Rumah ini berfungsi sebagai pusat kendali pemerintahan dan juga menjadi tempatnya sidang kabinet berlangsung di bawah kepemimpinan Syafruddin Prawiranegara. Disinilah roda pemerintahan darurat dijalankan setelah pemimpin Republik Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, ditawan serta diasingkan oleh Belanda ke Bangka. Syafruddin Prawiranegara melaksanakan tugas menjadi pemimpin PDRI di rumah ini sekitar tiga setengah bulan lamanya.[3]
Rumah Jama memiliki sejuta makna dan kenangan untuk Bangsa Indonesia. Sebagai markas besar, rumah ini juga berfungsi sebagai lokasi percetakan uang Rupiah darurat dan berfungsi sebagai Istana Negara pada tahun 1949, saat Bidar Alam menjadi ibu kota darurat Indonesia.[3][2]
Arsitektur
Rumah ini berbentuk Rumah Gadang Minangkabau yang mempunyai atap gonjong sebanyak lima buah dan mempunyai bilik/ruang depan serta dilengkapi dengan dapur. Rumah gadang tersebut mempunyai lantai panggung setinggi sekitar 1 m dengan ukuran panjang 10 m dan lebar 7 m. Rumah gadang ini terbagi atas beberapa ruangan, yaitu ruang depan yang berukuran 3,2 m x 3,2 m dengan sebuah anak tangga berada di sisi kanan atau sisi selatan ruang depan. Ruang depan mempunyai jendela kaca sejumlah 8 buah berada di sisi kanan, kiri, dan depan. Ruang utama merupakan bagian terbesar dan terluas dengan ukuran panjang 10 m dan lebar 7 m. Ruangan tersebut membujur ke arah utara- selatan dengan tiga buah ruang berjajar. Ruang utama disangga oleh 16 buah tiang utama berdiameter 50 cm. Atap rumah terbuat dari bahan seng dengan jumlah gonjong 5 buah, 4 buah membujur utara-selatan, sedangkan yang satu berada di bagian ruang depan menghadap ke jalan.[2]
Perjalanan Menuju Bidar Alam
Sebelum tiba di Nagari Bidar Alam, Syafruddin Prawiranegara bersama para menteri kabinet dan pasukannya harus melakukan perjalanan gerilya yang panjang dan penuh rintangan. Menurut penuturan tetua masyarakat Bidar Alam, Hapison (pernyataan pada Agustus 2021), perjalanan dimulai dari Bukittinggi ke Halaban, tetapi keberadaan mereka selalu terdeteksi oleh Belanda.Perjalanan berlanjut ke Sumpur Kudus sampai ke Sungai Dareh (sekarang Dharmasraya). Karena situasi masih dirasa belum aman, rombongan akhirnya menyeberang ke daerah Abai Sangir sebelum akhirnya mencapai Nagari Bidar Alam yang dianggap lebih aman untuk mendirikan pemerintahan darurat.[3]
Kondisi Terkini dan Upaya Pelestarian
Seiring berjalannya waktu, kondisi fisik Rumah Jama telah mengalami penurunan. Saat ini, tidak banyak peninggalan sejarah asli yang tersisa di dalam rumah, hanya ada foto-foto menteri dari kabinet dari masa itu serta bekas tempat tidur Syafruddin Prawiranegara yang kondisinya mulai lapuk dan tersimpan di gudang. Rumah Jama sendiri juga telah menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat usia. Namun, pihak keluarga ahli waris pemilik rumah telah menyatakan kesediaan mereka untuk menghibahkan rumah tersebut kepada pemerintah. Harapannya, pemerintah dapat melakukan pemugaran dan konservasi agar Rumah Jama dapat dilestarikan dan difungsikan sebagai cagar sejarah yang penting bagi bangsa.Keberadaan Rumah Jama menjadi pengingat akan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan diharapkan dapat terus dikenang, khususnya pada momen-momen peringatan kemerdekaan.[3]