Educación a Distancia: 211–213. doi:10.5944/etfiii.36.2023.35963. ISSN 0214-9745.
- ↑ le Roulx, Joseph Delaville, ed. (1894–1906). Cartulaire general de l'ordre des hospitaliers de St Jean de Jerusalem (1100–1310). Paris: Imprimerie Durand. no. 78, no. 2479.
- ↑ Lydia Greaves (2008). Houses of the National Trust: Outstanding Buildings of Britain. London: National Trust Books. hlm. 325. ISBN 978-1-905400-66-9.
- ↑ Rady, Martyn (2000). Nobility, Land and Service in Medieval Hungary. Palgrave. hlm. 92. ISBN 978-0-333-98534-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Desember 2023. Diakses tanggal 27 November 2018.
- ↑ Artemi, Eirini (January 2011). "Diasporic Communities in Rhodes 1350–1450". Εκκλησιαστικός Φάρος, Τ. Πβ΄ (2011), 237–247. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 November 2022. Diakses tanggal 30 October 2017.
- ↑ Graham, J. J. (1858). Elementary History of the Progress of the Art of War. R. Bentley. hlm. 299.
- 1 2 Nicholson 2001, hlm. 54.
- ↑ "Castle of St Peter". Bodrum Guide. Diarsipkan dari asli tanggal 24 November 2013. Diakses tanggal 27 November 2018.
- ↑ Balfour, Baron Kinross, Patrick (1979). The Ottoman Centuries: The Rise and Fall of the Turkish Empire. Harper Collins. hlm. 176. ISBN 978-0-688-08093-8.
- ↑ Veinstein, G. "Süleymān". Encyclopaedia of Islam (Edisi 2nd). doi:10.1163/1573-3912_islam_COM_1114.
- ↑ "Sovereign Order of Saint John of Jerusalem". www.kmfap.net. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Maret 2019. Diakses tanggal 30 Maret 2019.
- 1 2 Diamond, Jim. "Malta History". Jimdiamondmd.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Maret 2012. Diakses tanggal 12 Oktober 2008.
- ↑ "History: Knights of Malta to Present". Malta Visitor Guide. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Februari 2012. Diakses tanggal 12 Oktober 2008.
- ↑ Gerhard Köbler (2007). Historisches Lexikon der Deutschen Länder: die deutschen Territorien vom Mittelalter bis zur Gegenwart (Edisi 7th rev.). Munich: C. H. Beck. hlm. 264.
- ↑ Sugden, John (2014). Nelson: The Sword of Albion (Edisi illustrated). Random House. hlm. 122. ISBN 978-1-84792-276-2.
- ↑ Prata, Nicholas C. (2004). Angels in Iron (Edisi illustrated, reprint). Arx. hlm. 10–11. ISBN 978-1-889758-56-5.
- ↑ Cassar, Mario. "L-Istorja tal-Ilsien Malti" [Sejarah Bahasa Malta]. L-Akkademja tal-Malti (dalam bahasa Malta). Diarsipkan dari versi asli pada 23 September 2015. Diakses tanggal 29 Oktober 2014.
- ↑ Pippidi, Andrei (2000). "Două portrete românești în Malta". Studii și Materiale de Istorie Medie. XVIII: 177–180, 182.
- 1 2 3 4 5 6
Artikel ini mengandung teks dari suatu publikasi yang sekarang berada di domain publik: Cohen, Reuben (15 April 2004) [1920]. Julie Barkley, Bill Hershey and PG Distributed Proofreaders (ed.). Knights of Malta, 1523–1798. Project Gutenberg. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Oktober 2020. Diakses tanggal 29 May 2006. - ↑ "History of the Order". Knights of Malta. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Juli 2008. Diakses tanggal 12 Oktober 2008.
- ↑ Balbi, Francesco (2005). The Siege of Malta, 1565 (dalam bahasa Inggris). Woodbridge: Boydell Press. hlm. 94. ISBN 978-1-84383-140-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Desember 2023. Diakses tanggal 27 November 2018.
- ↑ "Ottoman Siege of Malta, 1565". World History at KMLA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Desember 2023. Diakses tanggal 14 September 2007.
- ↑ History, Aaron Schuck (12 May 2024). "Jean Parisot de la Valette, the Grand Master of the Knights Hospitaller". Medium (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 Maret 2025.
- 1 2 3 4 Kennedy, John Joseph Fitzpatrick (Spring 2008). "Some External Insignia of Office for Dignitaries of the Order of St John of Jerusalem, Cyprus, Rhodes and Malta" (PDF). The Coat of Arms (Seri ketiga, Jilid IV, Bagian 1, Nomor 215 daln seri asli mulai tahun 1952). Burnham, Slough: The Heraldry Society: 7–15 [8]. ISSN 0010-003X. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 November 2021. Diakses tanggal 18 September 2020.
- ↑ Burgtorf 2008, hlm. 3–4, 19.
- 1 2 Burgtorf 2008, hlm. 34–36.
Bacaan lanjutan
- Baldwin, Marshal W.; Setton, Kenneth M., ed. (1969). A History of the Crusades, Jilid I: The First Hundred Years. Madison: University of Wisconsin Press.
- Ball, David (2004). Ironfire. Bantam Dell. ISBN 0-385-33601-2.
- Berthod, Bernard (2010). Grandes figures de l'Ordre de Malte (dalam bahasa Prancis). Artège Group. ISBN 978-2-36040-405-6.
