Sejarah
Gelar comte dan hak kedaulatan para Uskup Toul pada Abad Pertengahan berawal dari sejumlah pemberian yang diberikan Heinrich si Pemburu (Henry the Fowler) kepada Santo Gauzelin pada tahun 927. Pada masa Konflik Investitur tahun 1108, kapitel katedral mengalami perpecahan: mayoritas memilih Riquin dari Commercy sebagai uskup, sementara minoritas memilih Konrad dari Schwarzenburg. Kaisar Heinrich V memberikan gelar uskup kepada Konrad, dengan syarat bahwa ia tidak melaksanakan tugas-tugas episkopal.
Pada tahun 1271, perselisihan serius kembali muncul dalam kapitel Toul. Pada tahun 1278, Paus Nikolaus III secara pribadi menunjuk Konrad dari Tübingen sebagai uskup. Sejak saat itu, umumnya Takhta Suci yang mengangkat para uskup dengan berbagai alasan setiap kali terjadi kekosongan. Akibatnya, banyak prelatus Italia memegang tahta penting ini hingga tahun 1552, ketika Toul diduduki oleh Prancis. Pada tahun 1597, Charles III, adipati Lorraine, meminta kepada Paus Klemens VIII agar Tahta Toul dibagi dan sebuah keuskupan baru didirikan di Nancy. Permintaan ini gagal akibat penentangan Arnaud d’Ossat, duta besar Raja Henri di Roma. Pada akhirnya, Paus Klemens VIII memutuskan bahwa Nancy akan memiliki sebuah gereja primatial dan prelatusnya menyandang gelar Primat Lorraine serta mengenakan insignia episkopal, tetapi tidak memiliki yurisdiksi episkopal.
Pada tahun 1648, melalui Perjanjian Westfalen, keuskupan-keuskupan Metz, Toul, dan Verdun (yang sebelumnya berada di bawah Kekaisaran Romawi Suci) menjadi wilayah kota-kota Prancis. Kadipaten Lorraine, yang dikelilingi oleh wilayah Prancis dan berulang kali diduduki pasukan Prancis, akhirnya jatuh ke tangan Prancis, sehingga Lorraine menjadi sebuah provinsi Prancis. Populasi Toul pada tahun 1688 tercatat sekitar 10.000 jiwa.[5] Setelah Revolusi Prancis 1789, Prancis dibagi menjadi departemen-departemen. Lorraine terbagi ke dalam departemen Meurthe, Meuse, Moselle, dan Vosges, dengan Nancy, Verdun, Metz, dan Epinal sebagai ibu kota masing-masing.[6]
Pada tahun 1688, Katedral Toul memiliki sebuah kapitel yang terdiri atas sepuluh pejabat gereja dan empat puluh kanonik. Di kota Toul terdapat tujuh paroki, tujuh rumah religius pria, dan empat biara. Keuskupan tersebut membawahi sekitar 200 paroki.[5]
Pada tahun 1777, Katedral Nancy memiliki sebuah kapitel yang beranggotakan tiga pejabat gereja dan dua puluh empat kanonik. Di kota yang berpenduduk sekitar 30.000 jiwa itu, terdapat tujuh paroki, dua belas rumah religius pria, dan sepuluh biara.[7] Semua kapitel katedral di Prancis dihapuskan pada tahun 1790 oleh Majelis Konstituante.
Pada tahun 1777 dan 1778, Toul kehilangan wilayah yang kemudian dijadikan dasar bagi pembentukan dua keuskupan baru: Saint-Dié dan Nancy, keduanya menjadi sufragan Trier. Konkordat 1802, yang meniadakan Keuskupan Toul, menetapkan Nancy sebagai tahta sebuah keuskupan besar yang mencakup tiga departemen: Meurthe, Meuse, dan Vosges.
Revolusi
Keuskupan Nancy dihapuskan selama Revolusi Prancis oleh Majelis Legislatif berdasarkan Konstitusi Sipil Rohaniwan (Prancis: Constitution civile du clergé) (1790).[8] Wilayahnya digabungkan ke dalam keuskupan baru bernama “Meurthe”, yang menjadi bagian dari Metropole du Nord-Est (mencakup tujuh département dan keuskupan baru). Konstitusi Sipil mewajibkan agar para uskup dipilih oleh warga dari setiap département, hal yang segera menimbulkan persoalan kanonik serius, karena para pemilih tidak diwajibkan beragama Katolik, dan persetujuan Paus tidak hanya dianggap tidak perlu, melainkan secara tegas dilarang. Selain itu, pendirian keuskupan baru maupun pemindahan uskup bukanlah kewenangan otoritas sipil maupun Gereja di Prancis. Akibatnya, terjadi perpecahan antara “Gereja Konstitusional” dan Gereja Katolik. Uskup Nancy yang sah, Anne Louis Henri de La Fare, menolak mengucapkan sumpah, sehingga tahta episkopal dinyatakan lowong.
Pada 13 Maret 1791, para pemilih département Meurthe berkumpul dan memilih seorang Lazarist, P.-F. Chatelain, Profesor di Seminari Toul. Setelah pertimbangan panjang, ia menolak pemilihan tersebut.[9] Para pemilih kemudian melanjutkan musyawarah dan, atas rekomendasi Komite Gerejawi Majelis Nasional, pada 8 Mei 1791 mereka memilih seorang Oratorian, Luc-François Lalande dari Saint-Lô, seorang teolog dan ahli Ibrani. Ia ditahbiskan menjadi uskup di Notre Dame, Paris, pada 29 Mei oleh Jean-Baptiste Gobel, Uskup Tituler Lydda, yang telah diangkat sebagai Uskup Konstitusional Paris. Pada 3 Juni, ia resmi memasuki Nancy dan memulai perdebatan pamflet melawan Uskup de La Fare, yang saat itu berada dalam pengasingan di Trier.[10] Pada September 1792, Lalande terpilih sebagai delegatus Konvensi, dan pada 7 November ia melepaskan jabatannya. Pada 1795, ia menjadi anggota Dewan 500. Pada 1801, ia menulis surat penyerahan diri kepada Paus Pius VII. Menjelang akhir 1799, sebuah perhimpunan imam Konstitusional memilih François Nicolas dari Épinal sebagai pengganti Lalande.[11]
Pasca-Revolusi Prancis
Nicolas dan seluruh Uskup Konstitusional diwajibkan untuk mengundurkan diri pada Mei 1801 oleh Konsul Pertama, Napoleon Bonaparte, yang saat itu sedang merundingkan perjanjian dengan Paus Pius VII, yaitu Konkordat 1801 (15 Juli 1801). Nicolas tidak pernah menarik kembali pendiriannya. Setelah Konkordat mulai berlaku, Paus Pius VII dapat menerbitkan bulla yang sesuai untuk memulihkan banyak keuskupan dan mengatur kembali batas-batasnya, yang sebagian besar disesuaikan dengan pembagian département baru.[12] Konkordat 1802, yang meniadakan Keuskupan Toul, menjadikan Nancy sebagai tahta sebuah keuskupan besar yang mencakup tiga departemen: Meurthe, Meuse, dan Vosges.
Dalam sebuah bulla tertanggal 6 Oktober 1822,[13] Paus Pius VII memulihkan Keuskupan Verdun dan Saint-Dié, dengan memisahkan departemen Meuse dan Vosges dari Keuskupan Nancy. Sejak tahun 1824, para uskup Nancy menyandang gelar Uskup Nancy dan Toul, karena hampir seluruh wilayah Keuskupan Toul kuno telah disatukan dengan Keuskupan Nancy.[14]