ENSIKLOPEDIA
Vaksin MMR
Vaksin MMR | |
| Kombinasi dari | |
|---|---|
| Vaksin campak | Vaksin |
| Vaksin gondongan | Vaksin |
| Vaksin rubela | Vaksin |
| Data klinis | |
| Nama dagang | M-M-R II, Priorix, Tresivac, dan lainnya |
| Nama lain | Vaksin MPR[1] |
| AHFS/Drugs.com | monograph |
| MedlinePlus | a601176 |
| License data | |
| Kategori kehamilan | |
| Kode ATC | |
| Status hukum | |
| Status hukum | |
| Pengenal | |
| Nomor CAS | |
| ChemSpider |
|
| | |
Vaksin MMR adalah vaksin kombinasi untuk melawan campak (measles), gondongan (mumps), dan rubela (campak Jerman).[3] Vaksin ini menggabungkan vaksin campak, vaksin gondongan, dan vaksin rubela ke dalam satu sediaan suntikan.[3][6][7][8] Setelah pemberian dua dosis vaksin ini, 97% penerima vaksin terlindungi dari campak, 88% dari gondongan, dan setidaknya 97% dari rubela.[6] Vaksin ini juga direkomendasikan untuk mereka yang tidak memiliki bukti adanya kekebalan,[6] mereka dengan HIV/AIDS yang terkontrol baik,[9][10] serta dapat diberikan dalam 72 jam setelah paparan campak bagi mereka yang belum diimunisasi secara lengkap.[7] Vaksin ini diberikan dengan cara disuntikkan.[11]
Vaksin MMR digunakan secara luas di dunia. Sampai tahun 2012, 575 juta dosis vaksin telah diberikan sejak vaksin ini diperkenalkan di seluruh dunia.[12] Sebelum imunisasi umum dilakukan, campak mengakibatkan 2,6 juta kematian setiap tahunnya.[12] Angka kematian telah turun menjadi 122.000 per tahunnya hingga 2012,[update] dan kebanyakan terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah.[12] Melalui vaksinasi, hingga 2018[update], angka kejadian campak di Amerika Utara dan Selatan menjadi sangat rendah.[12] Angka kejadian penyakit tampak meningkat pada populasi yang tidak tervaksinasi.[12] Antara tahun 2000 dan 2018, vaksinasi berhasil menurunkan angka kematian akibat campak sebesar 73%.[13]
Efek samping imunisasi ini umumnya ringan dan akan sembuh sendiri tanpa terapi khusus.[14] Efek samping yang dapat terjadi meliputi demam dan juga rasa nyeri atau kemerahan di titik penyuntikan.[14] Reaksi alergi berat terjadi pada sekitar satu dari satu juta orang.[14] Karena vaksin MMR mengandung virus hidup, vaksin ini tidak direkomendasikan untuk diberikan selama masa kehamilan, namun dapat diberikan pada masa menyusui.[6] Vaksin ini aman diberikan pada waktu yang sama dengan vaksin-vaksin lainnya.[14] Kondisi baru diimunisasi tidak meningkatkan risiko penularan campak, gondongan, atau rubela ke orang lain: Artinya, meskipun vaksin ini mengandung virus hidup, virus-virus ini tidak ditularkan.[6] Tidak ada kaitan antara imunisasi MMR dan gangguan spektrum autisme.[15][16][17] Vaksin MMR adalah campuran dari virus yang dilemahkan dari tiga penyakit.[6]
Vaksin MMR dikembangkan oleh Maurice Hilleman.[18] Vaksin ini didaftarkan untuk memperoleh lisensi penggunaan di AS oleh Merck pada tahun 1971.[19] Vaksin-vaksin campak, gondongan, dan rubela dalam sediaan tunggal masing-masing memperoleh lisensi penggunaan di tahun 1963, 1967, dan 1969.[19][20] Rekomendasi pemberian dosis kedua diperkenalkan pada tahun 1989.[19] Vaksin MMRV, yang juga memberikan perlindungan terhadap cacar air, dapat digunakan sebagai pengganti.[6] Vaksin MR, yang tidak memberikan perlindungan terhadap gondongan, juga kadang-kadang digunakan.[21]
Penggunaan medis

Cochrane menyimpulkan bahwa "Bukti-bukti yang sudah ada terkait keamanan dan efektivitas vaksin MMR dan MMRV mendukung kebijakan-kebijakan pemberian imunisasi massal yang sudah berlangsung saat ini yang bertujuan untuk eradikasi campak global guna menurunkan angka morbiditas dan mortalitas terkait campak, gondongan, rubela, dan cacar air."[15]
Dibandingkan pemberian tiga jenis vaksin secara terpisah-pisah, pemberian vaksin MMR menginduksi imunitas dengan rasa nyeri yang lebih rendah (karena dilakukan dalam satu penyuntikan), lebih cepat, dan lebih efisien. Organisasi Kesehatan Masyarakat Inggris melaporkan bahwa pemberian vaksin kombinasi tunggal sejak tahun 1988, dibandingkan dengan pemberian vaksin secara terpisah-pisah, meningkatkan angka vaksinasi.[22]
