ENSIKLOPEDIA
Killdeer
| Killdeer | |
|---|---|
| Killdeer dalam bulu berbiak. | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Charadriiformes |
| Famili: | Charadriidae |
| Genus: | Charadrius |
| Spesies: | C. vociferus |
| Nama binomial | |
| Charadrius vociferus | |
| Sebaran berbiak Sebaran penetap Sebaran non-berbiak | |
Killdeer atau cerek pemburu (Charadrius vociferus) adalah sejenis cerek berukuran besar yang ditemukan di Amerika. Kicauannya yang nyaring dan terdiri dari dua suku kata sering terdengar, berbunyi mirip seperti "kill deer". Burung ini dideskripsikan dan diberi nama ilmiahnya yang sekarang pada tahun 1758 oleh Carl Linnaeus dalam Systema Naturae edisi ke-10 karangannya. Terdapat tiga subspesies yang telah dideskripsikan. Bagian tubuh bagian atas sebagian besar berwarna cokelat dengan pinggiran merah kecokelatan, kepalanya memiliki bercak putih dan hitam, serta dua pita hitam melintang di dadanya. Bagian perut dan bagian dada lainnya berwarna putih. Subspesies nominatif (atau subspesies yang pertama kali dideskripsikan) berbiak mulai dari Alaska tenggara dan Kanada bagian selatan hingga ke Meksiko. Burung ini dapat terlihat sepanjang tahun di separuh bagian selatan dari jangkauan berbiaknya; subspesies C. v. ternominatus merupakan penghuni tetap di Hindia Barat, dan C. v. peruvianus mendiami Peru serta negara-negara Amerika Selatan di sekitarnya di sepanjang tahun. Populasi yang berbiak di Amerika Utara menghabiskan musim dingin mulai dari wilayah penetap mereka ke arah selatan menuju Amerika Tengah, Hindia Barat, dan bagian paling utara dari Amerika Selatan.
Habitat non-berbiak killdeer mencakup lahan basah pesisir, habitat pantai, dan padang rumput pesisir. Lokasi berbiaknya umumnya berupa padang terbuka dengan vegetasi pendek (tetapi lokasi seperti atap gedung terkadang juga digunakan); meskipun killdeer adalah burung pantai, ia tidak selalu bersarang di dekat air. Sarangnya sendiri merupakan sebuah galian dangkal yang dilapisi oleh vegetasi dan material berwarna putih, seperti kerikil atau pecahan cangkang kerang. Burung ini menghasilkan satu eratan telur berisi empat hingga enam butir telur berwarna kuning pucat hingga krem dengan corak gelap. Musim berbiak (dimulai dengan proses bertelur) berlangsung dari pertengahan Maret hingga Agustus, dengan waktu bertelur yang lebih lambat di bagian utara dari jangkauan tersebut. Kedua induknya biasanya mengerami telur tersebut selama 22 hingga 28 hari. Anakan killdeer tetap berada di sarang hingga sehari setelah menetas, sebelum mereka dituntun oleh induknya menuju ke wilayah mencari makan (umumnya dengan vegetasi lebat tempat di mana titik-titik persembunyian melimpah), yang mana anak-anak burung tersebut mulai mencari makan sendiri. Anakan burung kemudian lepas sarang sekitar 31 hari setelah menetas, dan mulai berbiak untuk pertama kalinya setelah mencapai usia satu tahun.
Killdeer terutama memangsa serangga, meskipun invertebrata lain dan biji-bijian juga turut dimakan. Ia mencari makan hampir secara eksklusif di padang rumput, terutama yang memiliki vegetasi pendek serta terdapat sapi dan genangan air. Burung ini paling sering mencari makan pada siang hari, tetapi pada musim non-berbiak, ketika bulan sedang purnama atau mendekati purnama, ia mencari makan di malam hari, kemungkinan karena meningkatnya kelimpahan serangga dan berkurangnya risiko pemangsaan pada malam hari. Pemangsa killdeer mencakup berbagai jenis burung dan mamalia. Berbagai bentuk respons terhadap pemangsaan yang dimilikinya bervariasi mulai dari "pertunjukan sayap patah" (berpura-pura terluka untuk memancing pemangsa agar menjauh dari sarang) hingga "pertunjukan ungulata" (menerjang hewan tersebut, dinamakan demikian karena taktik ini digunakan terhadap ungulata yang sedang merumput alih-alih terhadap pemangsa).[2]
Killdeer sebelumnya dianggap sebagai spesies risiko rendah oleh IUCN karena wilayah jangkauan dan populasinya yang besar,[1] namun sekarang dianggap sebagai spesies hampir terancam karena terjadinya penurunan populasi,[1] meskipun penurunan tersebut tidak cukup cepat untuk dijadikan alasan peningkatan status killdeer menjadi spesies rentan.[1] Burung ini dilindungi di bawah Undang-Undang Perjanjian Burung Bermigrasi 1918 di Amerika Serikat dan Undang-Undang Konvensi Burung Bermigrasi di Kanada.
