Arsitektur
Masjid ini unik karena dibangun dari kayu seluruhnya. Bentuk atapnya khas masjid-masjid kuno di Nusantara yakni serupa meru bersusun, dalam hal ini berbentuk atap tumpang limas bersusun tiga yang semakin ke atas semakin runcing. Atap ini melambangkan susunan pemerintahan dusun Pondok Tinggi, yang diibaratkan, dalam bahasa Kerinci, bapucouk satau, barampek jure, batingkat tigea. Berpucuk satu, yakni satu kepala adat yaitu Depati Payung nan Sakaki, satu kepala syarak dan berlambang Allah SWT. Berempat jurai, empat sudut, yakni empat luhah (lurah) dan empat Rio (ninik mamak). Bertingkat tiga menggambarkan sko nan tiga takah: sko taganai, sko ninik mamak, sko depati.[3]
Pada bagian dalamnya, masjid ini ditopang oleh 36 tiang yang terbagi atas tiga kelompok, yakni:[3]
- Tian panjan sambilea (tiang panjang sembilan) yang berjumlah 4 buah. Disebut demikian karena tiang-tiang ini memiliki panjang 9 depa atau kira-kira 15 m. Tiang ini adalah soko guru, atau dalam bahasa setempat disebut juga tian tuao (tiang tua).
- Tian panjan limao (tiang panjang lima) yang berjumlah 8 buah. Tiang-tiang ini memiliki panjang 5 depa (lk. 8 m) dan terletak di sebelah luar soko guru, melambangkan "pucuk larangan yang delapan" atau delapan larangan sosial setempat yang memiliki hukuman adat yang berat.
- Tian panjan duea (tiang panjang dua), yang memiliki panjang 2 depa (lk. 3,4 m) dan semula berjumlah 24 buah. Tiang-tiang ini terletak di tepi dekat dinding masjid, dan kini berkurang sebuah karena dilepas untuk memberi tempat bagi ruang pengimaman.
Seluruh tiang-tiang, dinding, pintu, penopang atap, dan alang (konstruksi melintang penopang tiang) terbuat dari kayu berukir. Ragam hias ukiran berdasarkan budaya lokal, dengan ukir-ukiran yang menggambarkan bunga teratai, daun, makara, dan lain-lain.[3]
Masjid ini tidak memiliki menara. Akan tetapi di bagian dalam masjid terdapat panggung tinggi di bawah atap, tempat azan dikumandangkan.