Lycium chinense merupakan salah satu dari dua spesies semak garkad yang termasuk dalam keluarga Solanaceae. Bersama dengan Lycium barbarum, tanaman ini menghasilkan buah keci atau wolfberry. Terdapat dua varietas yang diakui, yakni L. chinense var. chinense dan L. chinense var. potaninii.[3] Dalam bahasa Inggris, tanaman ini juga dikenal dengan sebutan Chinese wolfberry,[4] atau Chinese desert-thorn.[5]
Deskripsi
Spesies ini merupakan semak kayu gugur yang dapat tumbuh setinggi 1–3 meter, sedikit lebih pendek dibandingkan Lycium barbarum. Batangnya sangat bercabang, berwarna abu-abu pucat, dengan cabang ramping yang melengkung atau menjuntai, serta memiliki duri berukuran 0,5–2 sentimeter. Daun Lycium chinense muncul pada pucuk secara tunggal atau dalam kelompok dua hingga empat, tersusun berselang-seling. Bentuknya bervariasi, mulai dari bulat telur, rombik, lanset, hingga linier-lanset, dengan ukuran umumnya 1,5–5cm panjang dan 0,5–2,5cm lebar, meskipun pada tanaman budidaya dapat mencapai panjang 10cm dan lebar 4cm.[3]
Bunganya tumbuh berkelompok satu hingga tiga di ketiak daun, bertangkai sepanjang 1–2cm. Kelopak berbentuk lonceng atau tabung, yang kemudian terbelah saat buah berkembang, dengan lobus segitiga kecil yang bertepi berbulu halus. Mahkota bunganya berwarna ungu muda atau lavender, berdiameter 9–14mm, memiliki lima atau enam lobus yang lebih panjang dari tabungnya dan bertepi berbulu pendek. Benang sari memiliki filamen yang panjangnya bervariasi, kadang sedikit lebih panjang atau lebih pendek dari mahkota, dengan cincin rambut halus di dekat pangkal tabung.[3]
Tanaman ini menghasilkan buah beri berwarna oranye kemerahan yang berbentuk bulat telur atau lonjong, berukuran 7–15mm panjang dan 5–8mm lebar, meski pada varietas budidaya dapat mencapai 22mm panjang dan 10mm lebar. Di dalamnya terdapat 10 hingga 60 biji kuning pipih berukuran 2,5–3mm dengan embrio melengkung. Buah Lycium chinense biasanya matang antara bulan Juli hingga Oktober di wilayah belahan bumi utara.[3]
Kandungan kimia
Komposisi buahnya serupa dengan L. barbarum, dengan polisakarida, karotenoid, dan flavonoid sebagai komponen utama. Rutin menjadi flavonoid yang paling menonjol, sementara zeaxanthin dipalmitat mendominasi karotenoid (49% dari fraksi karotenoid), diikuti beta-karoten, dua serebrosida, serta tiga turunan pirola sebagai senyawa lainnya. Puluhan metabolit sekunder telah berhasil diisolasi dari akar, kulit akar, dan daun, termasuk peptida siklik, alkaloid, dan flavonoid. Asam sitrat merupakan asam organik nonvolatil terbanyak di daun, diikuti oleh asam oksalat.[6]