ENSIKLOPEDIA
Nekropolis kerajaan Byblos
| Nekropolis kerajaan Byblos | |
|---|---|
| Nama lokal مدافن جبيل الملكيةcode: ar is deprecated (Arab) | |
Tanjung Byblos. Nekropolis kerajaan terletak di kaki kolonade Romawi. | |
| Koordinat | 34°07′10″N 35°38′43″E / 34.11944°N 35.64528°E / 34.11944; 35.64528 |
| Founded | Abad ke-19 SM |
| Dibangun untuk | Tempat peristirahatan para penguasa Gebal Fenisia |
| Gaya arsitektur | Terinspirasi Mesir Kuno, Fenisia |
| Pengelola | Direktorat Jenderal Purbakala Lebanon[1] |
![]() | |
Nekropolis kerajaan Byblos merupakan kelompok berisi sembilan makam bawah tanah berbentuk sumuran dan bilik makam yang menyimpan berbagai sarkofagus milik sejumlah raja kota kuno tersebut. Byblos (kini dikenal sebagai Jubail) adalah sebuah kota pesisir di Lebanon, dan termasuk salah satu kota tertua yang terus dihuni hingga kini di dunia. Pada masa Zaman Perunggu, kota ini menjalin hubungan dagang yang erat dengan Mesir, sehingga kebudayaan dan praktik pemakamannya sangat dipengaruhi oleh peradaban Mesir. Lokasi Byblos kuno sempat terlupakan dalam sejarah, hingga akhirnya ditemukan kembali pada akhir abad ke-19 oleh sarjana biblika dan orientalis Prancis, Ernest Renan. Sisa-sisa kota kuno tersebut terletak di atas sebuah bukit yang berdekatan langsung dengan kota modern Jubail. Berbagai parit eksplorasi dan penggalian kecil dilakukan oleh otoritas mandat Prancis, dan di antara temuan awalnya terdapat relief yang terukir dengan Hieroglif Mesir. Penemuan itu membangkitkan minat para sarjana Barat, yang kemudian mendorong dilaksanakannya survei arkeologis yang lebih sistematis di situs tersebut.
Pada 16 Februari 1922, hujan deras memicu longsor di tebing pesisir Jubail dan menyingkap sebuah makam bawah tanah yang berisi sarkofagus batu berukuran besar. Makam tersebut kemudian dieksplorasi oleh epigraf dan arkeolog Prancis Charles Virolleaud. Penggalian intensif di sekitar area makam dilakukan oleh Egyptolog Prancis Pierre Montet, yang menemukan delapan makam tambahan dengan struktur sumuran dan ruang makam. Masing-masing makam terdiri atas sebuah sumuran vertikal yang terhubung dengan ruang penguburan horizontal di bagian dasarnya. Montet mengelompokkan makam-makam itu ke dalam dua kategori. Kelompok pertama berasal dari Zaman Perunggu Tengah, khususnya abad ke-19 SM; beberapa di antaranya masih utuh dan menyimpan beragam benda berharga, termasuk hadiah kerajaan dari firaun Kerajaan Tengah seperti Amenemhat III dan Amenemhat IV, perhiasan bergaya Mesir hasil buatan lokal, serta berbagai bejana persembahan. Makam-makam dalam kelompok kedua telah dijarah sejak zaman kuno, sehingga penanggalannya sulit dipastikan, tetapi artefak yang ditemukan menunjukkan bahwa sebagian di antaranya masih digunakan hingga Zaman Perunggu Akhir (abad ke-16 hingga ke-11 SM).
Selain berbagai barang kubur, tujuh sarkofagus batu berhasil ditemukan, sedangkan ruang pemakaman yang tidak berisi sarkofagus batu tampaknya pernah menampung sarkofagus kayu yang kemudian membusuk seiring waktu. Hampir semua sarkofagus batu itu polos tanpa hiasan, kecuali sarkofagus Ahiram. Sarkofagus ini terkenal berkat tulisan Fenisia yang terukir padanya, salah satu dari lima prasasti yang dikenal sebagai Inskripsi kerajaan Byblos; prasasti tersebut dianggap sebagai contoh tertua yang diketahui dari bentuk lengkap Alfabet Fenisia yang telah berkembang sempurna. Montet membandingkan fungsi makam Byblos dengan mastaba Mesir, tempat jiwa orang yang meninggal diyakini dapat terbang dari ruang makam, melewati sumuran pemakaman, menuju kapel di permukaan tanah tempat para imam melakukan upacara peringatan.
Latar sejarah

Byblos (Jubail) merupakan salah satu kota tertua di dunia yang dihuni secara terus-menerus hingga kini. Sepanjang sejarahnya yang panjang, kota ini dikenal dengan berbagai nama. Dalam catatan Mesir Kuno dari Dinasti IV, ia muncul dengan nama Kebny, ditulis dalam tulisan hieroglif, sedangkan dalam surat-surat Amarna berbahasa Akkadia dari masa Dinasti XVIII Mesir, kota ini disebut Gubla (𒁺𒆷code: akk is deprecated ).[2][3][4] Pada milenium kedua SM, nama kota ini muncul dalam prasasti bahasa Fenisia, seperti pada epigraf Sarkofagus Ahiram, dengan sebutan Gebal (𐤂𐤁𐤋code: phn is deprecated , gbl).[5][6][7] Nama tersebut diyakini berasal dari akar kata gb (𐤂𐤁code: phn is deprecated , "sumur") dan ʾl (𐤀𐤋code: phn is deprecated , "dewa"), yang secara harfiah berarti "Sumur Sang Dewa".[8] Interpretasi lain mengaitkan Gebal dengan makna "kota di gunung", berasal dari kata Kanaan Gubal.[9] Adapun nama Byblos merupakan eksonim Yunani yang muncul jauh lebih kemudian, kemungkinan merupakan bentuk terdistorsi dari Gebal.[9]
Permukiman purba ini berdiri di atas dataran tinggi di tepi laut, dan telah dihuni sejak sekitar 7000–8000 SM.[10] Struktur hunian sederhana berbentuk bulat dan persegi, serta temuan penguburan dalam tempayan, berasal dari masa Kalkolitikum, ditemukan di Byblos. Desa ini tumbuh pesat pada Zaman Perunggu dan menjadi pusat perdagangan utama dengan Mesopotamia, Anatolia, Kreta Kuno, dan Mesir Kuno.[11][12]
Mesir berusaha menjaga hubungan baik dengan Byblos karena kebutuhan akan kayu dari pegunungan Lebanon yang melimpah.[11][13][14] Pada masa Kerajaan Lama Mesir (ca 2686 SM–ca 2181 SM), Byblos berada dalam lingkup pengaruh Mesir. Kota ini kemudian dihancurkan oleh bangsa Amorit sekitar tahun 2150 SM, menyusul kekosongan kekuasaan setelah runtuhnya Kerajaan Lama.[11][12] Namun, ketika Kerajaan Pertengahan Mesir (ca 1991 SM–ca 1778 SM) bangkit, tembok pertahanan dan kuil-kuil Byblos dibangun kembali, dan kota ini kembali menjalin aliansi dengan Mesir.[11][12]
Pada tahun 1725 SM, Delta Sungai Nil dan kota-kota pesisir Fenisia jatuh ke tangan Hyksos seiring keruntuhan Kerajaan Pertengahan. Sekitar satu setengah abad kemudian, Mesir berhasil mengusir Hyksos dan mengembalikan pengaruhnya atas Fenisia, serta melindunginya dari invasi Mitanni dan Het.[11][12] Pada masa ini, perdagangan masyarakat Gebal[a] berkembang pesat, dan di Byblos inilah lahir alfabet Fenisia yang pertama, sistem fonetik dengan 22 lambang konsonan yang cukup sederhana untuk digunakan para pedagang.[12][17][18]
Hubungan dengan Mesir kembali melemah pada pertengahan abad ke-14 SM, sebagaimana tercatat dalam surat-surat Amarna dari Raja Gebal Rib-Hadda. Korespondensi tersebut menunjukkan ketidakmampuan Mesir melindungi Byblos dari serangan bangsa Het.[11][12][19] Pada masa Ramses II, kekuasaan Mesir atas Byblos sempat dipulihkan, tetapi kota itu segera dihancurkan oleh Bangsa Laut sekitar tahun 1195 SM. Pada saat itu, Mesir tengah melemah, sehingga Fenisia menikmati masa kemakmuran dan kemerdekaan. Kisah Perjalanan Wenamun, yang berasal dari periode ini, memperlihatkan hubungan yang masih terjalin tetapi dingin antara penguasa Gebal dan orang Mesir.[11]
Hubungan panjang dengan Mesir memberi pengaruh mendalam terhadap budaya lokal dan praktik pemakaman. Pada masa kekuasaan Mesir inilah muncul kebiasaan penguburan dengan liang vertikal yang terinspirasi dari makam sumuran Mesir.[20]
