Korupsi di El SalvadorPresiden Nayib Bukele mendeklarasikan Perang Antikorupsi, 2023.
Korupsi di El Salvador merupakan masalah di semua tingkat pemerintahan, namun, menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Cid-Gallup pada bulan Februari 2023, hanya 4 persen warga Salvador yang meyakini korupsi sebagai masalah paling mendesak yang dihadapi negara tersebut.[1]
Skor El Salvador dalam Indeks Persepsi Korupsi 2024 versi Transparency International adalah 30 dari skala 0 ("sangat korup") hingga 100 ("sangat bersih"). Berdasarkan peringkat, El Salvador menempati posisi ke-130 dari 180 negara dalam indeks tersebut, di mana negara yang menempati peringkat pertama dianggap memiliki sektor publik paling jujur.[2] Sebagai perbandingan dengan skor regional di kawasan Amerika, skor tertinggi adalah 76, rata-ratanya 42, dan skor terendah 10.[3] Sementara itu, secara global, skor terbaik adalah 90 (peringkat 1), skor rata-rata 43, dan skor terburuk 8 (peringkat 180).[4]
Korupsi politik
Korupsi presiden
Pada 6 September 2014, mantan Presiden Francisco Flores Pérez (1999–2004) ditangkap atas tuduhan korupsi karena diduga menyalahgunakan dana sebesar 15 juta dolar AS selama masa jabatannya.[5] Pada Desember 2015, ia didakwa atas tuduhan penggelapan dan perolehan kekayaan secara tidak sah serta diperintahkan untuk diadili, tetapi ia meninggal dunia pada Januari 2016 sebelum persidangannya dimulai.[6] Pada tahun 2021, namanya muncul dalam Pandora Papers karena diduga menggunakan perusahaan di Panama dan Kepulauan Virgin Britania Raya untuk menyembunyikan dana.[7]
Pada 10 Februari 2016, mantan Presiden Mauricio Funes (2009–2014) diperintahkan oleh Mahkamah Agung untuk menjalani persidangan atas dugaan kekayaan ilegal setelah ia gagal membuktikan asal-usul dana sebesar 700.000 dolar AS dalam rekening pribadinya.[8] Ia dinyatakan bersalah atas perolehan kekayaan ilegal pada 28 November 2017 dan diperintahkan membayar 420.000 dolar AS.[9] Secara keseluruhan, Funes dituduh telah menggelapkan dana publik sebesar 351 juta dolar AS selama masa kepresidenannya.[10] Pada 23 Februari 2023, seorang hakim memerintahkan Funes untuk diadili atas dugaan pencucian uang sebesar 8,4 juta dolar AS melalui sebuah perusahaan di Guatemala.[11] Funes tetap berada dalam pengasingan di Nikaragua setelah diberi suaka pada September 2016.[12]
Pada Oktober 2016, mantan Presiden Antonio Saca (2004–2009) ditangkap atas tuduhan korupsi. Pada 12 September 2018, ia dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun setelah mengaku bersalah atas penggelapan dan pencucian dana publik sebesar 300 juta dolar AS selama masa jabatannya. Ia diperintahkan membayar sebesar 260 juta dolar AS.[13] Pada 19 September 2019, ia dijatuhi tambahan hukuman dua tahun penjara karena berupaya menyuap seorang pejabat pengadilan dengan 10.000 dolar AS untuk memperoleh informasi terkait kasus korupsi awal yang menjeratnya.[14] Pada 5 Januari 2021, ia dinyatakan bersalah atas perolehan kekayaan secara tidak sah dan diperintahkan membayar tambahan 4,4 juta dolar AS.[15]
Pada Mei 2021, Amerika Serikat menyebut lima anggota pemerintahan Presiden Nayib Bukele sebagai individu yang terlibat dalam praktik korupsi.[16]
