Republik Kongo modern dianggap sebagai negara penerus Kongo Prancis, dengan batas wilayah yang hampir identik, serta mewarisi hak atas kedaulatan dan kemerdekaan dari Prancis melalui pembubaran Afrika Khatulistiwa Prancis pada akhir dekade 1950-an.
Sejarah
Kongo Prancis dulunya meliputi wilayah Kongo, Gabon, dan Ubangi-Shari (Republik Afrika Tengah saat ini).
Kongo Prancis bermula di Brazzaville pada 10 September 1880 sebagai sebuah protektorat atas orang Bateke di sepanjang tepi utara Sungai Kongo.[1] Perjanjian tersebut ditandatangani antara Raja Iloo I dan Pierre Savorgnan de Brazza; Iloo I meninggal pada tahun yang sama ketika perjanjian itu ditandatangani, tetapi ketentuan perjanjian tetap ditegakkan oleh ratunya, Ngalifourou.[2] Wilayah ini secara resmi didirikan sebagai Kongo Prancis pada 30 November 1882[1] dan dikukuhkan pada Konferensi Berlin tahun 1884-85. Batas-batasnya dengan Cabinda, Kamerun, dan Negara Bebas Kongo ditetapkan melalui berbagai perjanjian selama dekade berikutnya. Rencana pengembangan koloni adalah dengan memberikan konsesi besar-besaran kepada sekitar tiga puluh perusahaan Prancis. Perusahaan-perusahaan ini memperoleh wilayah tanah yang sangat luas dengan janji akan dikembangkan. Namun, pengembangan tersebut terbatas dan sebagian besar hanya berupa pengambilan gading, karet, dan kayu. Operasi-operasi ini sering kali melibatkan kekejaman besar dan praktik yang mendekati perbudakan terhadap penduduk setempat.
Bahkan dengan langkah-langkah tersebut, sebagian besar perusahaan mengalami kerugian. Hanya sekitar sepuluh yang memperoleh keuntungan. Banyak dari kepemilikan luas perusahaan-perusahaan itu pada kenyataannya hanya ada di atas kertas, dengan hampir tidak ada kehadiran nyata di lapangan di Afrika.
Kongo Prancis kadang-kadang dikenal sebagai Gabon-Kongo.[3] Wilayah ini secara resmi menambahkan Gabon pada tahun 1891,[1] kemudian secara resmi berganti nama menjadi Kongo Tengah (bahasa Prancis: Moyen-Congo) pada tahun 1903, dipisahkan sementara dari Gabon pada tahun 1906, dan kemudian disatukan kembali sebagai Afrika Khatulistiwa Prancis pada tahun 1910 dalam upaya meniru keberhasilan relatif Afrika Barat Prancis.
Pada tahun 1911, Perjanjian Maroko-Kongo memberikan sebagian wilayah tersebut kepada Jerman sebagai jalur keluar ke Sungai Kongo. Tanah ini, yang dikenal sebagai Neukamerun, secara resmi diperoleh kembali oleh Prancis setelah Perang Dunia Pertama.
Sebuah kajian tahun 1906 berjudul Ekspansi Kolonial di Kongo Prancis diterbitkan bersamaan dengan Pameran Kolonial Prancis di Marseille.[4] Pada tahun 1925, sejarawan, sosiolog, dan penganjur Pan-Afrika Afrika-Amerika W. E. B. Du Bois menulis, 'Batouala menyuarakannya. Di kedalaman Kongo Prancis ditemukan eksploitasi terhadap orang kulit hitam yang sama seperti di Kongo Belgia atau Afrika Barat Britania.'[5][6]
↑Rouget, Ferdinand (1906). The Colonial Expansion of French Congo (dalam bahasa Prancis). Émile Larose – via World Digital Library. Diakses tanggal 2014-06-19.