Sejarah penggalian
Pencarian kota kuno

Teks-teks dan naskah kuno telah lama memberi isyarat tentang lokasi Gebal, kota yang kemudian hilang dari ingatan sejarah hingga ditemukan kembali pada pertengahan abad ke-19. Pada tahun 1860, sarjana biblika dan orientalis Prancis, Ernest Renan, melakukan misi arkeologi di wilayah Lebanon dan Suriah, bertepatan dengan ekspedisi Prancis di kawasan tersebut. Dalam pencariannya, Renan mengandalkan tulisan sejarawan sekaligus ahli geografi Yunani, Strabo, yang menggambarkan Byblos sebagai kota di atas perbukitan, tidak jauh dari laut.[b][23][21] Deskripsi ini sempat menyesatkan banyak sarjana, termasuk Renan sendiri, yang pada awalnya mengira kota tersebut terletak di daerah Qassouba (atau Kassouba) di sekitarnya. Namun setelah meneliti, ia menyimpulkan bahwa bukit itu terlalu kecil untuk menampung kota besar yang megah seperti yang digambarkan dalam sumber kuno.[24][25]
Renan kemudian berpendapat dengan tepat bahwa Byblos kuno kemungkinan berada di atas bukit bundar yang kini dikuasai oleh Kastel Byblos peninggalan tentara Salib, di tepi kota modern Jubail. Asumsinya didasarkan pada gambar di sisi belakang koin Kekaisaran Romawi dari masa Elagabalus, yang memperlihatkan sosok alegoris kota Byblos dengan sungai mengalir di bawahnya.[c][25][24] Renan menafsirkan bahwa sungai tersebut adalah aliran air yang mengitari bukit tempat kastel berdiri. Dari titik itu, ia memulai penggalian dengan menggali dua parit panjang yang mengarah keluar dari benteng. Hasil penggalian tersebut menyingkap artefak-artefak kuno yang menjadi bukti kuat bahwa Jubail modern memang identik dengan kota kuno Gebal atau Byblos.[23][25]
Kegiatan arkeologi awal
Pada masa Mandat Prancis untuk Suriah dan Lebanon, Komisaris Tinggi Levant Jenderal Henri Gouraud mendirikan Dinas Purbakala di Lebanon dan menunjuk arkeolog Prancis Joseph Chamonard sebagai kepala lembaga yang baru dibentuk itu. Setelahnya, jabatan tersebut dipegang oleh epigraf dan arkeolog Prancis Charles Virolleaud mulai 1 Oktober 1920. Salah satu prioritas utama lembaga tersebut adalah melakukan survei arkeologi di kota Jubail, tempat Renan sebelumnya menemukan sisa-sisa peninggalan kuno.[26]
Pada 16 Maret 1921, profesor Egyptologi Pierre Montet dari Universitas Strasbourg menulis surat kepada arkeolog Prancis Charles Simon Clermont-Ganneau, melaporkan penemuan relief bertulisan Mesir yang ia temukan dalam misi arkeologi di Jubail pada tahun 1919. Penemuan itu memikat Clermont-Ganneau, yang kemudian mendanai sendiri survei metodologis di situs tersebut, karena ia meyakini bahwa di sana terdapat sebuah kuil Mesir. Montet ditunjuk untuk memimpin penggalian dan tiba di Beirut pada 17 Oktober 1921.[27][28] Pekerjaan penggalian di Jubail secara resmi dibuka oleh otoritas mandat Prancis pada 20 Oktober 1921. Kegiatan ini disusun dalam kampanye tahunan yang berlangsung selama tiga bulan setiap tahunnya.[29]
Penemuan nekropolis kerajaan

Pada 16 Februari 1922, hujan lebat memicu longsor di tebing tepi laut Jubail yang membuka rongga buatan di bawah tanah. Keesokan harinya, penasihat administratif Gunung Lebanon memberitahukan kepada Dinas Purbakala tentang kejadian tersebut dan melaporkan penemuan sebuah makam bawah tanah kuno (hipogeum) yang di dalamnya terdapat sebuah sarkofagus besar yang belum pernah dibuka.[30][31] Untuk mencegah penjarahan oleh pemburu harta karun, area tersebut segera diamankan oleh Mudir Jubail, Syekh Wadih Hobeiche.[32] Virolleaud tiba di lokasi untuk membersihkan dan mencatat isi makam yang ditemukan itu,[31] dan pada 26 Februari 1922 ia membuka sarkofagus tersebut di bawah pengawasannya sendiri.[33] Setahun kemudian, pada Oktober 1923, Montet menemukan makam kedua (disebut Makam II);[34] penemuan ini mendorong dilakukannya survei sistematis terhadap wilayah sekitarnya pada akhir tahun yang sama.[35] Hingga tahun 1924, Montet berhasil menggali tujuh makam tambahan, sehingga jumlah keseluruhan mencapai sembilan makam kerajaan kuno.[11] Pada tahun 1925, arkeolog Prancis Maurice Dunand menggantikan Montet dan melanjutkan penelitian di bukit purbakala Byblos selama empat dekade berikutnya.[11]
Lokasi
Terletak sekitar 33 km (21 mi) di utara Beirut,[36] kawasan Byblos/Gebal kuno (nama modern: Jubail/Gebeil) berada di sebelah selatan pusat kota abad pertengahan. Situs ini berdiri di atas tanjung tepi laut yang terdiri atas dua bukit kecil, dipisahkan oleh sebuah lembah sempit. Sebuah sumur sedalam 22 m (72 ft) menjadi sumber air tawar utama bagi permukiman tersebut.[37] Gundukan arkeologis (tell) Byblos yang mudah dipertahankan ini diapit oleh dua pelabuhan yang dahulu berfungsi sebagai pusat perdagangan laut.[37] Nekropolis kerajaan Byblos terletak di puncak tanjung berbentuk setengah lingkaran, di atas tonjolan tanah yang menghadap langsung ke dua pelabuhan kota, di dalam tembok kota kuno Byblos.[38][39]
Deskripsi

Montet memberi penomoran pada makam-makam kerajaan dan mengelompokkannya menjadi dua bagian. Kelompok pertama, yang terletak di sisi utara, mencakup Makam I hingga IV. Makam-makam ini dibangun lebih awal dan dikerjakan dengan ketelitian tinggi. Makam III dan IV telah lama dijarah pada masa kuno dan isinya lenyap, sedangkan dua makam lainnya masih utuh ketika ditemukan.[40][41]
Kelompok kedua berada di sisi selatan nekropolis dan terdiri atas Makam V hingga IX. Makam-makam ini menunjukkan mutu konstruksi yang lebih rendah dibanding kelompok utara, sebab digali di lapisan tanah liat, bukan di batu, dan berasal dari masa yang lebih muda.[40][42] Hanya Makam IX yang masih menampakkan ciri pengerjaan yang cermat, menyerupai gaya konstruksi makam-makam lebih tua. Fragmen tembikar yang ditemukan di dalamnya memuat nama Abishemu dalam tulisan hieroglif Mesir, yang menunjukkan bahwa waktu pembangunannya mungkin sezaman dengan kelompok makam di utara. Seluruh makam dalam kelompok kedua telah dijarah sejak zaman purba.[40][41][43]
Makam I dan II
Makam I terdiri atas sebuah poros vertikal berbentuk persegi dengan lebar sekitar 4 m (13 ft) dan kedalaman 12 m (39 ft), yang menjadi jalan masuk menuju ruang pemakaman bawah tanah yang sebagian dipahat dari batu padas dan sebagian lagi dari tanah liat.[d] Dinding barat yang memisahkan ruang makam dari tebing laut di luar runtuh akibat longsor besar pada tahun 1922. Namun, barang penguburan di dalamnya tidak rusak. Di dalam ruang makam, para penggali menemukan beberapa tempayan tanah liat di tanah lembap serta sebuah sarkofagus besar dari batu kapur putih dengan tiga tonjolan pegangan di bagian tutupnya yang digunakan untuk mengangkatnya.[44]