- Bosio, Giacomo; Boissat, Pierre de (1643). Histoire des Chevaliers de l’Ordre de St. Jean de Hierusalem (dalam bahasa Prancis) (Edisi Édition augmentée). Paris. OCLC 715038258.
- Bradford, Ernle (1972). The Shield and the Sword. London: Harper Collins.
- Burgtorf, Jochen (2008). The Central Convent of Hospitallers and Templars: History, Organization, and Personnel (1099/1120-1310). Leiden: Brill Publishers. ISBN 978-90-04-16660-8.
- Carr, John (2016). The Knights Hospitaller. Pen & Sword Books. ISBN 978-1-47385-888-6.
- Crowley, Roger (2008). Empires of the Sea: The Siege of Malta, the Battle of Lepanto, and the Contest for the Center of the World. Random House. ISBN 978-1-4000-6624-7.
- Fenech, Marthese (2011). Eight Pointed Cross. BDL. ISBN 978-99957-33-08-7.
- Fenech, Marthese (2020). Falcon's Shadow. BDL. ISBN 978-99182-10-44-2.
- Fenech, Marthese (2022). Ash Fall. BDL. ISBN 978-99182-11-60-9.
- Forey, Alan; Luttrell, Anthony (1995). Riley-Smith, Jonathan (ed.). The Oxford Illustrated History of the Crusades. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-285428-5.
- Gauci, Liam (2016). In the Name of the Prince: Maltese Corsairs 1760–1798. Malta: Heritage Malta Publishing. ISBN 978-99932-57-37-0.
- Hoegen Dijkhof, Hans J. (2006). The Legitimacy of Orders of St. John: a historical and legal analysis and case study of a para-religious phenomenon. Doctoral thesis. Leiden: University of Leiden. ISBN 90-6550-954-2.
- Levaye, Patrick (2007). Géopolitique du Catholicisme. Éditions Ellipses. ISBN 978-2-7298-3523-1.
- Lindgren, Carl Edwin (September–October 1999). "Some Notes About the Sovereign Military Order of Malta in the U.S.A". Nobilita (Rivista di Araldica, Genealogia, Ordini Cavallereschi). 7 (32). Istituto Araldico Genealogico Italiano.
- Nicholson, Helen J. (2001). The Knights Hospitaller. Boydell Press. ISBN 1-84383-038-8.
- Noonan, James-Charles Jr. (1996). The Church Visible: The Ceremonial Life and Protocol of the Roman Catholic Church. Viking. hlm. 196. ISBN 0-670-86745-4.
- Peyrefitte, Roger (1960). Knights of Malta. Translated from the French by Edward Hyams. London: Secker & Warburg.
Phillips, Walter Alison (1911). "St John of Jerusalem, Knights of the Order of the Hospital of" . Dalam Chisholm, Hugh (ed.). Encyclopædia Britannica. Vol. 24 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm. 12–19. - Porter, Whitworth (2013). A History of the Knights of Malta (reprint of original edition 1883). Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-06622-8.
- Read, Piers Paul (1999). The Templars. Imago. hlm. 118. ISBN 85-312-0735-5.
- Riley-Smith, Jonathan (2012). The Knights Hospitaller in the Levant, c.1070–1309. Palgrave Macmillian. ISBN 978-0-230-29083-9.
- Runciman, Steven (1951). A History of the Crusades, Jilid II: The Kingdom of Jerusalem and the Frankish East, 1100–1187. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-06162-8.
- Sire, H.J.A. (1996). The Knights of Malta. New Haven & London: Yale University Press. ISBN 978-03000-68-85-6.
- Tyerman, Christopher (2006). God's War: A New History of the Crusades. Allen Lane. hlm. 253. ISBN 0-7139-9220-4.
- White, Joshua M. (2017). Piracy and Law in the Ottoman Mediterranean. Stanford University Press. ISBN 978-1-503-60252-6.
- Bom, Myra Miranda (2012). Women in the military orders of the crusades. New York: Palgrave Macmillan. ISBN 978-1-137-08830-7. OCLC 1058540900.
Pranala luar
- "Situs Resmi Ordo Militer Berdaulat Malta".
- "Markas-Markas Kesatria Pramuhusada".
- "Kesatria Pramuhusada Ordo santo Yohanes Yerusalem di Skotlandia". Diarsipkan dari asli tanggal 6 Juni 2017.
- "Sejarah Ordo Santo Yohanes di Skotlandia". Diarsipkan dari asli tanggal 11 November 2016.
- Winfield, Nicole (2013-02-09). "Vatikan merayakan 900 tahun Kesatria Malta". Associated Press.
- "Museum Ordo Santo Yohanes".
| Levans | ||
|---|---|---|
| Negeri Yunani | ||
| Prusia dan Livonia | ||
Ordo kesatria Katolik dan subyek berdaulat hukum internasional, berdiri tahun 1099 di Yerusalem, | |||||||||||||||||||||||||||
| Organisasi | |||||||||||||||||||||||||||
| Pasukan bantuan | |||||||||||||||||||||||||||
| Budaya | |||||||||||||||||||||||||||
| Masyarakat | |||||||||||||||||||||||||||
| Penghargaan | |||||||||||||||||||||||||||
| Sejarah, termasuk wilayah, tempat, dan pertempuran Kesatria Pramuhusadar |
| ||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||