Campak

Sebelum luasnya penggunaan vaksin campak, angka kasus campak sangatlah tinggi sampai di titik di mana infeksi campak dianggap sebagai suatu hal yang "pasti terjadi seperti halnya kematian dan pajak."[23] Jumlah kasus campak yang dilaporkan di Amerika Serikat turun dari ratusan ribu kasus menjadi puluhan ribu per tahunnya setelah vaksin diperkenalkan pada tahun 1963. Meningkatnya penggunaan vaksin setelah wabah tahun 1971 dan 1977 menurunkan jumlah kasus campak sampai ke ribuan kasus per tahunnya di tahun 1980-an. Sebuah wabah pada tahun 1990 dengan jumlah kasus hampir 30.000 menyebabkan adanya dorongan baru untuk vaksinasi dan penambahan vaksin dosis ke dua ke dalam rekomendasi jadwal imunisasi. Kurang dari 200 kasus dilaporkan terjadi di AS setiap tahunnya antara tahun 1997 dan 2013, dan campak tidak lagi dianggap sebagai endemi di sana.[24][25][26]
Manfaat campak dalam mencegah terjadinya penyakit, disabilitas, dan kematian telah terdokumentasikan dengan baik. 20 tahun pertama vaksin campak memperoleh lisensi di AS berhasil mencegah terjadinya sekitar 52 juta kasus campak, 17.400 kasus disabilitas intelektual, dan 5.200 kematian.[27] Selama tahun 1999–2004, sebuah strategi yang dipimpin oleh World Health Organization dan UNICEF menyebabkan peningkatan dalam cakupan vaksin campak yang mencegah terjadinya sekitar 1,4 juta kematian akibat campak di seluruh dunia.[28] Antara tahun 2000 dan 2018, vaksin campak menghasilkan penurunan kematian akibat campak sebesar 73%.[13]
Campak adalah penyakit yang umum terjadi di banyak wilayah di dunia. Walaupun penyakit ini telah diumumkan berhasil dieliminasi dari AS pada tahun 2000, angka vaksinasi yang tinggi dan komunikasi yang baik dengan orang-orang yang menolak vaksinasi dibutuhkan untuk mencegah terjadinya wabah dan mempertahankan status eliminasi campak di AS.[29] Dari 66 kasus campak yang dilaporkan terjadi di AS tahun 2005, lebih dari setengahnya terkait dengan satu orang yang tidak menerima vaksin campak, yang terinfeksi saat berkunjung ke Rumania.[30] Orang ini kembali ke dalam sebuah komunitas yang berisi banyak anak yang tidak menerima vaksin campak. Hal ini menyebabkan terjadinya wabah yang menginfeksi 34 orang, umumnya anak-anak, dan semua yang terinfeksi adalah orang-orang yang tidak menerima vaksin; 9% di antara mereka harus dirawat di rumah sakit, dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengendalikan penyebaran wabah ini diperkirakan mencapai $167.685. Terjadinya epidemi besar berhasil dicegah karena tingginya angka vaksinasi di komunitas sekitarnya.[29]
Pada tahun 2017, sebuah wabah campak terjadi di dalam komunitas warga Amerika keturunan Somalia di Minnesota, lokasi di mana angka vaksinasi MMR telah mengalami penurunan karena adanya miskonsepsi bahwa vaksin ini dapat menyebabkan autisme. Centers for Disease Control and Prevention mencatat 65 anak terdampak dalam wabah ini sampai April 2017.[31]
Rubela

Rubela, juga dikenal sebagai campak Jerman, juga sangatlah sering terjadi sebelum vaksin digunakan secara luas. Risiko besar dari rubela adalah selama masa kehamilan ketika bayi yang dikandung ibu dapat memperoleh penyakit rubela kongenital, yang dapat menyebabkan defek kongenital yang signifikan.[32]
Gondongan
Gondongan adalah penyakit viral lainnya yang dahulu sangat umum terjadi, khususnya pada masa anak-anak. Jika gondongan menyerang seorang laki-laki yang sudah melewati masa pubertas, komplikasi yang mungkin terjadi adalah orchitis bilateral, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan terjadinya sterilitas.[33]
Pemberian
Vaksin MMR diberikan dengan teknik penyuntikan subkutan. Dosis pertama umumnya diberikan di usia 12 bulan.[11] Dosis kedua dapat diberikan setidaknya satu bulan setelah pemberian dosis pertama.[34] Dosis kedua adalah dosis untuk menghasilkan imunitas pada jumlah orang yang sedikit (2–5%) yang gagal membentuk kekebalan terhadap campak setelah pemberian dosis pertama.
