ENSIKLOPEDIA
Kontroversi vaksin MMR
Klaim mengenai adanya hubungan antara vaksin gabungan campak, beguk, dan rubela (MMR) dan autisme telah diteliti secara luas dan ditemukan sebagai hal yang tidak benar.[1] Hubungan ini pertama kali diajukan pada awal tahun 1990-an dan mendapat perhatian publik sebagian besar akibat penipuan studi MMR-autisme di Lancet pada tahun 1998, yang digambarkan sebagai "mungkin kebohongan medis paling merusak dalam 100 tahun terakhir".[2] Artikel penelitian palsu tersebut, yang ditulis oleh Andrew Wakefield dan diterbitkan di The Lancet, secara tidak tepat menyatakan bahwa vaksin MMR berkaitan dengan kolitis dan gangguan spektrum autisme. Artikel ini ditarik dari peredaran pada tahun 2010[3] namun masih tetap dikutip oleh para aktivis antivaksin.[4]
Klaim dalam artikel tersebut dilaporkan secara luas di media massa,[5] sehingga menyebabkan penurunan tajam tingkat vaksinasi di Britania Raya dan Irlandia. Penyebaran klaim tersebut, yang tetap berlanjut dalam propaganda antivaksin meskipun sudah dibantah,[6][7] telah menyebabkan peningkatan insidensi campak dan beguk, yang mengakibatkan kematian dan cedera permanen yang berat.[8][9] Setelah klaim awal tahun 1998 tersebut, dilakukan berbagai penelitian epidemiologi berskala besar. Tinjauan bukti oleh Centers for Disease Control and Prevention,[10] American Academy of Pediatrics, Institute of Medicine dari US National Academy of Sciences,[11] National Health Service,[12] dan Cochrane Library[1][13] semuanya tidak menemukan adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme.[14] Para dokter, pihak jurnal medis, dan penyunting jurnal [15][16][17][18][19] menggambarkan tindakan Wakefield sebagai penipuan dan mengaitkannya dengan terjadinya epidemi dan kematian akibat campak.[20][21]
Penyelidikan oleh jurnalis Brian Deer menemukan bahwa Andrew Wakefield, penulis artikel penelitian yang menghubungkan vaksin dengan autisme, memiliki berbagai konflik kepentingan yang tidak diungkapkan,[22][23] telah memanipulasi bukti,[24] serta melanggar sejumlah kode etik lainnya. Artikel di jurnal Lancet tersebut ditarik sebagian pada tahun 2004 dan ditarik sepenuhnya pada tahun 2010, ketika pemimpin redaksi Lancet, Richard Horton, menilai artikel tersebut "sepenuhnya palsu" dan menyatakan bahwa pihak jurnal telah ditipu.[25] Wakefield dinyatakan bersalah oleh General Medical Council atas pelanggaran profesional berat pada Mei 2010 dan ia dicoret dari daftar registrasi medis, yang berarti ia tidak lagi dapat berpraktik sebagai dokter di Britania Raya.[26] Pada Januari 2011, Deer menerbitkan serangkaian laporan di British Medical Journal,[27][28][29] yang dalam bagian editorialnya, mencantumkan pernyataan tentang sang jurnalis: "Dibutuhkan skeptisisme yang teguh dari satu orang, yang berdiri di luar dunia kedokteran dan sains, untuk menunjukkan bahwa artikel tersebut pada kenyataannya merupakan sebuah penipuan. yang terorganisir"[30][31] Konsensus ilmiah menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme, dan manfaat vaksin tersebut jauh lebih besar dibandingkan potensi risikonya.
Latar belakang
Kampanye revaksinasi
Menyusul wabah campak di Inggris pada tahun 1992 serta berdasarkan analisis data seroepidemiologi yang dikombinasikan dengan model matematika, otoritas kesehatan Britania Raya memprediksi akan terjadi kebangkitan besar kasus campak pada anak-anak usia sekolah. Saat itu, mereka mempertimbangkan dua strategi: memvaksin semua anak tanpa riwayat vaksinasi campak atau mengimunisasi semua anak tanpa memandang riwayat vaksinasinya.[32] Pada November 1994, opsi terakhir dipilih dan kampanye vaksinasi campak dan rubela nasional pun diluncurkan. Kampanye ini disebut-sebut sebagai "salah satu inisiatif vaksinasi paling ambisius yang pernah dilakukan di Britania".[33] Dalam kurun satu bulan, 92% dari 7,1 juta anak sekolah di Inggris usia 5–16 tahun menerima vaksin campak dan rubela (MR).[34]
Gugatan atas MMR
Pada April 1994, Richard Barr,[35] seorang pengacara, berhasil mendapat bantuan hukum untuk mengajukan gugatan publik terhadap produsen vaksin MMR atas dasar Undang-Undang Perlindungan Konsumen Britania Raya tahun 1987. Gugatan ini ditujukan kepada Aventis Pasteur, GSK plc, dan Merck, masing-masing adalah produsen Immravax, Pluserix-MMR, dan MMR II.[36][37] Gugatan ini didasarkan pada klaim bahwa MMR adalah produk cacat dan tidak sepantasnya digunakan. Ini merupakan gugatan publik besar pertama yang didanai oleh Legal Aid Board (kelak berganti nama menjadi Legal Services Commission dan selanjutnya digantikan oleh Legal Aid Agency) sejak pembentukannya pada tahun 1988. Setelah melihat dua artikel publikasi Andrew Wakefield yang membahas peran virus campak dalam penyakit Crohn dan penyakit radang usus,[38][39] Barr menghubungi Wakefield untuk meminta pendapatnya sesuai keahliannya. Menurut para pendukung Wakefield, Barr dan Wakefield bertemu untuk pertama kali pada 6 Januari 1996.[40] Legal Services Commission menghentikan proses hukum tersebut pada September 2003 atas dasar tingginya kemungkinan gugatan tidak dikabulkan berdasarkan bukti medis yang tersedia. Hal ini mengakhiri kasus pertama pendanaan penelitian oleh LSC.[41]
Artikel The Lancet 1998
Pada 28 Februari 1998, artikel berjudul "Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children" yang ditulis oleh sekelompok peneliti yang dipimpin Andrew Wakefield terbit di The Lancet. Investigasi yang dilakukan oleh jurnalis Brian Deer menemukan bahwa Wakefield memiliki berbagai konflik kepentingan yang tidak ia ungkapkan,[22][23] telah memalsukan bukti penelitian,[24] dan telah melanggar berbagai kode etik. Berdasarkan temuan Deer, Peter N. Steinmetz merangkum adanya enam bentuk fabrikasi dan pemalsuan dalam artikel tersebut maupun dalam tanggapan Wakefield, pada aspek temuan terkait kolitis nonspesifik; gejala perubahan perilaku; temuan autisme regresif; pernyataan persetujuan etik; pernyataan konflik kepentingan; serta metode rujukan pasien.[42] Artikel dalam The Lancet tersebut ditarik sebagian pada tahun 2004 dan ditarik sepenuhnya pada tahun 2010, ketika pemimpin redaksi The Lancet, Richard Horton, menyebut artikel ini sebagai "sepenuhnya tidak benar" dan mengatakan bahwa pihak jurnal telah ditipu.[25] Wakefield dinyatakan bersalah atas pelanggaran profesional serius oleh General Medical Council pada Mei 2010, dan namanya dicoret dari daftar registrasi medis, sehingga ia tidak diizinkan untuk berpraktik sebagai dokter di Britania Raya.[26] Pada tahun 2011, Deer memberikan informasi tambahan mengenai praktik penelitian Wakefield yang tidak semestinya ke British Medical Journal, yang dalam bagian editorialnya, menggambarkan artikel Wakefield sebagai sebuah penipuan.[30][31]
Konsensus ilmiah menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara vaksin MMR dan autisme, dan manfaat vaksin jauh lebih besar dibandingkan risiko dari pemberian vaksin. Namun, pada saat para peneliti berhasil membuktikan bahwa narasi Wakefield itu keliru, narasi tersebut telah terlanjur menjadi bagian dari pemahaman masyarakat umum tentang autisme.[43][44] Narasi keliru tersebut mudah dipahami dan tampaknya sejalan dengan bukti anekdotal mengenai anak-anak yang didiagnosis autisme tidak lama setelah menerima vaksinasi.[45]
Saat artikel tersebut ditarik, seluruh penulis artikel selain Wakefield meminta agar nama mereka dihapus dari publikasi.[46]
Pada Januari 2011, Fiona Godlee, editor The BMJ, mengatakan:[16]
Artikel asli tersebut telah menerima perhatian media yang sangat besar sehingga berpotensi signifikan untuk merusak kesehatan masyarakat, dan tidak ada duanya sepanjang sejarah ilmu kedokteran. Banyak penipuan medis lain yang telah terungkap sebelumnya, tetapi biasanya tidak lama setelah artikel diterbitkan dan itu pun berkaitan dengan isu kesehatan yang tidak terlalu penting.
