Pandangan Mesir Kuno tentang hakikat jiwaFragmen dari Kitab Para Arwah Mesir Kuno
Orang-orang Mesir Kuno meyakini bahwa sebuah jiwa (kꜣ dan bꜣ; pengucapan Mesir ka/ba) tersusun atas banyak unsur. Di samping komponen-komponen rohaniah tersebut, terdapat pula tubuh jasmani manusia (disebut ḥꜥ, kadang pula dalam bentuk jamak ḥꜥw, yang kurang lebih berarti "keseluruhan bagian tubuh").[butuh rujukan]
Menurut Mitos penciptaan Mesir Kuno, dewa Atum menciptakan dunia dari kekacauan dengan memanfaatkan kekuatan gaibnya sendiri (ḥkꜣ).[1] Karena bumi sendiri tercipta melalui sihir, orang Mesir percaya bahwa alam semesta dipenuhi oleh daya magis, dan demikian pula setiap makhluk hidup di dalamnya. Ketika manusia diciptakan, kekuatan tersebut menjelma menjadi jiwa: suatu daya abadi yang menetap di dalam diri dan bersama setiap insan. Gagasan tentang jiwa beserta unsur-unsur yang menyusunnya berubah dari masa Kerajaan Lama hingga Kerajaan Baru, bahkan dapat berganti dari satu dinasti ke dinasti berikutnya, dari lima unsur menjadi lebih banyak. Sebagian besar Teks pemakaman Mesir kuno menyebut berbagai unsur jiwa:
Khet atau "tubuh fisik"
Sah atau "tubuh spiritual"
Ren atau "nama, identitas"
Ba atau "kepribadian"
Ka atau "dwi-roh" atau "intisari vital"
Ib atau "hati"
Shuyet atau "bayangan"
Sekhem atau "kuasa, bentuk"
Secara keseluruhan, roh-roh ini membentuk Akh, yakni kesatuan spiritual seseorang setelah ia berhasil menuntaskan peralihannya menuju kehidupan setelah kematian.[2][a]
Orang Mesir percaya bahwa kepribadian manusia memiliki banyak segi, suatu konsep yang barangkali telah berkembang sejak awal Kerajaan Lama. Semasa hidup, manusia merupakan kesatuan utuh; tetapi jika ia menjalani hidup yang berbudi, ia dapat memperoleh akses kepada sekumpulan bentuk lain yang dapat digunakannya di dunia berikutnya. Dalam beberapa keadaan, bentuk-bentuk ini bahkan dapat digunakan untuk menolong mereka yang ingin ia lindungi atau, sebaliknya, untuk membalas dendam kepada para musuhnya.[3]
12David, Rosalie (2003). Religion and Magic in Ancient Egypt. Penguin Books. hlm.116. ISBN9780141941387.
Bacaan lanjutan
Allen, James Paul (2001). "Ba". Dalam Redford, Donald Bruce (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol.1. Oxford, UK / New York, NY / Cairo, EG: Oxford University Press / The American University in Cairo Press. hlm.161–162.
Borghouts, Joris Frans (1982). "Divine intervention in ancient Egypt and its manifestation (b3w)". Dalam Demarée, Robert Johannes; Janssen, Jacobus Johannes (ed.). Gleanings from Deir el-Medîna. Egyptologische Uitgaven. Vol.1. Leiden, NL: Nederlands Instituut voor het Nabije Oosten. hlm.1–70.
Borioni, Giacomo C. (2005). Der Ka aus religionswissenschaftlicher Sicht. Veröffentlichungen der Institute für Afrikanistik und Ägyptologie der Universität Wien. Universität Wien.
Burroughs, William S. (1987). The Western Lands (fiction). Viking Press.
Friedman, Florence Margaret Dunn (1981). On the Meaning of Akh (3ḫ) in Egyptian Mortuary Texts. Department of Classical and Oriental Studies (doctoral dissertation thesis). Waltham, MA: Brandeis University.
Friedman, Florence Margaret Dunn (2001). "Akh". Dalam Redford, Donald Bruce (ed.). The Oxford Encyclopedia of Ancient Egypt. Vol.1. Oxford, UK / New York, NY / Cairo, EG: Oxford University Press / The American University in Cairo Press. hlm.47–48.
Žabkar, Louis Vico (1968). A Study of the Ba Concept in Ancient Egyptian Texts. Studies in Ancient Oriental Civilization. Vol.34. Chicago, IL: University of Chicago Press.