Sarkofagus tersebut diletakkan dengan orientasi utara–selatan.[45][32] Pada dinding utara ruang makam terdapat sebuah bukaan pahat setinggi 1 m (3,3 ft), tepat menghadap sarkofagus. Bukaan ini mengarah ke sebuah lorong setinggi 1,8 m (5,9 ft) dan selebar 1,2 m (3,9 ft) hingga 1,5 m (4,9 ft), yang terhubung ke sisi selatan poros Makam II. Lorong yang sama juga tersambung dengan jalur lain yang keluar dari sudut barat laut poros Makam I. Di tengah jalur berbentuk huruf S antara Makam I dan poros Makam II, terdapat sebuah lubang kecil yang sederhana, membuka ke arah utara menuju ruang bundar kasar yang menjadi makam kuno berarsitektur primitif.[45]
Sebuah dinding yang dibangun secara kasar memisahkan ruang makam I dari poros vertikalnya. Poros tersebut diisi penuh dengan batu dan adukan semen. Bahan yang sama digunakan untuk membuat panggung di sekeliling poros, yang menjadi fondasi bagi bangunan berbentuk menyerupai mastaba Mesir. Hanya sedikit sisa dari struktur bergaya Mesir ini yang bertahan, karena kemudian digantikan oleh bangunan pemandian dari masa Romawi. Berbeda dengan poros Makam I yang disegel rapat dengan batu dan semen, poros Makam II hanya ditutup oleh tanah. Sebuah lempeng tebal tersusun dari lima hingga enam lapisan batu menutup mulut poros tersebut dan menjadi dasar bagi bangunan yang kini hanya menyisakan beberapa blok batu.[46]
Poros Makam II lebih dangkal dibandingkan Makam I, dipisahkan dari ruang pemakamannya oleh satu lapisan dinding batu tunggal. Saat ditemukan, Makam II tidak lagi memiliki wadah jenazah. Sejumlah tempayan dan artefak lainnya tenggelam dalam lapisan tanah liat tebal; beberapa di antaranya pecah akibat runtuhan batu dari langit-langit kamar. Atap ruang makam II setinggi 3,5 m (11 ft) di bagian tengah, kemudian menurun hingga hanya 1 m (3,3 ft) di sisi utara ruangan.[47] Empat batu ditemukan di tengah ruang makam, yang dahulu menopang sebuah peti kayu yang telah hancur, meninggalkan barang penguburan berharga berserakan di antara tanah liat.[34]
Montet menunjukkan bahwa Makam I dan II belum pernah dijarah sebelum penemuannya pada tahun 1922–1923, berbeda dengan dugaan pendahulunya, Virolleaud.[48] Virolleaud sebelumnya menemukan pecahan kaca tertanam di dinding ruang Makam I dan mengira benda tersebut berasal dari masa Romawi.[e][32]
Makam III dan IV

Poros Makam III dan IV terletak di sebelah barat Makam I dan II, bersebelahan dengan dinding utara pemandian Romawi. Bukaan poros Makam III berukuran sekitar 2,5 m × 3,3 m (8,2 ft × 10,8 ft); bagian atasnya tertutup lapisan semen tebal yang menutupi satu baris pasangan batu yang disegel dengan abu. Pada sudut barat daya, lapisan tersebut dilubangi secara vertikal oleh saluran persegi berukuran 30 cm (12 in), menyerupai serdab pada mastaba Mesir kuno yang berfungsi sebagai ruang ritual bagi arwah. Saluran lain dengan ukuran dan bentuk serupa ditemukan menembus lapisan pengisi poros yang lebih dalam, bersebelahan dengan sudut barat laut poros, namun hanya mencapai kedalaman sekitar 2 m (6,6 ft). Kedua saluran tersebut tidak saling terhubung. Sebuah ceruk juga dipahat pada dinding utara dekat dasar poros.[49][50]
Ruang pusara Makam III membentang dari dinding selatan poros dan ditutup oleh satu lapisan dinding tanpa semen. Struktur ruangnya sangat rapi dengan lantai berlapis batu dan dinding yang dipahat tegak lurus hingga ke langit-langit.[51] Tidak ditemukan sarkofagus batu di dalam Makam III; barang-barang pemakaman ditemukan berserakan dalam lapisan tanah liat setebal 70 cm (28 in).[52]
Makam IV terletak di sebelah timur Makam III dan, dengan kedalaman hanya 5,75 m (18,9 ft), merupakan yang paling dangkal di antara seluruh makam di kompleks nekropolis. Porosnya berukuran sekitar 3,05 m × 3,95 m (10,0 ft × 13,0 ft). Dinding selatan poros diperkuat dengan lapisan pasangan batu setebal 1 m (3,3 ft). Awalnya ruang makam tampak tidak terganggu, tetapi para penggali menemukan bahwa sarkofagus batu kapur di dalamnya telah terbuka dan kosong.[53] Sebuah saluran vertikal serupa dengan yang ditemukan di Makam III juga ditemukan di Makam IV.[52] Saluran-saluran ini tampaknya merupakan ciri khas dalam praktik pemakaman suci masyarakat Byblos.[40] Sarkofagus Makam IV terletak di tengah ruang pemakaman, menghadap langsung ke pintu masuk, sebagaimana halnya seluruh sarkofagus lain yang ditemukan di kompleks nekropolis ini. Para pembangunnya meletakkan dua batu di dasar sarkofagus untuk menopang dan menyejajarkannya di atas lantai yang sedikit miring.[53]
Makam V (Makam Raja Ahiram)
Bentuk setengah melingkar dari Makam V, yang dikenal sebagai makam Raja Ahiram, merupakan satu-satunya yang unik di seluruh kompleks nekropolis. Makam ini ditemukan dalam keadaan setengah terisi lumpur dan memuat tiga sarkofagus di dalamnya: sebuah peti besar polos di dekat dinding, sarkofagus Raja Ahiram yang diukir dengan sangat halus di bagian tengah, dan sebuah peti kecil polos di sisi lain.[55] Makam ini juga merupakan satu-satunya yang memiliki prasasti di dalam liang vertikalnya. Prasasti berbahasa Fenisia itu, yang dikenal sebagai Byblos Necropolis graffito, terukir pada kedalaman sekitar 3 m (9,8 ft) di dinding selatan liang dan berfungsi sebagai peringatan bagi para penjarah agar tidak memasuki makam.[56] Epigraf Prancis René Dussaud menafsirkan tulisan tersebut sebagai "Avis, voici ta perte (est) ci-dessous" ["Waspadalah, kehancuranmu ada di bawah sini"].[57][58][59]
Poros vertikal makam Ahiram terletak di antara kelompok makam utara (Makam I, II, III, dan IV) dan kelompok selatan (Makam VI, VII, VIII, dan IX). Di sisi barat, liang ini diapit oleh dinding dua lapis batu dan fondasi kolom yang merupakan bagian dari struktur atas makam. Tanah di atas liang sangat padat; sebuah saluran berbentuk mirip dengan yang ditemukan di Makam III dan IV, sepanjang sekitar 2 m (6,6 ft), ditemukan di sudut timur laut liang. Pecahan cetakan dan lempeng marmer, serta banyak pecahan tembikar yang sangat berbeda dari fragmen keramik di makam lainnya, bercampur dengan tanah yang digunakan untuk mengisi liang tersebut. Dua tingkat lubang persegi berjumlah empat masing-masing diukir pada kedalaman 2,2 m (7,2 ft) dan 4,35 m (14,3 ft) di dinding timur dan barat liang. Lubang-lubang ini dahulu menahan dua baris balok kayu vertikal dan lantai kayu yang membentang melintasi liang.[56] Menurut Montet, para pembangun makam menganggap bahwa jasad sang raja belum cukup terlindungi hanya dengan lantai batu di permukaan liang dan dinding yang menutup pintu masuk ruang makam di pertengahan poros, sehingga mereka menambahkan lapisan balok kayu sebagai penghalang ketiga. Para penjarah kemudian mencabut lantai batu dan mengeluarkan struktur kayu itu; saat mereka mengosongkan liang, mereka pasti melihat mantra peringatan tersebut dalam perjalanan menuju makam kerajaan.[59]
Di bawah lapisan balok tidak ditemukan lagi pecahan tembikar, tetapi di dekat dasar liang, di depan pintu masuk ke ruang pemakaman di sisi timur, terdapat beberapa fragmen bejana alabaster yang tampaknya terlempar keluar dari ruang makam.[59][60] Salah satu fragmen itu memuat nama Ramses II. Para penggali menemukan bahwa dinding yang menutup ruang makam sebagian telah runtuh, dan isi ruangan berantakan serta setengah terisi oleh lumpur liat. Sebuah bongkahan batu besar yang jatuh dari atap makam menimpa sarkofagus berhias milik Raja Ahiram yang terletak di tengah ruangan. Ketiga sarkofagus di dalam ruang tersebut telah dijarah dan hanya menyisakan tulang-belulang manusia.[61]