Peran media
Para pengamat mengkritik keterlibatan media massa dalam kontroversi ini, yang dikenal dengan istilah 'sains melalui konferensi pers'.[47] Mereka menuduh media memberi kredibilitas berlebihan terhadap penelitian Wakefield. Sebuah artikel oleh Shona Hilton, Mark Petticrew, dan Kate Hunt, yang terbit pada Maret 2007 di BMC Public Health, menyatakan bahwa pemberitaan media mengenai penelitian Wakefield telah "menciptakan kesan keliru bahwa bukti yang mendukung adanya hubungan dengan autisme sama kuatnya dengan bukti yang menentangnya", melalui upaya untuk menghadirkan "pemberitaan yang berimbang".[48] Artikel sebelumnya dalam Communication in Medicine dan British Medical Journal menyimpulkan bahwa pemberitaan media memberi gambaran yang menyesatkan mengenai tingkat dukungan terhadap hipotesis Wakefield.[49][50][51]
Sebuah editorial dalam Australian Doctor pada tahun 2007 mengeluhkan bahwa sejumlah jurnalis masih terus membela penelitian Wakefield bahkan setelah The Lancet menerbitkan pencabutan artikel oleh 10 dari 12 penulis asli artikel penelitian tersebut. Namun, editorial itu juga mengakui bahwa seorang jurnalis investigasi, Brian Deer, memainkan peran utama dalam mengungkap kelemahan yang terdapat di dalam penelitian tersebut.[52] PRWeek menulis bahwa setelah Wakefield dicoret dari daftar registrasi medis karena pelanggaran profesional pada Mei 2010, 62% responden jajak pendapat terkait kontroversi MMR menyatakan bahwa mereka merasa media tidak melakukan peliputan yang bertanggung jawab pada isu kesehatan.[53]
Sebuah artikel dalam New England Journal of Medicine yang menelaah sejarah aktivis antivaksin menyebutkan bahwa penolakan terhadap vaksin sudah ada sejak abad ke-19, tetapi "kini, media pilihan para antivaksin biasanaya adalah televisi dan Internet, termasuk laman media sosialnya, yang dipakai untuk memengaruhi opini publik dan mengalihkan perhatian dari bukti ilmiah".[20] Editorial tersebut menggambarkan para aktivis antivaksin sebagai orang-orang yang "cenderung memiliki ketidakpercayaan penuh terhadap pemerintah dan produsen, pola pikir konspiratif, penyangkalan, kompleksitas pola pikir kognitif yang rendah, kekeliruan dalam penalaran, serta kebiasaan mengganti data dengan anekdot emosional". Mereka mencakup orang-orang yang "tidak mampu memahami dan memadukan konsep risiko dan peluang ke dalam pengambilan keputusan berbasis sains" sampai orang-orang yang "menggunakan kebohongan yang disengaja, intimidasi, data palsu, serta ancaman kekerasan".[20]
Di sebuah editorial dalam The American Spectator pada Januari 2011, Robert M. Goldberg berpendapat bahwa bukti dari komunitas ilmiah mengenai masalah dalam penelitian Wakefield "terabaikan karena media membiarkan Wakefield dan para pengikutnya untuk mendiskreditkan temuan para ilmuwan hanya dengan pernyataan mereka sendiri saja".[54]
Seth Mnookin, penulis The Panic Virus, juga menyalahkan media sebagian karena memaparkan keseimbangan palsu antara bukti ilmiah dan pengalaman pribadi: "Liputan berita sudah jatuh ke dalam kekeliruan 'di satu sisi, di sisi lain', artinya apabila ada dua pihak yang tidak sepakat, maka keduanya harus disajikan dengan bobot yang sama."[55]
Kekhawatiran juga disampaikan terhadap sistem penelaahan sejawat jurnal yang sebagian besar bergantung pada kepercayaan antarpeneliti,[15] serta terhadap peran jurnalis dalam melaporkan teori ilmiah karena “mereka tidak berada dalam posisi untuk mempertanyakan dan mendalami teori tersebut”.[18] Neil Cameron, sejarawan yang mengkhususkan diri dalam bidang sejarah sains, menulis di Montreal Gazette bahwa kontroversi ini adalah "kegagalan jurnalisme" yang mengakibatkan kematian yang seharusnya dapat dihindari. Ia menyatakan bahwa: 1) The Lancet seharusnya tidak menerbitkan penelitian yang didasarkan pada "hasil yang secara statistik tidak bermakna" dari hanya 12 kasus; 2) kampanye antivaksin dilanjutkan oleh majalah satir Private Eye; dan 3) penyebaran gosip di kalangan para orang tua yang khawatir dan keterlibatan selebritas yang "goblok" ikut memperkuat ketakutan masyarakat.[56] The Gazette juga melaporkan:[57]
Tidak ada jaminan bahwa pembuktian atas kekeliruan penelitian [Wakefield] tersebut akan mengubah pikiran semua orang tua. Para pakar medis harus bekerja keras untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh apa yang tampaknya merupakan seorang peneliti medis yang menyimpang, yang karyanya tidak ditelaah secara memadai oleh sebuah jurnal internasional terkemuka.
Epidemiologi awam
Epidemiologi awam (folk epidemiology) merujuk pada kepercayaan populer tentang asal-muasal autisme.[43] Tanpa pengetahuan memadai tentang autisme, yang merupakan sebuah gangguan yang kompleks, masyarakat umum mudah dipengaruhi oleh rumor-rumor dan informasi keliru yang disebarkan melalui media massa serta ditampilkan di media sosial dan internet.[43][58]
Kepercayaan yang keliru ini tetap bertahan bahkan ketika dibantah oleh bukti ilmiah.[58][59] Epidemiologi awam bertahan karena orang-orang mencari, menerima, dan lebih memilih untuk memercayai informasi yang sesuai dengan pandangan yang sudah yang mereka miliki;[58] salah menilai tingkat kepercayaan sumber informasi yang mereka peroleh, dan disesatkan oleh bukti anekdotal.[43][59] Mereka juga cenderung tidak mau merevisi pendapat mereka bahkan ketika sumber informasi awal mereka terbukti salah.[58]
Sebuah laporan yang terbit di Ars Technica pada Juni 2024 mendiskusikan penelitian terbaru mengenai kepercayaan populer tentang vaksin dan autisme di AS, yang mendapati kurangnya kesadaran akan sikap tegas CDC yang menyatakan vaksin bukanlah penyebab autisme. Artikel ini mengutip hasil survei April 2024, yang menyatakan bahwa "24 persen orang dewasa di AS menyangkal atau meragukan bahwa CDC pernah menyatakan hal tersebut", sebuah hasil yang relatif tidak berubah sejak tahun 2018. Laporan itu juga melaporkan bahwa sejumlah kecil warga Amerika, walaupun dalam jumlah yang tidak bisa diabaikan pula, percaya bahwa vaksin pasti atau mungkin menyebabkan autisme (meningkat dari 9% pada tahun 2021 menjadi 10% pada tahun 2023).[60] Penelitian ini sebagian besar berasal dari hasil survei yang dilakukan oleh Annenberg Public Policy Center.[61]
Gugatan hukum
Sepanjang tahun 1980-an dan 1990-an, sejumlah gugatan diajukan terhadap para produsen vaksin, dengan tuduhan bahwa vaksin menyebabkan gangguan jiwa dan fisik pada anak-anak. Meskipun gagal dikabulkan, gugatan-gugatan ini menyebabkan kenaikan besar biaya vaksin MMR, dan para perusahaan farmasi pun mencari perlindungan legislatif. Pada tahun 1993, Merck KGaA menjadi satu-satunya perusahaan yang bersedia menjual vaksin MMR di Amerika Serikat dan Britania Raya.