Etimologi dan taksonomi
Killdeer dideskripsikan pada tahun 1758 oleh naturalis asal Swedia, Carl Linnaeus, dalam Systema Naturae edisi ke-10 karangannya sebagai Charadrius vociferus,[3] yang menjadi nama ilmiahnya saat ini.[4] Deskripsi Linnaeus didasarkan pada catatan tahun 1731 mengenai burung ini oleh naturalis Inggris Mark Catesby dalam bukunya The Natural History of Carolina, Florida and the Bahama Islands,[3] di mana ia menyebutnya sebagai "cerek pengoceh" (chattering plover).[5] Nama genus Charadrius berasal dari bahasa Latin Akhir untuk seekor burung kekuningan yang disebutkan dalam Alkitab Vulgata pada abad keempat. Kata ini diturunkan dari bahasa Yunani Kuno kharadrios, yaitu burung yang ditemukan di jurang dan lembah sungai (kharadra, "jurang"). Nama spesifik vociferus berasal dari bahasa Latin, dari kata vox, "teriakan", dan ferre, "membawa".[6]
Terdapat tiga subspesies yang telah dideskripsikan:
- C. v. vociferus Linnaeus, 1758 – Sebagai subspesies nominatif (subspesies yang pertama kali dideskripsikan), burung ini ditemukan di Amerika Serikat (termasuk Alaska tenggara), Kanada bagian selatan, Meksiko, dan dengan beberapa wilayah sebaran yang lebih sempit lebih jauh ke selatan hingga ke Panama. Burung ini menghabiskan musim dingin hingga ke bagian barat laut Amerika Selatan.[4]
- C. v. ternominatus Bangs & Kennard, 1920 – Subspesies ini ditemukan di Bahama, Antillen Besar, dan Kepulauan Virgin.[4]
- C. v. peruvianus (Chapman, 1920)[note 1] – Subspesies Amerika Selatan ini ditemukan di Ekuador bagian barat, Peru, dan bagian paling barat daya Cile.[4]
Kicauan killdeer berbunyi menyerupai frasa "kill deer", yang menjadi asal-usul penamaan spesies ini.[8]
Deskripsi
Killdeer adalah sejenis cerek yang tinggi dan ramping, dengan ekor yang relatif panjang.[9] Burung dewasa memiliki panjang tubuh berkisar dari 20 hingga 28 cm (7,9 hingga 11,0 in), dengan rentang sayap antara 59 dan 63 cm (23 dan 25 in), dan biasanya memiliki berat antara 72 dan 121 g (2,5 dan 4,3 oz).[4] Burung ini memiliki paruh yang pendek, tebal, dan gelap, kaki berwarna daging, serta cincin mata berwarna merah.[10]

Bagian atas tubuhnya sebagian besar berwarna cokelat dengan pinggiran bulu berwarna merah kecokelatan,[4] sedangkan bagian topi (mahkota), punggung, dan sayapnya memiliki warna cokelat tersebut. Burung ini memiliki dahi putih dan garis putih di belakang mata, sedangkan bagian kekang dan batas atas dari dahi putihnya berwarna hitam. Killdeer juga memiliki kerah putih dengan batas atas berwarna hitam. Sisa bagian wajahnya berwarna cokelat. Bagian dada dan perutnya berwarna putih, kecuali adanya dua pita dada berwarna hitam. Burung ini adalah satu-satunya cerek di Amerika Utara yang memiliki dua pita dada. Bagian tunggirnya berwarna merah, dan ekornya sebagian besar berwarna cokelat. Ekor tersebut juga memiliki pita subterminal berwarna hitam, pita terminal berwarna putih, dan bulu putih bergaris pada bagian luar ekor. Garis sayap berwarna putih di pangkal bulu terbang terlihat jelas saat burung ini terbang.[10]
Topeng dan pita dada pada betina cenderung berwarna lebih cokelat dibandingkan pada jantan. Burung dewasa dari subspesies C. v. ternominatus berukuran lebih kecil, lebih pucat, dan lebih abu-abu daripada subspesies nominatif. Subspesies C. v. peruvianus lebih kecil daripada subspesies nominatif dan memiliki pinggiran bulu merah kecokelatan yang lebih luas.[4] Burung remaja memiliki rupa yang mirip dengan burung dewasa.[10] Bagian atas tubuh dari anakan burung berwarna kehitaman dan kuning pucat. Bagian bawah, dahi, leher, dan dagu mereka berwarna putih,[4] serta mereka memiliki pita tunggal yang melintasi dadanya.[10]
Killdeer adalah spesies yang sangat vokal, mereka bahkan berkicau di malam hari. Kicauannya mencakup nada-nada sengau, seperti "deee", "tyeeee", dan "kil-deee" (yang menjadi dasar penamaan umumnya). Saat melakukan penerbangan pertunjukan, ia mengulangi kicauan "kil-deer" atau "kee-deeyu". Ketika cerek ini merasa terganggu, ia mengeluarkan serangkaian nada dalam urutan yang cepat, seperti "kee-di-di-di". Panggilan peringatannya berupa getaran suara (tril) yang panjang dan cepat.[4]
