International Business Times adalah sebuah publikasi berita daring Amerika[3] yang menerbitkan tujuh edisi nasional dan empat bahasa. Publikasinya, terkadang disebut sebagai IBTimes atau IBT, menawarkan berita, opini dan komentar editorial mengenai bisnis dan perdagangan. IBT adalah salah satu sumber berita daring terbesar dunia;[4] Kit media IBT pada tahun 2014 mengklaim bahwa properti daringnya menerima 40 juta pengunjung unik setiap bulannya.[4][5] Pendapatannya pada tahun 2013 mencapai sekitar $21 juta.[6]
Sebuah cetak biru yang dibuat dengan tangan, dibuat tahun 2007 oleh Davis, memperlihatkan apa yang kemudian menjadi editor FX IBTimes
Pendiri perusahaan ini Etienne Uzac, seorang Prancis asli, datang dengan ide untuk membuat situs berita bisnis global ketika ia menjadi mahasiswa di London School of Economics. Ia menemukan bahwa surat kabar bisnis terkuat memiliki fokus pada Amerika Serikat dan Eropa dan berencana untuk memberikan cakupan geografis yang lebih luas. Uzac merekrut Johnathan Davis untuk bergabung dengannya di perusahaan tersebut.[8] Di akhir tahun 2005, Uzac dan Davis pindah ke New York untuk meluncurkan situsnya, dengan Uzac secara penuh berfokus pada strategi bisnis, sementara Davis mengkoding situs tersebut dan menulis artikel pertamanya.[9]
Pada bulan Mei 2012, perusahaan ini mengumumkan bahwa Jeffery Rothfeder telah ditunjuk sebagai Editor baru publikasi tersebut sementara Davis, yang sebelumnya menjabat sebagai Editor Eksekutif, akan mengelola strategi konten perusahaan di semua platform sebagai Chief Content Officer.[10]
Dari bulan Maret sampai Juli 2016, IBT memberhentikan sekitar 30 persen staf editorialnya.[12] Periode ini menandai era baru bagi perusahaan karena berkembang menjadi konten dan acara bermerek bersama dengan publikasi saudaranya Newsweek. Pada saat bersamaan, Dev Pragad yang telah memulai bisnis EMEA pada tahun 2009 dipromosikan dari managing director Eropa menjadi CEO global Newsweek dan IBT.[13][14] Hal ini kemudian diikuti pada bulan Januari 2017 dengan pengangkatan Alan Press dalam "peran presiden strategis yang baru dibuat".[15]
Hubungan tenaga kerja
Menurut sebuah artikel di majalah Mother Jones, saat awal-awal publikasi International Business Times, IBT Media mempekerjakan mahasiswa imigran dari Universitas Olivet untuk menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Tionghoa dan bahasa lainnya, bekerja secara ilegal dan dibayar kurang dari upah minimum.[4]
Pada tahun 2016, karyawan mengeluh secara publik mengenai daftar gaji yang tidak diharapkan, paket pesangon yang sedikit atau bahkan tidak ada setelah pemutusan hubungan kerja, serta kesepakatan yang tidak tertutup pada satu sisi.[16][17]