Italia
Pada Juni 2012, sebuah pengadilan lokal di Rimini, Italia, memutuskan bahwa vaksinasi MMR menyebabkan autisme pada seorang anak laki-laki berusia 15 bulan. Pengadilan tersebut sangat bergantung pada artikel Lancet yang sudah dicabut dan mengabaikan bukti ilmiah yang diajukan dalam proses persidangan. Kemudian, diajukan banding atas putusan ini.[62] Pada 13 Februari 2015, putusan tersebut dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi di Bologna.[63]
Jepang
Kepanikan terhadap vaksin MMR menyebabkan penurunan persentase vaksinasi beguk (kurang dari 30%), sehingga memicu terjadinya wabah di Jepang.[64] Terdapat 2.002 korban jiwa akibat campak di Jepang dan tidak ada korban di Britania Raya, tetapi kematian tambahan tersebut dikaitkan dengan penerapan vaksin di Jepang pada usia yang lebih lanjut. Juru bicara Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa penghentian vaksinasi tidak berpengaruh pada kasus campak, tetapi juga menyatakan bahwa terdapat lebih banyak korban jiwa akibat campak saat vaksin MMR masih digunakan.[65] Pada tahun 1994, pemerintah menghapus kewajiban vaksinasi campak dan rubela akibat kepanikan atas vaksin MMR tahun 1993.[66]: 2 Jepang kemudian dicap sebagai "eksportir campak" oleh Centers for Disease Control and Prevention AS.[66] Akibat lain dari kepanikan tersebut adalah pada tahun 2003, 7 juta anak sekolah belum menerima vaksin rubela.[67]
Jumlah kasus autisme terus meningkat di Jepang setelah vaksin MMR dihentikan. Hal ini menjadi bantahan adanya efek samping berskala besar dari vaksinasi,[68] serta menunjukkan bahwa penarikan vaksin MMR di negara lain kemungkinan tidak akan menurunkan jumlah kasus autisme.[69] Pemerintah Jepang tidak mengakui adanya hubungan apapun antara vaksin MMR dan autisme.[65] Hingga tahun 2003, Jepang masih mencoba menemukan vaksin kombinasi untuk menggantikan vaksin MMR.[70]
Belakangan ditemukan bahwa sejumlah vaksin disuntikkan setelah melewati tanggal kedaluwarsa, dan kewajiban vaksinasi MMR baru dicabut setelah terdapat kematian pada tiga anak serta lebih dari 2.000 laporan efek samping.[67] Per tahun 1993, Pemerintah Jepang telah membayar kompensasi sebesar $160.000 kepada keluarga masing-masing ketiga anak yang meninggal tersebut.[67] Orang tua lainnya tidak menerima kompensasi karena pemerintah menyatakan tidak ada buktinya vaksin MMR menyebabkan efek samping; mereka kemudian memutuskan untuk menggugat produsen vaksin alih-alih pemerintah.[67] Pada 13 Maret 2003, pengadilan distrik Osaka memutuskan bahwa kematian dua anak (di antara banyak kondisi serius lainnya) memang disebabkan oleh galur Urabe dari vaksin MMR di Jepang.[71][72] Pada tahun 2006, Pengadilan Tinggi Osaka dalam putusan lain menyatakan bahwa negara bertanggung jawab karena gagal mengawasi produsen vaksin campak-beguk-rubela yang menyebabkan efek samping berat pada anak-anak.[73]
Britania Raya
Gugatan terhadap MMR dimulai sebelum Peraturan Prosedur Sipil dirumuskan. Status gugatan kelompok ditetapkan berdasarkan arahan praktik Ketua Pengadilan saat itu pada tanggal 8 Juli 1999. Pada tanggal 8 Juni 2007, hakim Pengadilan Tinggi, Justice Keith, mengakhiri gugatan kelompok ini karena pencabutan bantuan hukum oleh komisi pelayanan hukum membuat sebagian besar proses terhadap perkara ini tidak dapat dilakukan. Ia memutuskan bahwa semua tuntutan terhadap perusahaan farmasi, kecuali dua tuntutan, harus dihentikan.[74] Hakim menekankan bahwa putusannya bukan berarti menolak klaim bahwa MMR telah menimbulkan sakit yang serius pada anak-anak yang bersangkutan.[75]
Sebuah kelompok penekan bernama JABS (Justice, Awareness, Basic Support) dibentuk untuk mewakili keluarga dengan anak-anak yang, menurut orang tua mereka, "sakit akibat vaksin". Dana bantuan hukum publik sebesar £15 juta dikeluarkan untuk gugatan hukum. £9,7 juta di antaranya digunakan untuk biaya pengacara dan £4,3 juta sisanya untuk saksi ahli.[76]
Amerika Serikat
Sidang Autisme Omnibus (OAP)[77] adalah sidang terkoordinasi di hadapan Office of Special Masters of the U.S. Court of Federal Claims—biasa disebut pengadilan vaksin. Sidang ini dirancang untuk memfasilitasi penanganan hampir 5.000 petisi vaksin yang melibatkan klaim bahwa anak yang menerima vaksin tertentu mengalami autisme. Petitioners' Steering Committee mengeklaim bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme, kemungkinan dalam kombinasi dengan vaksin yang mengandung thiomersal.[78] Pada tahun 2007, tiga kasus uji dipaparkan untuk menguji klaim tentang kombinasi vaksin tersebut; semuanya kalah. Pengadilan vaksin memutuskan menolak gugatan dalam tiga kasus tersebut dengan menyatakan bukti yang dipaparkan tidak membuktikan klaim mereka bahwa vaksinasi menyebabkan autisme pada pasien-pasien tertentu atau secara umum.[79]
Dalam sejumlah kasus, pengacara penggugat memilih untuk tidak menjalani Sidang Autisme Omnibus, yang khusus menangani autisme dan masalah terkait gangguan usus; mereka membawa kasusnya ke pengadilan vaksin biasa.