Makam VI, VII, VIII, dan IX

Kelompok makam ini terletak sekitar 50 m (160 ft) di sebelah timur tebing nekropolis dan 30 m (98 ft) di selatan poros makam IV; seluruhnya dibangun pada bagian bukit yang tersusun dari endapan batuan sedimen yang tebal. Liang vertikal makam-makam ini tidak sebaik terawetkan seperti kelompok pertama. Liang makam VIII masih tertutup lapisan batu perkerasan, sedangkan makam VI dan VII telah kehilangan sebagian besar penutup permukaannya. Ruang makam VI, VII, VIII, dan IX seluruhnya dipahat di dalam tanah liat berlumpur.[63] Para penjarah masa lampau bahkan mampu menggali terowongan dari satu makam ke makam lain melalui lapisan lempung yang lunak.[64]
Liang makam VI merupakan yang terdalam dari seluruh makam di nekropolis ini. Dinding batu pualam persegi menopang poros hingga kedalaman sekitar 6 m (20 ft); di bawah titik ini, liang berlanjut menembus tanah berlumpur tanpa dinding penahan batu.[64] Seperti makam lainnya dalam kelompok ini, makam VI telah dijarah isinya, menyisakan hanya beberapa artefak di dalam dan di sekitar pintu masuk ruang makam. Tidak ditemukan sarkofagus batu di dalamnya.[63]
Makam VII memiliki liang pemakaman terbesar, dengan sisi-sisi sepanjang 5 m (16 ft) masing-masing. Ruang makam VII dipahat serupa dengan makam VI, menembus batu keras dan lapisan tanah liat di bawahnya, dan ditemukan dalam keadaan dua pertiga terisi oleh tanah liat bercampur kerikil. Saat penggalian dilakukan, tutup melengkung dari sarkofagus batu muncul menembus lapisan tanah liat itu. Sarkofagus tersebut diletakkan di atas lantai batu berlapis, sementara dinding ruangnya ditopang oleh susunan batu yang masih cukup terpelihara. Tubuh sarkofagus Makam VII dipahat kasar dengan bentuk persegi panjang sederhana. Dua tonjolan besar mencuat di setiap ujung tutupnya yang cekung, digunakan untuk mengangkat penutup batu berat itu — serupa dengan tutup sarkofagus di Makam I. Makam ini menyimpan sejumlah besar artefak dan perhiasan berharga yang tampaknya luput dari rampasan para penjarah.[65]
Makam VIII memiliki ciri khas berupa bukaan berbentuk rombik yang melebar menjadi persegi di bagian dasar. Dinding tipis yang memisahkan makam VIII dari makam VI berlubang di bagian tengahnya, dan Montet menduga bahwa hal itu disebabkan oleh kecelakaan saat penambangan batu. Liangnya juga menembus lapisan tanah liat di bawah batu keras bagian atas, dan ruang makam ditemukan terisi tanah liat serta kerikil. Dinding penahannya sebagian besar telah runtuh, sementara lantainya tertutup batu-batu kecil. Sebuah sarkofagus batu sederhana, beberapa fragmen bejana alabaster, dan benda-benda tanah liat lainnya ditemukan di dalamnya. Tidak ada artefak berharga yang tersisa, kecuali lembaran emas tipis yang tercampur dengan lumpur makam.[66]
Liang makam IX menembus sekitar 8 m (26 ft) batuan padat. Dinding yang menutup ruang makam ini tidak dibobol; para penjarah justru menggali melalui lapisan tanah liat untuk mencapai ruang makam V, VIII, dan IX. Atap makam IX telah runtuh, meninggalkan ruangan yang terisi penuh lumpur dan pecahan batu dari langit-langit. Lantai ruang makam tertutup batu perkerasan, dan dindingnya masih kokoh serta terpelihara dengan baik. Hampir seluruh isi makam telah dikuras oleh para penjarah, menyisakan hanya fragmen bejana alabaster, malasit, dan tembikar. Di antara temuan terdapat artefak tanah liat yang memuat nama dua raja Gebal, yakni Abi (kemungkinan bentuk singkatan nama) dan Abishemu.[67]
- Sketsa Montet atas makam-makam kerajaan
- Denah konteks makam I dan II
- Penampang makam I dan II
- Denah dan penampang Makam III
- Penampang makam I, III, dan IV
- Denah makam Ahiram dan penampang liangnya
- Denah dan penampang makam IV, VII, dan VIII
Temuan
Sarkofagus
Secara keseluruhan, tujuh sarkofagus batu berhasil ditemukan di nekropolis kerajaan Byblos; masing-masing satu di makam I, IV, VII, dan VIII, serta tiga buah di makam Raja Ahiram (Makam V).[68][69] Ruang-ruang makam lainnya diyakini dahulu berisi peti kayu yang kini telah hancur oleh waktu.[68][69] Makam II, misalnya, menyimpan sebuah peti kayu yang telah membusuk seluruhnya, menyisakan beragam benda berharga yang tergeletak di lantai ruang makam.[70]
Sarkofagus batu yang ditemukan di makam I dan IV terbuat dari batu kapur putih berkualitas tinggi yang diambil dari Pegunungan Lebanon di sekitar Byblos. Dinding kedua sarkofagus ini tebal, halus dipoles, dan tanpa hiasan apa pun.[33] Selain itu, sarkofagus yang ditemukan di makam I, IV, V, dan VII memiliki bentuk yang serupa, menyerupai tipe sarkofagus batu umum dari Mesir. Perbedaan utamanya terletak pada tutup sarkofagus asal Gebal ini, yang masih mempertahankan tonjolan pegangan (lug) di sisi-sisinya untuk memudahkan para pekerja mengangkat atau memindahkannya.[71][45][32] Ciri-ciri tersebut, bersama sejumlah artefak lain seperti wadah alabaster berbentuk serupa yang ditemukan di dalam makam-makam ini, menunjukkan bahwa keseluruhan kelompok sarkofagus tersebut kemungkinan berasal dari satu periode waktu yang berdekatan.[40]
Sarkofagus di Makam I berukuran sekitar 1,48 m × 2,82 m (4,9 ft × 9,3 ft) dan memiliki tinggi 168 m (551 ft).[f][33] Dinding samping sarkofagus setebal sekitar 35 cm (14 in), sementara dasar tubuhnya mencapai ketebalan 44 cm (17 in).[32] Bibir tutup sarkofagus dipahat miring; bagian bawahnya dibuat menjorok beberapa sentimeter ke dalam tubuh sarkofagus agar pas saat ditutup. Bagian belakang tutup berbentuk melengkung dengan guratan-guratan tidak beraturan yang dipahat memanjang. Alur tengah merupakan yang paling lebar, diapit oleh lima alur yang semakin mengecil di kedua sisinya.[72] Tiga tonjolan miring muncul di dekat sudut-sudut tutupnya; tonjolan di sudut barat laut serta sebagian sudut penutup telah patah di bagian kaki sarkofagus. Sarkofagus ini dibuka untuk pertama kali pada 26 Februari 1922.[33][73]
Sarkofagus di Makam IV berukuran sekitar 1,41 m × 3 m (4,6 ft × 9,8 ft) dengan tinggi 1,49 m (4,9 ft). Tubuh sarkofagus ini tampak sedikit lebih halus, karena kedua sisi panjangnya dipahat miring di bagian atas dan bawah. Sisi-sisi pendeknya memiliki tonjolan menyerupai bangku di bagian dasar. Montet menyimpulkan bahwa sarkofagus ini tidak pernah memiliki penutup batu, karena ia menemukan bekas hitam di tepi bibir sarkofagus yang menunjukkan bahwa penutupnya dahulu berupa kayu melengkung.[74]
Ketiga sarkofagus dari makam IV, V, dan VII diangkat selama kampanye penggalian kelima, yang berlangsung dari 8 Maret hingga 26 Juni 1926.[75]
Sarkofagus Ahiram