Di Indonesia, vaksin MMR tidak digunakan dalam program imunisasi rutin pemerintah. Oleh karena itu, vaksin ini dapat diperoleh secara berbayar di unit layanan kesehatan selain puskesmas atau posyandu.[35] Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin MMR dapat diberikan sebagai vaksin campak dosis pertama jika seseorang belum pernah menerima vaksin campak (dalam bentuk kombinasi MR) sampai usia 12 bulan, dan dosis kedua diberikan dalam interval enam bulan kemudian, dan dosis ketiga diberikan pada usia 5-7 tahun.[36] Jika seseorang telah mendapatkan vaksin campak dosis pertama dalam bentuk kombinasi MR (sediaan yang digunakan dalam program imunisasi rutin pemerintah), vaksin MMR dapat menjadi pilihan untuk vaksin campak dosis kedua dan diberikan di usia 15-18 bulan, dan juga dapat menjadi pilihan untuk vaksin campak dosis ketiga serta diberikan pada usia 5-7 tahun.[36][37]
Di AS, pemberian ini dilakukan sebelum masuk taman kanak-kanak karena saat itu adalah waktu yang tepat.[38] Di wilayah-wilayah yang sering ditemukan kasus campak, vaksin campak dosis pertama diberikan pada usia sembulan bulan dan vaksin kedua pada usia lima belas bulan.[7]
Keamanan
Efek samping obat, yang jarang sekali bersifat serius, dapat timbul dari setiap komponen vaksin MMR. Sepuluh persen anak mengalami demam, malaise, dan ruam 5-21 hari setelah vaksinasi pertama;[39] dan 3% mengalami nyeri persendian yang rata-rata berlangsung selama 18 hari.[40] Wanita berusia tua tampaknya berada dalam risiko yang lebih besar untuk mengalami nyeri persendian, artritis akut, dan bahkan artritis kronis (jarang terjadi).[41] Anafilaksis adalah reaksi alergi terhadap vaksin yang sangat jarang terjadi namun bersifat sangat serius.[42] Reaksi alergi terhadap vaksin dapat disebabkan oleh adanya riwayat alergi telur, walaupun alergi telur bukan menjadi kontraindikasi vaksin MMR.[43] Pada tahun 2014, FDA mengizinkan dimuatnya dua efek samping yang mungkin terjadi pada label produk vaksin: ensefalomyelitis diseminata akut (ADEM) dan myelitis transversa, serta mengizinkan penambahan keterangan "kesulitan berjalan" ke label vaksin.[44] Laporan IOM pada tahun 2012 menemukan bahwa komponen campak dari vaksin MMR dapat menyebabkan ensefalitis badan inklusi campak pada individu-individu dengan status imunokompromis. Laporan ini juga menolak adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme.[45] Beberapa versi vaksin mengandung antibiotik neomisin sehingga tidak boleh digunakan pada orang-orang yang alergi terhadap antibiotik ini.[17]
Jumlah laporan terjadinya gangguan neurologis sangatlah kecil, selain adanya bukti hubungan antara bentuk vaksin MMR yang mengandung galur gondongan Urabe dengan efek samping yang jarang terjadi berupa meningitis aseptik, sebuah bentuk dari meningitis viral.[41][46] National Health Service Inggris berhenti menggunakan galur gondongan Urabe pada awal tahun 1990-an karena adanya kasus meningitis viral transien, dan beralih menggunakan bentuk vaksin yang menggunakan galur gondongan Jeryl Lynn.[47] Galur Urabe tetap digunakan di beberapa negara; MMR dengan galur Urabe jauh lebih murah untuk diproduksi daripada MMR dengan galur Jeryl Lynn,[48] dan galur dengan efikasi yang lebih tinggi serta kejadian efek samping ringan yang agak lebih tinggi mungkin masih memiliki keuntungan berupa penurunan insiden efek samping secara keseluruhan.[47]
Tinjauan oleh Cochrane menemukan bahwa, dibandingkan dengan plasebo, vaksin MMR berhubungan dengan angka kejadian infeksi saluran napas atas yang lebih rendah, iritabilitas yang lebih tinggi, dan jumlah efek samping lainnya yang serupa.[15]
Campak yang didapat secara alami seringkali terjadi dengan immune thrombocytopenic purpura (ITP, sebuah ruam purpura disertai peningkatan kecenderungan untuk berdarah yang sembuh dalam dua bulan pada anak-anak), terjadi pada 1 sampai 20.000 kasus.[15] Sekitar 1 dari 40.000 anak diperkirakan mendapat ITP dalam enam minggu setelah vaksinasi MMR.[15] ITP di bawah usia enam tahun umumnya merupakan penyakit ringan, jarang mempunyai konsekuensi jangka panjang.[49][50]
Klaim palsu terkait autisme
Pada tahun 1998, Andrew Wakefield et al. memublikasikan sebuah karya ilmiah palsu tentang 12 anak, yang dilaporkan mengalami gejala-gejala penyakit usus dan autisme atau gangguan-gangguan lain segera setelah menerima vaksin MMR,[51] sementara dia sendiri mendukung pemberian vaksin kompetitor. Pada tahun 2010, General Medical Council melaporkan bahwa hasil penelitian Wakefield ditemukan "tidak jujur",[52] dan The Lancet menarik karya ilmiah tersebut secara penuh.[53][54] Tiga bulan setelah penarikan oleh The Lancet, Wakefield dihapus dari daftar dokter-dokter yang terdaftar di Inggris milik General Medical Council, disertasi sebuah pernyataan adanya pemalsuan yang disengaja dalam karya ilmiah yang dipublikasikan di The Lancet,[55] dan dilarang untuk berpraktik di Inggris.[56] British Medical Journal menyatakan penelitian ini sebagai sebuah penipuan pada tahun 2011.[57]
Sejak publikasi penelitian Wakefield, berbagai penelitian peer-reviewed tidak bisa membuktikan adanya hubungan apapun antara vaksin dan autisme.[15][58] Centers for Disease Control and Prevention,[59][60] Institute of Medicine dari National Academy of Sciences AS,[61] National Health Service Inggris[62] dan Cochrane Library [15] menyimpulkan bahwa tidak ada bukti terkait hubungan antara vaksin dan autisme.