Habitat dan sebaran
Subspesies nominatif killdeer berbiak di Amerika Serikat (termasuk Alaska tenggara), Kanada bagian selatan, dan Meksiko, dengan wilayah sebaran yang lebih sempit jauh ke selatan, hingga ke Panama. Beberapa populasi di wilayah utara merupakan burung yang bermigrasi. Burung ini merupakan penghuni menetap di separuh bagian selatan dari jangkauan berbiaknya,[11] yang dapat ditemukan sepanjang tahun di sebagian besar Amerika Serikat daratan.[12] Burung ini juga menghabiskan musim dingin di wilayah selatan menuju Amerika Tengah, Hindia Barat, Kolombia, Ekuador, dan pulau-pulau di lepas pantai Venezuela, meninggalkan wilayah berbiaknya setelah pertengahan Juli,[4] dengan puncak migrasi dari Agustus hingga September.[11] Migrasi menuju wilayah berbiak dimulai pada bulan Februari[13] dan berakhir pada pertengahan Mei.[14]
Subspesies C. v. ternominatus diyakini sebagai penghuni menetap di Bahama, Antillen Besar, dan Kepulauan Virgin. C. v. peruvianus dapat terlihat sepanjang tahun di Ekuador bagian barat, Peru, dan wilayah paling barat laut Cile.[4]
Killdeer memanfaatkan habitat pantai, lahan basah pesisir, dan padang rumput selama musim non-berbiak.[15] Burung ini mencari makan hampir secara eksklusif di padang rumput tersebut, terutama padang dengan vegetasi pendek serta terdapat sapi (yang kemungkinan besar membuat vegetasi menjadi lebih pendek) dan genangan air.[16] Saat berbiak, killdeer memiliki daerah jelajah sekitar 6 ha (15 ekar), meskipun wilayah ini umumnya menjadi lebih luas jika mereka bersarang lebih dari 50 m (160 ft) dari sumber air.[17] Meskipun umumnya merupakan spesies dataran rendah,[4] burung ini dapat ditemukan hingga ke batas salju di padang rumput dataran tinggi dan tepi danau yang terbuka selama masa migrasi musim gugurnya.[14]
Perilaku
Berbiak

Killdeer membentuk pasangan di wilayah berbiaknya segera setelah kedatangannya.[18] Kedua jenis kelamin (meskipun jantan lebih sering daripada betina) menarik perhatian pasangan dengan kicauan "killdeer" yang keras saat terbang. Burung jantan juga menarik perhatian dengan berkicau dari tempat yang tinggi,[19] menggali sarang tiruan,[20] dan dengan aksi terbang killdeer, di mana ia terbang melintasi wilayahnya dengan kepakan sayap yang lambat. Aksi saling kejar di tanah terjadi ketika seekor killdeer didekati berkali-kali oleh killdeer lainnya; serupa dengan itu, aksi saling kejar di udara terjadi ketika seekor burung didekati dari udara. Keduanya merupakan bentuk pertahanan wilayah.[19]
Killdeer bersarang di lapangan terbuka atau area datar lainnya dengan vegetasi yang pendek (biasanya di bawah ketinggian 1 cm (0,39 in)),[4] seperti lahan pertanian dan padang rumput.[15] Sarang terkadang juga terletak di atap bangunan.[4] Cerek ini sering kali berbiak di dekat tempat ia berbiak pada tahun sebelumnya. Jantan tampaknya biasa bersarang kembali di area yang sama terlepas dari apakah ia mempertahankan pasangan yang sama atau tidak. Hal ini tampaknya tidak berlaku pada betina, yang telah diamati tidak menggunakan wilayah yang sama jika ia tidak memiliki pasangan yang sama.[21] Sarangnya sendiri hanyalah sebuah cekungan dangkal[22] atau galian[4] di tanah, yang dikelilingi oleh beberapa batu dan bilah rumput.[22] Sarang ini umumnya dibangun dengan material berwarna putih alih-alih warna gelap; yang fungsinya diduga untuk membantu menjaga sarang tetap sejuk atau untuk menyembunyikannya.[23] Dalam sebuah studi tentang cerek suling, fungsi yang pertama didukung, karena sarang tersebut 2 °C (3,6 °F) hingga 6 °C (11 °F) lebih sejuk dibandingkan dengan tanah di sekitarnya. Fungsi yang kedua juga mendapat sedikit dukungan, karena cerek ini umumnya memilih kerikil yang warnanya lebih mirip dengan warna telurnya; sarang yang lebih terlihat kontras dengan tanah rentan mengalami pemangsaan.[24] Ketika bersarang di atap gedung, killdeer mungkin akan memilih atap yang datar, atau membangun sarang dari kerikil yang ditinggikan, yang terkadang dilapisi dengan kerikil putih atau pecahan cangkang kerang.[25]

