Desain di bagian depan Lempengan Leiden, sebuah lempengan sabuk Maya terkenal yang terbuat dari giok dari Guatemala yang disimpan di museum.
Koleksi Museum Volkenkunde sebagia besar merupakan benda-benda peninggalan periode Hindia Belanda di Indonesia.[3] Selain itu, koleksinya ada yang berasal dari wilayah Afrika, Tiongkok, Jepang, Korea, Amerika Latin, Amerika Utara, Oseania, dan Asia.[butuh rujukan] Benda-benda dalam koleksi Museum Volkenkunde menampakkan tema yaitu kehidupan manusia sebagai suatu seni.[4] Cerita yang mewujudkan tema universal seperti perayaan, duka cita, dekorasi, doa, cinta, dan konflik. Tema-tema yang memiliki satu kesamaan: tema-tema tersebut menunjukkan bahwa terlepas dari perbedaan kita semua adalah manusia.
Sejak tahun 2017, Wereldmuseum secara keseluruhan memiliki hampir 450.000 objek, 260.000 foto, serta sekitar 350.000 materi film dan video dokumenter. Di Museum Volkenkunde, hanya sedikit koleksi yang ditampilkan, selebihnya bisa diakses lewat katalog koleksi secara daring.[5]
Koleksi Blomhoff
Sebagai Opperhoofd (atau kepala pedagang) untuk Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC) di Pulau Dejima di Pelabuhan Nagasaki dari tahun 1817 hingga 1823, Jan Cock Blomhoff merupakan sosok yang unik. Meskipun ada kebijakan "pintu tertutup" Jepang bagi orang Barat (sakoku), ia tetap membawa istrinya, Titia, dan anak-anaknya untuk bergabung dengannya.[6] Seperti yang sudah diduga, pihak Jepang menanggapi hal itu dengan mengusir Blomhoff beserta keluarganya; namun pengalaman tersebut justru memperluas ragam barang-barang rumah tangga dan benda-benda lain yang ia kumpulkan selama tinggal di Jepang.
Koleksi Fischer
Johannes Gerhard Frederik van Overmeer Fischer memulai kariernya sebagai pegawai administrasi di Dejima dan kemudian dipromosikan menjadi kepala gudang (pakhuismeester). Selama masa tinggalnya di Jepang, akses Fischer terhadap budaya Jepang memang terbatas; namun dalam lingkaran pergaulannya, ia berhasil mengumpulkan sejumlah besar benda-benda "biasa" yang kemungkinan besar terlewatkan oleh orang lain. Benda-benda ini dibawa kembali ke Belanda pada tahun 1829. Pada tahun 1833, ia menerbitkan Bijdrage tot de kennis van het Japansche rijk (Kontribusi terhadap pengetahuan tentang Kekaisaran Jepang).[7]
Koleksi Siebold
Sebagai seorang dokter yang mempraktikkan kedokteran Barat di Nagasaki (1823–1829), Philipp Franz von Siebold menerima pembayaran dalam bentuk barang berupa berbagai benda dan artefak yang kemudian menarik perhatian akademis yang tak terduga di Eropa. Benda-benda sehari-hari ini kemudian menjadi dasar koleksi etnografi miliknya yang besar, yang terdiri dari barang-barang rumah tangga sehari-hari, cetakan kayu, perkakas, dan benda-benda buatan tangan yang digunakan oleh masyarakat Jepang pada akhir zaman Edo. Informasi lebih lanjut mengenai materi ini diterbitkan dalam buku Siebold berjudul Nippon. Minat profesionalnya terutama tertuju pada peralatan yang digunakan dalam praktik pengobatan tradisional Jepang.[8] Sejak tahun 2005, sebuah museum terpisah yang berlokasi di salah satu bekas rumah Siebold, SieboldHuis, menyimpan sebagian dari koleksi tersebut.
"Dekolonisasi" koleksi
Pada tahun 2023, Wereldmuseum Leiden sedang dalam proses memulangkan beberapa karya seni Indonesia yang paling terkenal.[9] Salah satu kandidat lain untuk dipulangkan adalah "Plakat Leyden", sebuah plakat ikat pinggang Maya penting dari Guatemala yang menurut sebagian orang seharusnya dikembalikan ke negara tersebut, di mana benda itu dianggap sebagai kebanggaan nasional.
Pada tahun 2025, museum tersebut setuju untuk memulangkan 119 artefak, termasuk beberapa Patung Perunggu Benin, ke Nigeria.[10]
Rujukan
↑"About Volkenkunde". Volkenkunde in Leiden (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-06-04.