Memberikan vaksin penyakit-penyakit ini dalam tiga dosis yang terpisah tidak menurunkan kemungkinan terjadinya efek samping serta meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi oleh dua penyakit lainnya yang tidak terdapat pada pemberian vaksin pertama.[58][63] Para ahli-ahli di bidang medis mengkritik laporan media soal kontroversi MMR-autisme sebagai pemicu turunnya angka vaksinasi.[64] Sebelum publikasi artikel Wakefield, angka inokulasi MMR di Inggris adalah 92%; setelah publikasi, angka ini turun ke bawah 80%. Pada tahun 1998, terdapat 56 kasus campak di Inggris; pada tahun 2008, terdapat 1.348 kasus, dengan dua kasus terkonfirmasi meninggal.[65]
Di Jepang, vaksin kombinasi MMR tidak digunakan. Imunitas dicapai dengan pemberian vaksin kombinasi campak dan rubela, diikuti oleh vaksin gondongan saja. Cara pemberian ini tidak berefek apapun terhadap jumlah kasus autisme di Jepang, sehingga semakin melemahkan hipotesis yang mengaitkan MMR dengan autisme.[66]
Sejarah


Komponen galur virus vaksin MMR dikembangkan dengan propagasi di sel-sel hewan dan manusia.[67]
Sebagai contoh, dalam kasus virus gondongan dan campak, galur virus ditumbuhkan di telur ayam berembrio. Proses ini menghasilkan galur virus yang beradaptasi pada sel-sel ayam dan kurang sesuai untuk sel-sel manusia. Galur-galur ini disebut galur yang telah dilemahkan (attenuated). Terkadang, galur ini juga disebut sebagai neuroattenuated karena galur-galur ini kurang virulen terhadap neuron-neuron manusia dibandingkan galur-galur liar.
Komponen rubela, Meruvax, dikembangkan pada tahun 1967, melalui propagasi menggunakan lini sel paru-paru embrionik manusia WI-38 (dinamakan berdasarkan Institut Winstar) yang diperoleh enam tahun sebelumnya pada tahun 1961.[68][69]
| Penyakit yang menjadi sasaran imunisasi | Vaksin komponen | Galur virus | Media propagasi | Media tanam |
|---|---|---|---|---|
| Campak | Attenuvax | Galur Edmonston yang telah dilemahkan dari Enders[70] | kultur sel embrio anak ayam | Media 199 |
| Gondongan | Mumpsvax[71] | Galur Jeryl Lynn (level B)[72] | ||
| Rubela | Meruvax II | Galur Wistar RA 27/3 dari virus rubela yang telah dilemahkan | lini sel embrio manusia WI-38 | MEM (larutan mengandung garam buffer, fetal bovine serum, serum albumin manusia, neomisin, dll.) |
Istilah "vaksin MPR" juga digunakan untuk menyebut vaksin ini, di mana "P" merujuk pada parotitis yang disebabkan oleh gondongan.[1]
MMR II dari Merck diedarkan dalam bentuk kering dan beku (liofilisasi) dan mengandung vaksin hidup. Sebelum penyuntikan, vaksin ini dilarutkan dengan pelarut yang diberikan bersama sediaan vaksin.[73]
Menurut tinjauan yang dipublikasikan di tahun 2018, vaksin MMR GlaxoSmithKline (GSK) yang dikenal sebagai Pluserix "mengandung virus campak Schwarz, galur gondongan menyerupai Jeryl Lynn, dan virus rubela RA27/3".[74]
Pluserix diperkenalkan di Hungaria pada tahun 1999.[75] Galur Edmonston-Enders telah digunakan sejak tahun 1999 di Hungaria dalam produk MMR II dari Merck.[75] Vaksin GSK Priorix, yang menggunakan campak Schwarz yang telah dilemahkan, diperkenalkan di Hungaria pada tahun 2003.[75]
Vaksin MMRV
Vaksin MMRV, sebuah kombinasi dari vaksin campak, gondongan, rubela, dan cacar air digunakan sebagai pengganti vaksin MMR untuk menyederhanakan pemberian vaksin.[34]
Vaksin MR
Vaksin MR (disingkat "MRV") adalah vaksin untuk campak dan rubela, tidak untuk gondongan.[21] Pada tahun 2014, World Health Organization melaporkan vaksin ini digunakan dalam "sedikit negara (yang tidak teridentifikasi)".[21]
Di Indonesia, vaksin MR masuk ke dalam program imunisasi rutin pemerintah, sehingga dapat diperoleh secara gratis di unit-unit layanan kesehatan milik pemerintah. Vaksin ini digunakan sebagai sediaan untuk vaksin campak pertama, kedua, dan ketiga dalam program imunisasi rutin pemerintah.[36][37][76]
Budaya dan kultur
Kekhawatiran terkait keagamaan
Beberapa merk vaksin menggunakan gelatin yang diperoleh dari babi sebagai stabilisator vaksin.[77] Hal ini menyebabkan penurunan vaksinasi pada beberapa komunitas,[77][78] walaupun faktanya, tersedia alternatif sediaan vaksin MMR lainnya yang tidak mengandung produk turunan babi.[77]
Referensi
- 1 2 Grignolio A (2018). Vaccines: Are they Worth a Shot?. Springer. hlm. 2. ISBN 978-3-319-68106-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 April 2021. Diakses tanggal 22 Mei 2020.