Telur-telur killdeer biasanya diletakkan dari pertengahan Maret hingga awal Juni di bagian selatan sebarannya, dan dari pertengahan April hingga pertengahan Juli di bagian utara.[4] Dalam kedua kasus tersebut, musim berbiaknya sendiri berlangsung hingga sekitar bulan Agustus.[26] Di Puerto Riko, dan kemungkinan di kepulauan Karibia lainnya, proses berbiak terjadi sepanjang tahun.[4]
Killdeer menghasilkan satu eratan telur berisi empat hingga enam telur yang berwarna kuning pucat hingga krem, dengan corak cokelat dan bintik-bintik hitam. Telur-telur ini berukuran sekitar 38 x 27 mm (1,5 x 1,1 in),[8] dan diletakkan dengan jeda 24 hingga 48 jam.[4] Pengeluaran energi pada kedua jenis kelamin mencapai titik tertingginya selama masa bertelur; burung betina perlu memproduksi telur, dan burung jantan perlu mempertahankan wilayahnya.[27] Kedua jenis kelamin tersebut berada lebih dekat dengan lokasi sarang daripada biasanya selama tahap bertelur dan pengeraman, meskipun jantan umumnya berada lebih dekat dibandingkan dengan betina selama seluruh tahap perkembangbiakan. Fakta yang terakhir ini kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya upaya jantan dalam hal pertahanan lokasi sarang.[17] Hingga lima eratan telur pengganti dapat dihasilkan, dan terkadang mereka memiliki dua kelompok anakan berturut-turut dalam satu musim.[4] Telur kelompok anakan kedua biasanya diletakkan di wilayah sarang dari kelompok anakan yang pertama.[18] Telur tersebut dierami selama 22 hingga 28 hari[8] oleh burung jantan dan betina, di mana jantan biasanya mengambil peran mengerami pada malam hari.[4] Waktu yang didedikasikan untuk pengeraman berkaitan erat dengan suhu, di mana sebuah penelitian mencatat bahwa killdeer mengerami telur 99% dari keseluruhan waktunya ketika suhu berada di kisaran 13 °C (55 °F), 76% dari keseluruhan waktu saat di kisaran 26 °C (79 °F), dan 87% dari keseluruhan waktu pada suhu sekitar 35 °C (95 °F). Saat cuaca panas (setidaknya di atas 25 °C (77 °F)), pengeraman berfungsi mendinginkan telur, umumnya melalui naungan bayangan oleh salah satu induknya.[28]

Sekitar 53% telur hilang atau gagal menetas,[29] terutama karena keberadaan pemangsa.[30] Anakan burung bersifat prekosial, dan mulai berjalan pada hari-hari pertama kehidupannya. Setelah mereka menetas, kedua induk menuntun mereka keluar dari sarang, umumnya ke arah wilayah mencari makan dengan vegetasi lebat di mana anak-anak burung tersebut dapat bersembunyi ketika pemangsa berada di dekat mereka.[18] Anak-anak burung ini dibesarkan, setidaknya pada pasangan yang hanya memiliki satu kelompok anakan, oleh kedua induk, yang mana kemungkinan disebabkan oleh tingginya tingkat kegagalan sarang dan perlunya kehadiran kedua induk untuk dapat membesarkan anakan dengan sukses.[27] Pada kelompok-kelompok anakan ini, anak-anak burung umumnya dijaga secara bergantian oleh satu induk dalam suatu waktu (umumnya oleh betina) hingga berusia sekitar dua minggu, yang mana setelahnya kedua induk tersebut terkadang terlihat secara bersama-sama menemani anak-anak mereka. Induk dewasa yang sedang tidak bertugas menjaga, setidaknya akan berada sekitar 23 m (75 ft) dari anak-anak burung tersebut. Periode penjagaan untuk setiap induk umumnya berlangsung antara satu hingga satu setengah jam. Ketika anak-anak burung masih kecil, waktu penjagaan ini sebagian besar dihabiskan dengan cara berdiri; seiring bertambahnya usia anakan, waktu yang dihabiskan untuk berdiri menjadi lebih sedikit. Ketika anak-anak burung berusia di bawah dua minggu, burung dewasa yang menjaga hanya menghabiskan sedikit waktu untuk makan; waktu yang digunakan untuk mencari makan perlahan meningkat seiring pertumbuhan anak burung. Induk yang tidak berjaga mempertahankan anak-anaknya hampir di sepanjang waktu saat anak-anak mereka berusia kurang dari satu minggu, tetapi