Pada tanggal 30 Juli 2007, keluarga Bailey Banks, anak yang mengalami keterlambatan perkembangan menyeluruh, memenangkan kasus melawan Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat Amerika Serikat.[80] Dalam perkara yang diklasifikasikan sebagai terkait dengan "keterlambatan perkembangan non-autistik", Special Master Richard B. Abell memutuskan bahwa Banks berhasil menunjukkan bahwa "vaksin MMR yang dipermasalahkan benar-benar menyebabkan kondisi yang diderita dan terus diderita Bailey". Dalam kesimpulannya, ia memutuskan bahwa ia percaya MMR terbukti menyebabkan peradangan otak yang disebut acute disseminated encephalomyelitis (ADEM). Ia mengeluarkan putusan ini atas dasar dua kasus vaksin tahun 1994 dan 2001, yang menyimpulkan bahwa "ADEM dapat disebabkan oleh infeksi alami campak, beguk, dan rubela serta vaksin campak, beguk, dan rubela."[81]
Dalam kasus-kasus lain, pengacara tidak mengeklaim bahwa vaksin menyebabkan autisme; mereka mengajukan tuntutan kompensasi untuk ensefalopati, ensefalitis, atau kejang-kejang.[82]
Penelitian
Jumlah kasus autisme yang dilaporkan meningkat tajam pada tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an. Peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh perubahan pada praktik diagnostik; tidak diketahui seberapa besar, jika ada, peningkatan kasus yang berasal dari perubahan nyata prevalensi autisme, dan tidak ada hubungan sebab-akibat dengan vaksin MMR yang terbukti.[83]
Pada tahun 2004, sebuah tinjauan meta yang didanai oleh Uni Eropa menilai bukti dari 120 penelitian lainnya dan mempertimbangkan efek samping yang tidak diinginkan dari vaksin MMR. Di tinjauan ini, disimpulkan bahwa meskipun vaksin tersebut terkait dengan efek samping positif dan negatif, "tidak mungkin" ada hubungan antara MMR dan autisme.[84] Pada tahun yang sama, terdapat sebuah publikasi artikel tinjauan yang menyimpulkan, "Bukti saat ini meyakinkan bahwa vaksin campak-beguk-rubela tidak menyebabkan autisme atau subtipe gangguan spektrum autisme apapun."[85] Sebuah tinjauan literatur tahun 2006 tentang vaksin dan autisme menemukan bahwa "tumpukan bukti menunjukkan tidak ada hubungan sebab-akibat antara vaksin MMR dan autisme."[86] Sebuah studi kasus tahun 2007 menggunakan data dalam surat Wakefield ke The Lancet tahun 1999 yang mengeklaim adanya hubungan sementara antara vaksinasi MMR dan autisme[87] guna menunjukkan bagaimana sebuah grafik dapat keliru dalam merepresentasikan data, dan memberi nasihat kepada para penulis dan penerbit artikel ilmiah untuk menghindari terjadinya kesalahan interpretasi serupa di masa depan.[88] Sebuah tinjauan tahun 2007 terhadap penelitian-penelitian independen yang dilakukan setelah publikasi artikel asli Wakefield et al. menemukan bahwa penelitian-penelitian tersebut memberikan bukti kuat yang menyangkal hipotesis bahwa MMR terkait dengan autisme.[89] Sebuah tinjauan terhadap penelitian yang dilakukan pada tahun 2004 untuk proses pengadilan di Britania Raya, namun baru diungkap pada tahun 2007, menemukan bahwa analisis reaksi berantai polimerase yang sifatnya esensial terhadap hasil penelitian Wakefield et al. memiliki cacat fatal akibat adanya kontaminasi, sehingga tidak mungkin mendeteksi keberadaan campak sebagaimana yang diklaim.[76] Tinjauan tahun 2009 mengenai hubungan antara vaksin dan autisme membahas kontroversi vaksin MMR sebagai satu dari tiga hipotesis utama yang gagal didukung penelitian epidemiologi dan biologis.[90]
Pada tahun 2012, Perpustakaan Cochrane menerbitkan sebuah tinjauan terhadap puluhan studi ilmiah yang melibatkan sekitar 14.700.000 anak-anak, yang tidak menemukan adanya bukti yang kredibel mengenai keterlibatan vaksin MMR dengan autisme ataupun penyakit Crohn. Artikel tersebut diperbarui pada tahun 2020[13] dan kembali diperbarui pada tahun 2021,[1] dengan para penulisnya menyatakan, "Kami telah mengamati adanya peningkatan kualitas desain dan pelaporan hasil keamanan vaksin MMR dan MMRV dalam beberapa tahun terakhir baik sebelum maupun setelah pemasaran."[13] Sebuah metaanalisis pada Juni 2014 yang melibatkan lebih dari 1,25 juta anak menemukan bahwa "vaksinasi tidak terkait dengan perkembangan autisme atau gangguan spektrum autisme. Selain itu, komponen vaksin (tiomersal atau merkuri) maupun pemberian beberapa vaksin (MMR) tidak terkait dengan perkembangan autisme atau gangguan spektrum autisme."[91] Pada Juli 2014, sebuah tinjauan sistematis menemukan "bukti kuat bahwa vaksin MMR tidak terkait dengan kasus autisme".[92] Pada bulan Maret 2019, sebuah penelitian berskala besar yang dilakukan oleh Statens Serum Institut, Denmark, yang mengikuti perjalanan penyakit 650.000 anak selama 10 tahun tidak menemukan adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme, bahkan pada anak-anak yang memiliki saudara dengan kondisi autisme.[93][94]
Wabah penyakit
Setelah kontroversi merebak, kepatuhan vaksinasi MMR di Britania Raya jatuh bebas dari 92% pada tahun 1996 menjadi 84% pada tahun 2002. Di sebagian wilayah London, persentasenya jatuh hingga 61% pada tahun 2003, jauh di bawah persentase yang diperlukan untuk mencegah wabah campak.[95] Per tahun 2006, vaksinasi MMR di Britania Raya pada usia 24 bulan mencapai 85%, lebih rendah daripada persentase vaksin-vaksin lain yaitu 94%.[8]
Setelah tingkat vaksinasi jatuh, jumlah kasus dua dari tiga penyakit yang memperoleh perlindungan dari vaksin MMR meningkat drastis di Britania Raya. Pada tahun 1998, terdapat 56 kasus campak yang terkonfirmasi di Britania Raya; pada tahun 2006, 449 kasus muncul pada lima bulan pertama tahun tersebut, termasuk kematian pertama sejak tahun 1992; semua kasus ini dialami oleh anak yang tidak menerima vaksin secara memadai.[96] Kasus beguk mulai meningkat pada tahun 1999 setelah beberapa tahun sebelumnya terjadi dengan jumlah yang sangat sedikit. Pada tahun 2005, Britania Raya mengalami wabah beguk dengan 5.000 kasus hanya pada bulan pertama tahun tersebut.[97] Kelompok usia yang mengalami beguk terlalu tua untuk menerima imunisasi rutin MMR pada saat artikel Wakefield et al. terbit, namun terlalu muda untuk pernah terinfeksi beguk secara alami saat masa kanak-kanak sehingga tidak memperoleh kekebalan kelompok. Seiring menurunnya kasus beguk setelah diperkenalkannya vaksin MMR, kelompok ini belum pernah terpapar penyakit ini, tetapi juga tidak memiliki kekebalan, baik alami ataupun dari vaksin. Oleh sebab itu, ketika tingkat imunisasi menurun setelah kontroversi tersebut dan penyakit kembali muncul, mereka menjadi rentan terinfeksi.[98][99] Kasus campak dan beguk terus bertambah pada tahun 2006, dengan tingkat kejadian masing-masing 13 dan 37 kali lebih tinggi dibandingkan tahun 1998.[100] Dua anak yang menjalani transplantasi ginjal di London mengalami cedera parah dan permanen akibat ensefalitis campak.[9]
Wabah penyakit juga menimbulkan korban jiwa di negara-negara sekitar. Di Irlandia, wabah tahun 2000 menyebabkan tiga kematian dan 1.500 kasus dilaporkan saat wabah di Irlandia tahun 2000, yang terjadi sebagai akibat langsung dari menurunnya tingkat vaksinasi setelah kepanikan terkait MMR.[9]
Pada tahun 2008, untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, campak dinyatakan sebagai penyakit endemik di Britania Raya, artinya penyakit ini sudah bertahan di dalam populasi penduduk. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat vaksinasi MMR selama dekade sebelumnya sehingga terbentuk populasi anak rentan yang dapat menyebarkan penyakit ini.[101] Tingkat vaksinasi MMR anak-anak Inggris pada tahun 2007–08 tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya dan masih terlalu rendah untuk mencegah wabah campak massal.[102] Pada Mei 2008, seorang remaja Britania berusia 17 tahun dengan imunodefisiensi meninggal akibat campak. Pada tahun 2008, Eropa juga menghadapi wabah campak, termasuk wabah massal di Austria, Italia, dan Swiss.[101]
Setelah pernyataan BMJ pada bulan Januari 2011 mengenai kecurangan Wakefield, Paul Offit, seorang dokter anak di Children's Hospital of Philadelphia dan "pengkritik gerakan anti-vaksin sejak lama", mengatakan, "bahwa artikel penelitian tersebut membunuh anak-anak",[103][104][105] dan Michael Smith dari University of Louisville, seorang "pakar penyakit menular yang mendalami dampak kontroversi autisme terhadap tingkat imunisasi," mengatakan, "jelas sekali bahwa hasil penelitian (Wakefield) ini berdampak buruk."[106][107] Pada tahun 2014, Laurie Garrett, anggota senior Council on Foreign Relations, menyalahkan "Wakefieldisme" atas meningkatnya jumlah anak yang tidak divaksinasi di negara-negara seperti Australia dan Selandia Baru. Ia mengatakan, "Data kami menunjukkan bahwa campak selalu muncul di negara-negara yang mengamini artikel Wakefield."[108]
Dampak terhadap masyarakat
The New England Journal of Medicine menyebutkan bahwa aktivitas gerakan antivaksin menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat, "termasuk rusaknya kesejahteraan individu dan masyarakat akibat wabah penyakit yang sebelumnya bisa dikendalikan, mundurnya produsen vaksin dari pasar, ancaman terhadap keamanan nasional (dalam kasus vaksin antraks dan cacar), dan hilangnya produktivitas masyarakat".[20]
Kerugian yang dialami masyarakat akibat turunnya tingkat vaksinasi (dalam dolar AS) diperkirakan oleh Daily Finance AOL pada tahun 2011 sebagai berikut:[109]
- Wabah campak di Italia tahun 2002–2003 "yang menyebabkan lebih dari 5.000 orang dirawat di rumah sakit, secara keseluruhan memakan biaya antara 17,6 juta euro dan 22,0 juta euro".