Pada 22 Juli 2021, Jaksa Agung Rodolfo Delgado memerintahkan penangkapan mantan Presiden Salvador Sánchez Cerén (2014–2019) sebagai bagian dari penyelidikan kasus korupsi. Ia didakwa atas tuduhan penggelapan, pencucian uang, dan perolehan kekayaan secara ilegal selama masa kepresidenannya. Sánchez Cerén saat ini masih berada dalam pengasingan di Nikaragua.[17]
Pada Oktober 2021, mantan Presiden Alfredo Cristiani (1989–1994) disebut dalam Pandora Papers karena diduga menggunakan perusahaan di Panama dan Kepulauan Virgin Britania Raya untuk menyembunyikan dana.[7] Pada Juni 2023, properti milik Cristiani digeledah dan disita oleh kantor kejaksaan sebagai bagian dari “perang melawan korupsi”.[18]
Pemerintahan Funes mengatur gencatan senjata antara pemerintah dan geng-geng kriminal untuk menurunkan tingkat kejahatan di negara tersebut pada periode 2012 hingga 2014. Funes membantah pernah memberikan "keistimewaan" kepada geng selama masa gencatan senjata tersebut.[21]
Pada 23 Juli 2020, David Munguía Payés, mantan Menteri Pertahanan Nasional (2009–2011, 2013–2019), ditangkap atas dugaan negosiasi dengan geng untuk menurunkan tingkat kejahatan.[22]
Pada September 2020, situs berita El Faro menuduh Presiden Bukele telah secara diam-diam bernegosiasi dengan geng kriminal untuk menurunkan angka pembunuhan di negara itu dengan imbalan perbaikan kondisi di dalam penjara. Bukele membantah tuduhan tersebut dan justru meluncurkan penyelidikan terhadap El Faro atas dugaan pencucian uang.[23] Pada Desember 2022, Departemen Keuangan Amerika Serikat juga menuduh Bukele telah melakukan negosiasi dengan geng untuk menurunkan angka pembunuhan, yang kembali dibantah olehnya.[24]
Pada 4 Juni 2021, Ernesto Muyshondt, mantan wali kota San Salvador (2018–2021), ditangkap karena diduga melakukan penipuan pemilu dan negosiasi ilegal dengan geng kriminal untuk memperoleh suara bagi ARENA dalam pemilihan presiden 2014.[25][26] Pada 11 November 2022, Norman Quijano, mantan wali kota San Salvador (2012–2015), diperintahkan untuk menjalani persidangan atas dugaan menawarkan keuntungan kepada geng sebagai imbalan atas dukungan mereka dalam kampanye presidennya pada tahun 2014.[27]
Kasus lainnya
Pada Oktober 2021, dua anggota Majelis Legislatif, José Ilofio García Torres dan Gerardo Balmore Aguilar Soriano, dituduh melakukan “konspirasi terhadap institusi politik” karena diduga menerima suap berupa “keistimewaan” seperti kewarganegaraan Amerika Serikat dari Kedutaan Besar AS di San Salvador. Dugaan ini menyatakan bahwa tujuan pemberian suap tersebut adalah untuk memecah 15 hingga 25 anggota partai Nuevas Ideas agar menentang agenda politik Presiden Bukele.[28][29] Kedutaan Besar Amerika Serikat membantah tuduhan tersebut.[30]
Pada Februari 2023, José Ilofio García Torres dijatuhi hukuman tiga tahun penjara atas kasus korupsi.[31]
Upaya antikorupsi
Pada 6 September 2019, Presiden Bukele mengumumkan pembentukan Komisi Internasional Melawan Impunitas di El Salvador (CICIES) sebagai upaya bersama dengan Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) untuk memerangi korupsi, perdagangan narkoba, dan kejahatan kerah putih di negara tersebut. CICIES dirancang untuk bekerja sama dengan unit antikorupsi dari Kepolisian Sipil Nasional (PNC).[32]
Namun, CICIES dibubarkan pada 4 Juni 2021 oleh pemerintah El Salvador sebagai bentuk protes atas keputusan OAS yang menunjuk Ernesto Muyshondt sebagai penasihat antikorupsi.[33]