Sarkofagus batu pasir Ahiram ditemukan di Makam V dan dinamai demikian karena relief ukirannya yang indah serta prasasti Fenisia yang mengaitkannya dengan Raja Ahiram. Prasasti sepanjang 38 kata ini merupakan salah satu dari lima Prasasti kerajaan Byblos yang dikenal. Teksnya ditulis dalam dialek Bahasa Fenisia Kuno, dan dianggap sebagai contoh paling awal dari abjad Fenisia yang telah berkembang sempurna yang pernah ditemukan.[76] Bagi sebagian sarjana, prasasti pada sarkofagus Ahiram menandai terminus post quem bagi penyebaran sistem abjad ini ke Eropa.[76] Sarkofagus tersebut berukuran panjang 3 m (9,8 ft), lebar 114 m (374 ft), dan tinggi 147 m (482 ft) termasuk tutupnya.[77]
Bagian atas tubuh sarkofagus dihiasi friz yang menampilkan deretan bunga teratai terbalik, bergantian antara kuntum tertutup dan bunga mekar. Motif tali tebal membingkai bagian atas adegan relief utama, sementara pilar sudut menghiasi keempat sisinya.[78] Tubuh sarkofagus bertumpu pada empat arca singa di setiap sisinya; kepala dan kaki depan singa menonjol keluar dari bak sarkofagus, sedangkan tubuhnya diukir dalam relief pada sisi panjang.[78]

Adegan utama pada sisi depan sarkofagus menggambarkan sang raja duduk di atas takhta sambil memegang bunga teratai layu. Di hadapannya terdapat meja penuh persembahan, diikuti arak-arakan tujuh pria pembawa hadiah.[79] Dua sisi pendek menampilkan adegan prosesi pemakaman dengan empat perempuan yang meratap; dua di antaranya digambarkan dengan dada terbuka, sementara dua lainnya memukul-mukul kepala mereka dengan tangan sebagai tanda duka.[79] Bagian belakang sarkofagus menampilkan prosesi pria dan wanita yang membawa persembahan.[80]
Tutup sarkofagus berbentuk agak cembung, serupa dengan sarkofagus lain di sekitarnya. Pada masing-masing ujung terdapat satu tonjolan berbentuk kepala singa, sementara tubuh singa diukir dalam relief pada permukaan datar tutup tersebut. Di kedua sisi arca singa, terdapat dua sosok berjanggut setinggi 171 cm (5,61 ft); salah satunya memegang bunga teratai layu, sementara yang lain memegang bunga yang masih segar. Montet berpendapat bahwa keduanya mewakili sang raja yang telah mangkat.[78] Arkeolog dan kurator Libanon Maurice Chehab, yang kemudian menemukan jejak cat merah pada sarkofagus, menafsirkan kedua figur itu sebagai sang raja dan putranya.[81]
Prasasti pada sarkofagus terdiri atas 38 kata yang terbagi dalam dua bagian,[82][83] dengan bagian pendek terletak pada tubuh sarkofagus, di atas pita sempit di atas deretan bunga teratai.[83] Bagian panjangnya terukir pada sisi depan tutup yang memanjang.[84] Teks prasasti ini bersifat peringatan, berisi kutukan terhadap siapa pun yang berani menodai makam tersebut.[85]
Benda-benda makam

Lebih dari 260 artefak berhasil ditemukan di kompleks makam kerajaan Byblos.[g][87]
Hadiah kerajaan Mesir
Makam I menyimpan satu set vas dan tutup obsidian setinggi 12 cm (4,7 in), berhias emas, dengan ukiran nama penobatan Amenemhat III dalam aksara hieroglif Mesir.[88] Dari makam yang sama juga ditemukan dua vas alabaster.[89]
Dua hadiah kerajaan Mesir lainnya ditemukan di Makam II. Yang pertama adalah sebuah peti obsidian persegi panjang sepanjang 45 cm (18 in) dengan tutup berlapis emas. Peti itu berdiri di atas empat kaki, dan tutupnya memuat sebuah kartus hieroglif Mesir yang terjaga sempurna, berisi nama penobatan serta epitet Amenemhat IV.[h][91] Isi peti tersebut tidak diketahui, tetapi wadah serupa kerap digambarkan dalam relief makam Mesir dan disebut "pr ‘nti", yang berarti "rumah dupa".[90] Hadiah kedua berupa sebuah vas batu bertulis nama Amenemhat IV; kartusnya berbunyi: "Hiduplah Sang Dewa Baik, putra Ra, Amenemhat, hidup kekal selamanya."[90]
Perhiasan dan benda berharga
Makam-makam tersebut juga mengandung perhiasan kerajaan dari emas, perak, dan batu permata, banyak di antaranya memperlihatkan pengaruh seni Mesir. Masing-masing Makam I, II, dan III menyimpan pektoral emas berukir dengan gaya Mesir. Makam II menghasilkan sebuah pektoral emas berpermata buatan lokal bergaya Mesir lengkap dengan rantainya, serta liontin cloisonné berbentuk kerang yang menampilkan nama Raja Ip-Shemu-Abi. Dua cermin tangan perak berukuran besar ditemukan di Makam I dan II; ketiga makam tersebut juga memuat gelang dan cincin emas maupun kecubung, sandal perak, serta senjata khopesh dari perunggu dan emas yang diukir dengan sangat halus. Salah satu khopesh dari Makam II memuat nama pemiliknya, Raja Ip-Shemu-Abi, serta ayahandanya, Abishemu. Selain itu, ditemukan pula pisau perak berhias niello dan emas, beberapa trisula perunggu, vas perak berbentuk teko berhias indah, dan berbagai bejana lain dari emas, perak, perunggu, alabaster, maupun terakota.[92][93]
Makam I juga menghasilkan temuan langka berupa pecahan vas perak dengan pola spiral hias yang, menurut sejarawan seni Prancis Edmond Pottier, mirip dengan pola pada oenochoe emas dari Makam IV di Mycenae.[94] Vas perak ini memperlihatkan kemungkinan adanya pengaruh seni Aegea terhadap seni lokal Byblos, atau bahkan menjadi bukti adanya hubungan dagang dengan Mycenae.[93][94]
Penanggalan
Pastor sekaligus arkeolog Prancis, Pastor Louis-Hugues Vincent, Pierre Montet, dan sejumlah sarjana awal lainnya berpendapat bahwa makam-makam tersebut berasal dari masa para Raja Byblos pada Zaman Perunggu Tengah dan Akhir, berdasarkan karakteristik pecahan tembikar bercat yang ditemukan di dalamnya.[95]
Makam I, II, dan III
Menurut Virolleaud dan Montet, tiga makam mewah, Makam I, II, dan III, berasal dari Zaman Perunggu Tengah, tepatnya dari masa Dinasti Kedua Belas Kerajaan Tengah Mesir (abad ke-19 SM). Penanggalan ini didasarkan pada benda-benda makam dan hadiah kerajaan Mesir yang ditemukan di dalamnya. Di Makam I ditemukan sebuah wadah minyak bertulis kartus Amenemhat III, sedangkan Makam II berisi peti obsidian bertulis nama putra sekaligus penerusnya, Amenemhat IV.[96][97]
Makam V hingga IX
Montet membandingkan gaya pecahan tembikar yang ia temukan di poros Makam V dengan vas-vas yang ditemukan oleh ahli Mesir Kuno asal Inggris Flinders Petrie di reruntuhan istana Akhenaten di Amarna. Kedua jenis tembikar itu menampilkan pita-pita besar berwarna cokelat atau hitam yang membagi tubuh wadah menjadi beberapa bagian, masing-masing dihiasi garis-garis vertikal dan motif melingkar. Pegangan vas berukuran kecil itu pun memiliki bentuk yang identik. Kesamaan tersebut membuat Montet menyimpulkan bahwa pecahan tembikar dari Byblos sezaman dengan Kerajaan Baru Mesir (sekitar ca 1550 SM–ca 1077 SM).[98][99]
Makam-makam lain dari kelompok kedua (Makam VI hingga IX) semuanya telah dijarah sejak zaman kuno, sehingga penanggalannya sulit ditentukan secara pasti. Namun, sejumlah petunjuk menunjukkan bahwa makam-makam tersebut kemungkinan berasal dari rentang waktu antara akhir Zaman Perunggu Tengah hingga awal Zaman Perunggu Akhir.[100][99]
Atribusi