- Wabah campak tahun 2004 di Iowa akibat "seorang pelajar yang tidak divaksin yang kembali dari India, memakan biaya sebesar $142.452".
- Wabah beguk tahun 2006 di Chicago "yang disebabkan oleh karyawan-karyawan yang tidak diimunisasi secara memadai, memakan biaya $262.788, atau $29.199 per kasus".
- Wabah beguk di Nova Scotia pada tahun 2007 memakan biaya sebesar $3.511 per kasus.
- Wabah campak di San Diego, California pada tahun 2008 memakan biaya $177.000, atau $10.376 per kasus.
Di Amerika Serikat, Jenny McCarthy menyalahkan vaksinasi atas gangguan yang dialami putranya, Evan, dan memanfaatkan status selebritinya untuk memperingatkan para orang tua soal hubungan antara vaksin dan autisme. Gangguan yang dialami Evan bermula dari kejang dan ia pulih setelah kejang tersebut ditangani. Para ahli mengatakan bahwa gejala yang dialami Evan lebih konsisten dengan sindrom Landau–Kleffner yang sering sekali salah didiagnosis sebagai autisme.[110] Setelah artikel karya Wakefield pada Lancet dibantah kebenarannya, McCarthy tetap membela Wakefield.[111] Sebuah artikel di Salon.com mencap McCarthy sebagai "ancaman" karena terus mempertahankan pandangannya bahwa vaksin itu berbahaya.[112]
Bill Gates memberi tanggapan keras terhadap Wakefield dan perilaku para aktivis anti-vaksin:[113]
Dr. [Andrew] Wakefield terbukti memakai data yang benar-benar dipalsukan. Ia memiliki kepentingan finansial dalam sejumlah gugatan hukum, ia membuat artikel penelitian palsu, yang diizinkan terbit oleh pihak jurnal. Berbagai penelitian telah dilakukan dan berkali-kali membuktikan tidak ada hubungan apapun. Jadi, artikel ini adalah kebohongan besar yang telah menewaskan ribuan anak. Gara-gara mendengar kebohongan tersebut, banyak orang tua yang tidak memberikan anaknya vaksin pertusis atau campak, dan anak-anak mereka meninggal hari ini. Jadi, orang-orang yang aktif dalam kampanye anti-vaksin — asal tahu saja, mereka, mereka membunuh anak-anak. Ini adalah hal yang sangat menyedihkan karena vaksin-vaksin itu sangat penting.
Jumlah anak yang menerima vaksin di Inggris pada usia dua tahun turun menjadi 91,2% pada tahun 2017–18, dari 91,6% pada tahun sebelumnya. Hanya 87,2% anak berusia lima tahun yang telah menerima dua dosis vaksin MMR.[114]
Dengan terjadinya wabah campak dalam jumlah besar di Amerika Serikat pada tahun 2019, terdapat kekhawatiran bahwa para orang tua yang tidak memvaksinasi anak-anak mereka akan berkontribusi terhadap penyebaran infeksi di sekolah-sekoah dan universitas-universitas di tempat-tempat yang sudah ada wabah penyakit lainnya.[115]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 Di Pietrantonj, C; Rivetti, A; Marchione, P; Debalini, MG; Demicheli, V (22 November 2021). "Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children". Cochrane Database of Systematic Reviews. 2021 (11) CD004407. doi:10.1002/14651858.CD004407.pub5. PMC 8607336. PMID 34806766.
- ↑ Flaherty, Dennis K. (Oktober 2011). "The vaccine-autism connection: a public health crisis caused by unethical medical practices and fraudulent science". The Annals of Pharmacotherapy. 45 (10): 1302–1304. doi:10.1345/aph.1Q318. ISSN 1542-6270. PMID 21917556. S2CID 39479569.
- ↑ Dyer, Clare (2 Februari 2010). "Lancet retracts Wakefield's MMR paper". BMJ. 340: c696. doi:10.1136/bmj.c696. ISSN 0959-8138. PMID 20124366. S2CID 43465004.
- ↑ "Public Health Education". KYRA SCHWARTZ TECHNICAL WRITING SAMPLES. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Mei 2021. Diakses tanggal 3 Februari 2019.
- ↑ Goldacre, B. (30 Agustus 2008). "The MMR hoax". The Guardian. London. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Februari 2015. Diakses tanggal 30 Agustus 2008. Alt URL
- ↑ Hussain, Azhar; Ali, Syed; Ahmed, Madiha; Hussain, Sheharyar (2018). "The Anti-vaccination Movement: A Regression in Modern Medicine". Cureus. 10 (7) e2919. doi:10.7759/cureus.2919. ISSN 2168-8184. PMC 6122668. PMID 30186724.
- ↑ Gross, Liza (26 Mei 2009). "A Broken Trust: Lessons from the Vaccine–Autism Wars". PLOS Biology. 7 (5) e1000114. doi:10.1371/journal.pbio.1000114. ISSN 1544-9173. PMC 2682483. PMID 19478850.
- 1 2 McIntyre, P; Leask, J (2008). "Improving uptake of MMR vaccine". The BMJ. 336 (7647): 729–30. doi:10.1136/bmj.39503.508484.80. PMC 2287215. PMID 18309963.
- 1 2 3 Pepys MB (Desember 2007). "Science and serendipity". Clinical Medicine. 7 (6): 562–78. doi:10.7861/clinmedicine.7-6-562. PMC 4954362. PMID 18193704.
- ↑ "Measles, mumps, and rubella (MMR) vaccine". Centers for Disease Control and Prevention. 22 Agustus 2008. Diarsipkan dari asli tanggal 7 April 2008. Diakses tanggal 21 Desember 2008.
- ↑ Institute of Medicine (US) Immunization Safety Review Committee (17 Mei 2004). Immunization Safety Review: Vaccines and Autism. Institute of Medicine of the National Academy of Sciences. Bibcode:2004nap..book10997I. doi:10.17226/10997. ISBN 978-0-309-09237-1. PMID 20669467. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Oktober 2009. Diakses tanggal 13 Juni 2007.