- ↑ "Measles virus vaccine / mumps virus vaccine / rubella virus vaccine (M-M-R II) Use During Pregnancy". Drugs.com. 16 Oktober 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 November 2020. Diakses tanggal 5 September 2020.
- 1 2 3 "M-M-R II- measles, mumps, and rubella virus vaccine live injection, powder, lyophilized, for suspension". DailyMed. 23 Mei 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2020. Diakses tanggal 19 Juni 2022.
- ↑ "Priorix- measles, mumps, and rubella vaccine, live kit". DailyMed. 3 Juni 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Juni 2022. Diakses tanggal 19 Juni 2022.
- ↑ "M-M-RVaxPro EPAR". European Medicines Agency. 17 September 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2020. Diakses tanggal 4 Desember 2020.
- 1 2 3 4 5 6 7 "Measles Vaccination". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 26 Januari 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 April 2020.
- 1 2 3 "Measles vaccines: WHO position paper – April 2017". Weekly Epidemiological Record. 92 (17): 205–227. April 2017. hdl:10665/255149. PMID 28459148.
- ↑ World Health Organization (Januari 2019). "Measles vaccines: WHO position paper, April 2017 - Recommendations". Vaccine. 37 (2): 219–222. doi:10.1016/j.vaccine.2017.07.066. PMID 28760612. S2CID 205605355.
- ↑ Kinney R (2 Mei 2017). "Core Concepts – Immunizations in Adults – Basic HIV Primary Care – National HIV CurriculumImmunizations in Adults". www.hiv.uw.edu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 September 2018. Diakses tanggal 10 September 2018.
- ↑ Watson JC, Hadler SC, Dykewicz CA, Reef S, Phillips L (Mei 1998). "Measles, mumps, and rubella--vaccine use and strategies for elimination of measles, rubella, and congenital rubella syndrome and control of mumps: recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP)" (PDF). MMWR. Recommendations and Reports. 47 (RR-8): 1–57. PMID 9639369. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 30 Oktober 2019. Diakses tanggal 26 Januari 2020.
- 1 2 "Administering the MMR Vaccine". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 26 Januari 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Desember 2021. Diakses tanggal 28 Desember 2021.
- 1 2 3 4 5 "Addressing misconceptions on measles vaccination". European Centre for Disease Prevention and Control. 15 April 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2018. Diakses tanggal 10 September 2018.
- 1 2 "Measles Fact Sheet". World Health Organization (WHO). 5 Desember 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 28 November 2022.
- 1 2 3 4 "MMR (Measles, Mumps, and Rubella) Vaccine Information Statement". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Januari 2025. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 September 2018. Diakses tanggal 16 Agustus 2021.
- 1 2 3 4 5 6 7 Di Pietrantonj C, Rivetti A, Marchione P, Debalini MG, Demicheli V (November 2021). "Vaccines for measles, mumps, rubella, and varicella in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2021 (11) CD004407. doi:10.1002/14651858.CD004407.pub5. PMC 8607336. PMID 34806766.
- ↑ Hussain A, Ali S, Ahmed M, Hussain S (Juli 2018). "The Anti-vaccination Movement: A Regression in Modern Medicine". Cureus. 10 (7) e2919. doi:10.7759/cureus.2919. PMC 6122668. PMID 30186724.
- 1 2 Spencer JP, Trondsen Pawlowski RH, Thomas S (Juni 2017). "Vaccine Adverse Events: Separating Myth from Reality". American Family Physician. 95 (12): 786–794. PMID 28671426.
- ↑ "Maurice R. Hilleman, PhD, DSc". Seminars in Pediatric Infectious Diseases. 16 (3): 225–226. Juli 2005. doi:10.1053/j.spid.2005.05.002. PMID 16044396.
- 1 2 3 Goodson JL, Seward JF (Desember 2015). "Measles 50 Years After Use of Measles Vaccine". Infectious Disease Clinics of North America. 29 (4): 725–743. doi:10.1016/j.idc.2015.08.001. PMID 26610423.
- ↑ "Measles: information about the disease and vaccines Questions and Answers" (PDF). Immunization Action Coalition. November 2018. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 28 November 2022.
- 1 2 3 "Information Sheet Observed Rate of Vaccine Reactions, Measles, Mumps, and Rubella Vaccines" (PDF). fdaghana.gov.gh. Mei 2014. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 27 Desember 2021. Diakses tanggal 30 April 2022.
- ↑ "Measles, mumps, rubella (MMR): use of combined vaccine instead of single vaccines". GOV.UK. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Juli 2018. Diakses tanggal 12 Juli 2018.
- ↑ Babbott FL, Gordon JE (September 1954). "Modern measles". The American Journal of the Medical Sciences. 228 (3): 334–361. doi:10.1097/00000441-195409000-00013. PMID 13197385.
- ↑ "Summary of notifiable diseases, United States, 1993" (PDF). MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 42 (53): i–xvii, 1–73. Oktober 1994. PMID 9247368. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 Oktober 2020. Diakses tanggal 26 Januari 2020.