Para ahli, mengikuti pandangan pakar sejarah seni Prancis Edmond Pottier, menyoroti kemiripan pola hias spiral yang ditemukan di Makam I dengan pola serupa pada oenochoe emas yang ditemukan di Makam IV di Mycenae.[Bandingkan] Nama beberapa penghuni sarkofagus diketahui dari temuan arkeologis. Makam I diketahui milik Raja Abishemu (juga ditransliterasikan sebagai "Abishemou" atau "Abichemou"), yang menerima hadiah dari Firaun Amenemhat III, sedangkan Makam II milik putranya, Ip-Shemu-Abi (atau "Ypchemouabi"), yang juga menerima hadiah serupa dari putra Amenemhat IV. Hadiah-hadiah ini menunjukkan bahwa masa pemerintahan Abishemu dan Ip-Shemu-Abi sejaman dengan para penguasa akhir Dinasti Kedua Belas Mesir.[34][102][103] Nama kedua raja Gebal tersebut juga terukir pada tongkat khopesh yang ditemukan di Makam II.[104] Sebuah lorong bawah tanah menghubungkan ruang makam I dengan poros makam II. Montet berpendapat bahwa Ip-Shemu-Abi memerintahkan penggalian lorong itu agar ia dapat tetap "berhubungan" dengan ayahnya.[105]
Montet juga mengemukakan bahwa Makam IV dibuat untuk seorang raja bawahan berdarah Mesir yang, menurutnya, diangkat langsung oleh Mesir sehingga memutus kesinambungan dinasti Gebal. Teori ini ia dasarkan pada penemuan sebuah scarab Mesir bertuliskan nama Mesir "Medjed-Tebit-Atef".[102][106]
Sarkofagus di Makam V adalah milik Ahiram;[71] dan menonjol dibandingkan sarkofagus lainnya karena kekayaan dekorasi dan reliefnya. Sarkofagus Ahiram ditemukan di ruang Makam V bersama dua sarkofagus polos lainnya. Tutup sarkofagus tersebut menampilkan arca wajah sang mendiang dan penerusnya. Prasasti pemakamannya menyebutkan nama sang raja yang wafat, beserta nama putra dan penggantinya, Pilsibaal.[i][81][109]
Fragmen tembikar yang ditemukan di Makam IX memuat nama Abishemu dalam hieroglif Mesir.[41] Temuan ini mendorong para ahli untuk mengaitkan sarkofagus tersebut dengan Abishemu II, yang kemungkinan merupakan cucu dari raja Abishemu pertama. Asumsi ini didasarkan pada kebiasaan Fenisia yang menamai seorang pangeran dengan nama kakeknya.[110]
Fungsi
Montet membandingkan makam-makam Byblos dengan mastaba dan menjelaskan bahwa dalam teks pemakaman Mesir kuno, jiwa orang yang meninggal diyakini terbang dari ruang pemakaman, melalui poros makam, menuju kapel di permukaan tanah tempat para pendeta melakukan upacara keagamaan.[111] Ia juga menyamakan lorong penghubung antara Makam I dan II dengan makam milik Aba, putra Zau, seorang pejabat tinggi sezaman dengan Firaun Pepi II, yang dimakamkan di Deir el-Gabrawi bersama ayahnya. Aba meninggalkan prasasti yang menjelaskan pilihannya untuk dimakamkan "bersama ayahnya di tempat yang sama".[j][111]
Lihat pula
Catatan
- ↑ Istilah demonim Gebalita atau Giblita digunakan dalam sumber kuno untuk menyebut penduduk Gebal, nama Fenisia dari kota tersebut, yang juga menjadi asal nama modernnya, Jubail.[15][16] Dalam konteks artikel ini, istilah Gebalita digunakan karena situs yang dibahas berasal dari masa Fenisia, sebelum munculnya eksonim Yunani "Byblos".
- ↑ "Kini Byblos, kediaman kerajaan Cinyras, adalah kota suci bagi Adonis; tetapi Pompey membebaskannya dari tirani dengan memenggal penguasanya dengan kapak; dan kota itu terletak di ketinggian, hanya sedikit berjarak dari laut."[22]
- ↑ "R. IERAC BYBLOY. Perempuan bertiar menara dan berkerudung, duduk di dalam kuil berpilar empat; di bawahnya tampak sungai yang mengalir di sisi tubuhnya..." [Terjemahan dari keterangan pada koin Elagabalus].[24]
- ↑ Lapisan batu di bagian semenanjung ini, terletak sekitar 4 m (13 ft) hingga 5 m (16 ft) dari permukaan tanah saat ini, hanya setebal enam meter. Para pekerja yang menggali poros tersebut menembus lapisan batu dari samping, dan karena menganggap kedalamannya belum memadai, mereka melanjutkan penggalian ke dalam tanah liat.[44]
- ↑ "II semble bien que personne n'ait tenté de soulever le couvercle du sarcophage. Cependant quelqu'un est entré dans la grotte, à l'époque romaine sans doute, puis qu'on a trouvé mêlés aux pierres du mur de soutènement des fragments de verre qui datent sûrement de ce temps-là." [Tampaknya tidak ada yang berusaha membuka tutup sarkofagus. Namun seseorang pernah memasuki gua ini, kemungkinan pada masa Romawi, sebab di antara batu dinding penahan ditemukan pecahan kaca yang jelas berasal dari masa itu.][32]
- ↑ 232 m (761 ft) termasuk tutupnya[32]
- ↑ Benda-benda yang ditemukan dari makam kerajaan diberi nomor dari 610 hingga 872 dalam Atlas karya Montet.[86]
- ↑ "Hiduplah Sang Dewa Baik, penguasa atas Dua Negeri, raja Mesir Hulu dan Hilir, Ma’a-kherou-rê, kekasih Tourn, penguasa Heliopolis (On), yang kepadanya diberikan kehidupan kekal seperti Ra."[90]
- ↑ Rekonstruksi nama putra Ahiram dari prasasti sarkofagus sempat menjadi bahan perdebatan karena adanya lacuna pada awal nama sang pangeran. Sejak publikasi awal prasasti sarkofagus Ahiram pada tahun 1924, nama "Ittobaal" sempat diterima luas. Namun, analisis epigrafis terbaru menunjukkan bahwa pembacaan tersebut keliru. Berdasarkan penelitian paleografi dan kaligrafi modern, nama putra Ahiram diyakini sebagai "Pulsibaal" atau "Pilsibaal".[107][108]
- ↑ "Karena itu aku memastikan untuk dimakamkan di makam yang sama dengan Zau ini, agar aku dapat bersamanya di tempat yang sama. Bukan karena aku tidak mampu membangun makam kedua, tetapi karena aku ingin melihat Zau ini setiap hari, agar dapat bersamanya di tempat yang sama."[111]
Referensi
Kutipan
- ↑ UNESCO World Heritage Centre 2009.
- ↑ Cooper 2020, hlm. 298.
- ↑ Wilkinson 2011, hlm. 66.
- ↑ Moran 1992, hlm. 143.
- ↑ Head et al. 1911, hlm. 763.
- ↑ Huss 1985, hlm. 561.
- ↑ Lehmann 2008, hlm. 120,121,154,163–164.
- ↑ Salameh 2017, hlm. 353.
- 1 2 Harper 2000.
- ↑ DeVries 2006, hlm. 135.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 DeVries 1990, hlm. 124.
- 1 2 3 4 5 6 Awada Jalu 1995, hlm. 37.
- ↑ Redford 2021, hlm. 89,296.
- ↑ Jidejian 1986, hlm. 1.
- ↑ Head et al. 1911, hlm. 791.
- ↑ Barry 2016, headword: Gebal.
- ↑ Fischer 2003, hlm. 90.
- ↑ Segert 1997, hlm. 58.
- ↑ Moran 1992, hlm. 197.
- ↑ Charaf 2014, hlm. 442.
- 1 2 Renan 1864, hlm. 173.
- ↑ Strabo 1930, hlm. 263, §16.2.18.
- 1 2 Montet 1928, hlm. 2–3.
- 1 2 3 Mionnet 1806, hlm. 355–356.
- 1 2 3 Renan 1864, hlm. 173–175.
- ↑ Dussaud 1956, hlm. 9.
- ↑ D. 1921, hlm. 333–334.
- ↑ Montet 1921, hlm. 158–168.
- ↑ Vincent 1925, hlm. 163.
- ↑ Virolleaud 1922, hlm. 1.
- 1 2 Dussaud 1956, hlm. 10.
- 1 2 3 4 5 6 7 Virolleaud 1922, hlm. 275.
- 1 2 3 4 Montet 1928, hlm. 153–154.
- 1 2 3 Montet 1928, hlm. 145–147.
- ↑ Vincent 1925, hlm. 178.
- ↑ Sparks 2017, hlm. 249.
- 1 2 Lendering 2020.
- ↑ Montet 1928, hlm. 22–23,143.
- ↑ Nigro 2020, hlm. 67.
- 1 2 3 4 5 Porada 1973, hlm. 356.
- 1 2 3 Montet 1928, hlm. 212.
- ↑ Montet 1928, hlm. 214.
- ↑ Montet 1928, hlm. 155.
- 1 2 Montet 1928, hlm. 143.
- 1 2 3 Montet 1928, hlm. 144.
- ↑ Montet 1928, hlm. 144–145.
- ↑ Montet 1928, hlm. 145–146.
- ↑ Montet 1928, hlm. 146.
- ↑ Montet 1928, hlm. 148–150.
- ↑ Montet 1929, hlm. Pl. LXXVI (illustration).
- ↑ Montet 1928, hlm. 150.
- 1 2 Montet 1928, hlm. 151.
- 1 2 Montet 1928, hlm. 152–153.
- ↑ Vincent 1925, PLANCHE VIII.
