Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang atau yang memiliki nama lengkap I Mangangada’-cina I Daeng I Ba’le Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud, Tuammenanga ri Bontobiraeng. Ia merupakan putra dari Raja Tallo VII Karaeng Matowaya.[3] Ia terkenal karena minatnya terhadap ilmu pengetahuan yang diceritakan telah membaca seluruh sejarah raja-raja Eropa. Ia selalu membawa buku-buku, khususnya yang berhubungan dengan matematika, yang sangat Ia kuasai. Ia juga tertarik dengan seluruh aspek ilmu pengetahuan sehingga Ia mengerjakannya siang dan malam. Mendengarnya berbicara tanpa melihatnya, orang akan menyangka Ia seorang Portugis karena lancar berbahasa orang-orang di Lisbon.[4]
Museum Karaeng Pattingalloang digunakan sebagai tempat penyimpanan peninggalan bersejarah milik Kesultanan Gowa. Koleksi ini kemudian dimanfaatkan lagi untuk melakukan penelitian tentang penyebaran Islam di wilayah Kesultanan Gowa. Penelitian ini terutama berkaitan dengan Benteng Somba Opu yang menjadi pusat pemerintahan dan pusat perdagangan Kesultanan Gowa di kawasan Indonesia Timur selama abad ke-16 hingga ke-17 Masehi.[5]
Tata Pamer
Interior Museum Karaeng Pattingalloang
Sejak tahun 1992, pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan, pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Koleksi dalam museum merupakan hasil ekskavasi dari Benteng Somba Opu.[6]
Bentuk museum ini adalah rumah panggung dengan model rumah controleur Belanda di Bone. Pendesainnya adalah Ananto Yudono dari Universitas Hasanuddin. Museum ini memiliki dua lantai. Lantai atas digunakan sebagai tempat pameran tetap dengan beragam koleksi. Lantai bawah digunakan sebagai tempat memperoleh informasi mengenai koleksi yang ada di lantai atas. Selain itu, di lantai bawah terdapat beberapa koleksi peralatan makan, keramik, batu bata, lukisan, alat musik tradisional, dan mata tombak. Bagian luar museum juga terdapat meriam besi, berbentuk bulat panjang dengan warna cokelat kehitaman.[7]
Penyampaian informasi dalam Museum Karaeng Pattingalloang dimulai dengan pengantar mengenai keistimewaan Karaeng Pattingalloang dan penjelasan tentang tema pameran. Setelah itu, diberikan informasi mengenai Kareang Pattingalloang sebagai negarawan dan sejarahnya hingga mampu menjadi perdana menteri. Informasi dilanjutkan dengan minat Kareang Pattingaloang terhadap ilmu pengetahuan, seperti pemesanan bola dunia, peta dunia, teleskop, dan atlas oleh Karaeng Pattingalloang. Kemudian dijelaskan tentang keahliannya dalam menguasai berbagai bahasa dan melakukan diplomasi.
Informasi berikutnya tentang Karaeng Pattingalloang sebagai saudagar yang yang berdagang untuk Kesultanan Gowa dan Kerajaan Tallo. Selain itu, juga diberikan informasi tentang usahanya dalam mengembangkan Somba Opu sebagai pusat perdagangan. Sesi terakhir berupa akhir hayat dari Karaeng Pattingalloang. Sesi ini menjelaskan kegiatannya yaitu menerjemahkan berbagai risalah bangsa Eropa, pemesanan perahu Galley dan atlas Maior Blaeu. Selain itu, sesi ini memberikan informasi tentang pesan terakhir dari Karaeng Pattingalloang sebelum wafat.[8]
Koleksi
Batu Bata yang Bermotif Bunga Parenreng
Batu bata
Dalam Museum Karaeng Pattingalloang terdapat 14 batu bata polos dengan ukuran yang beragam. Panjangnya berkisar antara 23-31 cm dengan lebar antara 13-18,5cm dan tebalnya antara 2,5–5cm. Batu bata ini diperoleh dari hasil ekskavasi Benteng Somba Opu dan digunakan sebagai media pembelajaran bagi masyarakat terhadap warisan budaya dan identitasbangsa.[9]
Batu Bata Bermotif Bunga Parenrengi
Pola tumbuhan dalam seni hias Bugis digambarkan dalam bentuk bunga yang terbuka. Bunga atau pohon dianggap sebagai simbol pohon hidup yang menguasai dunia, seperti yang terlihat pada beberapa suku di Indonesia.[butuh rujukan] Dalam kosmologi Bugis, motif bunga ini disebut dengan Bunga Palenren yang artinya bunga yang menarik. Bentuk motif berarti aliran yang tak berujung, seperti hamparan bunga Palenlen. Selain itu, bunga Palenlen merupakan simbol kesuburan dan kemakmuran. Kemunculan motif hias bunga Palenlen yang diyakini mempunyai pengaruh Hindu dalam seni hias Bugis merupakan “penyimpangan” dari banyak motif hias yang terdapat pada rumah-rumah Bugis. Hal ini dikarenakan menurut pendapat para ahli, bahwa pengaruh agama Hindu di Sulawesi Selatan jauh lebih kecil dibandingkan di Pulau Jawa dan Bali.[10]
Galeri
Tanda ucapan selamat datang di Museum Karaeng Pattingalloang menggunakan aksara Lontara
Contoh koleksi buku di perpustakaan mini Museum Karaeng Pattingalloang
Papan informasi mengenai nama-nama bulan di Sulawesi Selatan
Koleksi serpihan batu bata bersejarah di Museum Karaeng Pattingalloang
Lukisan terbalik koleksi Museum Karaeng Pattingalloang yang dipajang di langit-langit.
Batu bata yang terbuat dari tanah liat bakar yang bermotif tapak kaki hewan
Keramik yang berbahan porselin yang berwarna biru kombinasi putih
Peluru Meriam yang diperoleh dari hasil ekskavasi dari Benteng Rotterdam
Batu bata yang mempunyai motif cap tangan yang diperoleh dari hasil ekskavasi Benteng Somba Opu
Serpihan batu bata dengan tulisan kuno di Museum Karaeng Pattingalloang
↑Rusmiyati; etal. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid II(PDF). Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm.378. ISBN978-979-8250-67-5.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)