- ↑ "Summary of Notifiable Diseases --- United States, 2007" (PDF). MMWR Morb. Mortal. Wkly. Rep. 56 (53). Juli 2009. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 24 Oktober 2020. Diakses tanggal 26 Januari 2020.
- ↑ Hamborsky J, Kroger A, Wolfe S, ed. (2015). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Edisi 13th). Washington D.C.: U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). ISBN 978-0-9904491-1-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Desember 2016. Diakses tanggal 9 September 2017.
- ↑ Bloch AB, Orenstein WA, Stetler HC, Wassilak SG, Amler RW, Bart KJ, et al. (Oktober 1985). "Health impact of measles vaccination in the United States". Pediatrics. 76 (4): 524–532. doi:10.1542/peds.76.4.524. PMID 3931045. S2CID 6512947.
- ↑ "Progress in reducing global measles deaths, 1999-2004" (PDF). MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 55 (9): 247–249. Maret 2006. PMID 16528234. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 Maret 2021. Diakses tanggal 26 Januari 2020.
- 1 2 Parker AA, Staggs W, Dayan GH, Ortega-Sánchez IR, Rota PA, Lowe L, et al. (Agustus 2006). "Implications of a 2005 measles outbreak in Indiana for sustained elimination of measles in the United States". The New England Journal of Medicine. 355 (5): 447–55. doi:10.1056/NEJMoa060775. PMID 16885548.
- ↑ Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (Desember 2006). "Measles--United States, 2005". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 55 (50): 1348–51. PMID 17183226. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2015.
- ↑ Hall V, Banerjee E, Kenyon C, Strain A, Griffith J, Como-Sabetti K, et al. (Juli 2017). "Measles Outbreak - Minnesota April-May 2017" (PDF). MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 66 (27): 713–717. doi:10.15585/mmwr.mm6627a1. PMC 5687591. PMID 28704350. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 Agustus 2020. Diakses tanggal 26 Januari 2020.
- ↑ "Measles, Mumps, Rubella (MMR) Vaccine and Immunization Information". National Network for Immunization Information (NNii). 22 April 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 28 November 2022.
- ↑ Jequier AM (2000). Male infertility: a guide for the clinician. Malden, MA: Blackwell Publishing. hlm. 118. ISBN 978-0-632-05129-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 April 2021. Diakses tanggal 24 September 2016.
- 1 2 Vesikari T, Sadzot-Delvaux C, Rentier B, Gershon A (Juli 2007). "Increasing coverage and efficiency of measles, mumps, and rubella vaccine and introducing universal varicella vaccination in Europe: a role for the combined vaccine". The Pediatric Infectious Disease Journal. 26 (7): 632–638. doi:10.1097/INF.0b013e3180616c8f. PMID 17596807. S2CID 41981427.
- ↑ Klikdokter. "Vaksin MR dan Vaksin MMR, Apa Bedanya?". klikdokter. Diakses tanggal 28 April 2026.
- 1 2 3 "IDAI | Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun, Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024". www.idai.or.id. Diakses tanggal 26 April 2026.
- 1 2 Kementerian Kesehatan (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Diakses tanggal 26 April 2026 dari https://peraturan.bpk.go.id/Download/102930/Permenkes%20Nomor%2012%20Tahun%202017.pdf
- ↑ "MMR vaccine questions and answers". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Juli 2008. Diakses tanggal 28 Mei 2008.
- ↑ Harnden A, Shakespeare J (Juli 2001). "10-minute consultation: MMR immunisation". BMJ. 323 (7303): 32. doi:10.1136/bmj.323.7303.32. PMC 1120664. PMID 11440943.
- ↑ Thompson GR, Ferreyra A, Brackett RG (1971). "Acute arthritis complicating rubella vaccination" (PDF). Arthritis and Rheumatism. 14 (1): 19–26. doi:10.1002/art.1780140104. hdl:2027.42/37715. PMID 5100638. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 November 2011. Diakses tanggal 1 September 2019.
- 1 2 Schattner A (Juni 2005). "Consequence or coincidence? The occurrence, pathogenesis and significance of autoimmune manifestations after viral vaccines". Vaccine. 23 (30): 3876–3886. doi:10.1016/j.vaccine.2005.03.005. PMID 15917108.
- ↑ Carapetis JR, Curtis N, Royle J (Oktober 2001). "MMR immunisation. True anaphylaxis to MMR vaccine is extremely rare". BMJ. 323 (7317): 869. doi:10.1136/bmj.323.7317.869a. PMC 1121404. PMID 11683165.
- ↑ Fox A, Lack G (Oktober 2003). "Egg allergy and MMR vaccination". The British Journal of General Practice. 53 (495): 801–802. PMC 1314715. PMID 14601358. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Januari 2013.
- ↑ "Approval for label change". Food and Drug Administration. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Februari 2015.
- ↑ Institute of Medicine (2012). Stratton K, Ford A, Rusch E, Clayton EW (ed.). Adverse Effects of Vaccines. Washington, D.C.: National Academies Press. doi:10.17226/13164. ISBN 978-0-309-21435-3. PMID 24624471.