- ↑ "MMR The facts". NHS Immunisation Information. 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Januari 2013. Diakses tanggal 19 September 2007.
- 1 2 3 Di Pietrantonj, Carlo; Rivetti, Alessandro; Marchione, Pasquale; Debalini, Maria Grazia; Demicheli, Vittorio (20 April 2020). "Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 4 (4) CD004407. doi:10.1002/14651858.CD004407.pub4. ISSN 1469-493X. PMC 7169657. PMID 32309885.
- ↑ Flaherty, Dennis K (Oktober 2011). "The vaccine-autism connection: a public health crisis caused by unethical medical practices and fraudulent science". Annals of Pharmacotherapy. 45 (10): 1302–4. doi:10.1345/aph.1Q318. PMID 21917556. S2CID 39479569.
- 1 2 Gever, John (5 Januari 2011). "BMJ Lifts Curtain on MMR-Autism Fraud". MedPage Today. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- 1 2 Godlee, F (Januari 2011). "The fraud behind the MMR scare". The BMJ. 342 (jan06 1): d22. doi:10.1136/bmj.d22. S2CID 73020733.
- ↑ Deer, Brian (6 Januari 2011). "Brian Deer: Piltdown medicine: The missing link between MMR and autism". BMJ Group Blogs. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- 1 2 "Link between MMR Vaccines and Autism conclusively broken". IB Times. 7 Januari 2011. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- ↑ Broyd, Nicky (6 Januari 2011). "BMJ Declares Vaccine-Autism Study 'an Elaborate Fraud', 1998 Lancet Study Not Bad Science but Deliberate Fraud, Claims Journal". WebMD Health News. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- 1 2 3 4 Poland GA, Jacobson RM (13 Januari 2011). "The age-old struggle against the antivaccinationists". The New England Journal of Medicine. 364 (2): 97–99. doi:10.1056/NEJMp1010594. PMID 21226573. S2CID 39229852.
- ↑ Jasek, Marissa (6 Januari 2011). "Healthwatch: Disputed autism study sparks debate about vaccines". WWAY Newschannel 3. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Juli 2011. Diakses tanggal 7 Januari 2011.
- 1 2 The Sunday Times 2004:
- Deer, Brian (22 Februari 2004). "Revealed: MMR research scandal". The Sunday Times. London. Diakses tanggal 23 September 2007.
- Deer, Brian (2007). "The Lancet scandal". Diakses tanggal 23 September 2007.
- 1 2 Dokumenter BBC tahun 2004:
- Deer, Brian (2007). "The Wakefield factor". Diakses tanggal 23 September 2007.
- Deer, Brian (2004). "Dispatches. MMR: What They Didn't Tell You". The BMJ. 329 (7477): 1293. doi:10.1136/bmj.329.7477.1293. PMC 534460.
- 1 2 Deer, Brian (8 Februari 2009). "MMR doctor Andrew Wakefield fixed data on autism". The Sunday Times. London. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Februari 2014. Diakses tanggal 9 Februari 2009.
- 1 2 Boseley, Sarah (2 Februari 2010). "Lancet retracts 'utterly false' MMR paper". The Guardian. London. Diakses tanggal 14 Januari 2015.
- 1 2 Triggle, Nick (24 Mei 2010). "MMR doctor struck off register". BBC News. Diakses tanggal 24 Mei 2010.
- ↑ Deer B (2011). "How the case against the MMR vaccine was fixed". The BMJ. 342 (jan05 1) c5347. doi:10.1136/bmj.c5347. PMID 21209059.
- ↑ Deer B (11 Januari 2011). "How the vaccine crisis was meant to make money". The BMJ. 342 (jan11 4) c5258. doi:10.1136/bmj.c5258. PMID 21224310. S2CID 37724643.
- ↑ Deer B (18 Januari 2011). "The Lancet's two days to bury bad news". The BMJ). Diakses tanggal 5 Agustus 2021.
- 1 2 Godlee F, Smith J, Marcovitch H (2011). "Wakefield's article linking MMR vaccine and autism was fraudulent". The BMJ. 342 c7452. doi:10.1136/bmj.c7452. PMID 21209060. S2CID 43640126.
It has taken the diligent scepticism of one man, standing outside medicine and science, to show that the paper was in fact an elaborate fraud
- 1 2 Deer, Brian (2011). "Wakefield's article linking MMR vaccine and autism was fraudulent". The BMJ. 342 c5347. doi:10.1136/bmj.c5347. PMID 21209059.
- ↑ Calvert N, Cutts F, Irving R, Brown D, Marsh J, Miller E (Februari 1996). "Measles immunity and response to revaccination among secondary school children in Cumbria". Epidemiology & Infection. 116 (1): 65–70. doi:10.1017/S0950268800058969. PMC 2271248. PMID 8626005.
- ↑ Miller, E (Oktober 1994). "The new measles campaign". The BMJ. 309 (6962): 1102–3. doi:10.1136/bmj.309.6962.1102. PMC 2541903. PMID 7987096.
- ↑ Cutts, FT (Maret 1996). "Revaccination against measles and rubella". The BMJ. 312 (7031): 589–90. doi:10.1136/bmj.312.7031.589. PMC 2350416. PMID 8595319.
- ↑ "Richard Barr original writing site". www.richardbarr.org. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Juli 2018. Diakses tanggal 27 Mei 2010.
- ↑ Fitzpatrick, Michael. "spiked-health | Medicine on trial". Spiked-online.com. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Juni 2016. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- ↑ Kennedy, Mari-Rose (22 September 2017). "Case study: Wakefield and MMR" (PDF). Promoting Integrity as an Integral Dimension of Excellence in Research (D III.3.2).
- ↑ Wakefield AJ, Pittilo RM, Sim R, et al. (1993). "Evidence of Persistent Measles Virus in Crohn's Disease". Journal of Medical Virology. 39 (4): 345–53. doi:10.1002/jmv.1890390415. PMID 8492105. S2CID 29899812.
- ↑ Thompson, N.P; Pounder, R.E; Wakefield, A.J; Montgomery, S.M (1995). "Is Measles Vaccine a Risk for Inflammatory Bowel Disease?". The Lancet. 345 (8957): 1071–74. doi:10.1016/s0140-6736(95)90816-1. PMID 7715338. S2CID 30683685.
- ↑ "On Second Looking Into the Case of Dr. Andrew J. Wakefield" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Mei 2010. Diakses tanggal 19 Mei 2010.
- ↑ Fitzpatrick, M (2004). MMR and Autism: What Parents Need to Know. Routledge. ISBN 978-0-415-32179-2. Diakses tanggal 2 Februari 2011.
- ↑ Steinmetz, Peter N. (November–Desember 2020). "The Scientific Frauds Underlying the False MMR Vaccine–Autism Link". Skeptical Inquirer. Amherst, New York: Center for Inquiry. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Agustus 2021. Diakses tanggal 8 Agustus 2021.
- 1 2 3 4 Moore, Alfred; Stilgoe, Jack (2009). "Experts and Anecdotes". Science, Technology, & Human Values. 34 (5): 654–677. doi:10.1177/0162243908329382. ISSN 0162-2439. S2CID 142993062.
- ↑ Taylor, B. (2006). "Vaccines and the changing epidemiology of autism". Child: Care, Health and Development. 32 (5): 511–519. doi:10.1111/j.1365-2214.2006.00655.x. ISSN 0305-1862. PMID 16919130. S2CID 26423046.
- ↑ "Doctors issue plea over MMR jab". BBC News. 26 Juni 2006. Diakses tanggal 4 Februari 2009.
- ↑ "The Lancet retracts Andrew Wakefield's article". Science-Based Medicine. 3 Februari 2010. Diakses tanggal 3 Februari 2019.