tugas ini secara bertahap beralih pada induk yang menjaga, hingga saat mereka mencapai usia sekitar tiga minggu, induk yang berjaga mengambil alih hampir sepenuhnya seluruh tugas pertahanan. Satu induk pada suatu waktu akan mengerami (menghangatkan) anak burung dan sering melakukannya hingga mereka berusia dua hari. Anak-anak burung akan dihangatkan pada siang hari hingga sekitar 15 hari pascamenetas dan pada malam hari selama sekitar 18 hari setelah menetas. Satu-satunya saat di mana mereka tidak berada di dekat salah satu induknya adalah ketika kedua induk tersebut sedang kawin atau sedang merespons keberadaan pemangsa atau burung sejenis yang agresif.[18]

Ketika sepasang killdeer memiliki kelompok anakan kedua, kelompok kedua ini biasanya hanya dijaga oleh sang jantan (yang dapat menetaskan telur tersebut sendirian, tidak seperti sang betina[27]). Dalam kasus ini, jantan tidak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berdiri; namun, jumlah waktu yang dihabiskannya untuk berdiri tetap konstan seiring dengan bertambahnya usia anak-anak burung tersebut. Seperti halnya burung dewasa yang menjaga pada kelompok anakan dua induk, induk tunggal ini juga akan meningkatkan waktu mencari makan seiring bertambahnya usia anakan burung.[18]
Anak-anak burung tersebut lepas sarang sekitar 31 hari setelah menetas, dan umumnya berpindah ke area yang lebih lembap di wilayah lembah dan di tepi bantaran sungai. Mereka mungkin terus dirawat oleh induknya hingga 10 hari setelah masa lepas sarang tersebut, dan sebagai pengecualian dapat berlangsung hingga 81 hari setelah menetas. Sekitar 52 hingga 63% sarang gagal menghasilkan anakan yang lepas sarang. Proses berbiak akan dimulai saat burung berusia lebih dari satu tahun.[4] Killdeer memiliki harapan hidup maksimal hingga 10 tahun dan 11 bulan.[31]
Pola makan
Killdeer terutama memangsa serangga (terutama kumbang dan lalat), selain juga luing, cacing, siput, laba-laba, dan beberapa jenis biji-bijian. Burung ini secara oportunistik memangsa katak pohon dan ikan mino mati.[4] Ia mencari makan hampir secara eksklusif di padang rumput (tidak peduli dengan keadaan pasang surut), terutama padang yang memiliki vegetasi pendek serta terdapat sapi (yang kemungkinan besar membuat vegetasi menjadi lebih pendek) dan genangan air. Keberadaan genangan air saja tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pemilihan padang rumput kecuali jika dipadukan dengan kehadiran sapi.[16] Diseminul yang masih hidup dapat ditemukan kembali dari kotoran killdeer, menunjukkan bahwa burung ini penting dalam penyebaran organisme akuatik.[32]
Killdeer menggunakan isyarat visual untuk mencari makan. Salah satu contohnya adalah "getaran kaki" (foot-trembling),[33] di mana ia berdiri dengan satu kaki, dan menggetarkan kaki lainnya di air dangkal selama sekitar lima detik, lalu mematuk mangsa apa pun yang teraduk ke permukaan.[34] Saat mencari makan di ladang, burung ini terkadang mengikuti alat bajak untuk menangkap cacing tanah yang terganggu dan naik ke permukaan.[4] Burung betina mencari makan secara signifikan lebih banyak dibandingkan burung jantan selama sebagian besar tahapan berbiak. Betina paling banyak makan sebelum dan selama masa bertelur, paling sedikit ketika pengeraman dimulai (karena hanya tersisa sedikit waktu untuk makan), dan kembali ke tingkat yang tinggi setelahnya.[26] Selama musim non-berbiak, killdeer mencari makan pada malam hari, tergantung pada siklus bulan. Saat bulan purnama, ia lebih banyak makan di malam hari dan lebih banyak bertengger (beristirahat) di siang hari. Mencari makan di malam hari memiliki manfaat bagi burung ini, termasuk meningkatnya kelimpahan serangga dan berkurangnya risiko pemangsaan.[33]
Pemangsa dan parasit
Killdeer diparasiti oleh akantosefala, sestoda, nematoda, dan trematoda.[35] Burung ini dimangsa oleh camar perak Amerika, gagak biasa, rakun, dan sigung belang.[29] Burung-burung yang disebutkan tersebut serta pemangsa dari jenis burung lainnya merupakan mayoritas pemangsa di beberapa area selama musim berbiak. Pemangsaan tidak terbatas pada telur dan anak burung: mustelida, misalnya, dapat membunuh burung dewasa yang sedang mengerami.[36]