- ↑ Institute of Medicine (1994). "Measles and mumps vaccines". Dalam Stratton KR, Howe CJ, Johnston RB (ed.). Adverse Events Associated with Childhood Vaccines: Evidence Bearing on Causality. National Academies Press. Bibcode:1994nap..book.2138I. doi:10.17226/2138. ISBN 978-0-309-07496-4. PMID 25144097. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Agustus 2015. Diakses tanggal 29 Agustus 2007.
- 1 2 Colville A, Pugh S, Miller E (Juni 1994). "Withdrawal of a mumps vaccine". European Journal of Pediatrics. 153 (6): 467–468. doi:10.1007/BF01983415. PMID 8088305. S2CID 43300463.
- ↑ Fullerton KE, Reef SE (Oktober 2002). "Commentary: Ongoing debate over the safety of the different mumps vaccine strains impacts mumps disease control". International Journal of Epidemiology. 31 (5): 983–984. doi:10.1093/ije/31.5.983. PMID 12435772.
- ↑ Sauvé LJ, Scheifele D (Januari 2009). "Do childhood vaccines cause thrombocytopenia?". Paediatrics & Child Health. 14 (1): 31–32. doi:10.1093/pch/14.1.31. PMC 2661332. PMID 19436461.
- ↑ Black C, Kaye JA, Jick H (Januari 2003). "MMR vaccine and idiopathic thrombocytopaenic purpura". British Journal of Clinical Pharmacology. 55 (1): 107–111. doi:10.1046/j.1365-2125.2003.01790.x. PMC 1884189. PMID 12534647.
- ↑ Wakefield AJ, Murch SH, Anthony A, Linnell J, Casson DM, Malik M, et al. (Februari 1998). "Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children". Lancet. 351 (9103): 637–641. doi:10.1016/S0140-6736(97)11096-0. PMID 9500320. S2CID 439791. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2007. Diakses tanggal 5 September 2007. (Dicabut, lihat http://retractionwatch.com/the-retraction-watch-leaderboard/top-10-most-highly-cited-retracted-papers/ Retraction Watch)
- ↑ Jardine C (29 Januari 2010). "GMC brands Dr Andrew Wakefield 'dishonest, irresponsible and callous'". The Telegraph. London. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Januari 2022. Diakses tanggal 31 Januari 2015.
- ↑ The Editors of The Lancet (Februari 2010). "Retraction—Ileal-lymphoid-nodular hyperplasia, non-specific colitis, and pervasive developmental disorder in children". Lancet. 375 (9713): 445. doi:10.1016/S0140-6736(10)60175-4. PMID 20137807. S2CID 26364726.
- ↑ Triggle N (2 Februari 2010). "Lancet accepts MMR study 'false'". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2021. Diakses tanggal 11 Juni 2022.
- ↑ "General Medical Council, Fitness to Practise Panel Hearing, 24 Mei 2010, Andrew Wakefield, Determination of Serious Professional Misconduct" (PDF). General Medical Council. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 9 Agustus 2011. Diakses tanggal 18 September 2011.
- ↑ Meikle J, Sarah B (24 Mei 2010). "MMR row doctor Andrew Wakefield struck off register". The Guardian. London. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Mei 2010. Diakses tanggal 24 Mei 2010.
- ↑ Godlee F, Smith J, Marcovitch H (Januari 2011). "Wakefield's article linking MMR vaccine and autism was fraudulent". BMJ. 342 (jan05 1, c7452) c7452. doi:10.1136/bmj.c7452. PMID 21209060. S2CID 43640126.
- 1 2 National Health Service (2004). "MMR: myths and truths". Diarsipkan dari asli tanggal 13 September 2008. Diakses tanggal 3 September 2007.
- ↑ "Measles, Mumps, Rubella (MMR) Vaccine". U.S. Seluruh tinjauan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 24 Agustus 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 28 November 2022.
- ↑ "Autism and Vaccines - Vaccine Safety". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 24 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 28 November 2022.
- ↑ Institute of Medicine (2004). Immunization Safety Review. Washington, D.C.: National Academies Press. doi:10.17226/10997. ISBN 978-0-309-09237-1. PMID 20669467. Bookshelf ID: NBK25344.
- ↑ "MMR (measles, mumps and rubella) vaccine". UK National Health Service. 4 Juli 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2022. Diakses tanggal 28 November 2022.
- ↑ MMR vs three separate vaccines:
- Halsey NA, Hyman SL, et al. (Conference Writing Panel) (Mei 2001). "Measles-mumps-rubella vaccine and autistic spectrum disorder: report from the New Challenges in Childhood Immunizations Conference convened in Oak Brook, Illinois, June 12-13, 2000". Pediatrics. 107 (5): E84. doi:10.1542/peds.107.5.e84. PMID 11331734.
- Leitch R, Halsey N, Hyman SL (Januari 2002). "MMR--Separate administration-has it been done?". Letter to the editor. Pediatrics. 109 (1): 172. doi:10.1542/peds.109.1.172. PMID 11773568.
- Miller E (Januari 2002). "MMR vaccine: review of benefits and risks". The Journal of Infection. 44 (1): 1–6. doi:10.1053/jinf.2001.0930. PMID 11972410.
- ↑ "Doctors issue plea over MMR jab". BBC News. 26 Juni 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juli 2018. Diakses tanggal 4 Februari 2009.
