Musliar Kasim lahir di Padang Ganting, Tanah Datar pada 29 April 1958 dalam keluarga yang berkecukupan. Ia adalah anak kedua dari empat saudara kandung. Ayahnya, Muhammad Kasim, seorang pedagang dari Talawi, Sawahlunto dan ibunya Syamsiar asli Padang Ganting. Ayahnya telah menikah dua kali sebelumnya, sedangkan ibunya telah bercerai dari suami pertamanya. Dari ayahnya, ia memiliki lima saudara tiri. Nama Musliar diberikan oleh kakak perempuannya yang bernama Emyarwati.[1]
Musliar mengenyam pendidikan di SD Padang Ganting (1971) dan SMP Padang Ganting (1974). Pada 1975, ia masuk ke SMA Negeri 2 Padang dan lulus pada 1977.[2]
Setahun setelah meraih gelar S-1, Musliar diangkat menjadi dosen tetap Fakultas Pertanian Unand pada 1984. Ia menjabat Ketua Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian (1992–1993) dan Sekretaris Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian (1993–1994).[2]
Pada 1994, Musliar meraih predikat Dosen Teladan Unand dan Harapan 1 Dosen Teladan Nasional. Rektor Fachri Ahmad (kelak menjabat Wakil Gubernur Sumatera Barat) mengangkat Musliar menjadi Sekretaris Lembaga Penelitian Unand sejak 1994 hingga 2000. Ia lalu diangkat menjadi Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Unand sejak 2000 hingga 2002.[2]
Karier Musliar terus menanjak dan dipilih menjadi Pembantu Rektor I Unand pada 2002 hingga 2005. Setelah Rektor Marlis Rahman terpilih dan dilantik menjadi Wakil Gubernur Sumatera Barat, Musliar terpilih untuk menjabat Rektor Unand dalam pemilihan rektor pada 6 Mei 2005. Musliar meraih 52 suara dari 110 anggota senat yang hadir. Musliar memangku jabatan sebagai Rektor Unand sejak 2006 hingga 2013.[2][6]
Semasa kepemimpinannya, Unand mencatat beberapa prestasi. Di antaranya, Unand menjadi universitas dengan jumlah guru besar terbanyak (130 guru besar/profesor) di Sumatra (2010).[3]
Saat menjabat rektor, ia juga menjabat Ketua Majelis Tinggi Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MTRPTN) serta Wakil Komite Tetap Pengembangan Mutu & Industri Pendidikan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).[3]
Selama menjadi Wamendikbud RI, ia ditunjuk menjadi Ketua Steering Committee Kurikulum 2013 yang bertujuan untuk mengembangkan tiga kompetensi, yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap.[2] Ia juga sempat menjadi Pelaksana Tugas Rektor Universitas Sam Ratulangi antara Maret hingga Juli 2014.[9]
Pada 2014, Musliar diangkat menjadi Komisaris Utama PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII).[11] Pada 2 September 2016, dalam kapasitas Komisaris Utama PTPN XII, ia dihadang oleh masyarakat yang didampingi Forum Masyarakat Peduli Kebun (FMPK) ketika mengunjungi Pabrik Gula Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur. Massa mendesak PTPN XII untuk mengevaluasi proses lelang jasa angkutan tebu yang dinilai telah melanggar undang-undang.[12]
Kembali menjadi akademisi
Setelah menyelesaikan jabatan wakil menteri, ia kembali mengajar di kampus Unand. Pada 13 Agustus 2016 ia diangkat menjadi Rektor Universitas Baiturrahmah (Unbrah) hingga 2020.[13][14][15] Ia menggantikan rektor sebelumnya, Prof. Ir. Firdaus Rivai, M.Sc.[16] Pada 16 Agustus 2020, ia kembali diangkat menjadi Rektor Unbrah untuk periode kedua hingga 2024.[17][18] Pada 20 Agustus 2024, ia kembali dilantik menjadi Rektor Unbrah untuk periode ketiga hingga 2028.[19]