- ↑ Moore, Andrew (2006). "Bad science in the headlines: Who takes responsibility when science is distorted in the mass media?". EMBO Reports. 7 (12): 1193–1196. doi:10.1038/sj.embor.7400862. PMC 1794697. PMID 17139292.
- ↑ Hilton, S; Petticrew, M; Hunt, K (2007). "Parents' champions vs. vested interests: Who do parents believe about MMR? A qualitative study". BMC Public Health. 7 42. doi:10.1186/1471-2458-7-42. PMC 1851707. PMID 17391507.
- ↑ Speers, T; Justin, L (September 2004). "Journalists and jabs: media coverage of the MMR vaccine". Communication and Medicine. 1 (2): 171–181. doi:10.1515/come.2004.1.2.171. PMID 16808699. S2CID 29969819.
- ↑ Jackson, T (2003). "MMR: more scrutiny, please". The BMJ. 326 (7401): 1272. doi:10.1136/bmj.326.7401.1272. PMC 1126154.
- ↑ Dobson, Roger (Mei 2003). "Media misled the public over the MMR vaccine, study says". The BMJ. 326 (7399): 1107. doi:10.1136/bmj.326.7399.1107-a. PMC 1150987. PMID 12763972.
- ↑ Katelaris, A (17 Agustus 2007). "Wakefield saga a study in integrity". Australian Doctor: 20. Diarsipkan dari asli tanggal 8 September 2007.
- ↑ "Reputation Survey: MMR panic subsides". PR Week, 2 Juni 2010: 24.
- ↑ Goldberg, Robert M., "Andrew Wakefield's Lethal Legacy" Diarsipkan 10 Januari 2011 di Wayback Machine., The American Spectator, 7 Januari 2011. Retrieved 11 Januari 2011.
- ↑ "Vaccines: An Unhealthy Skepticism". Retro Report. 1 Februari 2015. Diakses tanggal 31 Juli 2015.
- ↑ Cameron, Neil (12 Januari 2011). "Autism 'study' represents a failure of journalism". The Montreal Gazette. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Juni 2025. Diakses tanggal 12 Januari 2011 – via Press Reader.
- ↑ "False autism study has done untold harm". The Montreal Gazette. 10 Januari 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Oktober 2020. Diakses tanggal 12 Januari 2011 – via Press Reader.
- 1 2 3 4 Lewandowsky, Stephan; Ecker, Ullrich K. H.; Seifert, Colleen M.; Schwarz, Norbert; Cook, John (2012). "Misinformation and Its Correction". Psychological Science in the Public Interest. 13 (3): 106–131. doi:10.1177/1529100612451018. ISSN 1529-1006. PMID 26173286. S2CID 42633.
- 1 2 Sharts-Hopko, Nancy C. (2009). "Issues in Pediatric Immunization". MCN: The American Journal of Maternal/Child Nursing. 34 (2): 80–88. doi:10.1097/01.NMC.0000347300.39714.19. ISSN 0361-929X. PMID 19262260. S2CID 22635524.
- ↑ Mole, Beth (5 Juni 2024). "Vaccines don't cause autism, but the lie won't die—in fact, it's getting worse". Ars Technica. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Juni 2024. Diakses tanggal 4 Juli 2024.
- ↑ "False Belief in MMR Vaccine-Autism Link Endures as Measles Threat Persists". Annenberg Public Policy Center. University of Pennsylvania. 3 Juni 2024. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Juni 2024. Diakses tanggal 4 Juli 2024.
- ↑ Willingham, E (8 Agustus 2013). "Court Rulings Don't Confirm Autism-Vaccine Link". Forbes. Diakses tanggal 13 Agustus 2013.
- ↑ Bocci, Michele (1 Maret 2015). "Autismo, i giudici assolvono il vaccino ("Autism, the judges acquit the vaccine")". La Repubblica (dalam bahasa Italia). Diakses tanggal 4 Maret 2015.
- ↑ Yoshida N, Fujino M, Ota Y, et al. (26 Januari 2007). "Simple differentiation method of mumps Hoshino vaccine strain from wild strains by reverse transcription loop-mediated isothermal amplification (RT-LAMP)". Vaccine. 25 (7): 1281–1286. doi:10.1016/j.vaccine.2006.09.093. PMID 17097200.
- 1 2 "Why Japan stopped using MMR". BBC News. 8 Februari 2002.
- 1 2 Norrie, Justin (27 Mei 2007). "Japanese measles epidemic brings campuses to standstill". The Sydney Morning Herald.
- 1 2 3 4 Kakuchi, Suvendrini (25 Februari 2003). "Health-Japan: Vaccine Manufacturer Sued over deaths". Consumercide.com. New York. Global Information Network. Diarsipkan dari asli tanggal 12 November 2011.
- ↑ Coghlan, Andy (3 Maret 2005). "Autism rises despite MMR ban in Japan". New Scientist.
- ↑ Honda, Hideo; Shimizu, Yasuo; Rutter, Michael (18 Februari 2005). "No effect of MMR withdrawal on the incidence of autism: a total population study". Journal of Child Psychology and Psychiatry. 46 (6): 572–579. doi:10.1111/j.1469-7610.2005.01425.x. PMID 15877763.
- ↑ Chou, I-han (2003). "Japanese scientists plan MMR alternative". Nature Medicine. 9 (11): 1337. doi:10.1038/nm1103-1337b. PMID 14595415. S2CID 45255392.
- ↑ "comments on MMR vaccine". FOIA Centre. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- ↑ "Families win lawsuit over MMR vaccine". The Japan Times. 14 Maret 2003. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- ↑ "High court rules state responsible for vaccine side effects". Kyodo: TMCnet News. Japan Economic Newswire. 20 April 2006. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- ↑ "Approved Judgment". briandeer.com. 23 Mei 2007. Diakses tanggal 28 April 2018.
- ↑ "FOIA Centre news: MMR group legal claim collapses in high court". FOIA Centre. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- 1 2 Fitzpatrick, M (4 Juli 2007). "'The MMR–autism theory? There's nothing in it'". spiked. Diakses tanggal 22 Januari 2008.
- ↑ "Omnibus Autism Proceeding | US Court of Federal Claims". Uscfc.uscourts.gov. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- ↑ "Editorial: Vaccines Exonerated on Autism". The New York Times. 12 Februari 2009. Diakses tanggal 1 November 2013.
- ↑ "Cedillo v. HHS, U.S. Court of Federal Claims, Office of Special Masters, No. 98-916V" (PDF) (PDF El). 12 Februari 2009. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 16 Februari 2013. Diakses tanggal 25 Maret 2009.
- ↑ "Entitlement Ruling" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 14 Mei 2009. Diakses tanggal 23 Mei 2010.
- ↑ Vaccines and Autism: The Unending Story Diarsipkan 21 Januari 2016 di Wayback Machine., thedailybeast.com
- ↑ "Robert F. Kennedy, Jr. and David Kirby: Vaccine Court: Autism Debate Continues". HuffPost. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- ↑ Rutter, M (2005). "Incidence of autism spectrum disorders: changes over time and their meaning". Acta Paediatrica. 94 (1): 2–15. doi:10.1111/j.1651-2227.2005.tb01779.x. PMID 15858952. S2CID 79259285.
- ↑ Jefferson T, Price D, Demicheli V, Bianco E (2003). "Unintended events following immunization with MMR: a systematic review". Vaccine. 21 (25–26): 3954–60. doi:10.1016/S0264-410X(03)00271-8. PMID 12922131.
- ↑ DeStefano, F; Thompson, WW (Februari 2004). "MMR vaccine and autism: an update of the scientific evidence". Expert Review of Vaccines. 3 (1): 19–22. doi:10.1586/14760584.3.1.19. PMID 14761240. S2CID 36898414.