- ↑ Porada 1973, hlm. 356–357.
- 1 2 Montet 1928, hlm. 215–216.
- ↑ Dussaud 1924, hlm. 143.
- ↑ Vincent 1925, hlm. 189.
- 1 2 3 Montet 1928, hlm. 217.
- ↑ Porada 1973, hlm. 357.
- ↑ Montet 1928, hlm. 217, 225.
- ↑ Dunand 1937, XXVIII.
- 1 2 Montet 1928, hlm. 205–206.
- 1 2 Montet 1928, hlm. 205.
- ↑ Montet 1928, hlm. 207–210.
- ↑ Montet 1928, hlm. 210.
- ↑ Montet 1928, hlm. 210–213.
- 1 2 Montet 1929, hlm. 118–120.
- 1 2 Montet 1928, hlm. 144, 146, 151–153, 205–220, 229.
- ↑ Montet 1928, hlm. 146–147.
- 1 2 Porada 1973, hlm. 355.
- ↑ Virolleaud 1922, hlm. 276.
- ↑ Virolleaud 1922, hlm. 275–276.
- ↑ Montet 1928, hlm. 154.
- ↑ Dunand 1939, hlm. 2.
- 1 2 Cook 1994, hlm. 1.
- ↑ Maïla Afeiche 2019.
- 1 2 3 Montet 1928, hlm. 229.
- 1 2 Montet 1928, hlm. 230.
- ↑ Montet 1928, hlm. 231.
- 1 2 Porada 1973, hlm. 359.
- ↑ Lehmann 2008, hlm. 121–122.
- 1 2 Montet 1928, hlm. 236.
- ↑ Montet 1928, hlm. 237.
- ↑ Teixidor 1987, hlm. 137.
- ↑ Montet 1929, hlm. 4–6.
- ↑ Montet 1928, hlm. 202.
- ↑ Montet 1928, hlm. 155–156.
- ↑ Montet 1928, hlm. 156–159.
- 1 2 3 Montet 1928, hlm. 159.
- ↑ Montet 1928, hlm. 157–159.
- ↑ Montet 1928, hlm. 155–204.
- 1 2 Dussaud 1930, hlm. 176–178.
- 1 2 Pottier 1922, hlm. 298–299.
- ↑ Montet 1928, hlm. 129, 219.
- ↑ Virolleaud 1922, hlm. 273–290.
- ↑ Montet 1928, hlm. 16–17, 25, 219.
- ↑ Montet 1928, hlm. 220.
- 1 2 Kilani 2019, hlm. 97.
- ↑ Montet 1928, hlm. 213–214.
- ↑ Montet 1929, PLANCHE CXI.
- 1 2 Dussaud 1930, hlm. 176.
- ↑ Montet 1927, hlm. 86.
- ↑ Montet 1928, hlm. 174.
- ↑ Montet 1928, hlm. 147.
- ↑ Montet 1928, hlm. 203.
- ↑ Lehmann 2005, hlm. 38.
- ↑ Lehmann 2015, hlm. 178.
- ↑ Lehmann 2008, hlm. 164.
- ↑ Helck 1971, hlm. 67.
- 1 2 3 Montet 1928, hlm. 147–148.
Daftar pustaka
- Awada Jalu, Sawsan (1995). "The stones of Byblos". UNESCO Courier. Paris: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization: 34–37. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 October 2021. Diakses tanggal 13 March 2022.
- Barry, John D. (2016). The Lexham Bible Dictionary (dalam bahasa Inggris). Bellingham, Washington: Lexham Press.
- Chanteau, Julien; Zaven, Tania (2024). "Byblos excavations, yesterday and today". Dalam National Museum of Antiquities (The Netherlands); Ministry of Culture/Directorate General of Antiquities (Lebanon) (ed.). Byblos: A Legacy Unearthed. Leiden: Sidestone Press. hlm. 17–25. ISBN 9789464262209.
- Charaf, Hanan (2014). "The northern Levant (Lebanon) during the Middle Bronze Age". Dalam Steiner, Margreet L.; Killebrew, Ann E. (ed.). The Oxford Handbook of the Archaeology of the Levant: c. 8000–332 BCE (dalam bahasa Inggris). Oxford: Oxford University Press. ISBN 9780191662553. OCLC 1164893708.
- Cook, Edward M. (1994). "On the Linguistic Dating of the Phoenician Ahiram Inscription (KAI 1)". Journal of Near Eastern Studies. 53 (1). Chicago: University of Chicago Press: 33–36. doi:10.1086/373654. ISSN 0022-2968. JSTOR 545356. S2CID 162039939.
- Cooper, Julien (2020). Toponymy on the Periphery: Placenames of the Eastern Desert, Red Sea, and South Sinai in Egyptian Documents from the Early Dynastic until the End of the New Kingdom (dalam bahasa Inggris). Leiden: BRILL. ISBN 9789004422216. OCLC 1240671488.
- D., R. (1921). "Mission Pierre Montet à Byblos" [Pierre Montet's mission in Byblos]. Syria (dalam bahasa Prancis). 2 (4). Beirut: Institut français du Proche-Orient: 333–334. ISSN 0039-7946. JSTOR 4389726.
- DeVries, LaMoine F. (1990). Mills, Watson E.; Bullard, Roger Aubrey; McKnight, Edgar V. (ed.). Mercer Dictionary of the Bible (dalam bahasa Inggris). Macon, Georgia: Mercer University Press. ISBN 9780865543737. OCLC 613917443.
- DeVries, LaMoine F. (2006). Cities of the Biblical World: An Introduction to the Archaeology, Geography, and History of Biblical Sites (dalam bahasa Inggris). Eugene, Oregon: Wipf and Stock Publishers. ISBN 9781556351204. OCLC 1026419222.
- Dunand, Maurice (1937). Fouilles de Byblos, Tome 1er, 1926–1932 (Atlas) [The Byblos excavations, Tome 1, 1926–1932 (Atlas)]. Bibliothèque archéologique et historique (dalam bahasa French). Vol. 24. Paris: Librarie Orientaliste Paul Geuthner. OCLC 85977250. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- Dunand, Maurice (1939). Fouilles de Byblos: Tome 1er, 1926–1932 [The Byblos excavations, Tome 1, 1926–1932]. Bibliothèque archéologique et historique (dalam bahasa Prancis). Vol. 24. Paris: Librarie Orientaliste Paul Geuthner. OCLC 35255029.
- Dussaud, René (1924). "Les inscriptions phéniciennes du tombeau d'Ahiram, roi de Byblos" [Phoenician inscriptions from the Tomb of Ahiram, King of Byblos]. Syria (dalam bahasa Prancis). 5 (2). Beirut: Institut français du Proche-Orient: 135–157. doi:10.3406/syria.1924.3038. OCLC 977806804.
- Dussaud, René (1930). "Les quatre campagnes de fouilles de M. Pierre Montet a Byblos" [The four excavation campaigns of Mr. Pierre Montet at Byblos]. Syria (dalam bahasa Prancis). 11 (2). Beirut: Institut français du Proche-Orient: 164–187. doi:10.3406/syria.1930.3470. ISSN 0039-7946. JSTOR 4237002. OCLC 754446601.
- Dussaud, René (1956). "L'oeuvre scientifique syrienne de M.Charles Virolleaud" [the Syrian scientific work of M Charles Virolleaud]. Syria (dalam bahasa Prancis). 33 (1). Beirut: Institut français du Proche-Orient: 8–12. doi:10.3406/syria.1956.5186. OCLC 754457329.
- Fischer, Steven Roger (2003). History of Writing (dalam bahasa Inggris). London: Reaktion Books. ISBN 9781861891679. OCLC 439272651.
- Harper, Douglas (2000). "Etymology of Byblos". Online Etymology Dictionary. Tupalo, Mississippi: Douglas Harper. Diarsipkan dari asli tanggal 13 May 2021. Diakses tanggal 15 March 2022.
- Head, Barclay Vincent; Hill, Sir George Francis; MacDonald, George; Wroth, Warwick William (1911). Historia Numorum: A Manual of Greek Numismatics (dalam bahasa Inggris). Oxford: Clarendon Press. ISBN 9780722221877. OCLC 1083895850.
- Helck, Wolfgang (1971). Die Beziehungen Ägyptens zu Vorderasien im 3. und 2. Jahrtausend v.Chr.: 2., verbesserte Auflage [Relations between Egypt and the Middle East in the 3rd and 2nd millennium BC]. Ägyptologische Abhandlungen (dalam bahasa Jerman). Wiesbaden: O. Harrassowitz. ISBN 9783447012980. OCLC 1049030285.