Respons terhadap pemangsa
Induk burung menggunakan berbagai metode untuk mengalihkan perhatian pemangsa selama musim berbiak. Salah satu metode tersebut adalah "pertunjukan sayap patah" (broken-wing display),[37] yang juga dikenal sebagai "pura-pura terluka".[38] Sebelum melakukan pertunjukan, ia biasanya berlari dari sarangnya, mengeluarkan panggilan peringatan dan gangguan lainnya. Ketika burung tersebut telah mendapatkan perhatian pemangsa, ia mengarahkan ekornya ke arah pemangsa tersebut, memamerkan warna jingga dari tunggirnya yang tampak mengancam. Ia kemudian berjongkok, mengulai sayapnya, dan menurunkan ekornya, yang mana merupakan perilaku yang lebih umum bagi mereka.[37] Dengan intensitas yang meningkat, sayapnya diangkat lebih tinggi, ekornya dimekarkan, dan ekor menjadi semakin ditekan ke bawah.[29] Perilaku lain yang mendapat perhatian adalah "pertunjukan ungulata", di mana burung dewasa mengangkat sayapnya, mengekspos tunggirnya, menundukkan kepalanya, dan menerjang ke arah penyusup. Hal ini bisa berakibat fatal bagi burung yang melakukan pertunjukan tersebut.[39]
- Pertunjukan sayap patah
Intensitas respons terhadap pemangsa bervariasi di sepanjang musim berbiak. Selama masa bertelur, respons yang paling umum terhadap keberadaan pemangsa adalah meninggalkan sarang secara diam-diam. Seiring dimulainya dan berlangsungnya masa pengeraman, intensitas respons terhadap pemangsa meningkat, mencapai puncaknya setelah penetasan. Hal ini mungkin karena melindungi anak burung pada masa tersebut memiliki nilai kelangsungan hidup yang lebih besar, mengingat kemungkinan mereka untuk lepas sarang lebih tinggi. Setelah penetasan, intensitas reaksi menurun, hingga mencapai tingkat respons yang normal. Hal ini karena anak burung menjadi lebih mandiri seiring bertambahnya usia mereka.[29]
Status konservasi
Killdeer sebelumnya dianggap sebagai spesies risiko rendah oleh IUCN karena jangkauan wilayahnya yang besar yaitu sekitar 263 juta km2 (102 juta sq mi) dan populasinya, yang diperkirakan oleh IUCN berjumlah sekitar satu juta ekor burung,[1] atau sekitar dua juta, menurut Handbook of the Birds of the World Alive.[4] Sejak tahun 2024, spesies ini dianggap sebagai spesies hampir terancam akibat penurunan populasinya yang melebihi 20% dalam tiga generasi,[1] meskipun penurunan tersebut tidak cukup cepat untuk dijadikan alasan peningkatan status killdeer menjadi spesies rentan.[1] Burung ini dilindungi di Amerika Serikat di bawah Undang-Undang Perjanjian Burung Bermigrasi 1918,[40] dan di Kanada di bawah Undang-Undang Konvensi Burung Bermigrasi.[41]
Catatan
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 BirdLife International (2024). "Charadrius vociferus". 2024 e.T22693777A256247816. doi:10.2305/IUCN.UK.2024-2.RLTS.T22693777A256247816.en. ;
- ↑ "Killdeers And The Broken Wing Act". Bird Spot. 2025. Diakses tanggal 2025-11-12.
- 1 2 Linnaeus, Carl (1758). Systema Naturae per Regna Tria Naturae, Secundum Classes, Ordines, Genera, Species, cum Characteribus, Differentiis, Synonymis, Locis (dalam bahasa Latin). Vol. 1 (Edisi 10th). Stockholm, Sweden: (Laurentii Salvii). hlm. 150 – via The Internet Archive.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Wiersma, P.; Kirwan, G. M.; Boesman, P. (2020). del Hoyo, Josep; Elliott, Andrew; Sargatal, Jordi; Christie, David A.; de Juana, Eduardo (ed.). "Killdeer (Charadrius vociferus)". Handbook of the Birds of the World Alive. Barcelona, Spain: Lynx Edicions. doi:10.2173/bow.killde.01. Diakses tanggal 12 June 2018.
- ↑ Catesby, Mark (1731). The Natural History of Carolina, Florida and the Bahama Islands. Vol. 1. London: Printed at the expence of the author, and sold by W. Innys and R. Manby, at the West End of St. Paul's, by Mr. Hauksbee, at the Royal Society House, and by the author, at Mr. Bacon's in Hoxton. hlm. 71.