- ↑ Doja, A; Roberts, W (November 2006). "Immunizations and autism: a review of the literature". Canadian Journal of Neurological Sciences. 33 (4): 341–6. doi:10.1017/s031716710000528x. PMID 17168158.
- ↑ Wakefield, Andrew Jeremy (1999). "MMR vaccination and autism". The Lancet. 354 (9182): 949–50. doi:10.1016/S0140-6736(05)75696-8. PMC 56739. PMID 10489978.
- ↑ Cox, AR; Kirkham, H (2007). "A case study of a graphical misrepresentation: drawing the wrong conclusions about the measles, mumps and rubella virus vaccine". Drug Safety. 30 (10): 831–6. doi:10.2165/00002018-200730100-00002. PMID 17867721. S2CID 24702919.
- ↑ DeStefano, F (2007). "Vaccines and autism: evidence does not support a causal association". Clinical Pharmacology & Therapeutics. 82 (6): 756–9. doi:10.1038/sj.clpt.6100407. PMID 17928818. S2CID 12872702.
- ↑ Gerber, JS; Offit, PA (2009). "Vaccines and autism: a tale of shifting hypotheses". Clinical Infectious Diseases. 48 (4): 456–61. doi:10.1086/596476. PMC 2908388. PMID 19128068. See IDSA lay summary Diarsipkan 12 Agustus 2011 di Wayback Machine., 2009-01-30.
- ↑ Taylor LE, Swerdfeger AL, Eslick GD (Juni 2014). "Vaccines are not associated with autism: an evidence-based meta-analysis of case-control and cohort studies". Vaccine. 32 (29): 3623–9. doi:10.1016/j.vaccine.2014.04.085. PMID 24814559.
- ↑ Maglione MA, Das L, Raaen L, et al. (Agustus 2014). "Safety of vaccines used for routine immunization of U.S. children: a systematic review" (PDF). Pediatrics. 134 (2): 325–37. doi:10.1542/peds.2014-1079. PMID 25086160. S2CID 514220.
- ↑ "No Association between MMR Vaccine and Autism". 4 Maret 2019.
- ↑ Hviid, Anders; Hansen, Jørgen Vinsløv; Frisch, Morten; Melbye, Mads (5 Maret 2019). "Measles, Mumps, Rubella Vaccination and Autism". Annals of Internal Medicine. 170 (8). Annals of Internal Medicine / American College of Physicians: 513–520. doi:10.7326/M18-2101. PMID 30831578. S2CID 73474920. Diakses tanggal 7 Maret 2019.
Penelitian ini memberikan dukungan kuat bahwa vaksinasi MMR tidak menyebabkan peningkatan risiko terjadinya autisme, tidak memicu terjadinya autisme pada anak-anak dengan kondisi rentan, dan tidak terkait dengan pengelompokkan kasus autisme setelah vaksin
- ↑ Murch, S (2003). "Separating inflammation from speculation in autism". The Lancet. 362 (9394): 1498–9. doi:10.1016/S0140-6736(03)14699-5. PMID 14602448. S2CID 40071957.
- ↑ Asaria, P; MacMahon, E (2006). "Measles in the United Kingdom: can we eradicate it by 2010?". The BMJ. 333 (7574): 890–5. doi:10.1136/bmj.38989.445845.7C. PMC 1626346. PMID 17068034.
- ↑ Gupta RK, Best J, MacMahon E (2005). "Mumps and the UK epidemic 2005". The BMJ. 330 (7500): 1132–5. doi:10.1136/bmj.330.7500.1132. PMC 557899. PMID 15891229.
- ↑ "England and Wales in grip of mumps epidemic". N Z Herald. 13 Mei 2005. Diarsipkan dari asli tanggal 10 April 2005. Diakses tanggal 10 Juli 2008.
- ↑ "Mumps". Health Protection Agency. Diarsipkan dari asli tanggal 2 Mei 2007. Diakses tanggal 10 Juli 2008.
- ↑ "Confirmed cases of measles, mumps & rubella". Health Protection Agency. 22 Maret 2007. Diakses tanggal 5 September 2007.
- 1 2 European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) – Surveillance and Communication Unit (2008). "Measles once again endemic in the United Kingdom". Eurosurveillance. 13 (27): 18919. PMID 18761933.
- ↑ "MMR vaccine uptake rise 'stalls'". BBC News. 24 September 2008. Diakses tanggal 24 September 2008.
- ↑ "Study linking vaccines to autism is 'fraudulent'". Time. 6 Januari 2011. Diakses tanggal 7 Januari 2011.
- ↑ Gupta, Sanjay (6 Januari 2011). "Dr. Sanjay Gupta Confronts Autism Study Doctor". CBS Evening News. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
'Four children died from measles,' says Offit. 'Three died in Ireland, one died in England, died from a disease that was perfectly and safely prevented by a vaccine, died because of that paper. That paper killed four children.'
- ↑ McBrien J, Murphy J, Gill D, Cronin M, O'Donovan C, Cafferkey MT (Juli 2003). "Measles outbreak in Dublin, 2000". The Pediatric Infectious Disease Journal. 22 (7): 580–4. doi:10.1097/00006454-200307000-00002. PMID 12867830.
- ↑ "Will autism fraud report be a vaccine booster?". Associated Press. 7 Januari 2011. Diakses tanggal 8 Januari 2011.
- ↑ Smith MJ, Ellenberg SS, Bell LM, Rubin DM (April 2008). "Media coverage of the measles-mumps-rubella vaccine and autism controversy and its relationship to MMR immunization rates in the United States". Pediatrics. 121 (4): e836–43. CiteSeerX 10.1.1.317.3211. doi:10.1542/peds.2007-1760. PMID 18381512. S2CID 1448617.
- ↑ Harlow, John (17 Februari 2014). "Measles map exposes global fallout of an autism scare campaign". The Australian. Diakses tanggal 18 Februari 2014.
- ↑ Alazraki, Molly (12 Januari 2011). "The Autism Vaccine Fraud: Dr. Wakefield's Costly Lie to Society". AOL Money and Finance: DailyFinance. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Januari 2011. Diakses tanggal 13 Januari 2011 – via Wayback Machine.
- ↑ Greenfeld, KT (25 Februari 2010). "The autism debate: who's afraid of Jenny McCarthy?". Time. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Agustus 2011.
- ↑ McCarthy, Jenny (10 Januari 2011). "Jenny McCarthy: In the Vaccine-Autism Debate, What Can Parents Believe?". The Huffington Post. Diakses tanggal 22 September 2013.
- ↑ Williams, Mary Elizabeth (6 Januari 2011). "Jenny McCarthy's autism fight grows more misguided". Salon. Diakses tanggal 22 September 2013.
- ↑ Finnegan, Gary (18 Maret 2011). "Bill Gates: Anti-vaccine myths 'kill children'". VaccinesToday. Diakses tanggal 7 Januari 2018.
- ↑ "Take-up of MMR vaccine falls for fourth year in a row in England". The Guardian. 18 September 2018. Diakses tanggal 31 Oktober 2018.
- ↑ Karlamangla, Soumya (23 April 2019). "Measles' next target in Los Angeles: Unvaccinated college students". Los Angeles Times. Diakses tanggal 24 April 2019.
Bacaan lebih lanjut
- "MMR research timeline". BBC News. 4 Februari 2008. Diakses tanggal 27 Desember 2013.
- DeNoon, Daniel J. (6 Januari 2011). "Autism/MMR Vaccine Study Faked: FAQ". WebMD Health News. Diakses tanggal 27 Desember 2013.
- Deer, Brian (2020). The Doctor Who Fooled the World. Johns Hopkins University Press. ISBN 978-1421438009.
- "The Vaccine War". Frontline. PBS. 27 April 2010. Diakses tanggal 28 Desember 2013.
- Willingham, Emily; Helft, Laura (5 September 2014). "The Autism-Vaccine Myth with Timeline". NOVA. PBS.