Lokomotif uap ini terbuat dari bahan dasar besi yang berwarna hitam pekat yang mulai berkarat. Lokomotif ini tidak bisa gunakan lagi dan merupakan salah satu peninggalan sejarah yang penting sebagai bukti penjajahan Jepang di Indonesia.[3] Lokomotif Uap ini memiliki panjang 7,56 m, lebar 2,60 m, dan tinggi 3,03 m.[4]
Sejarah
Sejarah lokomotif uap ini berhubungan dengan pembangunan jalur kereta api Muaro Sijunjung-Pekanbaru yang sebagian besar menyusuri Sungai Batang Kuantan dan menembus hutan Sumatera.[4]Lokomotif ini mulanya direncanakan untuk mengangkut batubara dari Ombilin Sawahlunto ke Logas dan terus ke daerah sekitar Muaro dan Riau pada tahun 1942 sampai tahun 1945 pada saat kedudukan Jepang di Sumatera Barat dengan panjang jalur hampir 220 Km.[5] Pembangunan rel kereta api tersebut banyak memakan korban jiwa. Sekitar 80.000 dari 102.300 pekerja paksa (romusha) meninggal selama dan setelah membangun jalur KA itu.[6]Pada tahun 1980, lokomotif uap ini ditemukan warga Silukah saat pembuatan jalan darat dari Silokek ke Durian Gadang.[7]
Nama yang dimiringkan berarti merupakan cagar budaya peringkat provinsi di Indonesia. Nama yang tebal dan dimiringkan berarti merupakan cagar budaya peringkat nasional di Indonesia.