Wereldmuseum Amsterdam, yang sebelumnya dikenal sebagai Tropenmuseum (Museum Tropis) antara tahun 1950 hingga 2023, adalah museumetnografi yang berkantor pusat di Amsterdam, Belanda. Museum ini awalnya didirikan di Haarlem, Belanda pada tahun 1864 dengan nama Koloniaal Museum ("Museum Kolonial") dan kemudian berganti nama menjadi Tropenmuseum (Museum Tropis).[1]
Wereldmuseum adalah salah satu museum terbesar di Amsterdam. Museum ini memiliki pameran permanen yang menampilkan sebagian koleksinya dan menyelenggarakan pameran temporer, termasuk seni visual kontemporer, modern, dan tradisional, serta karya fotografi. Museum ini merupakan bagian dari Nationaal Museum van Wereldculturen (Museum Kebudayaan Dunia), gabungan dari tiga museum etnografi di Belanda.[1]
Sejarah
Tropenmuseum adalah salah satu museum terbesar di Amsterdam, dengan kapasitas delapan eksibisi permanen dan beberapa seri eksibisi temporer, termasuk karya fotografi modern dan tradisional. Tropenmuseum dimiliki dan dijalankan oleh Institut Tropis Kerajaan (Koninklijk Instituut voor de Tropen), sebuah yayasan yang mensponsori penelitian tentang budaya tropis di seluruh dunia. Museum ini memiliki 176.000 pengunjung pada tahun 2009.[2]
Sekretaris Masyarakat untuk Promosi Industri (Maatschappij ter bevordering van Nijverheid) yang bernama Frederik van Eeden mendirikan Museum Kolonial (Koloniaal Museum) di Haarlem pada tahun 1864.[3] Museum Kolonial kemudian dibuka kepada publik pada tahun 1871.[1] Museum ini didirikan untuk menunjukkan kepemilikan Belanda di luar negeri dan penduduknya seperti Indonesia. Pada tahun 1871 lembaga tersebut mulai melakukan penelitian untuk meningkatkan keuntungan yang didapatkan dari tanah-tanah koloni. Kegiatan tersebut dilakukan antara lain untuk mengembangkan sarana peningkatan produksi biji kopi, rotan, dan parafin. Museum ini berada di bawah pengaruh para etnolog, yang memfokuskan informasi tentang ekonomi, tata krama, dan adat istiadat penduduk. Pada tahun 1926, museum pindah ke Amsterdam, menempati gedung yang hingga sekarang masih digunakan. Pada saat itu museum memiliki 30.000 benda dan sejumlah besar koleksi foto.[1]
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, ruang lingkup museum berubah dari koloni Belanda ke banyak wilayah kolonial di Amerika Selatan, Afrika, dan Asia. Pada tahun 1960 dan 1970-an Kementerian Luar Negeri Belanda mendorong museum untuk memperluas ruang lingkup pada isu-isu sosial seperti kemiskinan dan kelaparan. Pada awal 1970-an sebuah sayap baru untuk anak-anak telah ditambahkan. Sayap ini sekarang disebut Tropenmuseum Junior.[1]
Hingga Maret 2014, museum ini dimiliki dan dioperasikan oleh Institut Tropis Kerajaan, sebuah yayasan yang mensponsori studi budaya tropis di seluruh dunia. Museum ini dikunjungi oleh 317.572 pengunjung pada tahun 2022.[4]
Koleksi
Salah satu koleksi, model kereta kuda dari cengkih.
Koleksi fotografi terutama terdiri dari foto-foto sejarah dari koloni Belanda yang berasal dari tahun 1855 hingga 1940. Tropenmuseum telah merilis sejumlah besar foto di bawah lisensi Creative Commons ke Wikimedia Commons.[6][7]
Sebuah koleksi teater juga disimpan di Wereldmuseum Amsterdam. Koleksi ini mencakup 5.500 instrumen musik serta berbagai objek teater lainnya seperti topeng dan boneka. Museum ini juga memiliki 21.000 artefak tekstil, yang sebagian besar berasal dari Indonesia. Tropenmuseum Junior merupakan sub-museum yang menampilkan pameran interaktif dan menarik sekitar 30.000 anak setiap tahunnya.[1]
↑Bodenstein, Felicity (April 2011). "National museums in the Netherlands"(PDF). Conference proceedings from EuNaMus, European National Museums: Identity Politics, the Uses of the Past and the European Citizen. Linköping University Electronic Press: 608.