- ↑ Jobling, James A. (2010). The Helm Dictionary of Scientific Bird Names. London: Christopher Helm. hlm. 99, 404. ISBN 978-1-4081-2501-4.
- ↑ Chapman, Frank M. (1920). "Description of a proposed new race of the killdeer from the coast of Peru". The Auk. 37 (1): 105–108. doi:10.2307/4072966. ISSN 0004-8038. JSTOR 4072966.
- 1 2 3 Hauber, Mark E. (2014). The Book of Eggs: A Life-Size Guide to the Eggs of Six Hundred of the World's Bird Species. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 140. ISBN 978-0-226-05781-1.
- ↑ Sibley, David (2014). The Sibley guide to birds. Scott & Nix (Firm) (Edisi 2nd). New York: Alfred A. Knopf. hlm. 160. ISBN 978-0-307-95790-0.
- 1 2 3 4 "Killdeer Charadrius vociferus". Patuxent Wildlife Research Center. USGS. Diarsipkan dari asli tanggal 3 January 2017. Diakses tanggal 1 August 2018.
- 1 2 Jonathan K. Alderfer; Paul Hess (2011). National Geographic Backyard Guide to the Birds of North America. National Geographic. hlm. 69. ISBN 978-1-4262-0720-4.
- ↑ Sanzenbacher, Peter M.; Haig, Susan M. (2001). "Killdeer population trends in North America". Journal of Field Ornithology. 72 (1): 160–169. doi:10.1648/0273-8570-72.1.160. ISSN 1557-9263. S2CID 85684751.
- ↑ Nellis, David W. (2001). Common Coastal Birds of Florida and the Caribbean. Pineapple Press Inc. hlm. 211. ISBN 1-56164-191-X.
- 1 2 Campbell, Robert Wayne; Dawe, Neil K.; McTaggart-Cowan, Ian; Cooper, John M.; Kaiser, Gary W.; McNall, Michael C. E. (1997). The Birds of British Columbia: Nonpasserines: Diurnal Birds of Prey Through Woodpeckers. UBC Press. hlm. 120. ISBN 978-0-7748-4435-2.
- 1 2 Johnsgard, P.A. (1981). The Plovers, Sandpipers and Snipes of the World. Lincoln: University of Nebraska Press. ISBN 0-8032-2553-9.
- 1 2 Long, Linda L.; Ralph, C. John (2001). "Dynamics of habitat use by shorebirds in estuarine and agricultural habitats in northwestern California". The Wilson Bulletin. 113 (1): 41–52. doi:10.1676/0043-5643(2001)113[0041:DOHUBS]2.0.CO;2. ISSN 0043-5643. S2CID 85929172.
- 1 2 Plissner, Jonathan H.; Oring, Lewis W.; Haig, Susan M. (2000). "Space use of killdeer at a Great Basin breeding area". The Journal of Wildlife Management. 64 (2): 421. Bibcode:2000JWMan..64..421P. doi:10.2307/3803240. JSTOR 3803240.
- 1 2 3 4 5 Lenington, Sarah (1980). "Bi-parental care in killdeer: An adaptive hypothesis". The Wilson Bulletin. 92 (1): 8–20. ISSN 0043-5643.
- 1 2 Mundahl, John T. (1982). "Role specialization in the parental and territorial behavior of the killdeer". The Wilson Bulletin. 94 (4): 515–530. ISSN 0043-5643.
- ↑ Phillips, R.E. (1972). "Sexual and agonistic behaviour in the killdeer (Charadrius vociferus)". Animal Behaviour. 20 (1): 1–9. doi:10.1016/S0003-3472(72)80166-0. ISSN 0003-3472.
- ↑ Lenington, Sarah (1975). "Mate fidelity and nesting site tenacity in the killdeer". The Auk. 92 (1): 149–151. doi:10.2307/4084431. ISSN 1938-4254. JSTOR 4084431.
- 1 2 Hiller, Ilo (2008). "Killdeer". Texas Parks and Wildlife Department. Diakses tanggal 2011-03-01.
- ↑ Kull, Robert C. Jr. (1977). "Color selection of nesting material by killdeer". The Auk. 94 (3): 602–604. ISSN 1938-4254.
- ↑ Mayer, Paul M.; Smith, Levica M.; Ford, Robert G.; Watterson, Dustin C.; McCutchen, Marshall D.; Ryan, Mark R. (2009). "Nest construction by a ground-nesting bird represents a potential trade-off between egg crypticity and thermoregulation". Oecologia. 159 (4): 893–901. Bibcode:2009Oecol.159..893M. doi:10.1007/s00442-008-1266-9. ISSN 1432-1939. PMID 19145449. S2CID 22438709.