- ↑ Thomas J (2010). "Paranoia strikes deep: MMR vaccine and autism". Psychiatric Times. 27 (3): 1–6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 April 2015.
- ↑ Honda H, Shimizu Y, Rutter M (Juni 2005). "No effect of MMR withdrawal on the incidence of autism: a total population study". Journal of Child Psychology and Psychiatry, and Allied Disciplines. 46 (6): 572–579. CiteSeerX 10.1.1.579.1619. doi:10.1111/j.1469-7610.2005.01425.x. PMID 15877763. S2CID 10253998.
- ↑ Wellington K, Goa KL (2003). "Measles, mumps, rubella vaccine (Priorix; GSK-MMR): a review of its use in the prevention of measles, mumps and rubella". Drugs. 63 (19): 2107–26. doi:10.2165/00003495-200363190-00012. PMID 12962524.
- ↑ Plotkin SA, Vaheri A (Mei 1967). "Human fibroblasts infected with rubella virus produce a growth inhibitor". Science. 156 (3775): 659–661. Bibcode:1967Sci...156..659P. doi:10.1126/science.156.3775.659. PMID 6023662. S2CID 32622296.
- ↑ Hayflick L, Moorhead PS (Desember 1961). "The serial cultivation of human diploid cell strains". Experimental Cell Research. 25 (3): 585–621. doi:10.1016/0014-4827(61)90192-6. PMID 13905658.
- ↑ "Attenuvax Product Sheet" (PDF). Merck & Co. 2006. hlm. 1. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Desember 2009. Diakses tanggal 4 Februari 2009.
- ↑ Merck Co. (2002). "MUMPSVAX (Mumps Virus Vaccine Live) Jeryl Lynn Strain" (PDF). Merck Co. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 Agustus 2006. Diakses tanggal 26 Januari 2015.
- ↑ Young ML, Dickstein B, Weibel RE, Stokes J, Buynak EB, Hilleman MR (November 1967). "Experiences with Jeryl Lynn strain live attenuated mumps virus vaccine in a pediatric outpatient clinic". Pediatrics. 40 (5): 798–803. doi:10.1542/peds.40.5.798. PMID 6075651. S2CID 35878536.
- ↑ "About the Vaccine – MMR and MMRV Vaccine Composition and Dosage". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 26 Januari 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Oktober 2021. Diakses tanggal 7 Oktober 2021.
- ↑ Reef SE, Plotkin SA (2018). "Rubella Vaccines". Plotkin's Vaccines. hlm. 970–1000.e18. doi:10.1016/B978-0-323-35761-6.00052-3. ISBN 978-0-323-35761-6.
- 1 2 3 Böröcz K, Csizmadia Z, Markovics Á, Farkas N, Najbauer J, Berki T, et al. (Februari 2020). "Application of a fast and cost-effective 'three-in-one' MMR ELISA as a tool for surveying anti-MMR humoral immunity: the Hungarian experience". Epidemiology and Infection. 148 e17. doi:10.1017/S0950268819002280. PMC 7019553. PMID 32014073.
- ↑ "Imunisasi Measles Rubella Lindungi Anak Kita". kemkes.go.id. 19 Juli 2017. Diakses tanggal 26 April 2026.
- 1 2 3 "Vaccines and porcine gelatine" (PDF). Public Health England. Agustus 2015. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 14 April 2019. Diakses tanggal 14 April 2019.
- ↑ Pager T (9 April 2019). "'Monkey, Rat and Pig DNA': How Misinformation Is Driving the Measles Outbreak Among Ultra-Orthodox Jews". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 April 2019. Diakses tanggal 14 April 2019.
Bacaan lebih lanjut
- The immunological basis for immunization series: module 7: measles (update 2009). World Health Organization (WHO). Januari 2009. hdl:10665/44038. ISBN 978-92-4-159755-5.
- The immunological basis for immunization series: module 16: mumps. World Health Organization (WHO). November 2010. hdl:10665/97885. ISBN 978-92-4-150066-1.
- The immunological basis for immunization series: module 11: rubella. World Health Organization (WHO). Desember 2008. hdl:10665/43922. ISBN 978-92-4-159684-8.
- Ramsay M, ed. (April 2013). Immunisation against infectious disease. Public Health England.
- "Measles: the green book, chapter 21". 31 Desember 2019.
- "Mumps: the green book, chapter 23". 4 April 2013.
- "Rubella: the green book, chapter 28". 4 April 2013.
- Hamborsky J, Kroger A, Wolfe S, ed. (2015). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Edisi 13th). Washington D.C.: U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). ISBN 978-0-9904491-1-9.
- "Chapter 13: Measles". 10 Juli 2024.
- "Chapter 15: Mumps". 29 Juli 2024.
- "Chapter 20: Rubella". 29 Juli 2024.
- Roush SW, Baldy LM, Hall MA, ed. (Maret 2019). Manual for the surveillance of vaccine-preventable diseases. Atlanta GA: U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
- "Chapter 7: Measles". Mei 2024.
- "Chapter 9: Mumps". 19 Desember 2023.
- "Chapter 14: Rubella". 22 Agustus 2023.
Pranala luar
- (Inggris) Measles-Mumps-Rubella Vaccine di Medical Subject Headings (MeSH) U.S National Library of Medicine