- Huss, Werner (1985). Geschichte der Karthager [History of the Carthaginians] (dalam bahasa Jerman). Munich: C.H. Beck. hlm. 561. ISBN 9783406306549. OCLC 887765515.
- Jidejian, Nina (1986). Byblos through the ages. Beirut: Dar el-Machreq Publishers. OCLC 913477845.
- Kilani, Marwan (2019). Byblos in the Late Bronze Age: Interactions between the Levantine and Egyptian Worlds (dalam bahasa Inggris). Leiden: BRILL. ISBN 9789004416604. OCLC 8303726422.
- Kilani, Marwan (2024). "Byblos and its architecture during the late bronze age". Dalam National Museum of Antiquities (The Netherlands); Ministry of Culture/Directorate General of Antiquities (Lebanon) (ed.). Byblos: A Legacy Unearthed. Leiden: Sidestone Press. hlm. 189–193. ISBN 9789464262209.
- Lehmann, Reinhard G. (2005). Die Inschrift(en) des Ahirom-Sarkophags und die Schachtinschrift des Grabes V in Jbeil (Byblos) [The inscription(s) of the Ahirom sarcophagus and the shaft inscription of Tomb V in Jbeil (Byblos)] (dalam bahasa Jerman). Mainz am Rhein: von Zabern. ISBN 9783805335089. OCLC 76773474.
- Lehmann, Reinhard G. (2008). "Calligraphy and Craftsmanship in the Ahirom inscription. Considerations on skilled linear flat writing in early first millennium Byblos". MAARAV. 15 (2). Santa Monica, California: Western Academic Press: 119–164. doi:10.1086/MAR200815202. S2CID 257837024.
- Lehmann, Reinhard G. (February 2015). Wer war Aḥīrōms Sohn (KAI 1:1)? Eine kalligraphisch-prosopographische Annäherung an eine epigraphisch offene Frage [Who was Aḥīrōm's son (KAI 1:1)? A calligraphic-prosopographic approach to an epigraphically open question]. Fünftes Treffen der Arbeitsgemeinschaft Semitistik in der Deutschen Morgenländischen Gesellschaft, University of Basel. Alter Orient und Altes Testament. Vol. 425. Münster: Ugarit-Verlag. hlm. 163–180. OCLC 918796397.
- Lendering, Jona (2020). "Byblos". Livius. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 June 2021. Diakses tanggal 30 July 2021.
- Maïla Afeiche, Anne-Marie (24 September 2019). "Le sarcophage d'Ahiram roi de Byblos" [The sarcophagus of Ahiram, king of Byblos]. Agenda Culturel. Beirut. Diarsipkan dari asli tanggal 6 May 2022. Diakses tanggal 6 May 2022.
- Mionnet, Théodore Edme (1806). Description de médailles antiques, grecques et romaines; avec leur degré de rareté et leur estimation; ouvrage servant de catalogue à une suite de plus de vingt mille empreintes en soufre, prise sur les pièces originales [Description of ancient Greek and Roman coins; with their degree of rarity and their estimate; work serving as a catalog to a suite of more than twenty thousand prints in sulfur, taken on the original pieces] (dalam bahasa Prancis). Paris: Imprimerie de Testu. OCLC 632656145.
- Montet, Pierre (1921). "Lettre à M. Clermont-Ganneau" [Letter to Mr. Clermont-Ganneau]. Comptes rendus des séances de l'Académie des Inscriptions et Belles-Lettres (dalam bahasa Prancis). 65 (2). Paris: Académie des Inscriptions et des Belles Lettres: 158–168. doi:10.3406/crai.1921.74450. ISSN 0065-0536. 4649740372.
- Montet, Pierre (1927). "Un Egyptien, roi de Byblos, sous la XIIe dynastíe Étude sur deux scarabées de la collection de Clercq" [An Egyptian king of Byblos under the Twelfth Dynasty, study on two scarabs from the Clercq collection]. Syria (dalam bahasa Prancis). 8 (2). Beirut: Institut français du Proche-Orient: 85–92. doi:10.3406/syria.1927.3277. ISSN 0039-7946. JSTOR 4195343.
- Montet, Pierre (1928). Byblos et l'Egypte: Quatre Campagnes de Fouilles à Gebeil 1921–1922–1923–1924 (Texte) [Byblos and Egypt: four excavation campaigns in Gebeil 1921–1922–1923–1924 (Text)]. Bibliothèque archéologique et historique (dalam bahasa Prancis). Vol. 11. Paris: Geuthner. OCLC 1071294753.
- Montet, Pierre (1929). Byblos et l'Egypte Quatre Campagnes de Fouilles à Gebeil 1921–1922–1923–1924 (Atlas) [Byblos and Egypt: four excavation campaigns in Gebeil 1921–1922–1923–1924 (Atlas)]. Bibliothèque archéologique et historique (dalam bahasa Prancis). Vol. 11. Paris: Geuthner. OCLC 904661212.
- Moran, William L. (1992). The Amarna Letters (dalam bahasa Inggris). Baltimore: Johns Hopkins University Press. ISBN 9780801842511. OCLC 797943180.
- Nigro, Lorenzo (2020). "Byblos, an ancient capital of the Levant". La Revue Phénicienne (Spécial 100 ans). Beirut: 61–74.
- Porada, Edith (1973). "Notes on the Sarcophagus of Ahiram". Journal of the Ancient Near Eastern Society (dalam bahasa Inggris). 5 (1). New York: Jewish Theological Seminary: 355–372. OCLC 602273437.
- Pottier, Edmond (1922). "Observations sur quelques objets trouvés dans le sarcophage de Byblos. Lettre à M. René Dussaud, Directeur de la revue Syria" [Observations on some objects found in the sarcophagus of Byblos. Letter to Mr. René Dussaud, Director of the review Syria]. Syria (dalam bahasa Prancis). 3 (4). Beirut: Institut français du Proche-Orient: 298–306. doi:10.3406/syria.1922.8854. ISSN 0039-7946.
- Redford, Donald B. (2021). Egypt, Canaan, and Israel in Ancient Times (dalam bahasa Inggris). Princeton, New Jersey: Princeton University Press. ISBN 9780691214658. OCLC 1241099443.
- Renan, Ernest (1864). Mission de Phénicie Dirigée par M. Ernest Renan [Mission to Phoenicia, directed by Mr. Ernest Renan] (dalam bahasa Prancis). Paris: Imprimerie impériale. OCLC 763570479.
- Salameh, Franck (2017). The other Middle East: An anthology of modern Levantine literature (dalam bahasa Inggris). New Haven: Yale University Press. ISBN 9780300204445. OCLC 1065338550.
- Segert, Stanislav (1997). Kaye, Alan S.; Daniels, Peter T (ed.). Phonologies of Asia and Africa - including the Caucasus (dalam bahasa Inggris). Winona Lake, Indiana: Eisenbrauns. ISBN 9781575060194. OCLC 929631154.
- Sparks, Rachael Thyrza (5 July 2017). Stone Vessels in the Levant (dalam bahasa Inggris). Oxford: Routledge. ISBN 9781351547789. OCLC 994205911.
- Strabo (1930). Geography, Volume VII: Books 15–16. Translated by Horace Leonard Jones. Loeb Classical Library 241. Cambridge: Harvard University Press. hlm. 263. OCLC 899735754.
- Teixidor, Javier (1987). "L' inscription d'Ahiram à nouveau" [The Ahiram inscription revisited]. Syria (dalam bahasa Prancis). 64 (1). Beirut: Institut français du Proche-Orient: 137–140. doi:10.3406/syria.1987.6979. OCLC 754460302.
- UNESCO World Heritage Centre (2009). "Byblos". UNESCO World Heritage Centre (dalam bahasa Inggris). Paris: UNESCO World Heritage Center. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 June 2022. Diakses tanggal 27 June 2022.
- Vincent, Louis-Hugues (1925). "Les fouilles de Byblos" [The excavations of Byblos]. Revue Biblique (dalam bahasa Prancis). 34 (2). Louvain: Peeters Publishers: 161–193. ISSN 1240-3032. JSTOR 44102762. OCLC 718118625.
- Virolleaud, Charles (1922). "Découverte à Byblos d'un hypogée de la douzième dynastie égyptienne" [Discovery in Byblos of a Hipogeum of the Egyptian Twelfth Dynasty]. Syria (dalam bahasa Prancis). 3 (4). Beirut: Institut français du Proche-Orient: 273–290. doi:10.3406/syria.1922.8851. ISSN 0039-7946. JSTOR 4195157. OCLC 1136131170.
- Wilkinson, Toby (2011). The Rise and Fall of Ancient Egypt. New York: A&C Black. ISBN 9780679604297. OCLC 710823381.