- ↑ Fisk, Erma J. (1978). "The growing use of roofs by nesting birds". Bird-Banding. 49 (2): 134–141. doi:10.2307/4512343. ISSN 2327-1280. JSTOR 4512343.
- 1 2 Brunton, Dianne H. (1988). "Sexual differences in reproductive effort: time-activity budgets of monogamous killdeer, Charadrius vociferus". Animal Behaviour. 36 (3): 705–717. doi:10.1016/S0003-3472(88)80153-2. ISSN 0003-3472. S2CID 53171701.
- 1 2 3 Brunton, Dianne H. (1988). "Energy expenditure in reproductive effort of male and female killdeer (Charadrius vociferus)". The Auk. 105 (3): 553–564. doi:10.1093/auk/105.3.553. ISSN 1938-4254.
- ↑ Bergstrom, Peter W. (1989). "Incubation temperatures of Wilson's plovers and killdeers". The Condor. 91 (3): 634–641. doi:10.2307/1368114. ISSN 1938-5129. JSTOR 1368114.
- 1 2 3 4 Brunton, Dianne H. (1990). "The effects of nesting stage, sex, and type of predator on parental defense by killdeer (Charadrius vociferous): Testing models of avian parental defense". Behavioral Ecology and Sociobiology. 26 (3): 181–190. Bibcode:1990BEcoS..26..181B. doi:10.1007/bf00172085. hdl:2027.42/46896. ISSN 1432-0762. S2CID 25058409.
- ↑ Nol, Erica; Brooks, Ronald J. (1982). "Effects of predator exclosures on besting success of killdeer". Journal of Field Ornithology. 53 (3): 263–268. ISSN 0273-8570.
- ↑ Clapp, Roger B.; Klimkiewicz, M. Kathleen; Kennard, John H. (1982). "Longevity records of North American birds: Gaviidae through Alcidae". Journal of Field Ornithology. 53 (2): 81–124. Bibcode:1982JFOrn..53...81C. ISSN 0273-8570. JSTOR 4512701.
- ↑ Proctor, Vernon W.; Malone, Charles R.; DeVlaming, Victor L. (1967). "Dispersal of aquatic organisms: Viability of disseminules recovered from the intestinal tract of captive killdeer". Ecology. 48 (4): 672–676 8. Bibcode:1967Ecol...48..672P. doi:10.2307/1936517. ISSN 1939-9170. JSTOR 1936517.
- 1 2 Eberhart-Phillips, Luke J. (2016). "Dancing in the moonlight: evidence that killdeer foraging behavior varies with the lunar cycle". Journal of Ornithology. 158 (1): 253–262. doi:10.1007/s10336-016-1389-4. ISSN 2193-7192. S2CID 42947525.
- ↑ Smith, Susan M. (1970). ""Foot-trembling" feeding behavior by a killdeer". The Condor. 72 (2): 245. doi:10.2307/1366650. ISSN 1938-5129. JSTOR 1366650.
- ↑ Eckman, Michael K. (1968). "Helminth parasites of the killdeer in Colorado". The Journal of Parasitology. 54 (6): 1143. doi:10.2307/3276980. ISSN 0022-3395. JSTOR 3276980.
- ↑ Johnson, Matthew; Oring, Lewis W. (2002). "Are nest exclosures an effective tool in plover conservation?". Waterbirds. 25 (2): 184. doi:10.1675/1524-4695(2002)025[0184:ANEAET]2.0.CO;2. ISSN 1939-9170. S2CID 83933209.
- 1 2 Deane, C. Douglas (1944). "The broken-wing behavior of the killdeer". The Auk. 61 (2): 243–247. doi:10.2307/4079369. ISSN 1938-4254. JSTOR 4079369.
- ↑ Gochfeld, Michael (1984). "Antipredator Behavior: Aggressive and Distraction Displays of Shorebirds". Dalam Burger, Joanna; Olla, Bori L. (ed.). Shorebirds. hlm. 289–377. doi:10.1007/978-1-4684-4691-3_8. ISBN 978-1-4684-4693-7.
- ↑ Brunton, Dianne H. (1986). "Fatal antipredator behavior of a killdeer". The Wilson Bulletin. 98 (4): 605–607. ISSN 0043-5643.
- ↑ "Migratory Bird Treaty Act Protected Species (10.13 List)". US Fish & Wildlife Service. 2013. Diakses tanggal 10 October 2018.
- ↑ "Birds protected under the Migratory Birds Convention Act". Government of Canada. 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 20 May 2019. Diakses tanggal 10 October 2018.
Pranala luar
- Video, foto, dan suara Killdeer di Internet Bird Collection
- Galeri foto Killdeer di VIREO (Drexel University)
| Nasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |